TERAPI AUTISME KESASTRAAN

RESPONS TERHADAP TULISAN ROMI ZARMAN
Esha Tegar Putra *
harianhaluan.com, 06 Maret 2011

A Moment To Remember, film drama Korea (2004), sutradara John H Lee adalah peristiwa yang sedikit dekat dengan penuturan tulisan Romi Zarman (“Autisme Kesastraan”, Haluan, 27/2). Dalam A Moment To Remember, seorang laki-laki dihadapkan pada kenyataan, harus menerima kekasihnya divonis berpenyakit alzheimer.

Perlahan, si kekasih hilang ingatannya, sampai ia lupa pada diri sendiri. Tokoh laki-laki berusaha mengingatkan, mela­lui potret-potret romantis masa lalu, catatan-catatan kecil pada kulkas, meja, pintu, di mana si kekasih bisa mengingat dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Usaha itu mem­buahkan hasil, si kekasih mengingat hari lalu, hari depan pun tampak bagi mereka ber­dua. Yang paling berharga di kisah ini, tentunya cinta dan sejarah, kenangan dan ingatan.

Saya katakan sedikit dekat, film A Moment To Remember dengan tulisan Romi berjudul “Autisme Kesastraan”, bukan menyangkut vonis jenis pe­nyakitnya— A Moment To Remember dengan alzheimer-nya, “Autisme Kesastraan” dengan autis-nya—melainkan pentingnya mengingatkan. Tahapan ini yang dicoba Romi Zarman untuk melengkapi tulisan-tulisan (polemik) sebe­lumnya di Haluan Minggu: Darman Moenir (23/1), Devy Kurnia Alamsyah (30/1), Sudarmoko (6/2), Elly Delfia (6/2), M Subhan 13/2), Nelson Alwi (20/2). Bayangkan, Romi Zarman adalah tokoh laki-laki dalam A Moment To Remember, yang berusaha membuat kekasihnya (kesastraan), lepas dan terbebas dari gejala psikologi yang divonisnya terjangkit autisme. Sedikit dekat memang kisah­nya, akan tetapi Romi melalui “Autisme Kesastraan” berbeda cara pandang dengan tokoh laki-laki dalam A Moment To Remember dalam terapi pe­nyembuhan. Jika tokoh laki-laki dalam A Moment To Remember dengan tabah dan sabar menghadapai alzheimer kekasihnya sampai sembuh. Romi cendrung terlihat mela­kukan terapi sadis layaknya seorang dukun kampung me­ngo­bati orang gila, dengan me­nyetrum kekasihnya (bagian da­ri kesastraan), menceburkan ke kolam, sambil lantang berteriak: kau terjangkit autis­me!

Vonis Autisme Kritikus Akademis

Ada beberapa titik fokus di mana Romi Zarman meres­pons polemik sebelumnya dengan vonis Autisme kesu­sastraan. Vonis memusat pada ‘autisme kritikus akademik’ dalam sub-tulisannya.

Dan di titik inilah saya pikir Romi melakukan ‘terapi sadis’: (1) Autistik yang terlihat dari esai Koko dan Devy yang berpretensi membersihkan kesastraan dari arogansi dan politik kanonisasi. (2) Esai Subhan lebih tepat disebut kengawuran standrarisasi karya bermutu dilihat dari laris atau tidaknya sebuah karya. (3) Autisme yang dipertegas karena penyempitan ruang yang dila­kukan Darman dengan mem­batasinya—karya Wisran Hadi yang mesti diukur dengan penulis luar, bukan mem­bandingkan dengan Gus tf yang berbeda zaman—hanya sebatas provinsial. (4) Keterbatasan komunikasi kritikus akademis, yang melakukan penelitian dengan founding, selaku spon­sor yang berobjek tidak pada perkembangan kesastraan. (5) Autisme terbaru dicontohkan pada Ketua Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas yang buta terhadap karya sastra—didasari karena meminta bantuan Romi Zarman mengumpulkan nama-nama sastrawan mutakhir, beserta karyanya. (6) Data autisme lain, pada diskusi di Magistra Indo­nesia tentang refleksi setahun sastra di Sumatera Barat pada 31 De­sember 2009, di mana seorang peneliti sastra dengan santai berkata bahwa penelitian yang dikakukan hanya ber­orientasi uang untuk penetingan cum (syarat kenaikan pangkat atau golongan). (7) Vonis autisme dilihat Romi Zarman pada kaum akademik kita tidak memiliki intensitas dalam meng­ikuti perkembangan sas­tra yang terse­bar di media massa. (8) Vonis Romi dengan men­ulis: “Rata-rata redaktur kita pe­ma­las….”

Delapan titik itu saya catat dari tulisan Romi Zarman. Vonis autisme sekaligus pene­rapan terapi yang hendak ditujukan. Jika kita hendak menuju pada tahapan pemun­culan kritik yang baik; apakah dari delapan titik, atau orang-orang yang disebut di delapan titik itu saja yang mengemban beban kritik? Barangkali Romi Zarman juga menjelaskan pembatasan autisme, atau penyembuhan autisme. Akan tetapi sesuaikah dengan situasi iklim kesastraan di Sumatera Barat dan di Indonesia seka­lipun? Juga sudah benarkah vonis-vonis yang dijatuhkan?

Banyak rujukan yang bisa diambil untuk memperta­nya­kan kembali vonis yang dija­tuhkan Romi Zarman meman­dang situasi kekinian. Memi­salkan, kerja akademisi sebagai kritikus, atau sastrawan berlaku kritikus: kenapa sastrawan, kiritkus, atau guru besar seperti Sapardi Djoko Damono tak membahas karya penyair Heru Joni Putra? Kenapa kritikus dengan teori njelimet seperti Arif B Prasetyo memilih Cala Ibi untuk dikritisi di lomba sayembara kritik DKJ, kenapa tidak kumpulan cerpen Zelfeni Wimra? Atau kenapa kritikus dan sastrawan secerlang Zen Hae, Bramantio, Tia Setiadi, Tjahjono Widijanto, Bandung Mawardi, Zen RS, (dll) hanya menulis kritik seputar karya-karya Goenawan Muhammad, Afrizal Malna, Acep Zamzam Noor, Abdul Hadi WM, Ayu Utami, Ahmad Tohari, dst.

Dan kenapa pula, di Suma­tera Barat khususnya, kritik berputar pada persoalan kenapa tidak ada kritik sastra dan siapa seharusnya yang menulis? Situasi inikah yang menye­babkan autisme kesastraan yang dimaksud Romi Zarman?

Autime Kesastraan, Perawatan Khusus

Banyak pertanyaan ten­tunya. Saya tidak menampik, beberapa solusi dari Romi Zarman: semisal peran sastra­wan seka­ligus kritikus, pemb­aruan pola pikir akademisi, dan peran redaktur sastra dalam kritik. Tapi tidak ada kebaruan dari solusi Romi Zarman, terkecuali pada istilah yang memvonis beragam nama dan institusi. Sedangkan pokok pembahasan Romi telah jauh hari dibi­carakan berbagai sumber.

Misalkan seketika Maman S Mahayana menjabarkan situasi kritik sastra di Univer­sitas Indonesia, sebuah lembaga institusi yang banyak meng­hasilkan penelitian akademik, tapi minim akademisi yang bisa mengolahnya untuk kepen­tingan masyarakat. Ia mengi­baratkan, akademisi tersebut sebuah sekrub kecil di dalam mesin besar yang berputar cepat.

Situasi ini juga dijawab Ignas Kleden di buku Sastra Indonesia dalam Enam Perta­nyaan. Ignas melakukan pende­katan secara multidimensional dalam ketidak mampuan kriti­kus, akademisi, sastrawan menjawab tuntas persoalan kesastraan. Bukan cuma itu, Ignas menampik pendapat “pengarang telah mati” yang mengharamkan pertimbangan atas maksud penulis dalam memaknai karya sastra, dengan memberi tafsir pada medan pemaknaan penulis, tapi me­mang tidak seistimewa tafsir pembaca. Manneke Budiman, mengganggap posisi yang dita­warkan Ignas memungkinkan kritik sastra berbicara tentang produksi sastra di samping tentang konsumsi sastra tanpa perlu merasa bersalah.

Persoalan ini yang juga pernah dijawab dengan istilah (ekonomi) surplus oleh Dam­huri Muhammad yang berusaha menampik pikiran Arif B Prasetyo di koran Kompas. Damhuri menganalogikan ke­tika karya banyak, dan kritik bisa dilakukan di media mana saja, kuasa kritik (apresiasi) terbesar berada di tangan masyarakat pembaca, masya­rakat pembacalah paling isti­mewa. Dan yang lebih penting dari vonis autisme sebenarnya mempertanyakan kembali: berapa banyak dan seberapakah minat baca masyarakat untuk karya sastra? Sampai-sampai perdebatannya sebegitu ajai­bnya, seakan jauh melampaui pikiran masyarakat pem­baca­nya.

Saya menganggap, sastrawan sibuk bereuforia di dunianya sendiri, hibuk dalam penafsiran sendiri. Mempertanyakan apa dan siapa yang akan dikritik, siapa yang harus dan siapa yang patut dipersalahkan dengan vonis autisme kesusastraan, dan pernyataan yang absurd. Akan tetapi bagaimana kalau mulai menulis kritik atau apresiasi karya secara konkret dan mulai menyiarkannya?

Romi Zarman sendiri mun­cul dari ruang akademisi, kritikannya termasuk njelimet dan kritis terhadap karya sastra. Ia bagian dari Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sasttra Universitas Andalas yang ketua jurusan disebut buta akan kesastraan mutakhir. Menurut ketua jurusan, Romi Zarman telah salah menilai, salah menfsirkan tujuan, dan ini berujung kekeliruan menilai. Jika pun dianggap kebutaan, akan tetapi titik terang diminta pada Romi Zarman yang bisa memberi mata lain dalam memandang kesastraan mu­takhir. Inilah esensi A Moment To Remember di awal tulisan saya, esensi saling berbagi. Berharap vonis autisme kesas­traan yang dikeluarkan Romi Zarman bukan sekadar pra-power syndrome-nya, kebalikan dari anggapan saya terhadap tulisan Darman Moenir. Tuli­san yang dalam ilmu psikologi tergolong gejala post-power syndrome, di mana kita selalu merasa hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalu.

Pada akhirnya, secerlang apapun pandangan Romi Zar­man dalam “Autisme Ke­sastraan”, ada satu hal yang terlupakan, hal yang paling dasar: etika kepenulisan.

*) Esha Tegar Putra, Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas
Dijumput dari: http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2186:terapi-autisme-kesastraan&catid=41:kultur&Itemid=193