Jagat Sastra Indonesia sebagai Dunia Kangouw

Adek Alwi
Suara Karya, 13 April 2013

TEMPO-tempo, saya bayangkan jagat sastra Indonesia sebagai dunia kangouw alias dunia persilatan cerita Kho Ping Hoo. Ada tokoh-tokoh tua atau locianpwee yang dihormati, menyepi dari keramaian memaknai hidup, sesekali saja turun gunung atau tidak lagi melakukannya. Yang tersisa karya dan harum nama. Orang pun unjuk salam ketika mereka ulang tahun misalnya, kirim cenderamata; sebutlah bak esai Goenawan Mohamad menyambut 70 tahun Rendra di Koran Tempo beberapa tahun lalu.

Sesekali itu, bisa berupa bila ada pertemuan akbar bertaraf seantero negeri bak Pertemuan Sastrawan Indonesia di TIM tahun 1974, 1978, dst; maka locianpwee yang rambutnya telah atau mulai memutih itu turun gunung, sebut pulalah bak Sutan Takdir Alisyahbana, HB Jassin, Mochtar Lubis, Muhammad Ali, Mh Rustandi Kartakusuma, AA Navis, Asrul Sani dan locianpwee lainnya, seperti saya lihat di acara itu. Gabung mereka dengan yang muda dan setengah tua, hingga malam pun padat berisi bincang, tak saja di ruang Teater Arena tempat pertemuan digelar tapi juga, atau lebih lagi, di Wisma Seni yang kini sudah tiada. Tiba saat berpisah, semua pulang dengan bungkus kenangan, pun semangat dan asyik-masuk kembali memaknai dunia penciptaan yang gelisah.

Selain locianpwee, dunia sastra Indonesia juga punya tokoh budiman pembagi ilmu; baik yang nyentrik bukan buatan atau yang wajar saja ya, seperti juga di dunia kangouw. Yang nyentrik sulit dicari/ditemui bagai Umbu Landu Paranggi di Bali yang tak henti memberi pada yang muda, bahkan hingga kini. Dua tahun (1994-1995) saya tugas di Denpasar selaku jurnalis sekalipun kami tak jumpa, meski ditanya ke banyak kawan juga pelukis/penyair Made Wianta. Tapi di suatu petang, tiada hujan angin pun tidak, menelepon suhu banyak calon penyair itu dari lapangan bola. OOOAdek, bilang ke wartawannya semangati Gelora Dewata di tulisannya nanti, ya.OOO (Gelora Dewata masa itu kesebelasan kebanggaan di Denpasar, Bali).

Dan yang tak nyentrik mudah dijumpai sebut pulalah almarhum Piek Ardijanto Soeprijadi di Tegal, pun Saini KM di Bandung. Juga Rusli Marzuki Saria di Padang, yang disapa ***Papa*** oleh banyak orang bukan hanya mereka yang muda dan tak henti jua hingga kini membagi ilmu ke orang muda, di umur lebih 77.

Juga seperti di cerita silat Kho Ping Hoo, banyak tokoh sastra berdomisili di Kotaraja (ibu kota), meski tak lagi jadi koksu (guru-negara), sebab sastrawan ala Mpu Tantular sudah lewat sekian abad. Atau yang berhimpun memulai langkah di sanggar-sanggar (kini komunitas disebut), tak ubahnya pesilat Kho Ping Hoo mematangkan jurus di Butongpai, Kunlunpai, Siauwlimpai. Tetapi tak sedikit pula yang independen, otodidak, belajar melalui hidup juga kitab; mengkaji Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Amir Hamzah dan lainnya, seperti pesilat Kho Ping Hoo menggali jurus tinggalan Bu Pun Su atawa Bukek Siansu.

Ketika saatnya tiba, turun gunung mereka, malang-melintang di dunia kangow dengan jurus andalan, sehingga nama menjulang, bikin takjub sekaligus iri. Ada yang terjerembab jadi jumawa, lupa di atas langit masih ada langit, seolah tiada yang andal selain diri, tak kecuali yang tua-tua para locianpwee itu. Tapi tentu banyak yang tahu diri, sadar puncak gunung amat tinggi, takkan terdaki sebab keterbatasan melekat pada diri, selaku insan, manusia, yang tak mungkin tiba di Sempurna.

Begitulah misalnya saat Ayu Utami tampil dengan novel Saman, kehebohan di dunia sastra Indonesia bagaikan geger dunia kangouw menghadapi munculnya lihiap (pendekar-wanita) baru, yang hadir membawa jurus baru, sebab lihiap terdahulu bagai Nh Dini sudah jadi locianpwee setelah setengah abad galang-gulung di dunia rimba-hijau atawa dunia kangouw sastra Indonesia. Jauh masa sebelum itu, di dekade 1970-an, sastra Indonesia geger pula tak alang kepalang menyambut kehadiran Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Danarto, tak beda dunia kangouw menyambut tibanya para tayhiap atau para pendekar baru, karena ketiganya hadir membawa jurus-jurus baru pula dalam penulisan puisi, novel, dan cerpen.

Lantas, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, Wildan Yatim, Budi Darma, Danarto dan banyak tokoh lainnya, atau lebih dulu hadir dari mereka seperti Ajip Rosidi dan Gerson Poyk, pun yang lebih kemudian semisal Yudhis, Emha, Afrizal Malna, kini pun telah jadi locianpwee. Sang Waktu dan kiprah mereka di masa lalu membawa mereka ke posisi itu bagai Ang Bin Sinkay dan Kak Tong Taysu dibawa sang Waktu serta debut masa lalu ke kursi locianpwee.

Jika Ang Bin Sinkay alias Pengemis Muka Merah serta Kak Tong Taysu alias Jago Nomor Satu di Barat diantar sang Waktu dan kiprah masa lalu jadi locianpwee, muncul Lu Kwan Cu alias Bu Pun Su (Tiada Kepandaian), dan giliran Bu Pun Su jadi locianpwee hadir Sie Cin Hay alias Si Pendekar Bodoh, bagaimana di dunia sastra Indonesia? Siapa tokoh yang muncul ketika Goenawan, Taufiq, Sutardji, Abdul Hadi WM dan tokoh-tokoh tadi dibawa sang Waktu dan kiprah masa lalu mereka ke posisi locianpwee?

Tentu ada. Tapi, tak lagi mudah melacaknya, tak seperti di dekade 1970-an atau dekade-dekade sebelumnya. Apalagi seperti di dunia kangouw Kho Ping Hoo, yang kehadiran tokoh menggegerkan dengan jurus baru-ampuh mudah dilacak, karena memang begitu dirancang sang pengarang.

Dunia abad ke-21 beda dengan dunia dekade 1970-an, juga sebelum itu. Dunia abad ke-21 semakin mengglobal, juga terberai, meluas, tak terpusat. Untuk Indonesia, Jakarta bukan lagi pusat segalanya. TIM (Taman Ismail Marzuki) tak pula lagi kiblat atawa pembabtis, seolah orang sah jadi sastrawan nasional jika tampil di situ bagai di masa lalu. Di mana-mana kini di seantero tanah-air, ada komunitas-komunitas sastra. Di mana-mana kini di segenap penjuru tanah-air terdapat penerbit buku, penerbit surat kabar, penerbit majalah. Pun ada banyak sastrawan, banyak acara, aneka ragam media tak saja cetak, elektronik, juga media sosial.

Jika dulu melacak tokoh pembawa jurus baru penulisan sastra cukup lewat “Horison”, “Budaja Djaja”, atau sebelum itu “Sastra”, “Kisah” dan lainnya, kini lebih kompleks. Dituntut ketekunan dan kecermatan lebih menyimaknya. Tidak kalah penting, loyalitas-dedikasi harus pula punya kadar yang lebih sebutlah lebih dari yang melekat pada figur almarhum HB Jassin, meski kini mencari tokoh sekaliber dia sulit tak alang-kepalang.

Meski begitu, tempo-tempo tetap saya bayangkan jagat sastra Indonesia bagai dunia kangouw Kho Ping Hoo. Karena, bukankah setelah Ang Bin Sinkay muncul Bu Pun Su yang lebih lihai? Dan sesudah Bu Pun Su hadir Sie Cin Hay yang berlebih lagi lihainya kelihaian yang selaras dan juga lahir dari semangat zamannya. Kiranya, juga akan begitu di dunia sastra Indonesia. ***

* Jakarta, 10.3.2013
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=324629