Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono

Kompas, 4 Juni 2012
The Rest Is Silence
Hamlet, William Shakespeare

/1/
Apakah kau percaya
pada arwah gentayangan
yang ada dan tiada
di sekitar istana? Apakah kau percaya
ada yang baunya sengit
ada yang membusuk
di sekitarmu?
Apakah kau sungguh-sungguh
mencintai ibumu?
Wahai, Perempuan,
kaulah kaum ringkih itu.

/2/
Pangeran, lihatlah ke luar.
Orang-orang pulang kantor
berkendara motor:
satu, sepuluh, seratus, seribu –
ada yang berteriak
mungkin padamu,
”Bagaimana kabar anjingmu?”
Tak ada yang peduli
dengan siapa ibumu tidur
malam ini.

Mereka tak suka nonton
sandiwara sedih –
hujan yang hampir setiap hari
menggigilkan mereka sudah cukup
menjajarkan mereka
di sudut duka yang baka.

”Apa kabar anjingmu
yang suka menggeletak
pura-pura mati
setiap kali kau bicara
kepada dirimu sendiri
tentang bunuh diri?”

/3/
Seorang perempuan yang lewat
membuka payung dalam gerimis
tak pernah mendengar
dan mungkin juga tak peduli
banyolan dua penggali kubur
di pinggir liang lahat
yang akan menganga
siap menerima masa lampaumu.

Perempuan itu pengin buru-buru pulang
menonton kisah gadis solehah
agar bisa ikut mengusut
rangkaian pertanyaan sederhana
yang tak ada kaitannya
dengan celoteh dua badut itu,
”Apakah memang cinta
yang telah mengirim
perempuan muda itu
ke jalan sesat?”

Perempuan berpayung
menunggu angkot –
kalau saja ia tahu
kisah cinta tak terlarai itu
mungkin akan dikatakannya –
tanpa menimbulkan rasa sedih,
”Itu pasti lebih dikenang
daripada kalau ia masuk biara
yang pasti akan menjadikannya
tak jelas telungkup
atau telentang.”

Sidik jarinya tetap menempel
di sekujur tubuhmu, lihat!
Siut matanya masih terasa
menyambar-nyambar tatapanmu!

/4/
Kau mungkin hanya ragu-ragu
untuk tahu bahwa sepasang badut
itu punya firasat buruk
segera sesudah kau mendarat
di negeri ini;
mereka bernyanyi-nyanyi
memain-mainkan tengkorak
melempar-lemparkan kata-kata musykil
ketika menggali kubur
perempuan muda yang bayangannya
meraung dan mencakar-cakar
dua belah otakmu.

Mereka mungkin saja tahu
bahwa kau hanya berpura-pura
gila ketika itu;
bahwa kau memang tak paham
makna cinta yang kaukumur-kumur
tak pernah masuk tenggorokanmu,
”Yang mati bunuh diri
tak berhak dikubur
di pelataran suci ini!”

Tapi, bukankah kau sebenarnya
yang membimbingnya
ke liang kubur itu?
O, ya, Pangeran – bukankah kau
yang pernah menyuruhnya
masuk biara ketika ia
merasa tak kuasa
menjangkaumu? Padahal!

/5/
Bahwa kau memang tak paham
ketika dulu bilang
ibumu pelacur murahan
bahwa kau tak bisa mengurai
simpul yang digulung
ibumu dan perempuan muda itu;
bahwa kau memang tak paham
kasak-kusuk sebelum kau masuk
ke perhelatan agung
yang tak seharusnya
tapi yang ternyata seharusnya
melibatkanmu;
bahwa adu pedang itu
permainan yang lebih perkasa
dari sandiwara akal-akalanmu.

/6/
Sandiwara yang kaurancang
hanya sedikit menggoyang mahkota,
yang jelata tak diberi tempat
untuk menyaksikannya;
mereka sibuk berseliweran
naik angkot, bis kota,
boncengan sepeda motor setiap hari
tidak untuk menjawab
pertanyaan yang mungkin kausodorkan
kepada arwah gentayangan itu.

Sandiwara hanya keyakinan maya
yang menorehmu, ”Hai,
kenapa gentar pada api maya?”

Kepada siapa sebenarnya
kautodongkan pertanyaan itu?
Kepada arwahmu sendiri
yang akan menutup
perbincangan ini nanti?

/7/
Underpass macet sama sekali
ketika hujan deras turun –
itu, alhamdulillah, sebabnya mereka
tak pernah sampai di gedung
pertunjukan sandiwara
akal-akalanmu.

Mereka buru-buru
ingin sampai ke rumah
menyaksikan sinetron
yang tak berniat menyodorkan
masalah atau tanda tanya
ke kotak kepala
yang sudut-sudutnya
tak pernah tentram
dan karenanya hanya memimpikan
air mata yang melegakan sukma.

Sialan! Hujan tak juga berhenti
macet di underpass menyebabkan
semua tertunda.

Alhamdulillah, mereka tak ikut bingung
meski mungkin suka sandiwara
yang ada adu pedangnya
yang banyak maki-makinya
yang berkilau gelimang darahnya
tanpa harus mendengarkan
ucapan filsafat yang keramat
di tepi liang kubur itu.

/8/
Aku mencintai perempuan muda
yang mungkin bunuh diri itu –
lebih dari segala cinta
yang dimiliki manusia!

/9/
Tentu kaudengar teriakan lelaki
yang bapaknya kaubunuh
dan adiknya mati tenggelam itu,
”Tunggu, jangan timbuni dulu
liang kubur yang kaugali
sampai aku bisa memeluk
sekali lagi
tubuh molek itu!”

/10/
Ada hp bergetar
di underpass:
”sinetron keluarga sakinah
dah mulai mas
km msh di jln
ujan ya
rugi mas ga nonton
haru bgt deh.”
Sialan! Hujan gak juga reda!
Padahal hanya dalam sandiwara
hidup berupa tanda tanya.

/11/
Apakah benar itu umpatan
ketika terdengar ucapan,
Wahai, Perempuan,
kaulah kaum ringkih itu.

/12/
Selebihnya: senyap-sunyi semata.
Nuh bilang, kita harus membuat perahu.

Mimpi kita muntah: banjir besar itu
apa sudah direncanakan sejak lama?
Ambil beberapa huruf yang cekung,
agar kita semua bisa tertampung.

Persiapkan juga beberapa yang tegak
dan miring, dan sebuah titik.

Ke mana kita terbawa muntahan ini?
Susun dalam sebuah kalimat yang kedap air
agar kita bisa sampai ke sebuah bukit.

Mimpikah sebenarnya muntahan ini?
Agar kita bisa menelan masa lalu.

:Rendra

/1/
Senyap mengendap-endap dan hinggap
di ranting itu. Seekor burung mematuknya –
ia terdengar menyanyikan aroma pandan
sepanjang musim penghujan.

/2/
Seekor burung menukik dan hinggap
di ranting itu. Sunyi sembunyi di sayapnya –
terlelap di antara bulu-bulunya.

/3/
Senyap, burung, sunyi, dan juga hujan
melesat bersama aroma yang kebiru-biruan.

__________________________
Sapardi Djoko Damono dalam waktu dekat akan meluncurkan dua buku puisinya yang terbaru, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita dan Namaku Sita, serta sebuah trilogi novelet.
Dijumput dari: http://oase.kompas.com/read/2012/06/04/10474938/Puisi-puisi.Sapardi.Djoko.Damono