ENSIKLOPEDI PENDERITAAN: WUJUD REALISME SOSIALIS PRAM DALAM CERITA DARI BLORA

Kasnadi *
stkippgripo.ac.id

Abstract

Pramoedya Ananta Toer Is one of the Indonesian vanguard authors. As a vanguard author, he is course of supported by his high-quality works in addition to his productivity. In his work, he tends to issue the marginalized humans, the oppressed figures with all the problem of life. Therefore, Pram is well-known as a socialist realis author. On the one hand, Pram is an expert in ars poetica and keen in observation, and on the other hand he is humanitarian figure. With these provinsions, Pram is able to produce socialist realist work of ironic tone. Ironic relity in his works is like a small encyclopedia on the suffering of the ordinary people tortured in pain. The ironic reality as a form of suffering is also recorded in Cerita dari Blora (Stories form Blora). Broadly speaking, the encyclopedia of superring in Cerita dari Blora is divided in the following categories and classifications:a)suffering claused by the arrogance of the authorities, b) suffering due to tradition and culture, and c) suffering due to ignorance and poverty.

Keyword: socialist realism, suffering, ruler, ignorance and povert, tradition.

Pendahuluan

Realisme kata Lukacs adalah teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dengan lingkungan sosialnya. Sedangkan istilah sosialis merupakan keadaan humanis yang lahir dari gerak realitas historis[1]. Karena itu seorang realis yang benar sekaligus seorang sosialis. Sehingga hakikat realisme sosialis menempatkan seni sebagai wahana penyadaran masyarakat akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki dan memperjuangkan kebebasan[2]

Muara realisme sosialis mendasarkan pada konsep bahwa sastra merupakan bagian dari sistem sosial budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat. Karena, lahirnya karya sastra tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial zamannya. Karena itu, karya sastra tidak sekedar lamunan, fantasi, atau khayalan, tetapi justru realitas kehidupan yang telah mengristal dalam diri pengarang. Kristalisasi realitas kehidupan tersebut tampak pada pengalaman diri, pengalaman batin, pengalaman bahasa, maupun pengalaman estetis pengarang[3]. Setiap karya sastra adalah hasil pengaruh timbal balik yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural, dan karya sastra itu sendiri merupakan objek kultural yang rumit. Karya sastra bukanlah suatu gejala yang tersendiri[4]

Seorang sastrawan dalam merespon realitas berpegang pada kejujuran. Hal ini karena pengarang berupaya agar karyanya dapat berfungsi sebagai saksi zamannya. Kesaksian yang jujur itu, bagi penguasa dimungkinkan bermakna lain, sehingga dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan. Pantaslah, jika Albert Camus mengatakan bahwasannya seni (baca:sastra) sesungguhnya merupakan pemberontakan[5]. Pemberontakan itu kata Leo Trosky lahir sebagai perjuangan ungkapan manusia untuk memperoleh hak-haknya yang dirampas oleh struktur yang berkuasa[6]. Oleh karena itu, salah satu watak penting kesenian termasuk sastra adalah realitas perwujudan keprihatinan yang menimpa kehidupan manusia. Sebagai misal, perang saudara yang meninggalkan luka, bencana yang memprihatinkan, penjajahan yang keji, derita kemiskinan yang mendera, dan keserakahan, penindasan, penggusuran penguasa terhadap masyarakat yang meresahkan. Peristiwa-peristiwa itu semua menjadi inspirasi sastrawan dalam melahirkan karya-karyanya.

Pembahasan

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram) merupakan salah satu pengarang Indonesia yang sanggup mencatat realitas ironis yang tersebar dalam masyarakat. Ia mampu menulis kejadian-kejadian yang sangat detail yang luput dari pemikiran pengarang lain. Karena itu, kata banyak pengamat sastra, Pram identik dengan sejarah Indonesia. Kepiawaian Pram dalam mencatat fakta sejarah dapat dibaca dalam sekian banyak karyanya. Sebagai Misal, Nayanyi Sunyi Seorang Bisu 1 dan 2, Perburuan, Korupsi dan juga Cerita dari Blora.

Meskipun, cerpen-cerpen yang terkumpul dalam Cerita dari Blora itu, ditulis Pram sudah setengah abad lebih, Pram mampu mengajak pembaca untuk menyaksikan deskripsi figur-figur celaka di depan mata. Hal ini disebabkan oleh kekuatan gaya tutur dan kejelian memotret permasalahan sosial yang tersebar di lingkungan sekitarnya. Membaca cerpen-cerpen Pram yang terkumpul dalam Cerita dari Blora, seakan kita diajak menelusuri parade dan reportase sejarah penderitaan manusia. Dengan humanitas tinggi, Pram mampu melahirkan karya-karya berbau realisme sosialis. Secara sederhana realitas ironis berwujud ensiklopedi penderitaan itu terpilah dalam kategori dan klasifikasi sebagai berikut: a) penderitaan akibat arogansi penguasa, b) penderitaan akibat tradisi, dan c) penderitan akibat kebodohan dan kemiskinan.

Penderitaan Akibat Arogansi Penguasa

Penderitaan akibat arogansi penguasa terlihat pada cerpen “Kemudian Lahirlah Dia”, “Hidup yang Tidak Diharapkan”, “Dia yang Menyerah”, “Yang Menyewakan Diri”, dan “Anak Haram”. Cerpen “Kemudian Lahirlah Dia” berkisah tentang sebuah keluarga yang menggalakkan swadesi untuk membantu kehidupan masyarakat sekitar. Swadesi mampu memantik denyut perekonomian masyarakat, sehingga pada gilirannya dapat menopang kebutuhan hidup secara sederhana. Tegaknya swadesi tidak bisa lepas dari pemikiran dan tangan dingin tokoh Ayah. Di samping memelopori tegaknya swadesi, ia juga membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan membuka berbagai macam kursus. Upaya tokoh Ayah tersebut tidak dikehendaki pihak penguasa. Hal ini terlihat bahwa semua bentuk swadesi dibumihanguskan dan pembodohan terus dilancarkan. Ketragisan tersebut membuka tokoh Ibunda berpesan pada anaknya, seperti terlihat pada deskripsi di bawah ini.

Belajarlah engkau baik-baik anakku. Kak Hurip pandai tapi ia belum kuasa mengatasi keadaan ini. Ia terpaksa melarikan diri untuk melupakan kekecewaannya. Ayahmu pun pandai, tapi belum kuasa. Karena itu anakku, engkau lebih pandai daripada mereka semua. Kalau engkau bisa lebih pandai dari mereka -jauh lebih pandai- takkan gagallah usaha dan pekerjaanmu (Toer, 2002: 79).

Situasi menjadi kontras tatkala swadesi tidak berjalan. Hancurnya swadesi melahirkan berbagai macam tindak kriminal, seperti: perjudian, perampokan, pembegalan, pencurian, penjambretan, pembunuhan, dan tindak kriminal lain. Pelumpuhan urat nadi perekonomian, pembodohan, dan penindasan –yang dilancarkan penguasa dengan segala cara- membuat frustasi tokoh Ayah dan Ibunda. Kejamnya penguasa sebagai wujud arogansi kekuasaan menyisakan trauma psikologis yang “menyungsum” pada masyarakat.

Upaya penguasa menghalangi kegiatan tokoh Ayah tidak lain adalah kelicikan penguasa yang secara terus-menerus membuat masyarakat menjadi miskin, bodoh, lemah dan pada akhirnya gampang untuk ditindas. Kapitalisme dilancarkan untuk membentuk kelas-kelas dalam masyarakat. Macam kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis menjadi majikan, sedangkan kelas proletar menjadi buruh. Penguasa sangat getol melumpuhkan ekonomi rakyat sebagi manifestasi bangsa terjajah dan mengangkat dirinya sebagai penguasa adalah bentuk dari manusia penjajah. Dengan kemiskinan dan kebodohan yang diderita rakyat, tentunya penguasa akan lebih mudah menguasai segala aspek kehidupan masyarakat yang dikuasainya.

Cerpen “Hidup yang Tidak Diharapkan” melukiskan kisah sedih keluarga Kajan -potret keluarga miskin akibat kegersangan alam Blora pada masa pendudukan Jepang-. Kemiskinan mendera keluarga Kajan, sampai Mini –adik Kajan- direlakan menjadi gundik orang Jepang. Di samping itu, bengisnya Jepang mengakibatkan pemandangan kemiskinan terjadi dimana-mana. Lihat saja sebuah cuplikan di bawah ini.

Kadang-kadang pada suatu kali mereka jatuh sakit. Kawan-kawannya hanya bisa memandangi anak yang sakit itu. Dengan demikian mereka mati seorang demi seorang. Dan kematian mereka takkan mengherankan orang yang lalu di dekatnya, juga tak mengherankan bapak dan emaknya yang ditinggalkan di kampung: hidup yang tak diharapkan (Toer, 2002: 115).

Pemandangan tragis menyentuh empati dilukiskan Pram dengan ritme pelan tapi pasti. Deskripsi di atas memperlihatkan betapa tidak berartinya sebuah kehidupan. Anak-anak kecil bertebaran mengais rezeki di kota-kota. Kehidupannya sangat rentan dengan berbagai macam penyakit. Pemandangan anak kurus, kering pertanda kekurangan gizi menjadi hal biasa yang dapat dilihat setiap saat. Bahkan, sampai kematian pun menjadi barang murah yang tersedia kapan saja. Memang, kata Pram pada larik terakhir kutipan di atas sangat tepat, yakni: hidup yang tak diharapkan.

Tragedi semacam itu, akibat penjajahan Jepang yang terkenal dengan kekejiannya. Memang meski Jepang menjajah Indonesia dalam jangka yang tidak begitu lama jika diandinglan dengan Belanda, namun lukanya menjadi luka memanjang yang kegetirannya terasa sampai sekarang.

Penderitaan dalam cerpen “Dia yang Menyerah” disebabkan balutan konflik para pemegang kekuasaan seiring lengsernya pemerintahan Hindia-Belanda dari bumi Blora. Konflik itu mengakibatkan kehancuran keluarga kecil seperti keluarga Pak Sumo. Pak Sumo dengan kedelapan anaknya tercerai-berai akibat ideologi yang dianut berbeda. Pak Sumo pada awalnya sangat mengagumi Jepang yang berpanji-panji kemakmuran bersama. Pak Sumo beranggapan bahwa pada saat itu, Pasukan Sakura berjuang untuk mempertahankan Asia Timur Raya. Dan, inilah menurut Pak Sumo suatu permulaan yang baik bila anak-anaknya menjadi anggota Pasukan Sakura.Tetapi, karena kedua anak laki-lakinya gugur sebagai pasukan Sakura ia frustasi dan kecewa. Kekecewaan Pak Sumo dengan Dai Nippon, semakin membulatkan tekad masuk menjadi anggota Komite Nasional yang tentunya berpaham nasionalis.

Salah satu problem dalam keluarga Pak Sumo adalah perbedaan paham ideologi yang dianut. Is -anak ketiga Pak Sumo- justru mengambil jalan berseberangan dengan Ayahnya. Pak Sumo menceramahi anak-anaknya agar menjadi nasionalis sejati, di sisi lain Is mendoktrin dan mencekoki adik-adiknya tentang ajaran komunis. Menurut Is, merah adalah pejuang rakyat kecil dan penghancur kapitalis. Merah adalah penghancur budak-budak imperialis-borjuis yang mementingkan kemakmuran secara individualis. Inti perjuangan pasukan merah adalah bekerja untuk kemakmuran dan kepentingan bersama.

Sementara, Suradi dan Suripto masuk menjadi tentara Jepang. Suradi menjadi korban peperangan di Birma, dan Suripto diciduk Inggris. Kecarutmarutan keluarga Pak Sumo, menyisakan Sri dan adik-adiknya dalam penderitaan. Hal ini, dikarenakan, Pak Sumo sendiri dipenjara oleh Pasukan merah. Ia terpaksa dibunuh karena mempertahankan ideologi nasionalismenya. Sungguh, hidup hanya menunda kekalahan[7]

Sri dan adik-adiknya harus menelan apa saja yang bisa ditelan dan menghilangkan lapar barang sebentar. Tapi akhirnya, habis juga daging Sri dan keempat adiknya. Tinggal kepala mereka jua yang masih gemuk –seperti gerundang kering-. Semua keadaan buruk yang menimpa diri akan gadis kecil belum balig itu membuat pikirannya jauh lebih tajam daripada seharusnya. Perasannya pun jadi runcing, halus, dan terasah. Dan selain itu semua: jiwanya telah kejangkitan perasaan menyerah. Ya, anak sekecil itu telah tahu apa artinya menyerah (Toer, 2002: 231)

Kutipan di atas merupakan sebuah potret penderitaan yang menyedihkan. Anak-anak berkumpul tanpa seorang Ayah dan ibu. Mereka harus menanggung beban yang sangat berat. Badannya kurus, kering, tinggal tengkorak kepala yang tampak gemuk dan besar kata Pram bagai “gerundang kering”. Tampak jelas kalau mereka kurang makan.

Penderitaan itu seakan merupakan penderitaan abadi bagi kelurga Pak Sumo. Meskipun sudah berganti penguasa –Jepang, Nasionalis, Komunis, Siliwangi, Inggris-, ketragisan hidup keluarga Pak Sumo tidak beranjak berubah. Ini dilukiskan Pram dengan sangat simpel.

Keadaan lama digantikan oleh keadaan baru –baru dalam bentuk. Isi tetap lama- tetap yang dulu-dulu juga: kesulitan hidup yang membelukar (Toer, 2002: 283)

Derita keluarga Pak Sumo, jika ditarik ke masa sekarang masih relevan. Meskipun negara kita sudah merdeka lebih dari setengah abad, kenyataannya kemiskinan masih melilit masyarakat bawah. Masalah kemiskinan, busung lapar, gizi buruk sampai bunuh diri akibat tekanan ekonomi menjadi sering kita simak dan kita baca dalam reportase dan berita saat ini.

Penderitaan Kakek Leman dalam cerpen “Yang Menyewakan Diri” dan Ahyat pada cerpen “Anak Haram” agak berbeda dengan tiga cerpen terdahulu. Penderitaan dalam kedua cerpen ini bukan akibat kekejaman penjajah, tetapi kekejaman penguasa pribumi. Penguasa memanfaatkan kelebihan Kakek Leman sebagai sosok yang kuat fisiknya sekaligus memanfaatkan kelemahan Kakek Leman sebagai sosok miskin dan bodoh. Bagi Kakek Leman, kemiskinan dan kebodohan itulah yang menyebabkan ia disewa sebagai pembunuh bayaran. Penguasa dalam hal ini pemilik modal berlaku sewenang-wenang terhadap kaum lemah sebagai alat untuk mendapatkan kepuasannya. Kakek Leman menjadi korban kekuasaan penguasa untuk mematrikan eksistensi kekuasannya.

Dalam cerpen “Anak Haram” penderitaan bermula dari seorang guru yang menghina, merendahkan, memojokkan, menyudutkan seorang muridnya yang bernama Ahyat. Dalam titik nadir, Si bocah Ahyat melemparkan tinta ke wajah gurunya karena emosi yang memuncak. Penghinaan, perendahan, penyudutan itu bermula dari sosok Ahyat yang lahir dari orang tua pengkianat. Karena, sewaktu zaman revolusi orang tua Ahyat menjadi seorang mata-mata. Dosa pengkhiatan tersebut melegitimasi pada Ahyat. Cerpen ini menawarkan wacana yang penting untuk didiskusikan. Benarkah kesalahan orang tua harus dipikul juga oleh anaknya? Dalam cerpen ini seakan berlangsung proses pembabtisan dosa dari orang tua kepada ahli warisnya. Potret semacam ini dapat kita lihat pada cerpen-cerpen Martin Aleida yang berjudul “Malam Kelabu”, Leontin Dewangga”, dan “Ode untuk Selembar KTP”.[8]

Pelajaran menarik dari kisah sedih dalam kelima cerpen di atas mengisyaratkan begitu pentingnya pembebasan terhadap kaum tertindas. Kisah-kisah sedih yang dialami kaum marjinal pada kelima cerpen di atas menunjukkan kepekaan intuitif pengarang terhadap penderitaan masyarakat bawah. Hal ini sesuai dengan konsep pengarang realime sosialis yang mengharuskan kegiatan sastra untuk kepentingan kaum proletar. Ini dilakukan Pram karena kecintaannya kepada masalah kemanusiaan. Sehingga, bagi Pram -sebagai pengarang realisme sosialis- keindahan itu terletak pada kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa [9]

Berbagai wujud penderitaan masyarakat bawah akibat arogansi penguasa juga mengilhami penyair Wiji Thukul dalam kumpulan puisinya Aku Ingin Jadi Peluru[10]. Di samping Wiji Thukul masih banyak sastrawan yang sangat peduli terhadap ketertindasan masyarakat bawah akibat kekuasaan. Misalnya dapat kita baca pada karya-karya Taufiq Ismail, W.S. Rendra, Riantiarno, Garin Nugroho,dan sastrawan-sastrawan lain.

Penderitaan Akibat Tradisi dan Budaya

Penderitaan akibat budaya meliputi budaya kawin muda, budaya lupa masa silam, dan budaya patriarki. Penderitaan akibat mengakarnya budaya kawin muda terepresentasikan pada cerpen “Inem”. Budaya lupa masa lalu terlihat pada cerpen “Yang Hitam”, sedangkan budaya patriarki tercermin dalam cerpen “Yang Sudah Hilang”, dan “Pelarian yang Tak Dicari”

Inem sebagai tokoh dalam cerpen “Inem” merupakan korban akibat budaya kawin muda. Ini bermula dari orang tua Inem yang terbius oleh kekayaan calon menantunya. Tetapi, karena Inem belum berumur tak dapat menjalankan kehidupan rumah tangga serta belum memahami akan hakikat perkawinan. Akhirnya perceraian sebagi ujung perkawinannya tak dapat dicegah, meski Inem mendapatkan nasihat tentang konsep budaya Jawa bahwa istri harus patuh kepada suami.

Dari sinilah tampak bahwa Pram meski lahir dan besar di tanah Jawa, menolak tradisi yang menentang logika pemikiran akal sehat. Potret Inem adalah potret masyarakat Jawa yang cenderung mengawinkan anak perempuannya pada usia yang sangat muda. Mengapa terjadi perkawinan muda? Kita tengok saja, bahwa budaya Jawa memang menggengggam konsep bahwa jika mempunyai anak wanita pantangan menjadi perawan “kasep”. Maka dari itu, masyarakat Jawa cenderung dan lebih suka jika anak perempuannya secepatnya mendapat jodoh.

Cerpen “Yang Sudah Hilang” berkisah tentang tidak kuasanya seorang istri berkomunikasi dengan suaminya. Tokoh suami sering meninggalkan rumah yang tidak jelas ujung pangkalnya. Kebiasaan itu mengakibatkan semua permasalahan hidup dipendam tanpa dibicarakan dengan suami. Dia rela menggenggam penderitaan bersama anak-anaknya. Dalam cerpen inilah Pram menunjukkan kepatuhan seorang istri terhadap suami. Hal yang dianut masyarakat Jawa semasa cerita pendek ini ditulis.

“Mengapa ibu mengaji terus?” tanyaku lagi.

“Supaya ayahmu selamat. Supaya ayahmu dijauhkan dari perbuatan maksiat. Engkau tak tidur lagi?”

“Di mana bapak bu?” tanyaku lagi.

“Sudah begini malam?” tanyaku lagi.

“Ya, bapak banyak bekerja.”

“Kapan bapak pulang bu?”

“Kalau engkau tidur, bapak nanti pulang. Ayo tidur lagi, anakku”.

Dialog anak dan Ibundanya di atas menunjukkan bahwa kepatuhan istri kepada suami begitu jelas. Meskipun sebenarnya sakit hati, sang Ibu tetap tegar menghadapi pertanyaan menyelidik dari anaknya. Apalagi ketika ditanya mengapa ibu mengaji terus? Sang ibu menjawab dengan arif, agar bapaknya selamat dan terhindar dari perbuatan maksiat.

Konsep patriarki sangat jelas pada kutipan cerpen di atas. Segala sesuatu merupakan urusan laki-laki. Laki-laki mempunyai kebebasan dalam melakukan apa saja. Laki-laki boleh keluar rumah seenaknya saja, bahkan boleh berselingkuh. Masyarakat Jawa menghendaki konsep patriarki berjalan terus, karena mempunyai pandangan bahwa wanita adalah figur yang tidak begitu penting dalam kehidupan bermayarakat. Wanita adalah “wani ditata”, “kanca wingking”, yang ranah pekerjaannya berkutat pada “dapur”, “kasur”, dan “pupur” dan tugasnya “masak”, “macak”, dan “manak”.

Dominasi laki-laki juga terlihat pada cerpen “Pelarian yang Tak Dicari”. Cerpen “Pelarian yang Tak Dicari” sebuah cerpen reportase kekejaman seorang Siman sebagai suami Siti. Dominasi Siman dalam kehidupan rumah tangga membuat Siti kabur dari rumah. Keluaraga ini dipenuhi percekcokan, pertengkaran yang selalu berujung pada penderitaan Siti. Klimaks pertengkaran keluarga tersebut terlukis dalam kutipan di bawah ini.

Dan tamparan pun menyusullah. Siti yang dalam sehari itu, mendapat hajaran dua kali, jatuh menggelimpang di tanah tak ingatkan diri. Mukanya yang cantik tertengadah ke genting rumah. Waktu itu malam sedang gelap-gelapnya –bulan tua- (Toer, 2002: 89)

Drama pertengkaran dalam dialog di atas merupakan klimaks dari cerpen “Pelarian yang Tak Dicari”. Mengapa drama pertengkaran di atas menjadi klimaks? Karena keesokan harinya Siti kabur dan tercebur menjadi pelacur. Pentingnya muatan dalam cerpen ini adalah ketimpangan persoalan keluarga yang didominasi laki-laki, sehingga istri yang kabur tidak dicari suaminya. Ketidakmauan seorang suami mencari istrinya yang kabur menandaskan bahwa ketidakberartian kehadiran wanita dalam keluarga, dan inilah paham masyarakat patriarki yang dipotret Pram.

Budaya melupakan sejarah terlukis dalam cerpen “Yang Hitam”. Dalam cerpen “Yang Hitam” ini , terdapat nuansa yang menarik untuk direnungkan karena budaya melupakan masa silam. Ketika orang-orang beramai-ramai dengan kegembiraan merayakan hari kemerdekaan, di sisi lain ada adegan yang kontroversial yakni dialog seorang Kirno dengan Tini adik kecilnya.

“Apa yang dilihat orang buta, Mas?”

“Apa yang dilihatnya Tini, hanya kegelapan saja.”

“Seperti malam, Mas?’

“Ya, seperti malam. Hitam seperti malam. Dan semua hitam saja kelihatannya.” (Toer, 2002: 317).

Dialog Kirno dengan Tini adalah kata hati seorang kakak beradik yang sangat menderita karena tradisi pengabaian sejarah. Dialog di atas menyentuh kesadaran kita atas kejamnya tradisi melupakan masa silam. Seorang Kirno semasa perjuangan merelakan matanya buta dan kakinya buntung hanya demi kemerdekaan. Akan tetapi, ketika orang-orang merayakan kemerdekaan yang tersisa hanyalah penderitaan. Kata “hitam” bagi Kirno dan keluarganya tidak sebatas dunia yang dilihatnya tapi kehidupan kini sampai masa depan hanyalah hitam dan hitam.

Penderitaan Akibat Kebodohan dan Kemiskinan

Penderitaan akibat kebodohan dan kemiskinan dapat kita simak pada cerpen “Pelarian yang Tak Dicari”, “Yang Menyewakan Diri”, dan “Sunat”. Dalam cerpen “Pelarian yang Tak Dicari” tidak hanya menggambarkan kekuasaan Siman sebagai seorang suami, tetapi kekejaman Siman karena kemiskinan yang melilit. Kemiskinan membawa Siman menjadi suami pemarah. Kemiskinan yang terbalut dengan kebodohan mengakibatkan terjerumusnya tokoh Siti sebagai pelacur. Profesi nista itu, bagi Siti bukan merupakan sebuah pilihan, tetapi merupakan dampak kebodohannya.

“Yang Menyewakan Diri’ merupakan salah satu cerpen Pram yang merepresentasikan kebodohan dan kemiskinan. Kebodohan dan kemiskinan Kakek Leman mengakibatkan ia mau menerima pekerjaan sebagai pembunuh bayaran. Dalam menjalani profesinya, Kakek Leman tertangkap lalu dijebloskan ke penjara. Kembali dari penjara tumbuhlah kesadarannya, bahwa orang hidup harus rajin dan juga pandai, pandai dalam arti yang lebih luas termasuk dalam memilih dan memilah jenis pekerjaan hingga ekonominya dapat tercukupi dengan baik. Pelajaran pahit itu dijadikan pijakan untuk menghabiskan hari-harinya bekerja dan terus bekerja. Tercukupinya kebutuhan hidup akhirnya Kakek Leman tidak berprofesi sebagai pembunuh bayaran lagi.

Kebodohan dan kemiskinan kembali dibangun Pram dalam cerpen “Sunat”. Menjadi muslim sejati merupakan harga mahal yang harus dibeli oleh seseorang. Mengapa mahal? Karena menjadi muslim harus lahir dari rahim ibu berharta. Kebodohan itu terjadi karena konsep menjadi Islam sejati ditandai dengan adanya peristiwa sunat. Yang menarik pada diri Mamuk, meski ia sudah disunat ternyata ia tidak merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Dalam kebodohannya, Mamuk tahu jika ingin menjadi seorang Islam sejati ia harus menunaikan ibadah haji. Sedangkan, untuk naik haji tidak dapat dilakukan dengan bermodal kemiskinan, tetapi harus dengan uang banyak. Akhir kata, Mamuk tidak mungkin menjadi muslim sejati karena lahir dari rahim miskin.

Potret kebodohan dan kemiskinan pada diri Siti dan Mamuk merupakan cermin pahit yang dipaparkan Pram. Logika yang ditawarkan Pram adalah pentingnya memerangi kebodohan dan kemiskinan dari bumi tercinta ini. Kapan bangsa ini menjadi bangsa yang tidak menderita, jika kebodohan dan kemiskinan membalut terus-menerus?

Berkaitan dengan penderitaan akibat kebodohan dan kemiskinan itu harus menjadi pemicu untuk berpikir agar keluar dari lubang penderitaan. Akan tetapi, sosok Siti dan Mamuk sebagai bangsa terjajah sudah digiring oleh bangsa penjajah menjadi manusia-manusia yang bermental inferior. Kebodohan itu memang dibentuk dan diupayakan oleh kaum penjajah sebagai wakil bangsa Barat yang secara konstruk budaya harus menguasai bangsa Timur. Karena itu, bangsa Timur selalu menjadi bangsa yang lebih rendah dan lebih lemah dimata bangsa Barat. Dan sebaliknya bangsa Timur juga mengakui bahwa bangsa Barat memang lebih hebat dalam segala aspek kehidupan bila diabndingkan dengan bangsanya sendiri. Doktrin ini sudah mengakar dalam kebudayaan Timur, bahkan seorang Edwar Said menyatakan bahwa bangsa Timur tidak boleh melihat orang Barat meski orang Barat itu sudah berumur tua (2001:54).

Penutup

Cerita dari Blora bagai sebuah ensiklopedi penderitaan sosok-sosok marjinal yang terlukis dengan gaya realis. Penderitaan tokoh-tokoh itu disebabkan oleh kedzaliman penguasa, mengguritanya struktur budaya, kebodohan, dan kemiskinan yang sulit dilepaskan. Kedzaliman penguasa melalui ideologi imperealismenya mengejawantah dalam wujud kapitalistik yang akhirnya menciptakan kelompok borjuis selaku majikan dan kelompok proletar sebagai kaum buruh.

Di sisi lain penderitaan itu akibat budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Sebagai missal, budaya melupakan masa silam, budaya patriarki, dan budaya kawin muda. Tak pelak lagi ensiklopedi penderitaan itu wujud dari kebodohan dan kemiskinan yang turun-temurun. Kebodohan dan kemiskinan yang turun-temurun ini juga akibat dari arogansi penguasa.

Ensiklopedi penderitaan dalam Cerita dari Blora dituturkan Pram, untuk menggugah kesadaran manusia untuk mengenang hakikat dirinya. Berbagai wujud penderitaan itu akhirnya mampu menarik empati kemanusian untuk didiskusikan dengan pembaca. Dan akhirnya, kepiawaian Pram dalam bertutur, kejelian mengangkat tema-tema kemanusian, dan kepedulian yang tinggi akan penderitaan sesama menunjukkan Pram seorang pengarang realisme sosialis sejati. Pengarang realisme sosialis sejati melakukan pergulatan secara intens dengan lingkungannya dalam memperjuangkan kebenaran dan upaya menuntut keadilan.

Catatan:
1. Ibe Karyanto, Realisme Sosialis George Lukacs, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997, hal. 9.
2. Eka Kurniawan, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, Yayasan Aksara Indonsia, Yokyakarta, 1999, hal. 8.
3. Liberatus Tengsoe Tjahjono, Sastra Indonesia Pengantar Teori dan Apresiasi, Nusa Indah: Ende-Flores, 1988, hal. 37.
4. Sapardi Djoko Damono, Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1984, hal. 4.
5. Lihat Albert Camus, “Seni dan Pemberontakan” , dalam Ahmad Norma (ed) Seni, Politik, Pemberontakan, (Terjemahan Hartono Hadikusumo), Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1998, hal. 1
6. Eka Kurniawan, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, Yayasan Akasara Indonesia, Yogyakarta, 1999, hal. 4
7. Lihat larik sajak Chairil Anwar yang sangat popular dalam Kerikil Tajam dan yang Terhempas dan yang Putus.
8. Lihat Martin Aleida, Leontin Dewangga, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2003.
9. Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, 2003, Lantera Dipantara, Jakarta, hal. 5.
10. Lihat Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, Indonesia Tera, Magelang, 2000. Buku ini berisi sajak-sajak protes kaum pinggiran terutama kaum buruh terhadap arogansi penguasa. Buku ini mengantarkan Wiji Thukul sebagai penyair yang mendapatkan hadiah YAP THIAM HIEN AWARD ke-10 pada tahun 2002. Penghargaan ini karena Wiji Thukul dianggap melindungi hak asasi manusia.

Daftar Bacaan:
Aleida, Martin. 2003. Leontin Dewangga. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Camus, Albert. 1988. “Seni dan Pemberontakan”, dalam Ahmad Norma (ed). Seni, Politik, Pemberontakan. (Terjemahan Hartono Hadikusumo). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Karyanto, Ibe. 1997. Realisme Sosialis George Lukacs. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kurniawan, Eka. 1999. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.
Said, Edwar W. 2001. Orientalisme. Bandung: Penerbit Pustaka.
Thukul, Wiji. 2000. Aku Ingin Jadi Peluru. Magelang: Indonesia Tera.
Tjahjono, Liberatus Tengsoe. 1988. Sastra Indonesia Pengantar Teori dan Apresiasi. Nusa Indah: Ende-Flores.
Toer, Pramoedya Ananta. 2002. Cerita dari Blora. Cetak Ulang IV. Jakarta: Hasta Mitra.
_______. 2003. Realisme Sosialis dan Sastra Indonsia. Jakarta: Lantera Dipantara.
_______. 2000. Nyani Sunyi Seorang Bisu 1. Jakarta: Hasta Mitra.
_______. 2000. Nanyi Sunyi Seorang Bisu 2. Jakarta: Hasta Mitra.

*) Penulis adalah dosen STKIP PGRI Ponorogo
Dijumput dari: http://stkippgripo.ac.id/html/index.php?id=artikel&kode=19