Langgam Keroncong Dini Hari

Werda Filsani
Suara Karya, 27 April 2013

Tiap pagi kau menyiapkan kopi untukku. Padahal sudah pasti, kopi itu hanya akan kusesap sedikit setelah dua batang rokok tinggal puntungnya. Kau akan menungguiku duduk di teras sambil membaca puisi-puisi di koran pagi yang isinya mendekati basi.

Kata-kata yang bagimu lebih berharga dari mutiara dalam rangkaian kalimat yang fana, bila ada yang bagus, kau gunting dan tempel di buku coklat usang. Buku itu akan kau berikan pada anak cucumu kelak. Kubilang hanya orang bodoh yang mewariskan buku puisi pada anaknya. Memangnya puisi bisa bikin kenyang, umpatku.

Seperti biasa kau berkilah, puisi layaknya irama keroncong dalam gubahan kata-kata yang bisa hidup melampaui generasi, langgam yang kau rindukan lebih dari setengah abad lalu.

Kau hanya tersenyum dan berlalu dengan menyimpan kecewa di sudut matamu. Aku selalu tak tega melihatmu dengan sorot mata semacam itu. Kadang pikirku, mungkin memang laki-laki macam aku ditakdirkan menjadi keras dan mudah menyerah pada kenyataan hidup, karena kadang hidup itu tak banyak memberi pilihan. Anehnya, lelaki seperti aku, justru selalu dipertemukan dengan perempuan yang sanggup memeluk segala keadaan sepertimu.

Malam itu, kau membawakan “Rayuan Pulau Kelapa” bagai semilir angin malam yang membawa orang-orang di kedai berada di dunia yang bening. Aku termasuk salah satu yang termangu melihat perempuan elok ini. Ingin kusapa saat ia turun panggung, tapi rupanya bukan hanya aku, banyak pria menginginkan untuk dekat si biduanita.

Malam makin larut. Aku sengaja ingin pulang belakangan, sembari mengintip ke arah mana si gadis ayu itu beranjak. Bermaksud menawarkan untuk diantar pulang. Ternyata sudah ada pria berbadan tinggi, besar dan tegap mengantarnya pulang. Berpangkat pula.

Ada sedikit rasa kuatir membiarkan gadis ayu berjalan sendirian di kota kecil yang baru dua malam lalu Sekutu datang melucuti senjata pasukan kate. Tentara rakyat termasuk kawan-kawan bekas PETA tak tinggal diam. Segala cara disusun mengeyahkan kedua pasukan asing itu, karena itulah harga kemerdekaan. Bau anyir darah dan mesiu lekat di tanah kering yang menerbangkan debu luka dan derita penduduk dan menempel lekat di tembok-tembok tua yang catnya mulai memudar.

“Dhuuaarrr”, bunyi menggelegar di luar kedai, disusul rentetan tembakan. Aku keluar dengan pandangan mata tetap tajam. Bunyi tembakan berhenti, ada teriakan wanita menjerit di ujung gang. Aku berlari menghampiri ke arahnya. Ternyata si perempuan tadi, di sampingnya tergeletak si lelaki berbadan tegap dengan luka mengucur di dada dan kepala. Mata perempuan itu nanar menatapku, aku bungkam mulutnya sebelum ia berteriak lagi.

“Tenang Nona, saya serdadu juga, jangan bersuara,” kataku setengah berbisik. Wajahnya masih panik. Kami berdua tiarap dan kuberanikan membawanya ke dalam gang.

Rumah penduduk banyak tidak dihuni, mengungsi di pinggiran kota. Kalau pun ada yang tinggal hanya beberapa yang berpura-pura membuka penginapan, demi secuil informasi pergerakan serdadu musuh.

Kami bersembunyi di salah satu rumah setelah mendobrak pintu dan mengganjalnya dengan lemari dari dalam. Perempuan itu meringkuk di kursi kayu panjang, ketakutan, bibirnya gemetaran. Udara dini hari menyesap ke pori-pori. Kupasang telingaku di daun jendela, langkah kaki yang sempat mendekat ke arah rumah ini perlahan menjauh. Setelah keadaan cukup aman, kugeledah isi rumah, untuk memastikan rumah ini tak berpenghuni.
“Sudah aman, kau tak perlu kuatir, sementara kita berada di rumah ini sampai keadaan mereda.”

“Kita sudah terbiasa dikurung, tak ada bedanya berada di dalam sini atau di luar sana. Puluhan tahun dijajah, mental kita sudah dibentuk untuk takut dan tunduk pada mereka yang asing. Lalu untuk apa sekarang kita sembunyi? Lebih baik aku dan bayiku mati daripada ia lahir sebagai pengecut yang sembunyi.”
Aku memalingkan muka, tak menghiraukan ocehannya. Memang susah menjaga seorang keras kepala macam dia.

Sudah lima purnama, kota kecil ini senyap. Bayi kecil ini meringkuk tenang dalam pelukanku. Pria yang dulunya asing itu kini seranjang bersamaku. Saat malam merayap pelan dan gelap, di bale kayu ini aku hendaknya seperti istri-istri lain, tidur tenang bersama suami dan anak-anak mereka. Toh, perang sudah usai, tak ada lagi jam malam, penduduk sudah kembali ke rumah masing-masing. Meski lubang besar kehilangan itu masih menganga, tiap malam tiba layar lebar kenangan seperti dipampang di bubungan rumahku. Muncul lagi pentas kepedihan dari bayangan sepatu lars, berdiri di hadapanku dan rasanya bibir kelu seperti dijahit. Masih lekat dalam ingatan, awalnya mereka hanya bergerombol di depan kedai, lalu masuk ke dalam memicu keributan gara-gara ada serdadu Nippon kawan mereka mabuk dan mengacau, tembakan-tembakan disarangkan entah ke tubuh siapa. Laki-laki digiring keluar kedai, tak tahu dibawa kemana. Perempuan diseret ke ruang belakang, tempat biasa aku berganti baju manggung. Kami berlima bergerombol dan menggigil ketakutan di depan muka prajurit berbayonet. Mereka menyerbu ke arah kami layaknya raksasa kelaparan menemukan mangsa.

Aku sempat berontak, menendang sekuat tenaga dan berlari keluar. Tiba-tiba seorang Nippon menyeretku dan berkata pada atasannya, aku akan dibawa untuk atasannya. “Yang cantik itu bawa ke belakang sana”.

Di belakang kedai, ada kamar yang biasa ditempati oleh Pak Saidi, keamanan kedai. Tubuhku tergolek setelah diikat tali, bajuku dilucuti komandan pasukan Nippon itu. Tak kurasa lagi saat tubuhnya di atasku. Dunia sekelilingku tampak gelap. Yang kuingat saat bangun, luka sayatan di tubuhku mulai nyeri. Ada yang berdenyut di bawah, entah sepertinya jiwaku diambil para penghuni dunia bawah yang kelam sejak hari itu.

Tatapan mata kosong dan aku berjalan terseok menuju rumah, yang ternyata juga tinggal reruntuhan. Kakiku kembali melangkah ke kedai yang sama hancurnya.

Tahun itu seperti tahun menuju kematian yang tak kunjung usai, saat Nippon berkuasa. Tubuh-tubuh pria dipaksa jadi romusha. Belum lagi bahan pangan musti disetor ke markas. Mereka dan kami harus antri untuk segelas beras. Nasib perempuan tak ubahnya seperti pelacur, tak peduli dia dari kalangan ningrat atau jelata. Aku salah satunya, merasakan di dalam perutku, ada makhluk lain sejak kejadian itu. Pahit terasa mencekat ulu hati menjalar ke rahang yang terbentuk menjadi keras dan berjanji pada diri sendiri aku harus mengenyahkan begundal kate itu dari negeri ini.

Sejak itu, aku menjadi satu-satunya primadona kedai, karena perempuan-perempuan temanku satu persatu kembali ke keluarganya dan ada yang nekat bunuh diri karena tak sanggup menanggung malu akibat hamil diperkosa. Kandunganku belum terlihat dan penampilanku di pangggung justru memukau para pria kate itu. Mas Pahing, salah satu bekas bumiputra yang masuk PETA sering minta informasi padaku mengenai langkah Nippon di kotaku. Dari ngobrol semalaman saat menemani serdadu Nippon mabuk, informasi itu kubagi diam-diam ke tentara rakyat untuk menyusun strategi. Mereka sering menyerang diam-diam saat para Nippon lengah dan mabuk. Saat itulah tentara rakyat memporakporandakan markas mereka.

Aku tetap bertahan dalam situasi genting dan kerap jadi sasaran para Nippon yang kecolongan. Sampai tersebarlah berita Nippon kalah dan siap dilucuti Sekutu.

Pagi yang cerah, aku menunggu ia menyesap kopi hitam tanpa gula di mejanya. Masih membolak-balik halaman koran minggu, berharap ada puisi yang cocok untuk kutempel di buku ini. Ia ingin mendengar aku kembali bernyanyi, menggumamkan langgam perjuangan seperti saat Kani lahir. Tapi semakin Kani besar, aku melihat kulitnya putih langsat, orang-orang desa tentu curiga, karena kulitku sawo matang, apalagi lelaki yang menikahiku berkulit gelap. Desas-desus bahwa Kani anak hasil hubungan gelapku dengan para pelanggan saat di kedai dulu makin santer. Suamiku hanya bisa menelan kepahitan itu tanpa mengunyahnya. Sialnya sampai di perut ia memuntahkannya pun tak bisa. Jiwanya yang halus dan rela menerima ama-nah titipan Mas Pahing. Mas Pahing tertembak saat hendak menjemputku malam itu. Ia janji membawaku ke pengungsian penduduk dan tempat persembunyian tentara rakyat di pinggiran desa.

Sejak desas-desus itu berkembang, aku sudah jarang menyanyi lagi. Suamiku memperhatikan perangaiku. Ia tak melarangku bekerja di kedai, tapi aku memilih mengasuh Kani dan bantu suami di ladang bila si kecil tidur.

Sejak semua orang asing itu pergi dari negeri ini, suamiku yang bekas anggota PETA besar harapan akan dapat penghargaan dari pemerintah, setidaknya pensiunan atau modal. Teman-temannya lain yang tercatat organisasi purnawirawan mendapat jatah pensiunan untuk hidup tenang di hari tua mereka. Sedang suamiku? Surat tanda pasukan PETA miliknya hilang terbawa banjir.

Sekarang, aku dan suamiku tinggal di kaki bukit. Untung masih ada upah menyanyi yang kutabung di kedai. Aku belikan tanah dan ladang di belakang rumah.

Aku pikir impian para pemimpin dulu jika negeri ini merdeka, rakyat sejahtera. Kapan perubahan itu terwujud? Sayangnya, desa tempatku tinggal sedang susah. Tak ada warga yang pegang uang. Akibatnya saling menukar barang kebutuhan. Ketela ditukar padi, ayam diganti dengan kangkung, pepaya dan singkong.

Di bagian lain negeri, kota tertentu justru mengalami musim uang. Apapun yang disentuh penduduk berubah menjadi uang dan sejahteralah penduduknya. Sayangnya, tak jarang terjadi saling bunuh, saat uang yang ditimbun si A lebih banyak dari si B dan wabah saling tak percaya dan curiga bagai kabut tebal yang mengaburkan pandangan penduduk kota. Mereka tak bisa lagi membedakan mana saudara dan tetangga. Gegap gempita pesta mewarnai keelokan tiap sudut kota, dan tak ada satu pun penduduk yang peduli wilayah lain yang kesusahan.

Suamiku pun semakin hari makin mengeras wajahnya, ditempa tekanan jaman, keriput di sana-sini menghias raut muka. Rambut pun sudah berubah warnanya. Aku masih menunggu bahwa kita akan merdeka, sejahtera bersama.

“Musim adalah musuh kita sekarang, pak. Anak cucu kita harus tahu itu, aku ingin membuat puisi tentang musim tanpa uang yang terjadi di wilayah kita. Bahwa penduduk kota itu harus tahu, ada saudaranya di wilayah lain yang terus-menerus menerima musim tanpa uang. Menurutmu bagaimana, pak?”

“Bune..bune..kau tak pernah berubah dari dulu, yang perlu ditulis itu kenapa pemerintah sekarang tidak bisa bikin arah angin bertiup bergantian. Jaman canggih ini, manusia sudah ke bulan katanya, apa sulitnya bikin desa kita jadi bermusim uang.”

Tapi setelah dipikir, aku tidak setuju juga kalau musim uang ke desa ini. Hidup tak akan setenteram sekarang. Tiap keluarga mencukupkan diri dengan kebutuhan hari ini. Besok adalah misteri. Itulah seni hidup yang mungkin tak dirasakan kota yang bermusim uang, karena segala sesuatu dinilai dari uang.

Kali ini, bukan Belanda, Nippon maupun Sekutu yang menjajah, tapi sesuatu yang asing berentitas nihil tapi mampu menelan jati diri yang dulu didengungkan para pendiri negeri ini. Sedangkan aku hanya bisa merangkai kata menjadi puisi layaknya langgam keroncong dalam gubahan kata-kata yang bisa hidup melampaui generasi, langgam yang kurindukan lebih dari setengah abad lalu. Langgam yang tak pernah kunyanyikan lagi tentang negeri indah yang penduduknya hidup tenang, sama rasa sama rata.***

* Palmerah, 28 Januari 2013
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=325432