Evi Melyati
Suara Karya, 20 April 2013

Seikat mawar putih dengan tangkai dan daun yang masih segar tergeletak di meja kerja Rachel. Kelopak dan mahkotanya masih basah, bertumpuk saling melengkapi, melingkar hingga tak putus sampai tiga saf diatasnya. Ada satu helai mahkota bunga kecil hampir setinggi putik yang membalik. Tidak mengganggu pandangan karena begitu kecilnya. Sendirian ditengah mahkota mawar yang lebar. Seakan enggan menatap keatas, mahkota itu meringkuk dan menunduk. Berdiam dalam lusinan putik yang menarik terik. Rachel hanya memandangi bunga itu. Seperti ingin menumpahkan kerinduannya pada sesuatu yang belum pernah dijumpainya.

Beberapakali Rachel berkedip, mengangkat tangan mengusap rambut dikepalanya, menggerakkan jari-jarinya dan menyentuh alis mata dengan kelingkingnya. berpikir dan menebak kenapa. Tapi pandangan matanya tak pernah beranjak dari mawar putih itu. Dia meletakkan kedua sikunya diatas meja. Jari-jari dikedua tangannya bertaut. Dia menitipkan dagunya disana. Setelah berdiam beberapa lama. Dia mengambil tangkai mawar itu dengan tangan kirinya, memandangnya sebentar, lalu memindahkannnya di tangan kanan. Rachel memutar tangkai mawar itu beberapa kali. Dia merentangkan tangannya masih memutar bunga itu dengan jempol dan telunjuknya.

Matanya tak pernah lepas memandangi, seakan hendak meneliti dari segala sudut. Lalu dia meletakkan bunga itu di dadanya sambil memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya. Tanggal sembilan. Selalu pada tanggal sembilan. Hanya satu tangkai mawar dan berwarna putih. Di bulan yang sama, sejak tiga tahun terakhir ini. Jujur, Rachel merasa tersanjung. Pun akhir-akhir ini begitu banyak kata bersliweran dalam benaknya. Tumpang tindih hendak mentertibkan dirinya menjadi kata-kata bijak yang akan bisa dimengertinya. Setidaknya kata-kata itu akan dapat dijadikan pijakan dan rekomendasi untuk mengambil langkah dan tindakan bagi setiap masalah yang dihadapinya.

Sejak dua tahun yang lalu, dia mengurung diri. Membangun rumah bagi kenyamanan dunianya. Rachel begitu sunyi dan sendirian. Dia menganyam waktu. Menggambar kisah dari kesedihannya. Pada air dia berujar. Dengan angin dia berbisik. Dia tidak percaya pada siapapun. Bahkan orang yang mengaku sebagai paling dekat dan sahabatnyapun tidak dia percayai. Setiap hari dia menghampar sajadah besar dan menumpahkan segala hal disana. Rachel menemukan penompang dan pilar yang kokoh bagi rumahnya. Untuk hidupnya. Samudera yang menenggelamkannya dalam hening didasarnya. Di palungnya. Goa bagi rentetan doa.

Sungai yang mengaliri dusun-dusun dihati. Hujan yang menyegarkan pohon dan dedaunan. Surya yang mengantar pagi. Bulan purnama dipangkal fajar. Mantra yang hanya bisa terucap sekerjap karena melihat keindahannnya. Tak akan terulang sebab waktu selalu maju. Tidak bisa diganti yang sudah terlewati. Tapi selalu pada tanggal sembilan dibulan yang sama sejak tiga tahun terakhir ini. Mawar putih dengan kesegaran mahkota, kelopak dan daunnya terhantar baginya. Rachel diam. Menyulut tanya. Dia beranjak menjauh dari meja. Dan membaringkan tubuhnya disofa. Tubuhnya yang mungil seakan dimakan oleh tumpukan kain dan busa yang ditindihnya. Dia memandang ke atas. Tanpa tahu apa yang dipandangnya. Khayalnya terbang, menjelajah beragam tanda dan masa yang dilampauinya. Dia menggigil, memejamkan mata dan mengusap pipinya.
“Apa yang akan kamu lakukan pada saat kamu tua?

Siapa yang akan mengurusmu? Siapa yang akan menemanimu? Kesendirian bukan pilihan! Keluarlah menjemput takdir! Tinggalkan rumahmu sekarang. Jangan tenggelam disumur yang kau buat untuk liang kesedihan. Beranjaklah! Atau semua akan berlalu dan hilang!” kata-kata dari rentetan kecemasan yang akhir-akhir ini mencengkeramnya.

Dia merasa rapuh, sendirian, tak bisa mengelak oleh teror kata-kata yang mukim di otaknya. Sekuat tenaga dia berjuang dan mengumpulkan fakta untuk melawan. Berperang dengan pikirannnya sendiri. Rachel menepis semua dengan satu hentakan dan gumam.

Dia kembali mendekati meja dan duduk di kursi. Membuka laptop dan mulai meneruskan pekerjaannya. Tapi beberapa kali dia berhenti. Mengalihkan matanya dari layar monitor ke mawar putih di meja. Ada sesuatu yang selalu membuat dia ingin menyentuh dan memandang mawar itu. Sekali lagi tangan kirinya meraih bunga putih itu. Dia memetik satu mahkotanya.

Seperti memetik mimpi dan kerinduannya, lalu dia menjatuhkannnya. Satu lagi dia petik dan menjatuhkannnya lagi. Setiap kali dia memetik dan melepaskan satu lembar mahkota mawar, dia seakan menghembuskan kebahagian dan kesenangan di tahun-tahun hidupnya. Jika air matanya mengalir dan menetes adalah lenguh dari kesedihannya. Detik-detik dalam dirinya seperti terampas.

Tanpa mengerdip dia memetik dan menjatuhkan mahkota mawar silih berganti. Ibarat menghadapi berondong peluru dia tak hendak menghindari untuk mati. Begitu kukuh hatinya menikmati pembantaian pada mawar putih yang ada di tangannya. Sampai habis hanya disisakan satu mahkota bunga yang kecil, disekitar putik yang sendirian meringkuk dan membalik. Sementara kelopak, putik dan tangkai dengan tiga daunnya mengerdip di depannya. Entah apa yang ada dalam pikirannnya sehingga dia tega melukai bunga yang tidak berdosa.

Juga menyingkirkan sebagian keindahan itu dari matanya. Jika dia tidak berkenan, cukup melemparkannnya ke luar. Bukankah ada tempat lain selain meja dan ruangan kerjanya? Barangkali Rachel hanya sedang kebingungan. Dia begitu suka bunga. Mawar putih adalah salah satu favoritnya. Ada satu sudut dengan jambangan dan meja untuk kesukaannya itu di kamar tidurnya. Entahlah.

Dia tidak banyak bicara akhir-akhir ini. Dia menjadi teman bagi dirinya sendiri. Bercakap dengan pikiran dan hatinya. Genap sudah kesendiriannnya. Belajar dari yang lalu, hasrat hati untuk berbagi, meski hanya sekedar berbagi, mengukir tawa dan berbahagia sementara, sering menjadi banyolan dan lelucon bagi teman dan sahabatnya. Toh hidup sudah begitu rumit, rasanya nikmat jika bisa mentertawakannya sejenak.

Tapi siapa yang sanggup mendengar dirinya sendiri ditelanjangi dan dibodoh-bodohkan seperti sebuah permainan boneka di pertunjukan anak-anak. Kadang kala Rachel dijadikan badut, dengan perut gendut dan bibir ndower dengan celana jimsuit dan balonnya. Sering kali juga diumpamakan harimau lapar yang sanggup menerkam apa saja yang ada didekatnya.

Tanpa pandang bulu dan pilih-pilih. Ma-lahan lebih banyak mereka beranggapan Rachel hanya sepotong brownies yang siap dinikmati kapan saja. Oleh siapa saja. Sering terngiang kata-kata yang didengarnya. “Barang bekas tak berharga. Tidak ada harganya!” tajam sekali orang berkata dengan kilatan jengkel dan amarahnya karena maksud hati yang tidak diindahkan Rachel.

Akhirnya Rachel menutup diri membangun mimpi dan dunianya sendiri. Dia tidak ingin menyakiti siapapun. Tak mau membuat peluang bagi orang lain untuk melakukan dosa dengan menistanya. Kabur sudah harapan untuk bertemu dengan figur yang mempesonanya.

Haram jika harus membuka hati untuk mimpi yang sudah terlewati. Tapi dia melupakan semuanya dengan cepat serta mendapatkan banyak pemahaman. Bagai-mana orang lebih senang memandang sesuatu hanya dari satu tempat saja. Ditempatnya berdiri, duduk, berumah dan tinggal. Mengunakan pikirannnya sendiri yang diyakini benar untuk membaca pikiran orang lain. Dan bermaksud menjadikan setiap orang seperti dirinya.

Saat menyadari itu, Rachel tersenyum mensyukuri banyak hal dalam hidupnya yang membuat dia menjadi berbeda. Biarlah orang berkata, jangan larang mereka menyanyi, mereka gembira melakukannnya, dan kita buat diri kita sendiri gembira menikmati irama dan lagunya. Jika bisa memejamkan mata tidurlah yang nyenyak, kalaupun tidak gunakan membaca buku untuk perintang waktu. Handphone berdering, Rachel terlonjak kaget. Karena sedang asyik dengan pikiran-pikirannnya. Dia mengambil hpnya dan membaca sms yang diterimanya.

“Sudah kamu siapkan jawabannya? Aku menunggumu!” kening Rachel berkerut. Dia membaca pesan itu sekali lagi. Lalu cepat berdiri dan mencari kado beludru warna biru yang sebelumnya menjadi tempat bagi setangkai mawar putih yang tinggal kelopak, daun dan tangkainya itu. Setelah ketemu, Rachel membukanya, dia membalik-balik kotak itu, tapi tidak menemukan apa-apa.

Akhirnya dia membuka dasarnya dan menemukan cincin emas putih dengan kain satin putih yang terselubung dilubang cincinnya. Dia mengambilnya. Terbaca tulisan yang terbordir di tengahnya dengan benang yang warnanya sama dengan kainnya hingga tersamar. Pelan Rachel membacanya. “Bertawajuhlah bersamaku, sudah tergelar sajadah lebar untuk kita, berdua Jo” Rachel menarik nafas sebentar, menggigit bibirnya. Dia memandang foto ketiga anaknya. Lalu menutup matanya. Setangkai mawar putih ditanggal sembilan.
“Aku semakin tua” gumamnya.***

Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=325119

Categories: Cerpen