Mempertanyakan Bibit Unggul Cerpenis-cerpenis Daerah

Restoe Prawironegoro Ibrahim *
Riau Pos, 19 Mei 2013

MENURUT pengamatan saya selama ini, cerita pendek yang dimuat di beberapa media massa cetak seperti di majalah, tabloid, dan media koran; yang selalu hadir di setiap hari Minggu-nya, selama periodesasi tahun 2000 sampai dengan 2013 sekarang ini, kebanyakan karya-karya penulis seorang sastrawan pemula, tentu saja bobot dan isinya standar untuk konsumsi suatu karya sastra di media, majalah atau tabloid. Akan tetapi patut kita hargai kehadirannya, karena cerita pendek yang masuk ke meja redaksi adalah cerita pendek-cerita pendek dengan penulis-penulis pemula yang apabila mendapat bimbingan, Insyaallah akan menjadi penulis yang andal dan berpotensial.

Rupanya pihak dewan redaksi sendiri dengan menurunkan cerita pendek-cerita pendek tersebut juga bermaksud untuk mencari bibit-bibit unggul cerpenis yang potensial, yang mana bibit-bibit tersebut kebanyakan berasal dari beberapa daerah, karena sebagian besar cerita pendeknya yang dimuat adalah karya penulis daerah.

Akan tetapi tidak semuanya cerita pendek-cerita pendek tersebut karya penulis pemula, ada juga cerita pendek karya cerpenis yang sudah punya nama seperti Beny Arnas, Adi Zamzam, Arman Az, Wina Bojonegoro, Sungging Raga, Mashdar Zainal, dan banyak lagi yang tak perlu saya tuliskan di sini satu -persatu. Dan mengenai cerita pendek ini perlu sekali pengembangan yang lebih dalam agar lebih berbobot dan profesional.

Kalau kita simak secara global, cerita pendek yang hadir di beberapa media elektronik/massa, kebanyakan penulis mengangkat dan mengupas tentang aspek-aspek sosial dan segala permasalahan yang ada dalam obyek kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dari hasil pengamatan saya selama ini, seluruh cerita pendek yang dimuat tersebut sebagaian besar menggambarkan aspek-aspek sosial misalnya, aspek ekonomi, cinta, pelacuran, religius, budaya serta cerita pendek hasil saduran dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Akan tetapi yang saya sayangkan, pengupasan tentang aspek-aspek tersebut kurang begitu mendalam, selain itu alur ceritanya monoton, hingga bagi pembacanya yang teliti sewaktu menikmatinya maka akan menemukan bagian-bagian yang kurang pas. Kenapa begitu?

Empat Kendala Cerpenis Pemula
Ada beberapa kendala bagi penulis pemula dalam menuliskan cerita pendek, yaitu; Pertama, sebagian besar penulis cerita pendek adalah penulis pemula, jadi wajar apabila masih ada kesimpangsiuran dalam menyusun masalah secara rinci tentang isi cerita. Kedua, selain itu dalam menceritakan misalnya tentang bagaimana susahnya menjadi orang yang tak punya, menjadi gelandangan, mereka tidak atau belum pernah merasakan sendiri betapa susahnya. Dan mereka bukan dari lingkungan seperti apa yang diceritakan , sehingga penjiwaan imajinasinya minim sekali. Ketiga, kebanyakan penulis sendiri bukan berasal dari golongan seperti apa yang diceritakan, misalnya menceritakan keluarga miskin. Mereka hanya menuangkan begitu saja apa yang ada di benaknya tanpa memperhatikan permasalahan secara mendetail yang sebenarnya, sehingga pendalaman alur ceritanya agak kaku. Dan yang terakhir, keempat, rasa cepat puas. Hal ini terlihat dengan adanya beberapa cerita pendek yang dikirim seorang penulis, kemudian dimuat. Selain itu, si penulis cerita pendek tersebut mengirimkan cerita pendek lagi ke dewan redaksi dan diturunkan lagi. Kebetulan, dari cerita pertama yang dimuat selang beberapa minggu kemudian cerita pendek kedua dimuat.

Setelah penulis membaca secara gamblang atau seksama dan teliti kedua cerita pendek dari hasil penulis yang sama ternyata alur cerita tak jauh berbeda. Hanya itu itu saja tanpa adanya suatu peningkatan mutu obyek penceritaan cerita sedikit pun.

Karya sastra diciptakan untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Karya sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Kehidupan mencakup antara manusia dan antar peristiwa yang terjadi dalam bathin seseorang, begitu yang dikatakan oleh penyair Sapardi Djoko Damono.

Sastrawan Daerah (Baru)
Bertitik tolak dari gambaran tersebut kita dapat melihat sampai sekarang seberapa jauh perkembangan dunia sastra dewasa ini, khususnya di daerah-daerah. Kalau kita lihat, dewasa ini banyak sekali muncul sastrawan-sastrawan baru yang cukup potensial. Dan begitu aktif dan kreatif sehingga mampu mensejajarkan namanya dengan sastrawan yang sudah punya nama nasional. Walaupun karya yang dihasilkannya belum bisa dikatakan memenuhi standar apabila dibandingkan dengan karya sastra milik sastrawan gaek, seperti Pramodya Ananta Toer misalnya. Tetapi kita harus bersyukur, karena dengan kemunculan sastrawan-sastrawan baru maka perkembangan dunia sastra tidak pasif.

Terlepas dari masalah tersebut kita harus tahu bagaimana sebuah karya sastra itu bisa menarik perhatian masyarakat pembacanya agar tertarik dan mengaguminya? Untuk menjawab masalah tersebut penulis mengambil contoh dan membatasi khusus cerita pendek cerita pendek yang dimuat di beberapa media massa.

Bahwasanya cerita pendek merupakan ungkapan jiwa dari seorang pengarang yang menuangkan ide-idenya dalam tulisan. Selain itu, masyarakat pembaca yang awam menilai bahwa cerita pendek itu bacaan ringan untuk mengisi waktu senggang, menghilangkan kejenuhan sebelum bekerja.

Tetapi perlu diingat bahwa cerita pendek sedikit banyak mempunyai misi tersendiri dalam permasalahan sosial. Kenapa begitu? Karena di dalam cerita pendek yang ditulis oleh pengarangnya tersebut, sebagian besar mengupas tentang permasalahan-permasalahan sosial, yang mungkin pernah dialami oleh seorang dalam kehidupan masyarakat. Hanya saja penuangan dan ulasan kalimatnya berbeda. Di sinilah letak keunggulan cerita pendek itu.

Dan tepat sekali kalau cerita pendek itu disajikan, karena waktu yang tersedia masyarakat untuk membacanya panjang sekali, bacaan ringan untuk keluarga. Di samping itu kita dapat memantau sampai berapa jauh kemampuan penulis dalam membuat cerita pendek, serta pengupasan permasalahan-permasalahannya.

Inilah di antaranya yang menjadi kendala bagi seorang penulis pemula, sehingga apabila bagi seorang penulis pemula, khususnya cerita pendek, perlu sekali memperhatikan alur cerita. Sedikit, padat dan berisi, itulah pegangan utama.

Memang tidak harus dalam penulisan suatu cerita pendek kita terjun secara langsung, akan tetapi alangkah baiknya kalau penulis tersebut melakukan penelitian dan terjun secara langsung pada obyek yang akan dijadikan bahan untuk memperkuat tulisan, sehingga hasilnya nanti bisa mengena dan pas dengan apa yang akan diceritakan. Akan tetapi yang penting adalah hasil karya itu adalah hasil murni penuangan dari ide-ide pribadi.

Adapun kriteria menurut pengalaman cerita pendek yang dimuat yaitu bahasanya komunikatif —— tidak berbelit-belit, makna cerita sudah ditangkap, padat, sederhana, alur ceritanya kronologis.

Bagi penulis pemula, melihat cerita pendeknya dimuat maka ada kebanggaan tersendiri dalam hati, itu tidak munafik karena penulis sendiri pernah mengalaminya. Selain itu dengan dimuatnya cerita pendek seorang penulis maka dewan redaksi juga berharap akan munculnya kader-kader cerpenis yang handal, yang lahir dari daerah dan sekitarnya.

Dan berbahagialah bila ada di antara penulis cerita pendek yang cerita pendeknya pernah dikritik oleh pembacanya, hal ini menandakan bahwa cerita pendek tersebut mendapat tempat dan terbaca di hati masyarakat pembacanya. Dan dengan kritikan itu, yang ditujukan pada penulis cerita pendek, paling tidak dengan adanya kritik itu dapat mengoreksi karyanya secara dalam, dan dapat mengetahui di mana letak kelemahan dalam karya-karyanya, sehingga dapat dijadikan patokan untuk membuat karya yang akan datang. Sesuatu pekerjaan apapun apabila dilakukan dengan tekun, semangat dan sepenuh hati maka hasilnya juga baik.

*) Restoe Prawironegoro Ibrahim, Cerpenis dan penyair yang tinggal di Jakarta.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/05/mempertanyakan-bibit-unggul-cerpenis.html