Yayuk Widiati *

Tak terasa, waktu begitu cepat, anak-anak sudah tumbuh besar. Masih membekas di ingatanku, kala mengandung mereka berdua dalam suka-duka sebagai ibu. Alhamdulillah, aku bukan hanya ibu rumah tangga, juga bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Hari-hari ku curahkan bekerja dan merawat dua buah hatiku. Semenjak dalam kandungan, aku ajak mereka bekerja, kebetulan aku dan suami hanya bertemu seminggu sekali, dia bekerja di Surabaya sebagai anggota TNI AD.

Memang berat kemana-mana sendiri, berangkat bekerja dengan mengendarai sepeda motor, apalagi sewaktu hamil tua rasanya kerepotan, namun semua itu tak menyurutkan semangatku. Alhamdulillah, lahirlah putri kami yang pertama, sehat tiada kurang apa, kami beri nama Tharisma Khairunnisa. Semoga dia menjadi pribadi yang sesuai namanya, sebaik-baik wanita berbudi pekerti luhur. Sekarang dia sudah duduk di kelas III SDIT Qurrota A`yun.

Sungguh beban merawat anak tanpa ayahnya, yang seyogyanya ikut mendidik dan memperhatikan. Demikian juga saat anak kedua lahir, jaraknya terpaut lima tahun, Alhamdulillah terlahir laki-laki, kami beri nama Aditya Putra Ramadhan, karena kebetulan lahir di bulan suci ramadhan, lengkap rasanya memiliki dua buah hati cewek dan cowok. Melihat mereka tumbuh dari hari ke hari membuat bahagia juga sedih, karena harus melewati masa-masa itu sendiri.

Kadang dari hati muncul rasa gundah, letih, lelah, betapa hidup ini tak semulus yang terangankan. Belum lagi buah hati menggoda ini-itu minta diperhatikan, hanya bisa marah ketika mereka tak tahu betapa capek ibunya. Permintaannya harus dipenuhi, meski tahu ibunya baru pulang kerja, belum lagi ganti pakaian. Sebenarnya di lubuk hati terdalam, sangat menyesal memarahinya, kalo sudah begitu hanya menangis mencurahkan kesedihan kepada Sang Maha Penguasa.

Ketika mereka berdua sudah terlelap dalam buaian mimpi, aku bersujud mohon ampun pada Illahi Robbi, atas semua dosa dan khilaf yang kulakukan karena belum bisa menjadi ibu yang baik. Aku hanya insan biasa, yang berikhtiar terus belajar ikhlas menerima keadaan, aku pasrahkan semua kepada-Nya. Dan berdo’a, semoga ayahnya segera disetujui permohonan kepindahan tugas kerja di Ponorogo, agar kami bisa sama-sama membesarkan anak-anak tercinta.

Setiap malam aku pandangi wajahnya tertidur lelap, sedih melihat yang polos habis aku marahi. Kadang hati bertanya, “kenapa nak kalian bandel tidak nurut ibumu? Mungkinkah ibu dulu seperti kalian?” Lalu aku bayangkan, alangkah besar dosa-dosaku kepada ibuku tercinta. Ya Allah, jika demikian adanya anak-anak nakal karena dosaku terdahulu, maka ampuni kesalahan hambamu ini ya Allah. Semoga anak-anak tumbuh berakhlak mulia, dan aku diberi kesabaran dalam mendidik membesarkannya.

Aku sering merenung, banyak beberapa pasangan yang mendambakan buah hati, namun tak kunjung hadir dalam kehidupannya, itu menyadarkanku betapa besar karunia-Nya pada kami. Segala keletihan seharian bekerja, terbayar kala kepulanganku disambut gembira oleh putraku tersayang. Begitu senangnya melihat ibunya datang, hatiku sejuk damai mendengar dia memanggilku “ibu” dengan riang, Alhamdulillah dapat berkumpul kembali.

Pun kala menjemput putriku, walau capek menjalani aktivitas setiap hari, dengan selalu berusaha sabar dan ikhlas. Melihat putriku nampak kelelahan setelah seharian belajar di sekolah, aku kasihan juga, tapi ini demi masa depannya. Aku yakin, dengan bersekolah di SDIT Qurrota A’yun, Insyaallah terbentuk menjadi pribadi yang bukan hanya cerdas, juga taat terhadap agama.

Dalam setiap doaku, semoga anak-anak tercinta menjadi penerus bangsa yang berbudi luhur, sukses dunia-akhiratnya. Anak-anakku, ibu sayang dan cinta kalian. Semoga Allah SWT melindungi kita sekeluarga, dan ayah segera pindah ke Ponorogo, sehingga kita dapat berkumpul bersama. Bantu doanya ya Kak Risma dan Dik Adit.

*) Yayuk Widiati, lahir di Ponorogo, 3 Agustus 1976, adalah Wali dari Ananda Tharisma Khoirunnisa (siswi kelas 3-Umar) dan Aditya Putra Ramadhan. Alamat sekarang di desa Sekaran Siman Ponorogo. Penulis adalah istri dari Agung P. Juliantoro.

Categories: Cerpen