Anakku, Bumi itu terus Berputar

Istiyah *

Hari itu sangat cerah, sejak pagi matahari sudah menampakkan wajahnya yang ceria. Saya bekerja seperti biasannya, sedang suami saya mengantar anak-anak ke sekolah, lalu langsung berangkat kerja. Saya punya dua orang anak laki-laki. Anak pertama bernama Dzaki, duduk di kelas 3 SD, yang kedua Naufal, masih di TK A. Suami bertugas menjemput Dzaki, saya jemput Naufal. Di TK, jam sekolahnya mulai pukul 07.30 sampai 12.00. Maka sebelum pukul 12.00, sudah berangkat menjemput Naufal.

Siang ini sangat terik. Tepat pukul 12.00 Naufal keluar dari kelas. Segera kuhampiri, dan kami langsung pulang dengan naik sepeda motor. Siang ini sungguh panas, sehingga Naufal saya bawakan topi dan kaca mata. Sampai di rumah, Naufal mengambil air putih dari galon, saya masuk kamar hendak ganti baju. Sebelum masuk kamar, melihat Naufal tersungkur dengan posisi duduk di sebelah meja tempat galon berada. Saya terkejut, dan segera kupeluk seraya bertanya “kamu kenapa dik?” sambil kuelus-elus kakinya. Naufal menjawab “aku tidak apa-apa ibu, kalau minum kan harus duduk, di sini tak ada kursi, ya aku duduk di lantai”. “Alhamdulillah kamu tidak apa-apa, tapi jangan tergesa-gesa begitu duduknya, ibu pikir kamu jatuh”. Di sekolah, memang sudah diajari hafalan Hadist adab makan dan minum, yang berbunyi: “Layas rabbana aqadukum qaa iman” Artinya: “Janganlah kamu makan dan minum sambil berdiri.”

Dari kejadian itu, saya merasa malu pada diri sendiri. Anak saja mengikuti sunnah rasul dengan semaksimal mungkin, kenapa saya orang tuanya, tidak mau atau tak bisa melaksanakannya? Padahal sudah tahu hadist adab makan-minum sejak duduk di bangku sekolah, tapi belum mengamalkan sepenuhnya. Mengapa sampai kini sering makan cemilan sambil berjalan, minum pun berdiri? Makan-minum di resepsi pernikahan dengan berdiri. Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba-Mu ini. Dalam hati berjanji, mulai detik ini Insyaallah akan melaksanakan sunnah rasul itu sepenuh hati, dan berusaha sungguh demi mengharap ridho dari Allah SWT.

Kesempatan lain dengan Dzaki (anak pertama) naik bus, pergi ke rumah neneknya di Ponorogo. Jika bepergian naik bus, saya sering mual walau tak sampai muntah. Sehingga selalu bawa permen atau makanan ringan untuk antisipasi agar tidak mabuk. Di perjalanan, Dzaki saya tawari permen “mas Dzaki mau?” “ya ibu, saya mau,” jawab Dzaki. Kemudian saya dan Dzaki makan permen di dalam bus. Setelah selesai makan ia bertanya “ibu, katanya kalau makan tidak boleh sambil berjalan?” “ya, memangnya kenapa?” saya balik bertanya. “Tapi kita makan permen di bus yang sedang jalan, berarti kita makan sambil berjalan?” jawabnya. “Walau busnya berjalan, kita makan di bus sambil duduk, artinya kita makan sambil duduk” jawab saya memberi penjelasan.

Kemudian saya berpikir, bagaimana menjelaskan ke anak yang terlihat masih bingung. Lalu saya beri contoh lain. Bumi kita ini terus berputar tak pernah berhenti. Jadi kita hidup di bumi yang terus berputar. Walau kita duduk, tidur, sebenarnya tidak diam, tapi ikut berputar bersama bumi. Pada waktu kita makan sambil duduk di kursi, bumi terus berputar, otomatis kita ikut berputar. Jadi yang dimaksud makan dan minum sambil duduk itu orang yang sedang makan-minum sambil duduk, tidak boleh berjalan atau berdiri. Walau orangnya di kendaraan yang sedang berjalan tidak jadi masalah, berarti orang itu sudah makan dan minum sambil duduk. Anak saya terdiam mendengarkan penjelasan saya. Dalam hati ini berdo’a, “ya Allah, semoga anak saya paham dan mengerti penjelasan tadi.”

Peristiwa itu saya ceritakan kepada teman seorang guru agama. Beliau membenarkan penjelasan yang saya sampaikan ke Dzaki. Dari kejadian tersebut saya sadar, sebagai orang tua harus menerus menambah wawasan, pengetahuan, untuk diri sendiri juga demi anak. Jika anak bertanya atau bingung suatu masalah, paling tidak bisa membantu memberi pengarahan atau meringankan soal yang dihadapinya.

Banyak peristiwa dengan anak yang menyadarkan kita. Maka betapa penting menambah keimanan, pengetahuan dan wawasan, agar orang tua tidak kebingungan, jika sewaktu-waktu anak bertanya sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Demikian sedikit pengalaman pribadi yang dapat saya tulis, semoga bermanfaat.

*) Istiyah, S.Pd, lahir di Ponorogo, 19 Juni 1976, adalah Wali dari Ananda Mohammad Dzaki Arifin (siswa kelas 3-Ali). Alamat sekarang di RT 02/02 Krajan Simo Slahung Ponorogo. Penulis adalah istri dari Edy Sucipto.