Belajar Bersama Anak

Diyah Errita Damayanti *

Tak terasa, usia pernikahan telah menginjak 10 tahun. Berbagai persoalan rumah tangga, yang datang dari anak pun kami berdua, jadi bumbu dalam menjalani kehidupan. Alhamdulillah, kami telah dikaruniai 3 anak: Nurrozaan Hanif Rahman (9 tahun), Nayra Elda Nuraini (7 tahun) dan Nandine Putri Humaira (5 tahun). Mereka lucu, cantik, ganteng dan pintar, juga terkadang nakal, bandel sesifat anak pada umumnya. Ini maklumlah, tapi sebagai insan biasa, mengharap anak-anak bisa mengerti kami yang telah membesarkannya. Karena itu, tidak jarang melakukan hal kurang terpuji; memarahi, menyentil, bahkan memukul pantatnya, itu semata hanya untuk jadi lebih baik. Sebenarnya kami sadar, dalam menjadikan anak berbudi utama, tak harus lewat kekerasan, namun butuh kesabaran demi mewujudkannya.

Punyai 3 anak dengan jarak usia tidak jauh, membuat kewalahan. Mereka sering bertengkar, pada perihal sepele, itu wajar di usianya tergolong kanak. Selangkah pertama dalam membentuknya adalah memasukkannya ke sekolah yang tidak hanya memberi ilmu umum, juga agama. Ilmu agama itu penyeimbang, hidup tidak hanya bermasyarakat, tapi juga butuh siraman ruhani, hubungan manusia dengan Allah SWT yang membuat tentramnya hati.

Alhamdulillah, tak jauh dari tempat tinggal, ada sekolah islami; Sekolah Dasar Islam Terpadu Qurrota A’yun. Tanpa berpikir lama, memilih sekolah tersebut untuk anak pertama, yang sudah waktunya masuk SD. Saat itu pertimbangannya mengacu sekolah islami, dan jarak tempuh sangat dekat, tanpa mencari tahu kualitasnya. Dengan berjalannya waktu, kami selalu membimbing belajar anak, terutama Hanif, dengan ikut mempelajari buku-buku yang telah diberikan sekolah. Untuk pelajaran kelas 1 dan 2 khusus yang umum, Insyaallah telah kami kuasai, sehingga dalam membimbing tidak mengalami kesulitan.

Menginjak kelas 3, kami mulai kewalahan, bahkan “kalah” khususnya hal hafalan surat. Di hati kami malu sekaligus bangga melihat kemajuan Hanif. Memang hafalannya jauh dari purna dibanding teman-temannya, tapi bagi kami cukup membuat motivasi dalam menambah hafalan surat. Maklum hafalan surat kami, sisa waktu masih sekolah, yang mungkin dalam satu suratnya tidak lebih dari 20 ayat. Melihat hafalan Hanif, kami berusaha keras menghafalkan surat, bukan hanya sebab malu, tetapi lebih pada kebutuhan pribadi. Alhamdulillah, pelan-pelan bertambah, dan untuk menjaga hafalan, kami mengamalkan ke dalam sholat. Semoga dengan terbimbingnya Hanif di SDIT, terbimbing pula kami wali muridnya.
***

Dengan memasukkan anak ke sekolah islami, secara tidak langsung dapat banyak ilmu khususnya agama. Di mana kami belum pernah mendapat ilmu itu sewaktu sekolah dulu, karena kebetulan sekolah negeri yang pemberian ilmu agamanya sedikit. Kala anak belajar, mau tidak mau ikut baca bukunya, agar mengerti, sehingga mudah membimbingnya, apalagi jika ada pekerjaan rumah.

Contoh pelajaran Siroh, kami dapat ilmu Sejarah Islam yang sangat penting. Sebelumnya kami seperti masyarakat Islam pada umumnya, hanya tahu nama Nabi Muhammmad, Ibunya Siti Aminah, Ayahnya Abdullah, lahir di makkah tahun gajah, tapi kini telah mengetahui Sejarah Islam. termasuk perjalanan nabi sebelum lahir sampai jadi rasul, belum lagi kisah para sahabat, kekisah para nabi lain, sungguh ini membuat kagum dan ingin meneladani. Apalagi saat Ramadhan tiba, kami bisa jelas melihat perjalanan nabi dan para sahabat lewat tayangan televisi, yang sama dengan buku bacaan Sirohnya Hanif. Itu pelajaran Siroh, belum lainnya; Fiqih, Qur’an, Hadits, Aqidah-Akhlak. Bisa dibayangkan betapa banyak ilmu didapat, dengan belajar bersama anak.
***

Lain Hanif, lain lagi Elda, anak ke-2 kami. Pernah suatu hari ada pameran buku islami, dia minta dibelikan buku bacaan berjudul Cerita Akhlak Anak Sholeh. Kami membelikannya, karena dia sudah cukup lancar baca walau belum purna. Dia sangat senang, dan tiap hari baca buku tersebut. Karena buku itu lumayan tebal baginya, untuk bisa memahami isinya, kami menyarankan baca satu sub judul dalam sehari, karena di buku itu ada beberapa sub judul. Suatu saat saya makan makanan kecil sambil berjalan, tidak tahunya Elda memperhatikan dan menegur “nggak boleh makan sambil berdiri” saya pun menanggapinya enteng tanpa merasa bersalah, toh hanya makanan ringan yang saya anggap “biasa”.

Suatu waktu saya merapikan buku, tak tahunya ingin baca buku yang pernah Elda baca. Lembar demi lembar terbaca sampai halaman berjudul “Makan dan minum sambil duduk”. Di baris terakhir, tertulis Rasulallah SAW bersabda, “janganlah salah seorang dari kalian makan atau minum sambil berdiri, dan bagi yang lupa ia muntahkan”. Membaca hadist tersebut, saya terdiam dan termenung sejenak, sebegitunya hadist tersebut memerintahkan memuntahkan makanan atau minuman yang telah termakan, hanya karena melakukan sambil berdiri. Setelah peristiwa itu, kami dan anak-anak saling mengingatkan.

Menginjak sepuluh tahun berumah tangga, Alhamdullillah kami belum pernah menghadapi masalah sangat berarti. Kami saling menghormati, menyayangi dan memuji satu sama lain. Anak-anak sangat bangga terhadap ayahnya, sampai anak pertama setiap ditanya tentang cita-citanya, dia selalu jawab “pedagang seperti ayah”. Hal ini terjadi sejak dia masih TK sampai kini kelas 3. Padahal tahu pekerjaan ayahnya sangat berat, dan tak jarang mengangkat dagangannya tanpa bantuan orang lain. Melihat itu, anak kami tak berpikir merubah cita-citanya. Memang ini saya tanamkan sejak awal, selalu membanggakan suami di depan anak. Itu agar anak lebih menghormati, menghargai dan mengetahui betapa besar sayang kami kepada mereka. Selain itu harapan kami, anak-anak mau berusaha menjadi kebanggan orang tua, amin…

*) Diyah Errita Damayanti, lahir di Ponorogo, 28 Desember 1976, adalah Wali dari Ananda Nurrozaan Hanif Rahman (kelas 3 Utsman), Nayra Elda Nuraini dan Nandine Putri Humaira. Alamat sekarang di Jl. Asmorondono 31 Ponorogo.