Romansa Perjalanan Esai Kecil Danau Toba Masih Menggoda…

Raudal Tanjung Banua
Bali Post, 23 Juni 2013

DALAM perjalanan ”membelah” Sumatera Utara dari timur ke barat (Medan-Barus), kita akan bertemu satu kawasan yang sedari dulu terus menggoda: Danau Toba! Itulah yang saya dapatkan dalam romansa perjalanan kali ini.

JALAN KE ARAH danau berliku dalam selimut kabut. Bang Masril, sopir mobil yang saya tumpangi, menyalakan lampu menembus jarak pandang yang terbatas. Tapi tak lama, selepas sebuah tikungan, pemandangan luar biasa tiba-tiba terhampar di depan mata, seolah dikuakkan dari kepungan kabut. Danau Toba, Danau Toba! Saya bersorak dalam hati, dan tidak sabar meminta Bang Marlis berhenti meskipun menurutnya itu bukan titik yang bagus untuk menikmati danau. Saya tak peduli. Pandangan saya tertambat pada sebuah makam bertanda salib merah menghadap sepi ke tepi danau. Satu titik yang membuat danau bukan sekadar sebagai lanskap. Ada cerita yang tiba-tiba mengalirinya; makam di pinggir danau, dalam girir sepi seorang diri!

INGATAN saya segera melayang kepada Sitor Situmorang. Seorang Sastrawan Angkatan ’45 yang menyebut dirinya ”Penyair Danau Toba”. Sangat beralasan, karena memang banyak sajaknya berlatar danau terbesar di Asia Tenggara ini. Bukan hanya tentang fisik danau, tak kalah penting kehidupan manusia-manusia Toba. Sebuah sajak yang berhasil menggambarkan tragedi modernitas di kalangan orang Toba adalah sajak ”Si Anak Hilang”. Bercerita tentang si anak meninggalkan kampung-halaman, yang boleh jadi merujuk sosok Sitor sendiri sebagai penyair. Kepulangannya hanya ada dalam mimpi sepasang orang tua yang menunggu di tepi danau: Pada terik tengah hari/titik perahu timbul di danau/ibu cemas ke pantai berlari/ Menyambut anak lama ditunggu.

Namun penantian itu sia-sia. Hanya mimpi, hanya ilusi; Malam tiba ibu tertidur/Bapa lama sudah mendengkur/ di pantai pasir berdesir gelombang/ Tahu si anak tiada pulang.

DARI MAKAM dan sepotong puisi itu, bayangan dan cerita lain lalu datang silih berganti memasuki kepala saya dengan latar utama Danau Toba. Saya kira beginilah cara terbaik menikmati satu tempat yang sangat luas seperti Danau Toba. Menikmati semua lanskap dengan sekali lahap jelas tak kalah sia-sia. Semua akan berlalu tanpa getar, kecuali rasa kagum sekilas pada keindahan. Maka, mencari satu titik di keluasan semesta menjadi sangat penting, di mana kita bisa fokus pada sesuatu, sambil tidak melepaskan latar besarnya. Sebuah makam, hmm, telah mematri segalanya…

KAMI AKHIRNYA menepi di kawasan terbuka, yakni deretan kios makanan dan minuman yang semuanya menghadap danau. Kios-kios itu terletak di tepi jalan yang sejatinya berada di atas tebing dengan ketinggian 100 m atau lebih. Saking tingginya, kapal-kapal yang tengah melaju (di bawah kami) kelihatan kecil dari atas. Kapal-kapal tersebut memang menuju kaki tebing, untuk melihat ”batu gantung” yang konon berasal dari dongeng atau mitos sepasang kekasih yang dilarang menikah karena satu marga. Si perempuan yang kecewa mengikat tubuhnya dengan batu pemberat, lalu terjun ke danau. Tapi tubuhnya tersangkut di tebing, dan ia sendiri kemudian menjelma menjadi batu. Benar atau tidak cerita itu, saya tidak tahu. Saya bertanya kepada Mbak Aishah, istri Bang Marlis, ”Kenapa harus yang perempuannya jadi korban? Kok bukan laki-lakinya?”

Mbak Aishah hanya tertawa dan menganggap bias jender sudah ada sejak dulu.

PEMANDANGAN dari atas sangat bagus. Danau seluas lautan itu dikepung kaki-kaki tebing yang tubir, sebagian menjorok ke tengah seperti kura-kura yang malu-malu menjulurkan kepalanya; di sisinya teluk-teluk kecil tercipta seolah membuat dunia sendiri di tepi-tepi. Dunia dengan tepian, keramba ikan, rumah-rumah sederhana dan kampung jelita. Berada di ketinggian ini, memandang ”dunia tepi”, terasa benar kekecilan dan kegamangan manusia berhadapan dengan alam. Sementara di tengah: air maha luas di bumi. Kawah raksasa gunung purba yang menyimpan misteri jagad raya. Dan di manakah Pulau Samosir? Tuktuk, Tomok atau Pangaruruan, yang akrab saya dengar?

Bang Masril tak mau menduga-duga. Ia jawab diplomatis, atau lebih tepat berkelit atas kealpaannya mengenal Toba. ”Danau ini luas, Dik, sedangkan mata kita terbatas,” katanya. Ia kemudian mengakui jarang melewati jalur Medan-Prapat karena jalannya rusak. Jika ia ke Medan dari Barus, atau sebaliknya, ia memilih jalur Kabanjahe – Sidikalang, terus ke Subulussalam di Nanggroe Aceh Darussalam, lalu keluar di Singkil untuk akhirnya tiba di Barus. Meski lebih jauh, tapi jalannya mulus. Sebuah ironi, tentu.

TOH AKHIRNYA bukan karena kealpaan Bang Marlis saya tak menampak Samosir. Tapi lantaran hujan jugalah yang senantiasa mengguyuri kawasan dingin Danau Toba. Tirai hujan membentuk pelangi. Indah sekali. Saking asyiknya menikmati suasana, kami lupa memesan minuman, padahal sudah masuk ke kedai orang. Kami baru sadar setelah pelayan warung dengan muka masam datang menanyakan mau pesan apa. Kami langsung menyebut kopi hitam. Tahu bahwa si pelayan masih bersungut, Bang Masril dengan bahasa Batak-nya menyapa, ”Apa marga kau?” Ia jawab, ”Rambe.” Bang Masril langsung menyambar, ”Satu marganya kita itu.” Aneh, dengan satu marga si pelayan langsung ramah, sementara temannya yang mengaku orang Nias jauh lebih lunak lagi.

DEMIKIANLAH, dengan kopi Sidikalang yang mengepulkan asap, saya nikmati Danau Toba yang terus menggoda. Membuat saya merapal-rapal keluasan semesta. Betapa luar biasa alam, betapa sengitnya romansa perjalanan. Kembali saya mencari-cari satu titik, demi penghayatan lebih dalam. Aneh, saya teringat lagi makam bertanda salib merah selepas tikungan tadi. Seperti isyarat yang sangat mengerti. Dan ketika seminggu kemudian saya tiba kembali di rumah, di Yogya, makam itu seolah bersua dalam puisi Sitor yang lain, ”Tatahan Pesan Bunda.” Bila nanti ajalku tiba/kubur aku di tanah Toba/di tanah pantai danau perkasa/terbujur di samping bunda/Bila ajalku nanti tiba/bongkah batualam letakkan/ pengganti nisan di pusara/tanpa ukiran tanpa hiasan/ kecuali pesan maha suci/restu Ibunda ditatah di batu; Si Anak Hilang telah kembali/ Kujemput di pangkuanku/

Dijumput dari: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=18&id=77133