Ruh Anak Lebih Tua dari Orang Tuanya?

Cover Anakku Inspirasiku

Dr. H. Sutejo, M.Hum.

Suatu waktu, seorang pakar sastra, Prof. Dr. Budi Darma bertutur, “Ruh anak bisa jadi lebih tua dari orang tuanya. Karena itu, berhati-hatilah ibu dan bapak.” Aforisme ini, mengingatkan saya terus-menerus. Berenung tak henti. Kemudian saya teringat, bagaimana baginda Rasulullah begitu memuliakan anak-anak. Sebuah pesan yang Islami?

Ide dahsyat dari sekolah Qurata A’yun (tentunya, panitia, hem), menyentakkan saya untuk sedikit menitipkan mutiara harap agar lindap di benak pembaca manakala khusuk membaca buku yang dieditori oleh tim penerbit PUstaka puJAngga. Sebelumnya, dengan berat saya dijadikan juri tunggal lomba menulis bebas dengan tema, “Anakku, Inspirasiku”. Sebuah kesulitan pada awalnya, tetapi hal itu menjadi tantangan besar saya, sehingga ketika akan memutuskan urutan pemenang, terpaksa saya mendiskusikannya dengan anak asuh saya, mantan ketua HMP STKIP PGRI Ponorogo, Eko Hendri Saiful dan penyair Nurel Javissyarqi. Harapannya, agar tidak terlalu “dlolim” menghakimi karya-karya indah para penulisnya.

Setelah itu, kebetulan teman saya wartawan senior Antara, Masuki M. Astro berkunjung ke Ponorogo, saya ajak untuk bersilaturahmi di rumah Ustad Marsudin, ketua Yayasan. Tulisan feature inspiratifnya, kemudian dimuat:
http://www. antaranews.com/ berita/373964/berguru-kepada-anak. Masuki ini adalah teman seperjuangan saya menulis ketika kost di Jl. Panjaitan IX/9 yang penuh dengan aroma kemiskinan. Alhamdulillah, dia sudah memenangkan 15 kali kompetisi kepenulisan jurnalistik tingkat regional dan nasional, sementara saya 14 kali.

Sebuah perjuangan yang indah. Mimpi saya, teman-teman penulis dalam buku Anakku Inspirasiku ini akan dapatlah kiranya mengikuti etos menulis sehingga menjadi jariyah hidup di ujungnya. Sebuah langkah awal yang bermakna, meski harus melewati hampir 5 bulan untuk penerbitannya. Sebuah gugusan makna, aforisme cerita, inspirasi hidup yang tidak dapat dipandang sebelah mata!

Mengapa penuh makna dan menarik untuk dibaca? Pertama, buku indah ini lahir dari wali murid yang terinspirasi oleh mutiara hidupnya. Kedua, kita berada di daerah punya ide yang genius. Ketiga, semangat sekolah yang luar biasa untuk menorehkan langkah baru dengan melibatkan wali murid menyiapkan menjadi anak bangsa yang berkarakter dan bermoral.

Dengan demikian, buku ini adalah sebuah tonggak. Yang, monumen dengan granit-granit yang berkilauan makna. Bukankah anak-anak adalah cermin kejujuran, seumpama mutiara kepolosan sebagai kertas putih ungkap Jhon Lock. Bukankah anak-anak tanpa dendam, penuh kasih, tanpa prasangka, dan selalu bisa menerima siapa pun orang bergaul dengan dirinya. Bukankah ini sebagian besar sudah mulai terkikis pada kedewasaan makhluk bernama orang tua? Mari belajar kembali pada anak-anak, begitulah pesan besar dari buku ini, barangkali. Semacam pepeling yang senantiasa mendengingkan suara indah, seruling kehidupan buat kita, para orang tua.

Kisah-kisah di dalamnya, ketika membaca sebagai juri, sesekali bulu kuduk berdiri, alir keringat dingin, dan –tidak saja itu— juga, air mata. Apapun dan bagaimanapun, kita tidak usah berbicara urutan pemenang, tetapi mari kita terus menimbang makna yang bergelimang. Ada beberapa tulisan, maafkan jika terpaksa tidak bisa masuk dalam buku inspiratif ini. Semata-mata, persoalan style ilmiah, artikel, yang mestinya bukan “gaya yang diharapkan”. Buku ini, membalik ilmu, kita membaca anak, bukan berteori dan berkhotbah indah tentang anak.

Selamat membaca, siapkan hati dengan sesekali memejamkan mata, sehingga mata hati akan terbuka indah untuk menerima anugerah dari cermin jujur bernama anak-anak!

Pesanggrahan Spectrum,
Awal Juni 2013