Sang Pelintas Batas

Djadjat Sudradjat
Lampung Post, 16 Juni 2013

“SAYA ini orang Sumatera. Jadi, jangan dipancing-pancing soal federalisme. Sebab, orang Sumatera itu bawah sadarnya, Indonesia itu idealnya ya federal. Kalau orang Jawa pasti negara kesatuan,” kata Taufiq Kiemas lebih sepuluh tahun lalu dalam sebuah obrolan di rumahnya, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Waktu itu istri Taufiq, Megawati, menjabat wakil presiden dan hubungan Mega dengan Presiden Abdurahman Wahid tengah bersuhu tinggi. Saya sungguh terkejut mendengar Taufiq bicara seperti itu. Tapi ia jujur. Saya tak tahu, benarkah orang Sumatera punya bawah sadar Indonesia-federal dan penduduk Pulau Jawa penjaga negara kesatuan? PDI Perjuangan memang berada di garda depan dalam menjaga negara kesatuan.

Saya menduga-duga, konteks pembicaraan Taufiq merujuk pada kasus PRRI (Sumatera) dan Permesta (Sulawesi) yang menentang pemerintahan Jakarta karena kesenjangan dana pembangunan antara daerah dan pusat. Waktu itu kami (saya dan seorang teman wartawan) dan Taufiq memang tengah membincangkan gagasan negara federal yang ditawarkan Amien Rais.

Banyak yang mendukung Amin, termasuk Adnan Buyung Nasution, Y.B. Mangunwijaya, Harun ar- Rasyid, Sri Soematri, dan Ichlasul Amal. Mereka berpendapat, Indonesia yang besar dan amat plural, cocok dengan sistem federal.

Tetapi, banyak juga yang mengkritik tajam. Saya kira gagasan Amien dikritik keras bukan karena salah, melainkan karena ini mengingatkan pada sejarah yang pahit. Yakni Republik Indonesia Serikat hasil Konferensi Meja Bundar 1949. Dan, Bung Karno memang mencurigai Indonesia Serikat akan sangat mudah dipecah belah oleh penjajah. Sementara Bung Hatta mengingatkan negara yang terpusat akan membahayakan Indonesia yang besar dan plural itu.

“Saya ini orang Sumatera, anak keluarga Muhammadiyah, ayah saya Masyumi. Tapi saya masuk GMNI,” kata Taufiq lagi di akhir obrolan. “Sumatera”, “Muhammadiyah”, “Masyumi” adalah tiga kata yang menjadi penanda konteks ideologi yang berseberangan dengan Bung Karno. Tapi Taufiq melawannya. Dengan latar belakang Taufiq seperti itu memang membuat PDI Perjuangan jadi “hidup”. Taufiq menjadi sang pelintas batas. Ia punya banyak simpul untuk bertemu. Ia luwes dan lincah. Segera terlihat ia menjadi pelapis tangguh Megawati yang terkesan kaku dan mudah sakit hati.

Ia pengusung yang gigih empat pilar kebangsaan yang tengah merapuh. Karena itu wafatnya Taufiq pekan silam (8-6) ?dalam usia 70 tahun?sungguh mengagetkan. Mau ke mana PDIP tanpa Taufiq? Sulit mencari pengganti sosok yang cair, bicara apa adanya, berjiwa rekonsiliator, jauh dari pretensi menjadi “orang pintar”, tapi konsisten menjadi peneguh keberagaman di tengah begitu banyak kepentingan. Konsistensi Taufiq terawat hingga akhir hayatnya.

Ia hadir pada peringatan hari lahirnya Pancasila di Ende, Nusa Tenggara Timur, 1 Juni silam. Di mimbar ia berpidato pentingnya merawat Pancasila. Di bawah pohon sukun tempat Soekarno merenungkan butir-butir Pancasila, ia “melayani” foto bersama dengan siapa pun. Dengan wajah berseri Taufiq duduk di kursi, yang lain berdiri. Seminggu setelah dari Ende, Taufiq pergi untuk selamanya. Saat terakhir pun sang nasionalis itu tetap meneguhkan Pancasila. Ia pergi ke tempat jauh, untuk Pancasila, meski fisiknya sungguh tak sekokoh semangatnya lagi. Sang pelintas batas, selamat berpulang ke “rumah” yang lebih abadi.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/refleksi-sang-pelintas-batas.html