Ami Herman
Suara Karya, 22 Juni 2013

DI era 80-an hampir setiap Ibukota Provinsi di tanah air memiliki Taman Budaya. Di taman budaya itulah tumbuh banyak seniman tari, teater, pematung dan pelukis andalan. Taman budaya juga tidak ubahnya panggung pertunjukan yang laris, karena rajinnya taman budaya mementaskan teater modern dan klasik.

Sejumlah nama kemudian lahir dari Taman Budaya. Sebut misalnya Ibrahim Sattah, penyair besar dari tanah melayu, lahir dari Taman Budaya Riau. Jacob Maralla dibesarkan dari panggung teater Taman Budaya Makassar. Wisran Hadi (alm) lahir dari pentas-pentas teater modern di Taman Budaya Padang. Suyatna Anirun punya nama besar dari pentas-pentas teater Taman Budaya Rumentang Siang, Bandung. Sementara Ikranegara, Putu Wijaya besar berkat pentas-pentas teaternya di sejumlah tempat pementasan di Jakarta.

Banyak lagi nama seniman, buda-yawan yang pantas dibanggakan, lahir dari pergulatan kreatif mereka di Taman Budaya. Seperti penyair Leon Agusta (Taman Ismail Marzuki), Beni Setia (Rumentang Siang, Bandung) yang hingga kini masih produktif melahirkan karya-karya kreatif dibidang esai budaya, cerpen, puisi, meski kini bermukim di Ngawi, Jatim. Juga Noorca Marendra Massardi (Jakarta) yang kini banyak aktif mengurus film, atau sejumlah nama lain seperti Slamet Rahardjo, Alex Komang dan Renny Djayusman.

Tapi, bagaimana pertumbuhan Taman Budaya sekarang? Masihkan menjadi lahan kreatif seperti era 80an? Ternyata, sudah tidak lagi. Bahkan banyak taman budaya yang dulu progresif melahirkan karya-karya seni budaya, kini tidak aktif lagi.

Untuk mengaktifkan kembali, Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik, Ditjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Kemenparekraf, Juju Masunah, terpaksa turun tangan. Setelah merangkum pandangan dan usulan dari berbagai pihak, terutama sekali DPR, diputuskanlah sekarang Taman Budaya tidak lagi sekedar tempat berteater, tapi telah menjadi pusat seni pertunjukan yang lengkap. “Itu artinya taman budaya masih menjadi rumah kreatif bagi para seniman.

Namun kali ini tidak saja untuk berteater, tetapi beragam seni pertunjukan bisa dipentaskan di taman budaya. Seni tradisi yang selama ini ba-nyak dilupakan orang, namun ditempat lain justru diburu para penikmatnya, kini sering ditampilkan di taman budaya,” ujar Juju Masunah dalam sebuah kesempatan berbincang dengan wartawan di Hotel Premiere, Solo.

Ternyata, dengan dijadikan pusat pertunjukan dan pementasan beragam jenis musik, banyak suara positif bermunculan dari orang-orang yang dulu aktif di taman budaya. “Saya pikir, tepat sekali jika pemerintah menjadikan taman budaya sebagai pusat seni pertunjukan. Dengan begitu, taman budaya Riau yang kini membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait, pada saatnya bisa menampilkan lagi banyak macam potensi seni budaya di daerah ini. Apalagi banyak seni tradisi khas melayu perlu dilestarikan karena terancam punah.” ujar Rida K Liamsi, salah seorang sastrawan di Riau.

Juju Masunah sependapat dengan masukan-masukan yang mendesak pemerintah segera mengaktifkan kembali sejumlah taman budaya. Tak anehlah jika semua taman budaya di tanah air, secara bertahap akan diaktifkan. Sampai kini sudah 25 taman budaya di tanah air masuk prioritas aktivasi. Taman budaya yang sudah diaktifkan antara lain Bali, Jawa Barat dan yang terbaru diaktifkan adalah taman budaya Sumbar di Padang. “Pengaktifan Taman Budaya Sumbar dilakukan di Padang, Senin (17/6) lalu,” jelas Juju Masunah.

Peresmian aktivasi taman budaya Sumbar dihadiri sejumlah pejabat terkait, diantaranya Kepala Dinas Budpar Sumbar, Burhasman, juga Kepala Taman Budaya Sumbar, Muasri. Peresmian pusat pertunjukan seni budaya masyarakat Minangkabau itu ditandai dengan pemukulan gendang oleh Juju Masunah, Burhasman dan Muasri, dilanjutkan dengan pementasan seni budaya dari beberapa daerah. Bersamaan dengan itu juga ditampilkan pameran kuliner khas Sumbar. Juga ada pemaran lukisan yang merekam daerah-daerah penting kepariwisataan Sumbar.
Lalu, apa arti aktivasi taman budaya Sumbar itu?

Muasri menjelaskan, masyarakat Sumbar, termasuk para senimannya memang sudah lama ingin melihat taman budaya daerahnya diaktifkan sebagai pusat pertunjukan. “Kita lihat buktinya sekarang, baru ada pameran kuliner dan pertunjukan tari, ternyata respon masyarakat sudah bagus. Nanti, kalau pementasan demi pementasan seni pertunjukan sudah diketahui masyarakat luas Sumbar, maka taman budaya ini tak akan pernah sepi dikunjungi penonton,” ujar Muasri. “Apalagi letak taman budaya ini sangat strategis, berhadapan langsung dengan obyek wisata pantai yang indah.

Dulu di taman budaya ini paling banyak orang menonton teater, sekarang beragam seni pertunjukan ditampilkan setiap sabtu-minggu. Juga sudah tercatat 60 grup seni pertunjukan antre dipentaskan di taman budaya ini,” lanjut Muasri.

Menurut Juju Masunah, taman budaya yang akan menyusul diaktifkan selain Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan adalah Papua. Kepada para seniman di daerah itu, sekali lagi Juju Masunah mengingatkan agar para seniman dan orang-orang kreatif lainnya menjadikan keberadaan taman budaya sebagai ajang adu kreatifitas.

“Tanpa sentuhan orang-orang kreatif, baik dari lingkup seni musik, seni pop daerah, tari, lukisan dan lain-lain, keberadaan taman budaya akan ‘kering’. Sebaliknya jika orang-orang kreatif akan tertantang mengolah potensi kreatifnya di taman budaya, maka taman budaya itu akan terdengar gaungnya hingga ke mana-mana…” lanjut pejabat berdarah Priyangan ini.
Bener juga, bukan?

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/taman-budaya-tidak-lagi-sekadar-tempat.html

Categories: Esai