Pujangga Sepanjang Masa

Judul Buku: Baju Bulan
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2013
Jumlah Halaman: 82 hlm
Peresensi: Bandung Mawardi *
Lampung Post, 23 Juni 2013

JOKO Pinurbo (Jokpin) mengakui bahwa penerbitan buku puisi Celana (1999) menandai masa belajar menulis puisi selama 20 tahun. Pujangga memang hidup bersama kata, berperistiwa dan mengolah makna. Jokpin tak jemu, enggan minggat dari “rumah kata”. Masa belajar menulis puisi pun bertambah, terbukti dengan penerbitan buku puisi berjudul Baju Bulan (2013). Pujangga bertubuh kurus itu tak mengenal tamat. Berpuisi adalah peribadatan sepanjang masa, sampai tubuh menjadi fana.

Kegandrungan berpuisi pernah dijelaskan Jokpin melalui puisi pendek, berjudul Puisi Telah Memilihku (2007). Pujangga itu mengakui: Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi/ di antara baris-barisnya yang terang./ Dimintanya aku tetap redup dan remang. Puisi ini cuma ingatan, keterpilihan Joko Pinurbo sebagai penggembala kata. Jokpin tak melulu “redup” dan “remang”. Ketelatenan menulis puisi, mempersembahkan pada pembaca telah memberi “terang” etos kapujanggan. Jokpin membuktikan diri, berjalan tanpa lelah, menggembala puisi melintasi waktu demi waktu sampai diri menua.

Buku Baju Bulan merupakan kumpulan 60 puisi, terpilih di rentang waktu 1991-2012. Pembatasan waktu penulisan-publikasi dan jumlah puisi seolah mengandung nalar-selektif. Pembaca dipersilakan menikmati puisi tanpa keutuhan mengacu episode-episode di masa silam. Kita tak bakal menemukan puisi-puisi wagu dan lugu dari masa 1980-an, episode Jokpin menempatkan diri di deretan pujangga Indonesia dan “merumuskan” bentuk-greget berpuisi. Pembatasan waktu lumrah dijadikan dalil jika berkaitan kepatutan dan keterikatan.

Penerbit memberi penjelasan bahwa mereka memilih 60 dari ratusan puisi Jokpin. Buku Baju Bulan diniatkan sebagai sejenis album puisi terpilih. Penggunaan kata terpilih tentu berterima ketimbang terbaik. Godaan dari penerbit: “Melalui buku ini kita dapat melihat semacam ikhtisar perpuisian Jokpin.” Ikhtisar berati ringkasan, tak utuh. Kita jadi merasa ada “kehilangan” atas pengenalan puisi-puisi Jokpin. Ikhtisar memang tak utuh, menghadirkan puisi-puisi pilihan saja dengan kriteria-kriteria. Pembaca cuma menerima 60 puisi sebagai representasi kerja puisi Jokpin.

Kita tentu lekas mendapati puisi-puisi moncer gubahan Jokpin. Puisi berjudul Celana pasti ada. Puisi ini sah sebagai puisi sepanjang masa. Puisi Celana berulang dimuat di buku-buku Jokpin, puisi khas untuk menobatkan Jokpin sebagai “pujangga celana”. Pembaca seolah menganggap puisi itu adalah cap resmi bagi Jokpin. Puisi terkenal sering mudah dihapal: Lalu ia ngacir/ tanpa celana/ dan berkelana/ mencari kubur ibunya. Puisi ini bakal tercatat dalam deretan puisi abadi di Indonesia. Melani Budianta (1999) justru berceloteh bahwa puisi Celana bisa merangsang pembaca menggandrungi sastra.

Jokpin termasuk pujangga tenar. Buku-buku puisi Jokpin merupakan persembahan unik, hadir dengan pengakuan-pengakuan fantastis. Buku-buku puisi Jokpin sering mendapat anugerah-penghargaan. Kita perlu mengingat masa lalu saat Jokpin merasa rikuh untuk mempersembahkan buku puisi. Buku puisi Celana (1999) memuat keterangan Jokpin: gelisah dan sungkan. Dalil menerbitkan buku puisi sering merujuk ke keseragaman tema atau gaya. Jokpin memilih kualitas, kepantasan puisi untuk dikumpulkan dalam buku. Pengakuan di masa lalu itu lekas berubah. Buku-buku puisi Jokpin justru rajin mengundang pembaca mengalami gairah sastra. Kita mendapati 9 buku puisi: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Tahilalat (2012).

Kita perlu menagih pengakuan terbaru dari Jokpin, membandingkan dengan pengakuan di masa lalu. Jokpin belum lelah berpuisi. Gelisah dan sungkan telah berubah menjadi ketekunan mempersembahkan buku ke pembaca. Kita bisa menduga bahwa Jokpin telah menunaikan misi berpuisi sampai mati. Buku-buku itu menandai etos pujangga, amalan berpuisi tanpa kejemuan, lelah, keputuasasaan. Buku Baju Bulan mengingatkan kita atas keputusan Jokpin mengabdi di jagat puisi, menulis sejak puluhan tahun silam. Tindakan menulis puisi memang mirip peribadatan.

Jokpin selalu menggembala kata, berpuisi. Kita patut mengutip larik-larik terakhir di puisi Sudah Saatnya (2003). Jokpin menulis: Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi birahi/ supaya tetap bertunas kembali,/ supaya tumbuh dan berbuah lagi. Kata-kata mesti dihidupi, digandrungi, digembalakan untuk menjelma puisi. Jokpin pun beranggapan bahwa kata-kata bakal bisa disajikan sebagai puisi dengan ketekunan. Gairah berpuisi menghendaki iman. Jokpin beriman, mewartakan diri dan dunia melalui puisi.

Ingatan atas keimanan berpuisi hadir di puisi berjudul Pesan dari Ayah (2005). Jokpin menaruh memori di puisi, adegan menulis puisi di bawah pohon sawo. Jokpin menulis: … di bawah pohon sawo itu/ puisi pertamaku lahir. Di sana aku belajar menulis/ hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan. Jokpin (Koran Tempo, 3 Juni 2007) mengungkapkan bahwa menulis puisi membutuhkan tempat kondusif. Tempat itu adalah di bawah pohon sawo kecik. Jokpin di bawah pohon sawo sering melakukan permenungan dan pengendapan ide.

Buku Baju Bulan memang album puisi pilihan, suguhan puisi-puisi menuruti pembatasan waktu dan kriteria. Kita bisa menikmati puisi-puisi impresif. Pembaca mungkin ingin melewati batas waktu, menengok puisi-puisi lawas Jokpin: wagu dan lugu. Usia Jokpin terus menua, puisi terus ada. Jokpin masih menggembala kata, berpuisi untuk peribadatan. Begitu.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/buku-pujangga-sepanjang-masa.html