Emanasi dan Rok Mini

Beni Setia *
Lampung Post, 21 Juli 2013

Yang Awal itu bukan eksistensi Roh Suci, bukan Allah SWT atau malaikat, tapi si Iblis–dan lewat tampilan Dajjal merembes menjadi para lelaki konkret pemuja syahwat.

POSTER Forum Keadilan Perempuan, dalam rangka Hari Perempuan Internasional 2012 (Kamis, 8/3), yang berlangsung depan Istana Negara, Jakarta, amat memikat. Foto besar tampilan pusar dan paha perempuan yang cuma ditutup rok mini denim. Menantang tapi dinetralkan teks berbunyi: Bukan Salah Rokku yang Mini Tapi Otakmu yang ”Mini”. Tampaknya itu reaksi atas pendekatan patriarkik yang selalu menganggap perempuan itu obyek yang harus ditaklukkan serta dikuasai lelaki, dan pada saat itu, terutamanya ketua DPRRI era 2008-2013, Marzuki Alie, yang menginginkan supaya si anggota DPR wanita tak memakai rok mini ke Senayan.

Kontra wacana yang asyik dan sengaja dimobilisasi secara ekstrim oleh perwakilan kaum wanita Indonesia. Sekaligus, entah bagaimana (mendadak) saya jadi teringat pada rasionalitas sok kontekstualistik, yang membenarkan kehadiran cewek berbikini di dalam beberapa film Warkop dekade 1980-an, dengan menyatakan bila penampilan perempuan seksi itu sesuai tuntutan cerita yang berseting pantai. Maksudnya, kalau mau bekerja ya berpakaian resmi si orang mau bekerja. Sekaligus, karena mereka itu anggota DPR, harus siap dengan argumentasi dan data supaya tuntas-mengakar memusyawaratkan rancangan UU atau mensiterapkan fungsi pengawasan dan kontrol ke pihak legislatif.

Harus mempertimbangan situasi, kondisi, serta tempat. Tapi idea ”etis-profesional” simbolik dari Marzuki Alie itu dibaca secara lain, dibaca sebagai satu teks ”penghinaan dan pelecehan seksual atas wanita anggota DPR”–selain wacana ”apa tak ada yang lebih penting dari mensejahterakan rakyat, dengan tak usil mengurus rok mini”. Rasanya, apa yang dikatakan si orang yang tidak disenangi selalu dibaca secara negatif dengan semakin mengsigarisbawahi sikap opositif, sebanding pemeo ”sekali lancung ke uji seumur orang tak percaya”. Penentangan lebih diutamakan dari sikap obyektif-apresiatif saat menyimak kemungkinan ada hal positif.
***

ADA indikasi sikap (psikologis) opositif, suatu instink temperamental tidak pernah ingin memahami sesuatu secara obyektif, bahkan cenderung kreatif me-mlintir-nya demi mengekspresi ketidaksukaan. Hal itu yang bangkit ketika menyimak teks ”Bukan Salah Rokku yang Mini Tapi Otakmu yang ”Mini””. Setidaknya ketika melihat berita potret itu (Kompas, 9/3, hlm 5) saya teringat akan konsepsi emanasi dalam filsafat, keyakinan bila segala sesuatu di dunia ini berasal-mula dari Yang Utama, Sang Causa Prima, yang pelan merembes menembus lapisan keberadaan tanpa ciri khas spesifik dari substansi, sebelum riil materialstik menggejala sebagai fakta.

Berdasar konsep Neo Platonis itu kita memaknai teks itu dalam suatu pengandaian, bahwa ekses perkosaan atau cap cabul itu bukan karena perempuan berpakaian rok mini, tapi karena otak (lelaki) yang mini cuma berkutat dengan syahwat. Sehingga semua klem ”perempuan menggoda lelaki dengan rok mini” terkait dengan keinginan mesirendahkan, menghina, serta mesilecehkan perempuan. Ya–di titik itu semua asumsi benar. Kenapa? Karena asumsi itu bias. Sebab yang diandaikan sebagai si Yang Awal dari fakta (muara) emanasi itu bukan sesuatu yang punya sipat baik serta yang bersikeinginan hadir sebagai kebaikan, tapi cenderung sebagai keburukan dan menggejala sebagai laku jahat–si yang terpancing kehadiran rangsangan.

Yang Awal itu bukan eksistensi Roh Suci, bukan Allah SWT atau malaikat, tapi si Iblis–dan lewat tampilan Dajjal merembes menjadi para lelaki kongkrit pemuja syahwat. Sementara seorang Marzuki Alie bertolak dari keyakinan yang Yang Awal itu Roh Suci, Allah SWT, yang merembes dan beremanasi jadi si yang berkecenderungan pada hal baik dan kehadiran yang baik–sekaligus menghindari kehadiran hal buruk dan memancing ke arah perbuatan tercela. Sesuai konsep etis yang cenderung menjauhi kenikmatan duniawi, merujuk tindakan mistik-sufistik yang mendorong seseorang bergerak naik, dan menjadi ujud murni yang dekat Yang Awal–bahkan tersilarutkan.
***

ADA penyimpangan saat beberapa pihak berusaha membenarkan rok mini sebagai sesuatu yang pantas, dengan mengatakan apresiasi negatif atas laku berok mini itu keliru. Dengan rujukan konsep emanasi bilang, kalau instink purbani lelaki itu ingin menguasai perempuan secara seksual, dan itu bermula dari Iblis, sumber kejahatan. Tapi pengadaian degradatif Yang Utama menjadi Iblis itu menyakitkan, terlebih saat semua titisan Iblis itu lelaki–setelah melulu hanya perempuan, yang cenderung menggoda lelaki seperti si Iblis membisiki Hawa agar meminta Adam memetik buah terlarang itu. Asumsi (perembesan) emanasi membuat kehadiran si yang kualitas kesucian terdegradasi membuat si yang riil ada jadi eksistensi terdampar. Si terkutuk yang melulu ada di pembuangan dunia bawah.

Alhasil–terutama bila tak sanggup–, jadi tidak perlu berusaha naik ke kemuliaan di awal ada, dengan menyusuri balik jejak emanasi dan berkumpul lagi dengan Sang Causa Prima. Bahkan daya emanasi itu mendamparkan manusia dan semua ke level yang makin rendah–atau tidak beranjak sementara kualitas keberadaan telah terdegradasi keserakahan manusia. Si jahat yang instinktif mengalirkan rentetan keburukan berikjut, si yang melulu dirangsang buat mengekspresikan keburukan. Sehingga obyek yang merangsang lahirnya ekspresi keburukan itu yang mutlak bersalah, sebab eksistensi subyek yang penampung semua rembesan keburukan itu dan merealisasinyapun ikut bersalah.

Itu awal asumsi idiom ”wanita penggoda” yang melarang wanita berpakaian seksi, dan idiom ”otak mini” yang mencemooh sipat kebelet syahwatiah lelaki. Tapi di titik ini, entah bagaimana, saya ingat sebuah anekdot Sunda di setengah abad lalu, di mana deviasi seksual di-posting permisif dengan diabstraksi sebagai kebetulan, dengan teks oral ”itu bukan salahku, Ua kencing kerbau mundur, jadi ya dilurusin aja …” Gila!

*) Beni Setia, pengarang
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/07/emanasi-dan-rok-mini.html