Dari Pernikahan Darah sampai Atlantik Utara

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 7 Juli 2013

Catatan untuk Festival Teater ke-11 LSPR Jakarta. (Barangkali karena mengacu pada minimalisme kosmos panggung teater Butoh dan teater Absurd, arah tulisan jadi begini).

UNTUK ke-11 kalinya, pada 26 Juni ‘“ 3 Juli 2013, London School of Public Relations (LSPR) Jakarta menyelenggarakan festival teater sebagai bagian dari pemenuhan kelulusan mata kuliah (kali ini) semester kedua di jurusan Performing Art Communications, yang menyiapkan mahasiswanya untuk memahami penyutradaraan, penulisan, akting, musik dan lampu, kostum dan panggung, juga manajemen pertunjukan, sejak perencanaan sampai produksi.

Begitulah, 12 kelas telah memanggungkan 12 pertunjukan akhir bulan Juni sampai awal Juli, dua kali sehari. Sampai 2013 ini LSPR telah menampilkan 101 judul naskah yang tak pernah sama. Hingga tak salah bila pada 2008 saja gelaran rutin LSPR ini sudah diganjar rekor MURI sebagai ‘produksi teater terlama‘ di kampus.

Kali ini dipentaskan 12 naskah, masing-masing: Over My Dead Body, Blood Wedding (Pernikahan Darah), A Walk to Remember, El Rancho Cheapo, Carrying The Calf, Blue Gold, Don‘t Weep for Mother, Power Play, The Ballad of the Real Me, Artist Anonymous, North Atlantic (Atlantik Utara), The Pregnancy Project, Awarding Ceremony. Pertunjukan di nilai oleh para juri yang diketuai oleh Arswendo Atmowiloto.

Secara umum, pementasan berbahasa Inggris ini jadi persoalan tersendiri yang dalam beberapa bagian tidak muncul sebagai tantangan ‘teater‘, tapi ‘bahasa‘. Dalam beberapa pertunjukan para aktor dan aktis masih terlihat berkutat pada penguasaan alat ungkap (baca: bahasa) dengan menghapalkan (bahkan ada yang meneriakkan) dialog yang belum menyatu dengan pemeran, hingga menyulitkan sang karakter terekspresikan secara utuh.

Pada beberapa adegan (hampir di ke-12 pertunjukan), para pemeran tidak ketat menjaga ritme, lagi-lagi karena harus menyampaikan dialog secara benar, namun bukan sebagai ekspresi peran. Ini bisa dilihat sebagai ketidaksiapan atau kurang berlatihnya aktor/akrtis dalam proses reading, memahami dan menghayati peran, dan boleh jadi pula karena ketidaksampaikan wawasan teater sang sutradara dan juga para pemainnya.

Catatan seperti ini patut disampaikan karena kegiatan LSPR sungguh ‘serius‘ bila disejajarkan dengan acara yang tak jauh beda di gelanggang-gelanggang remaja kita yang juga serius namun terkendala ‘material‘. Pada Festival Teater Jakarta misalnya, pementasan demi pementasan telah berlangsung dengan fokus pada naskah dan pemeranan; tanpa terlalu diperkaya oleh properti dan artistik yang lebih sering disiasasi dengan ‘ilustrasi‘ imajinatif di atas panggung. Ini coba dilakukan oleh A Walk to Remember.

Sedangkan pentas demi pentas di LSPR tersuguh sebagai teater realisme yang ‘kaya‘, dengan properti lengkap, artistik, kostum sesuai latar cerita (dan di antaranya cukup mahal), namun tak selalu diefektifkan mendukung pemeranan dan perkembangan adegan untuk memperlihatkan cakrawala pertunjukan (dan seluruh ruang kemungkinan nilai dan filosofi) yang disodorkan naskah.

Beberapa naskah yang potensial menawarkan renungan (terbuka), seperti A Walk to Remember, Don‘t weep for Mother, dan Blood Wedding justru dibiarkan usai tanpa menggoreskan pesan yang semestinya memperkaya benak penonton ketika meninggalkan gedung pertunjukan. Apalagi dari ketiga pertunjukan para aktor/aktris tampak cukup menguasai ‘bahasa‘ dan ‘peran‘-nya. Namun yang raib adalah jeda, keheningan, sebagai wadah untuk menyeruakkan pemikiran yang terpendam di dalam naskah.

Hingga dalam pertunjukan LSPR kali ini, meski panggung demi panggung begitu variatif dengan properti dan kostum, namun persoalannya sama: belum digarap seefisien dan seektif mungkin. Beberapa properti hanya meramaikan pentas, dan boleh jadi tak sempat terlihat penonton karena cerita menderas sebagai dialog-dialog yang disampaikan secara berlomba. Lagi-lagi, ini boleh jadi karena kekurangwaspadaan sutradara dan juga para aktor/aktris.

Namun secara keseluruhan, acungan jempol harus disampaikan kepada semua kelas yang telah berhasil menyuguhkan sebuah ‘proyek‘ pertunjukan secara maksimal. Gedung pertunjukan selalu penuh, dengan penonton berbayar. Terlepas apakah itu dukungan teman-teman atau keluarga.

“Bagaimanapun mereka harus dilihat sebagai para mahasiswa semester dua yang sedang berlatih ‘bermasyarakat‘, bekerja dan membangun prestasi sebagai komunikator yang menempa diri lewat teater,” kata Renata Tirta, seorang penyelenggara dan juga pengajar di LSPR.

Ya, para anak muda itu bekerja sendiri menjual tiket, mengusahakan properti/kostum, dan berbagai prasarana lainnya. Dari berbagai latar sosial, sebagai individu-individu yang biasanya bekerja sendiri, kini mereka harus bekerja sama membujuk penonton agar mau datang ke gedung pertunjukan LSPR. Tentu saja hasilnya tak selalu maksimal. Namun mereka sudah berupaya memenuhi kewajiban kurikulum, dan menunjukkan kemampuan menyiapkan pertunjukan.

Mereka memang tidak sengaja mempersiapkan diri sebagai seorang teaterawan profesional, sebagaimana teman-teman mereka di Institut Kesenian Jakarta atau Taman Ismail Marzuki. Sebab, mereka adalah para komunikator yang hendak memasuki dunia kerja (industri dan bisnis khususnya), dan membekali diri dengan teater. Karena mereka diajarkan mempercayai ‘kekuatan‘ teater!

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/07/pertunjukan-dari-pernikahan-darah.html