Jalan Sunyi Seorang (Calon) Penulis

Judul Buku: Tidur Berbantal Koran: Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Pengarang: N. Mursidi
Penerbit: Elek Media Komputindo, 2013
Halaman: xii+243 hlm
Peresensi: Aan Arizandy *
Lampung Post, 21 Juli 2013

“Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan: banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal itu, dan tidak ada jalan pintas.” (Stephen King)

Memilih jalan menjadi seorang penulis bukanlah perkara mudah. Proses yang dilalui sungguh panjang dan berliku. Kegagalan demi kegagalan kerapkali menjadi batu sandungan. Mengabdikan hidup di belantara kata-kata, karena itu, membutuhkan daya tahan mumpuni agar tetap bisa bertahan di tengah derasnya sapuan gelombang.

Ketiadaan daya tahan tersebut memang tak jarang membuat seorang calon penulis begitu cepat menyatakan diri “pensiun dini” dari dunia kepenulisan. Lantaran buah karya yang dikirimkannya ke media massa tak kunjung dimuat, misalnya. Sikap pesimistis pun seringkali datang menyergap. Frustrasi sekaligus depresi juga akhirnya menghampiri seraya berkeluh-kesah bahwa dunia tulis-menulis bukanlah bakatnya.
***

Melalui untaian kisah lika-liku perjalanan kepenulisan yang dituangkan dalam buku berjudul Tidur Berbantalkan Koran ini, sikap pesimistis seperti itu jelas tak berlaku bagi seorang N. Mursidi. Karena itu, karya penulis jebolan UIN Sunan Kalijaga ini barangkali bisa kita tempatkan sebagai autobiografi penulisnya: perjuangan seorang penjaja koran yang akhirnya berhasil menjadi seorang penulis.

Sebagai seseorang yang bercita-cita menjadi penulis, Mursidi paham betul dan mengamalkan sepenuh hati petuah Stephen King yang dikutip di awal tulisan ini. Tidak mustahil, petuah Stephen King itu juga memikat siapa pun untuk segera menjelajahi lembaran demi lembaran buku ini. Tepatnya, membaca lika-liku proses perjalanan Mursidi menjadi seorang penulis produktif di pelbagai media massa yang dituangkannya dalam buku yang disebutnya sebagai novel berdasarkan kisah nyata (true story) ini.

Kisah dimulai ketika Mursidi memutuskan meninggalkan kampung halamannya untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Sebelumnya, kedua orang tuanya sempat tak memberi izin. Sebab, selain karena keterbatasan materi, Mursidi juga dianggap bukanlah anak yang pintar. Rekam jejak akademiknya bisa dikatakan buruk. Dan, ramalan orangtuanya tersebut terjawab: belum genap dua semester menjalani kuliah di jurusan ekonomi Universitas Sarjanawiyata, Mursidi terpaksa harus drop out lantaran keterbatasan materil. Ia pun harus rela terlempar ke jalanan sembari berjualan koran demi mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Namun, kerasnya jalanan malah menjadi kampus tersendiri bagi Mursidi. Tiap hari ia berkumpul dan bergumul naik-turun bus bersama para pengamen, pengasong, preman hingga pencopet. Setumpuk koran yang senantiasa ia jajakan dijadikan pengganti buku-buku perkuliahan. Bagi Mursidi, jalanan laksana kurikulum kehidupan yang mendewasakan dirinya. Bahkan, selain mampu menopang kebutuhan hidupnya, berawal dari koranlah inspirasi menjadi penulis mengalir dalam tubuhnya.

Karir kepenulisan Mursidi pun terbilang unik. Ia belajar menulis secara autodidak. Tak ada guru yang membimbingnya ketika ia butuh asupan kritik. Tulisan-tulisan di koran yang setiap hari dijajakan itulah yang ia jadikan sebagai guru untuk mengajarinya bagaimana cara menulis. Hampir setiap malam ia pergunakan waktunya untuk berlatih menulis. Menulis cerpen adalah kegemaranya kala itu.

Mursidi sesekali mencoba mengirimkan buah karyanya itu ke media massa; meskipun tak seorang redaktur pun berkenan memuatnya. Tapi, itu tak membuatnya patah arang. Ia tetap gigih untuk terus berlatih menulis. Ia juga terus-menerus mengirimkan tulisan-tulisannya; kendati belum seorang redaktur pun yang terpikat untuk memuatnya. Sehingga, sebagian teman-temannya sering mencemoohannya tak berbakat menjadi penulis.

Di tengah kegalauan itu, ia berhenti sejenak dari aktivitas berpetualang di belantara aksara. Ia beralih menjajaki aktivitas baru: fotografi. Hasil jempretan kamera itu kembali dikirimkan ke salah satu media massa dan ternyata dimuat. Dan, momen inilah yang justru menjadi titik balik bagi Mursidi dan tertantang untuk kembali menulis. Berbeda dengan bentuk tulisan sebelumnya, Mursidi kini mencoba meresensi buku. Berkat semangat yang tak pernah padam, akhirnya tulisan yang telah lama dinanti-nantikan penerbitannya itu dimuat juga di media massa dan menghantarkanya meraih mimpi menjadi seorang penulis.

Selain mampu menghantarkan Mursidi meraih gelar sarjana, semangat hidup dan kerja keras yang tak kenal lelah itu juga telah berjasa membawanya memperoleh pekerjaan di kantor redaksi sebuah majalah berkat investasinya berupa setumpuk tulisan-tulisanya itu. Suatu hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan di benaknya.
***

Akhirnya, kehadiran buku ini jelas layak disambut oleh para calon penulis, penulis pemula, atau teman seprofesi dengannya. Kehadirannya makin berharga karena bisa dijadikan sumber inspirasi bagi siapa pun yang berkeinginan memilih penulis sebagai jalan hidupnya. Juga bisa ditempatkan sebagai cermin, bahwa menjadi seorang penulis menuntut proses panjang, tidak instan.

*) Aan Arizandy, Penggiat Kelompok Kajian Mimbar Bandar Lampung
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/07/buku-jalan-sunyi-seorang-calon-penulis.html