Penguasa dan Kekuasaan

Judul Buku: Kejayaan Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid: Kemajuan Peradaban Dunia pada Zaman Keemasan Islam
Penulis: Benson Bobrick
Penerjemah: Indi Aunullah
Penerbit: Pustaka Alvabet, 2013
Halaman: 416 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi *
Lampung Post, 14 Juli 2013

PENGUASA sering mengalami tragedi. Lakon kekuasaan memuat peristiwa-peristiwa heboh: perang, suksesi, pembunuhan, pengkhianatan. Membaca biografi penguasa-penguasa di masa silam ibarat membaca halaman-halaman berdarah, sejarah dengan luka dan dendam. Misi jadi penguasa cuma sekejap, memuat puncak-puncak keagungan dan jurang-jurang kehinaan. Penguasa ibarat pengisah tragisme, tokoh di pusaran ilusi dan sesalan.

Kisah itu terjadi di abad XVIII. Mahdi bimbang untuk mewariskan kekuasaan, memilih tokoh penerus kekhalifahan: Hadi atau Harun. Kematian Mahdi menandai pilihan berkonsekuensi suksesi dan pertumpahan darah. Harun memilih diam, menanti putusan takdir. Kekuasaan memang beralih ke Hadi, penerus lakon kekuasaan di Baghdad. Para ahli sejarah mencatat bahwa Hadi adalah “bocah besar berperangai buruk”, penguasa berwatak keras, kasar, congkak. Kekuasaan Hadi sering dilabeli memalukan alias tak bermartabat. Hadi membuat keputusan-keputusan fatal untuk menepikan Harun, beralasan agar Harus tak menjadi penerus kekhalifahan. Mereka bersaudara tapi berseberangan atas nama kekuasaan.

Ambisi dan arogansi itu berakhir secara misterius. Hadi mengalami sakit perut saat perjalanan ke Mosul. Sakit perut tak terobati, kematian datang dengan keganjilan. Kematian penguasa selalu rawan pengkhianatan dan konflik. Harun mengatasi situasi tanpa gejolak. Harun pun menjadi penguasa. Sejarah mencatat peristiwa-peristiwa mengesankan tentang kekuasaan di Baghdad: kematian Hadi, penobatan Harun sebagai khalifah dan penguasa, kelahiran putra dari selir Harun. Kisah tiga khalifah bermula dan berakhir di malam kesedihan dan keagungan. Para ahli sejarah sering menganggap malam itu sebagai “malam takdir”. Harun di usia 23 tahun resmi menjadi penguasa, 15 September 786. Alam memberi tanda: langit cerah dan terang, sejuta bintang di malam bergelimang berkah.

Pembaca Kisah Seribu Satu Malam bakal memiliki imajinasi tentang Harun Ar-Rasyid sebagai penguasa tenar. Sejarah peradaban Islam dan dunia turut dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan Harun. Para pengisah sejarah menganggap Harun adalah tokoh intelektual, agung, bijak. Harun sebagai kahlifah menampilkan diri sebagai penguasa dengan hak ilahiah, membentuk zaman baru demi kemakmuran dan keadilan. Cerita-cerita mencengangkan sering menjadikan Harun sebagai manusia mengurusi kekuasaan mengacu ke iman. Harun diceritakan sering berderma seribu dirham setiap pagi, menunaikan shalat seratus rakaat setiap hari. Harun juga sering menunaikan ibadah haji ke Mekkah, 7 kali menggunakan unta dan haji terakhir dilakoni dengan berjalan kaki.

Harun sanggup membuat Baghdad sebagai pusat peradaban. Urusan perdagangan, politik, ilmu pengetahuan, pendidikan berkembang gemilang di naungan kekuasaan Harun. Ahli sejarah terus mengingat bahwa Baghdad memberi-menularkan inspirasi-inspirasi perubahan ke pelbagai negeri, bersebaran ke dunia. Baghdad adalah kota cerita, kota bertaburan keajaiban dan keagungan dari pagi sampai malam. Baghdad pun mengilhami Kisah Seribu Satu Malam.

Kebijakan-kebijakan Harun menjadikan Baghdad sebagai kota literasi. Baghdad tumbuh sebagai kota buku. Industri kertas mengubah wajah Baghdad. Pendidikan dan situasi intelektual bertumbuh secara pesat dan menakjubkan. Harun menghendaki arus peradaban merujuk ke tulisan. Agenda keilmuan dan administrasi pemerintahan mulai menggunakan kertas. Sistem perdagangan juga berlangsung melalui pencatatan-pencatatan di kertas. Harun menggerakkan kekuasaan dan peradaban dengan literasi. Kebijakan Harun mengakbibatkan gairah intelektual bersebaran dari Baghdad. Kaum terpelajar menggunakan buku dan kertas untuk sebaran ilmu.

Kebijakan itu diteruskan oleh Ma’mun. pendirian Baitul Hikmah membuktikan penghormatan atas etos keilmuan. Pelbagai sarjana menekuni ilmu meski berbeda agama. Ma’mun menganggap literasi adalah basis peradaban, menuntun manusia mendapati terang dunia tanpa kehilangan iman. Harmonisasi ilmu dan iman mempengaruhi laju peradaban Islam. Baghdad sebagai pusat ilmu dan literasi lekas berpengaruh ke dunia, menimbulkan pesona sepanjang masa. Kalangan sarjana, dari zaman ke zaman, selalu mengingat Baghdad sebagai kota ilmu, kota buku, kota literasi, kota sarjana, kota iman.

Sejarah kekuasaan memang sering berdarah meski ada bab-bab keagungan, kesucian, keindahan. Harun diingat sebagai penguasa agung, khalifah besar dalam membentuk peradaban Islam. Peran itu tak luput dari tragedi. Harun mengakhiri hidup dengan kesedihan, kesendirian, kesepian, derita, putus asa: 23 Maret 809. Pewarisan kekuasaan menimbulkan resah. Harun menghendaki Ma’mun tapi Amin terlalu ingin jadi penguasa. Ma’mun dan Amin bersaudara tapi ada di dilema kekuasaan saat memutuskan penerus kekhalifahan. Amin memang tampil sebagai penguasa, sekejap tanpa kebesaran. Ma’mun meneruskan kekuasaan meski diawali air mata kesedihan tanpa dendam untuk Amin. Ma’mun tampil sebagai penguasa agung, mewarisi intelektualitas dan kebajikan Harun.

Pengisahan Harun memberi ingatan bagi pembaca tentang arus kekuasaan di masa silam. Penguasa adalah manusia tragis. Keagungan sering digenapi oleh luka, air mata, darah. Benson Bobrick melalui pengisahan Harun Ar-Rasyid memberi ingatan-ingatan impresif. Kekuasaan berdalil iman memang bakal memberi terang kehidupan meski manusia tak luput dari godaan-godaan duniawi. Sejarah penguasa dan kekuasaan dari abad XVII menjadi referensi untuk mengerti tragedi dalam kekuasaan. Tragedi itu belum berakhir saat para penguasa di abad XXI tampil sebagai manusia bergelimang pamrih-pamrih picisan. Begitu.

*) Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/07/buku-penguasa-dan-kekuasaan.html