Samurai yang Berbeda dengan Musashi

Budi Cahya Timur *
Media Indonesia, 30 Juni 2013

JEPANG sepertinya tidak pernah habis kisah heroik dari tiap zaman. Bagi yang pernah membaca kisah Musashi, 7 jilid pada versi Indonesia dan di versi Inggris mencapai 970 halaman, itu menjadi karya klasik yang fenomenal. Buku perjalanan maestro samurai akhir abad XVI itu tidak pernah dilupakan orang.

Lalu apa hubungan Musashi dengan samurai bernama Toyotomi Hideyoshi? Keduanya sama-sama berangkat dari seorang ronin (samurai yang menganggur). Kedua ronin itu memiliki kisah, sikap, cita-cita, ambisi, filsafat hidup, sepak terjang, dan kiprah yang berbeda. Namun, perjuangan mereka sebagai manusia yang ingin mengubah hidup patut menjadi petikan bernilai bagi manusia secara universal.

Meski hidup di zaman dan generasi yang berbeda, jika ditelusuri dari tahun kelahiran dan peristiwa yang dilalui, keduanya hidup di zaman yang segaris.

Melalui buku The Swordless Samurai, kisah pemimpin legendaris Jepang abad XVI diangkat kembali oleh sang penulis Kitami Masao. Sayangnya, di buku itu tidak ada keterangan latar belakang pengarang. Hanya terdapat sebuah pengantar dari Tim Clark selaku penerjemah dari bahasa Jepang ke Inggris, yang menjelaskan soal Hideyosi. Tidak ada penjelasan tentang sang penulis Kitami Masao, hanya ada ucapan terima kasih telah memberi izin mengadaptasi buku itu.

Terlepas dari itu, kisah Hideyoshi memang tidak banyak dentingan antarpedang seperti Musashi yang mampu membunuh 70 lawannya. Cita-cita Hideyoshi tak hanya melulu berkelahi, berperang (bertempur).

Ia mengerti bahwa sebagai pemuda miskin yang bertubuh pendek, tak berpendidikan, dan berwajah jelek menutup peluangnya berkarier di bidang militer.

Meski tidak menguasai bela diri, konsep samurai ditempuhnya melalui kebijakan, manajemen kepemimpinan dengan keahlian bernegosiasi, dan strategi yang membuat lawan-lawannya takluk dan tunduk. Sebagai remaja yang telah ditinggal mati ayahnya sejak kecil dan hidup berdua dengan ibunya, ia bekerja dengan bermacam-macam bidang. Sampai akhirnya, ia memutuskan dan berangan-angan menjadi seorang samurai. Ia pun bekerja pada keluarga samurai yang disebut klan. Mengabdi dari satu klan ke klan lain, hingga memutuskan menetap di Lord Nobunaga sebagai atasan dan mentor yang tangguh. Dari satu gagasan, strategi dalam memanajemen organisasi, serta dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya, Lord Nobunaga tampil sebagai pemenang tanpa pertumpahan darah. Kemenangannya tidak lepas dari diplomasi Hideyoshi, lewat ide kreatif, strategi, dan misi-misi kemanusiaan dengan taktik bagi-bagi rezeki hingga ia terkenal dermawan.

Tampuk kekuasaan didapatkan Hideyoshi setelah menguasai hampir seluruh wilayah Jepang. Ia berhak mendapatkan jabatan wakil kaisar dan shogun. Hideyoshi akhirnya memutuskan invasi militer ke Semenanjung Korea dan China, dengan sebutan Perang Tujuh Tahun. Ia pun bernafsu pada wanita dengan memelihara 300 selir setelah istri pertamanya, One, tak memiliki keturunan.

Pada 1598 Hideyoshi wafat. Ia mewariskan kekuasaannya kepada Hideyori, anak selir terfavoritnya, Lady Yoda. Semenjak itu, peperangan antarklan terus berkecamuk. Di sinilah terbentuk dinasti. Salah satu dari lima jenderal Hideyoshi yang bernama Tokugawa Ieyasu memenangi pertempuran antara Barat dan Timur, yang dikenal dengan pertempuran di Sekigahara pada 1600, dan di sinilah kisah Musashi, tokoh kelas bawah yang mencari jati diri lewat pedang, ikut bertempur dan selamat di antara ribuan mayat yang bergelimpangan.

Membaca perjalanan hidup Hideyoshi menjadi negarawan memberi inspirasi dan semangat hidup. Apalagi di tengah krisis kepemimpinan di Indonesia yang tak tegas, tak berani, dan loyo, buku ini bisa memberi pencerahan, dengan membaca penyajian di awal bab dan subbab, diberikan kata-kata filosofis, kepribadian, dan manajemen. Namun huruf Jepang yang tersaji di setiap bab rasanya perlu diberi penjelasan, apa arti kata-kata itu. (M-5) *: Peserta Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI) The Swordless Samurai dan pemenang lomba resensi pembaca. Redaksi memberikan penghargaan berupa empat buku. Reza Ramadhan, Mahasiswa “Awalnya mengira buku ini akan banyak cerita petualangan, ternyata banyak amanat-amanat soal kepemimpinan. Kesan saya, buku ini berisi potongan-potongan referensi yang coba disimpulkan penulis, tapi buku ini bagus.”

Silviana Dharma, mahasiswi “Cara penuturan buku yang seolah autobiografi ini membuat ceritanya menarik dan mudah dipahami. Sayang, ceritanya tidak kronologis sehingga membingungkan pembaca. Nama tokoh juga sulit diingat karena buku terjemahan. Menariknya, judul per bab masih ditulis bahasa aslinya.”

Julianti Srilestari, freelance translator “Buku Swordless Samurai bagus sekali, saya suka. Apalagi kisah-kisah di dalamnya penuh motivasi.”

Al Sobri, penulis “Ini alternatif bacaan buku-buku soal kepemimpinan. Belajar langsung pada kisah hidup si pemimpin. Menariknya, buku ini memotivasi dan tetap menunjukkan dua sisi seorang pemimpin dan calon pemimpin.”

Budi Cahya Timur, arsitek “Buku ini bercerita tentang pelajaran hidup, perjuangan, dan pencapaian hasil. Sebuah buku yang menggabungkan sejarah, militer, dan motivasi.”

Famega Syavira Putri, editor “Buku ini gabungan autobiografi, motivasi, sejarah, dan narasi fiksi yang dibungkus dengan bagus. Buku ini juga mudah dibaca karena dilengkapi kesimpulan dan pelajaran yang bisa diambil. Meskipun fakta sejarah agak kabur, banyak hal yang bisa kita pelajari.”

Hergarini Oktivasari, karyawati swasta “Banyak kutipan menarik tentang kepemimpinan yang bisa kita terapkan. Pemikiran Hideyoshi pun out of the box, tetapi tetap penuh perhitungan. Dia selangkah lebih maju daripada pemimpinnya sendiri. Memacu kita menjadi pribadi yang lebih baik karena kita merupakan pemimpin bagi diri sendiri.”

*) Budi Cahya Timur, peserta OPMI The Swordless Samurai dan pemenang resensi pembaca.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/jendela-buku-samurai-yang-berbeda.html