Upaya Menegakkan Moral Akademik

Judul Buku: Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus
Penulis: Prof.Dr.Syahrin Harahap, M.A.
Penerbit: PT Rajagraafindo Persada
Tahun: 2005
Peresensi: Refly
Bali Post, 26 Feb 2006

MORAL merupakan permasalahan umat manusia sejak munculnya manusia pertama sampai sekarang dan seterusnya. Tinggi rendahnya suatu peradaban manusia tidak langsung berkorelasi dengan baik buruk moral manusianya. Karena, moral merupakan sesuatu yang sangat religius dan individual, sekalipun tak dapat dilepaskan dari latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Untuk dapat menjeneralisasikan nilai moral manusia, perlu dilakukan terlebih dulu pengkerucutan ke suatu permasalahan. Dengan demikian, secara spesifik, nilai-nilai moral itu terukur secara cermat.

“Bangsa kita adalah bangsa yang tidak bermoral”. Anda tentu tidak setuju dengan pernyataan itu, karena menurut “desas-sesus” yang diyakini banyak orang, bangsa kita adalah bangsa yang sangat bermartabat, sangat luhur, suka membantu, toleran dan beragam sebutan yang baik-baik lainnya. Bahwa “akademisi kita tidak bermoral”? Ini pun mungkin Anda tak setuju, karena ada juga akademisi kita bermoral.

Namun, jika dikatakan lebih spesifik bahwa “ijazah palsu, skripsi, tesis, disertasi, dan gelar palsu adalah tidak bermoral”, maka pada umumnya orang sangat setuju. Kecuali orang-orang yang tidak bermoral,” maka pada umumnya kita sangat seuju. Kecuali, di situ disebut “orang-orang yang tidak bermoral” yakni orang yang mendapatkan semua “kepalsuan” itu.

Sebenarnya, permasalahan moral sangat bias, namun jika didudukkan dalam perspektif agama, maka semuanya menjadi sangat jelas. Contohnya, buku yang menjelaskan “Penegakkan Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus” karya Syahrin Harahap ini. Akan lain ceritanya, jika buku ini menganalisis moral akademik melalui pendekatan sosial, politik, dan budaya. Bisa dikatakan pendekatan itu “tidak bermoral” karena selalu ditunggangi oleh beragam kepentingan yang beroperasi di dalamnya. Moral dalam buku ini ditempatkan sebagai suatu institusi moral tertinggi, mengatasi institusi kampus atau perguruan tinggi, civitas akademika dan stakeholders terkait, termasuk masyarakat di luar kampus dan pemerintah.

Secara implisit, di buku ini ada disebutkan, semestinya kampus jangan hanya menjadi “pabrik” yang memproduksi sarjana yang siap mencari kerja, tapi menciptakan sarjana yang mau dan mampu bekerja dan mencipakan peluang kerja. “Kebanyakan sarjana penganggur sesungguhnya bukanlah sarjana dalam arti yang sesungguhnya. Melainkan manusia-manusia yang memiliki ijazah sarjana, tetapi tidak memiliki kemampuan, termasuk keterampilan bekerja yang seharusnya dilambangkan oleh ijazah dan gelar yang disandangnya” (hal.93).

Ada pepatah, “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”. Sesungguhnya, tidak ada sarjana-sarjana yang menganggur, kecuali jika diajar oleh dosen-dosen yang “suka menganggur” alias tak kreatif, tak cerdas, atau berprofesi sambilan. Karena itu, permasalahan penegakan moral akademik menjadi sangat krusial dan dilematis, serta tak bisa dilihat dari lingkup kampus saja, tapi juga di lingkup luar kampus. Misalnya, permasalahan moral dalam lingkup akademik meliputi bagaimana lembaga pendidikan itu dikelola; bagaimana civitas akademika berpartisipasi dalam menegakkan integritas moral, dan bagaimana stakeholders terkait seperti masyarakat dan pemerintah (penguasa) berpartisipasi di dalamnya.

Sangat Kontradiktif

Penulis buku ini sudah sangat mahfum kalau penegakan moral akademik bukanlah otoritas kampus dan civitas akademika semata. Lebih jauh lagi, kecenderungan budaya yang berlaku di masyarakat dan kekuasaan pemerintah yang beroperasi di dalamnya menentukan derajat moral yang berlaku, sehingga kampus sangat mustahil menegakkan moral yang ideal sebagaimana dideskripsikan di dalam buku ini.

Sebagai contoh, ada dosen profesional yang idealis terhadap moral akademiknya, ada dosen sambilan, dan ada juga dosen yang sangat sibuk — entah karena sibuk mengajar di berbagai tempat, urusan bisnis atau urusan proyek, sampai partai. Ada mahasiswa demonstran yang radikal, mahasiswa gaul yang trend, dan mahasiswa ideal yang kuliah hanya untuk mencari ilmu. Celakanya lagi, kini ada kampus fiktif, mahasiswa fiktif, dan gelar fiktif.

Moral itu sendiri sangat kontradiktif dalam setiap diri individu. Bahkan seringkali jadi pembenaran untuk menyebut orang lain tidak bermoral. Roose Poole mengatakan, banyak manusia yang ingin menegakkan moral, tetapi mereka sendiri yang membuat mustahil penegakkan moral itu (hal.2).

Namun, paling tidak, dengan membaca buku ini, orang dapat melihat, memahami, dan mengukur sudah sejauh mana penegakan moral itu. Utamanya pada diri para civitas akademika, masyarakat dan pemerintah. Dan yang paling penting, penegakan moral akademik pertama-tama harus dilakukan dari dalam diri civitas akademika, sebelum menjalar ke komunitas luar kampus yang lebih kompleks. Buku ini dapat dijadikan pedoman penegakan moral akademik yang ideal baik di dalam maupun di luar kampus.

Dijumput dari: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/2/26/sen1.html