Bagian 23: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(kupasan kedua dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi

Saya tidak tahu, wallahualam bissawab. Setelah diperjalankan dari Lamongan ke Jombang, Kediri, lalu berhenti di dataran bumi Reog Ponorogo, saya lanjutkan kini. Kenapa disebut ‘diperjalankan?’ Lantaran langkah kaki ini kehendaknya damai di tanah kelahiran, tapi air hayati menghempaskannya. Continue reading “Bagian 23: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia”

Bahasa »