Narasi dan Substansi

Beni Setia
Suara Karya, 21 Sep 2013

DALAM imajinasi Mashuri, puisi itu gentayangan dan berseliweran di luar serta di dalam dirinya, dan meski si penyair ingin menjelma-kannya dalam teks, puisi itu tak pernah mau dihadirkan. Kecuali batin si penyair digetarkannya, karena pada dasarnya substansi (puisi) itu sendiri akan merasuki kepekaan penyair terpilih, yang dipilih buat mengongkritkan sosoknya. Persis seperti dikatakannya pada “Pengakuan Penyair Jadi-jadian”, kata pengantar bagi kumpulan puisi terbarunya, Munajat Buaya Darat-Gress Publishing, Yogya, 2013. Kumpulan 63 puisi dalam 3 tangkahan a 21 puisi.

Bagi Mashuri, puisi itu abadi dan bersigentayangan sebagai ide yang menunggu dikongkritkan, sekaligus ide (puisi) itu memilih orang tertentu-dan waktu yang pas-sebelum ada tampil sebagai puisi kongkrit. Satu pertelaan tentang yang universalistik, dan bagaimana proses emanasi menghadirkan yang mutlak itu sebagai yang riil, khas, dan partikularistik tergantung dari siapa yang terpilih buat mesirumuskannya jadi teks. Karena itu, meski berpuisi itu asyik, malah membuat seorang penyair kecanduan, apa yang hadir ditersuratkan tergantung dari si yang di luar kehendak (penyair).

Persis seperti yang dinyatakannya di dalam pengantar, bahwa berpuisi itu murni kenikmatan tranced berpuisi, tanpa dibebani tendensi atau konsekuensi romantik dari (gaya) berpuisi macam itu. Alhasil ada suatu kegairahan dan sekaligus “tak mau tahu” bila kegairahan itu membuat yang lain terganggu. Dan mungkin dari kesadaran rumit serba kontroversial itu lahir idiom munajat buaya darat-di mana diksi munajat yang ilahiah bersua buaya darat yang duniawi serba rakus egoistik memangsa yang datang ke zona pendudukannya. Instink syahwati yang dikendalikan, karenanya si kegairahan menjadi sesuatu yang mengarah ke yang substanbsial, universal dan transendental. Di kasus puisi “Munajat Buaya Darat”- yang kemudian dijadikan judul buku-, itu merupakan narasi deskriptif tentang satu lokasi, proses kolonisasi, ekspresi lampah manusia, serta gugusan masa silam yang berkukuh disampirkan sebagai identitas khas yang menuntut dilestarikan, meski si aku lirik lebih memilih identitas lain, nan aktual dan telah disucikan-Nya.

Ada keretakan antara sosok yang universal dengan si beribu fenomena riil partikularik, sekaligus selalu lahir ketegangan antara yang trandensental sebagai asal dengan semua tampilan material tak terhingga dan diamati-atau disadari dalam diri setiap yang partikularistik.

Ketegangan dan keretakan merupakan ihwal yang spontan ada, yang senantiasa hadir ketika Mashuri dirasuki ide menulis puisi dan puisi tertulis. Persis seperti yang ditandai Faruk, yang ditersuratkan ke dalam teks epilog berjudul “Lulur Kiai di Tubuh Berdaki”, dengan menganalisis puisi “Tukang Potong”.

Satu puisi yang menampilkan tukang potong dan pelangganannya, sejarah kebersamaan mereka, dan bagaimana cara si tukang potong, dengan memberi cobaan-cobaan kecil, memaksa pelanggannya tetap terjaga agar ia tak lupa diri dan salah potong. Dengan kata lain, di dalam hidup ini kita harus selalu sadar dan mengajak-Nya bercakap.

Dalam komparasi, dengan mengacu puisi Sapardi Djoko Damono, “Mata Pisau” Faruk menandai eksistensi pisau yang punya kehendak, sedang “Tukang Potong”-nya Mashuri diapresiasi sebagai bicara tentang eksistensi yang punya pelanggan dan pisau pembersih yang bisa menghukum. Ada yang substansial dan yang partikuler, ada yang beremanasi menjadi tukang cukur bagi si pelangggan yang dilayani-Nya dengan pisau cukur, yang bisa membersihkan dan menghukum kalau pelanggan tak mau menyadari kehadiran tukang cukur-fenomena material dari yang substansial. Fenomena keretakan dan ketegangan yang amat sempurna. Keretakan saat yang transendental, yang substansial, sang causa prima itu terpaksa mensidelegasikan diri, sehingga ujud degradatif aktual materialistiknya bisa diapresiasi ciptaan. Ketegangan ketika yang diciptakan itu memiliki aspek spiritual yang selalu menariknya pada yang transendental, serta diliputi yang materialistik selalu ingin dipuaskan hal-hal duniawi.

Keretakan dan ketegangan antara naluri munajat dengan instink buaya darat. Sesuatu yang terus bersigentoyongan, sosok puisi yang menghantui kesadaran Mashuri.

Ambil puisi “Mantram Kolam”, yang bercerita tentang kesadaran ruh akan ujud materialistik dari diri yang hancur, tapir ruh itu terlanjur tertanam di dalam kejatuhan, karenanya tak kuasa menyadari dan mengembangkan instink pada yang transendental. Atau puisi “Rol”, yang bercerita tentang gairah kolonisasi dan penguasaan, yang jadi kesia-sian karena hidup tak mungkin hanya berorientasi pada yang material duniawi-melupakan instink akan yang transendental dan usaha untuk merekonstruksi arus balik emanasi ke titik awal dan zat utama Causa Prima.

Bahkan puisi “Patigeni” bercerita tentang seseorang yang suntuk dengan instink transendental, menyepi dan mengasingkan diri, tapi cuma bertemu dengan ketenangan mempercayai-Nya, mengimani-Nya, tanpa ia bisa bertemu dengan Sang Causa Prima, karena dirinya masih terkurung waktu hidup, ada di dunia berbalut yang materialstik- terlahir untuk menuntaskan fenomena partikularistik.

Suatu sodoran rumit yang selalu dihadirkan dalam sosok puisi yang naratif. Bertutur. Dan dari tuturan dan sosok yang dituturkan itu kita diajaknya melaung tinggi agar bisa mengenali yang universal-Sang Causa Prima-agar tak terbebani dan kelelap dalam alam materialistik benda-benda.

Sederhana sekali. Meski ketika (kita) tidak bisa mengenali tuturan dan apa yang dituturkannya akan kesulitan sampai pada arus balik transendental yang disidedahkan Mashuri. Kira-kira.***

Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=335038