ZIARAH SASTRA DI BALIK PENGANUGERAHAN SANG HYANG KAMAHAYANIKAN AWARD UNTUK S.H. MINTARJA

Zhaenal Fanani *
kiainyentrik.blogspot.com

Borobudur Writers & Cultural Festival, 29 – 31 Oktober 2012, telah usai. Perhelatan agung para penulis cerita silat dan sejarah nusantara itu berlangsung gayeng, melo dramatis dan sesekali galau. Dan terlepas dari apresiasi yang harus dialamatkan kepada pihak penyelenggara, penggagas dan para kreator di balik acara tersebut, sebagai sebuah acara tentu ada beberapa hal yang ‘ketlingsut’.

Sastra merupakan alenia dari sebuah wilayah yang tidak mudah dipahami, dinalar bahkan diantisipasi. Di dalamnya bergulir media nurani, namun terkadang berkeliaran altar hipokrisi. Maka sang satrawan adalah sang kreator sekaligus sang diktator otoriter. Tidak ada hukum atau undang-undang yang memberikan rambu-rambu, palang pintu dan tembok pembatas.

Sastrawan tak ubahnya malaikat sekaligus setan. Mereka berkesanggupan masuk dengan leluasa sebagai manusia jenius, sebagai ustdaz, ulama, seorang NU, Muhammadiyah, Syiah, pendeta, Romo, Guru Buddha dan seterusnya. Mereka punya kemampuan berkelana di kawah-kawah para koruptor, provokator, perampok, pencopet bahkan sebagai ‘wong gendeng’ dengan mendramatisasi peristiwa-peristiwa yang terjadi di abad-abad sebelumnya. Maka sebuah keniscayaan jika timbul ‘perdebatan’ ketika seorang sastrawan dipertemukan dengan sejarawan, arkeolog, intelektual atau intuisi lain, bahkan dengan para sastrawan sendiri.

Dan Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 merupakan area para sastrawan yang merasa perlu mendeteksi dirinya sendiri. Kalau terjadi perdebatan, sama sekali bukan intrik, namun sebuah ‘romantisme keluguan’ cara pandang dan perspektif. Sebagaimana kalau jumlah pemeluk Islam ada 85% di Indonesia, maka dimungkinkan muncul 80% sekte. Mereka diberi ‘kesempatan’ untuk menafsirkan, berijtihad, atau berimprovisasi. Tanggung jawab mereka kelak hanya dihadapan Tuhan.

Para sastrawan adalah ‘tuhan-tuhan’ kecil dan para penguasa. Tapi apa yang hendak diperjuangkan para sastrawan? Mereka bukan wakil rakyat. Mereka hanya mewakili diri sendiri yang mereka yakini sebagai kebenaran dalam wilayah abstrak. Bagi mereka, kebenaran ialah titik yang tak mudah dikonotasikan. Dan, disanalah mereka bermain. Mereka memainkannya dalam bentuk : novel, cerpen, puisi dan esai.

Merebaknya konflik pendapat tentang sebuah novel bergenre sejarah harus dalam koridor sejarah atau dipersilahkan membuat improvisasi tanpa rambu koridor sejarah, dimungkinkan terciptanya proses cultur ajusment – penyesuaian budaya. Tapi sekali lagi dunia sastra selalu melegalkan domain tak masuk akal. Adanya batasan justru belenggu. Dan itu ‘diharamkan’ di dunia sastra.

Dari domain tak masuk akal, acara Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 di sesi pagi hingga sore hari, sangat ‘kurang afdhol’ jika disetting dalam bentuk mirip seminar. Selain sedikit membosankan, terbetik halunisasi adanya konsep ‘menggurui’, hingga suasana menjadi monoton. Untungnya sesi acara di malam hari di pendopo Rumah Buku Dunia Tera mereduksi kekurang afdholan musyawarah agung ini.

Eksplorasi ‘catatan’ Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Agus Sunyoto dan pembicara lain barangkali akan makin ‘gila’ jika dikemas seperti di Rumah Buku Dunia Tera. Terasa ada jalinan yang tak dibatasi – bukankah dunia mereka semesta tak terbatas? Mungkin acara di Rumah Buku Dunia Tera lebih mengena dan bisa dijadikan konsep penyelenggaraan Borobudur Writers & Cultural Festival selanjutnya.

‘Ketlingsut’ yang belum tergarap dalam event ini ialah belum dilibatkannya penerbit. Dalam satu sisi, para novelis sejarah disarankan bersinergi dengan arkeolog. Tapi tidak hanya itu. Terlepas dari sikap idealis, para novelis sangat terkait dengan penerbit. Novelis dan penerbit dua sisi mata uang, saling membutuhkan. Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Agus Sunyoto dan S.H. Mintarja tidak akan menjulang seperti sekarang tanpa campur tangan penerbit. Sebaliknya penerbit tidak akan meraih financial tanpa keberadaan mereka.

Dan, pemberian Sang Hyang Kamahayanikan Award untuk almarhum Singgih Hadi Mintarja patut diacungi jempol. Anugerah itu bukan saja bentuk apresiasi atas karya S.H. Mintarja sebagai ‘Resi’ cerita-cerita silat, namun sebagai simbol bagaimana menjadi seorang penulis yang baik. Almarhum adalah contoh kongkrit seorang penulis yang harus dijadikan acuan oleh para penulis nusantara. Almarhum tidak hanya menuangkan gagasan, melibatkan budaya, mentransfer tradisi dan menulis sejarah. Tapi sekaligus memaparkan sikap kerendahan hati. Barangkali latar belakang kehidupannya yang berangkat dari kondisi ‘kepepet’ banyak mewarnai sikap-sikapnya. Tapi ketika namanya sudah mendarahdaging di kalangan pembacanya, almarhum tetap tampil sebagai sosok yang sama. Almarhum sanggup mengejawantahkan kultur malaikat dan setan dalam dirinya.

Kita semua – siapapun : para pelaku seni – perlu berterima kasih atas terselenggaranya Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 : Musyawarah Agung Para Penulis Cerita Silat Dan Sejarah Nusantara, serta perlu melakukan ziarah sastra kepada almarhum Singgih Hadi Mintarja.

*) Peserta Borobudur Writers & Cultural Festival 2012
Dijumput dari: http://kiainyentrik.blogspot.com/2013/02/ziarah-sastra.html