Menatap Potret Lama, Mencari Keindahan

Sirdjanul Ghufron *

“Anto dan Tono tinggal di kampung tak jauh dari pantai. Orang tua mereka bekerja sebagai pencari ikan. Pada usia 10 tahun, karena tertarik dengan profesi orang tuanya seorang pencari ikan, mereka ingin belajar berenang. Maka datanglah ke dua anak tersebut kepada Andi, pada saat mereka bersama-sama mandi di sungai serta meminta Andi untuk mengajarinya berenang. Mereka ingin belajar berenang dan menyelam di sungai, agar mampu bekerja seperti ayahnya. Maka mulailah belajar atas bimbingan Andi, yang 5 tahun lebih tua dari mereka. Dengan berpegangan pada tangan Andi, mereka belajar secara bergantian.

10 hari kemudian, Anto yang bertubuh lebih besar dan bertenaga lebih kuat, sudah mulai mampu berenang tanpa berpegangan pada tangan sang guru. Maka relalah Andi melepas Anto untuk berenang sendirian, sambil mencoba berbagai improvisasi dalam renang dan selam. Melihat temannya sudah sanggup berenang tanpa dipegangi “guru”, Tono ikut bersorak gembira menyambut keberhasilan Anto teman “sekelas”, yang sudah dinyatakan “naik kelas” lebih tinggi. Sementara, Tono masih terus bersemangat belajar sambil berpegangan tangan Andi, karena memang belum mampu “naik kelas”. Andi pun pernah menyuruhnya untuk berenang tanpa berpegangan tangan, tapi ia menolak. “Saya masih harus berpegangan tangan dulu, sebelum benar-benar merasa mampu.” Kata Tono.

Dengan tekun dan dorongan semangat teman sejawat, belajarnya pun semakin giat. Ia ingin cepat bisa berenang seperti Anto. Dalam waktu kira-kira 15 hari, ia pun bisa berenang tanpa berpegangan tangan sang “guru”. Tono belajar terus setiap hari, dan sadar bahwa kecepatan belajarnya tidak sebagus Anto, Tono jadi bersemangat dan menghabiskan waktu relatif lebih banyak berlatih. Dalam waktu 30 hari, Anto sudah pandai berenang dan menyelam. Sementara Tono masih belum bisa menyelam, kendati sudah mampu berenang. Menyadari hal tersebut, mereka berdua sepakat pergi ke sungai di luar “jam pelajaran” yang diberikan Andi. Apa yang mereka lakukan? Ternyata Tono meminta Anto untuk mengajarinya menyelam, dan dalam waktu 40 hari, Tono sudah sanggup berenang dan menyelam seperti Anto, dan mereka berdua sudah mulai belajar mancari ikan di perairan yang dalam.”

Kisah tersebut merupakan sebuah potret proses pembelajaran alami, yang wajar di lingkungan kita. Apa yang terjadi di sekolah formal, tentu lebih modern dan terencana secara rapi. Namun, suasana alami seperti yang diilustrasikan cerita di atas, terdapat hal baik yang bisa dijadikan bahan renungan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Setidaknya ada beberapa poin penting patut disimak sebagai upaya menumbuhkan kembali ketulusan berkegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Pertama, peran orang tua sebagai pemicu motivasi sangatlah penting. Anto dan Tono memandang orang tuanya figur yang harus diteladani, tergairahkan belajarnya sebab sosok orang tua yang begitu mengesankan. Kyiriacho (1997) menyatakan; anak termotivasi melakukan sesuatu melalui proses identification, yakni image seseorang yang memberi kesan pada anak, sehingga yang disebut awal dijadikan patron.

Kedua, penentuan Andi sebagai guru renang dan selam, mengisyaratkan bahwa dalam belajar, siswa bisa berguru pada teman yang memiliki kemampuan lebih baik – peer tutoring. Bila dibudayakan di sekolah, kegiatan belajar dengan teman sejawat ini memberi beberapa keuntungan baik bersifat akademik pun non akademik. Ditinjau segi akademik, belajar bersama teman sejawat bisa mencipta nuansa komunikasi yang tulus lancar, yang selanjutnya berpengaruh positif terhadap efektifitas pembelajaran.

Dari sisi non akademik, peer tutoring memberi kesempatan siswa berinteraksi, baik sesama kawan atau dengan senior. Ini juga membangun suasana kekeluargaan saling tolong-menolong. Bagi yang diberi kepercayan membimbing, akan merasa diapresiasi kemampuannya. Johnson & Johnson dalam Gillies dan Ashman (2003) menyatakan; belajar secara kooperative antar teman sejawat, akan meningkatkan self esteem, yang pada gilirannya diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar.

Ketiga, tujuan tulus dari kedua anak tersebut agar mampu bekerja seperti sang ayah, mengisyaratkan mereka belajar demi peroleh kompetensi. Tertarik dan senang belajar semata ingin memiliki kompetensi. Pembelajar belum merasa puas bila belum punya skill nyata dari hasil pembelajaran. Ia pun menolak bila gurunya menyatakan ia sudah “lulus”, lantaran ia merasa belum bisa berenang. Inilah minat belajar yang oleh para pemerhati pendidikan disebut intrinsic motivation.

Pokay & Blumenfeld dalam Mc Innerney & Mc Innerney (1994) berpendapat, bila siswa termotivasi secara intrinsik, lebih tulus bersungguh-sungguh melaksanakan kegiatan belajar, dan memiliki kemauan menerapkan berbagai strategi belajar. Ibroh yang bisa diambil di sini, ialah motivasi intrinsik dalam belajar perlu dikembangkan di lingkungan sekolah. Sebuah motivasi tulus, belajar demi tercapainya kompetensi, akan membuat siswa belajar secara tulus pula. Berbagai godaan dalam proses, misal menyontek di saat ulangan, tentu tidak akan dilakukan siswa, bila keinginan belajar siswa mempunyai kompetensi, bukan semata demi nilai rapor, lulus atau naik kelas.

Idiom siswa: “Kamu dikasih nilai berapa oleh Pak guru” mengisyaratkan tujuan belajar siswa tersebut terlalu instrumental. Ia belajar bukan demi peroleh kompetensi, namun untuk mencapai nilai yang baik. Kegiatan belajarnya dilakukan hanya sebagai instrumen memperoleh nilai, prestise, gengsi dan sebagainya.

Keempat, pendidikan formal merupakan media strategis pengembangan sikap kesetiakawanan. Empathy pada sesama kawan ditunjukkan Tono pada cerita tersebut. Melihat kawannya berhasil, ia pun ikut merayakannya. Inilah sikap setiakawan yang pantas tercipta di sekolah formal. Bangga melihat para siswa bertepuk tangan riuh tersenyum tulus, setelah lihat penampilan teman sekelas melaksanakan tugas di depan kelas, yang mengisyaratkan seluruh kelas senang akan keberhasilan temannya, lantas disambut mimik terimakasih bagi siswa yang berhasil. Sebaliknya betapa sedih menyaksikan bintang kelas menampilkan wajah murung, setelah tahu posisi rangking satu yang biasa ditempati, ternyata digeser siswa lain. Bukankah ini masalah serius, yang sangat menentukan pembentukan sikap anak.

Kelima mengakui secara obyektif kemampuan diri, ini perihal penting dalam proses pembelajaran, baik di kelas pun di masyarakat. Orang yang merasa dirinya belum mampu, tentu termotivasi berusaha. Perasaan malu dan gengsi bisa menjadi hambatan serius dalam belajar akan berkurang, jika menyadari bahwa memang belum kapabel meraih tujuan belajar. Sebaliknya, yang kenyataannya sanggup dan merasa mampu akan membuatnya percaya diri melakukan sesuatu yang menurutnya benar dilakukan. Pada cerita di atas, Tono mengakui kemampuannya tak sebaik temannya. Menyadari hal itu, ia memandang perlu menghabiskan volume waktu lebih banyak dibanding temannya, demi mempelajari materi yang sama. Jika ini bisa dibudayakan di sekolah, maka kesenjangan kompetensi siswa di kelas dapat dikurangi.

Seiring perkembangan sosial-budaya, terdapat beberapa poin penting yang perlu dimekarkan demi optimalnya hasil pembelajaran di sekolah. Peran strategis orang tua dan masyarakat, sebagai uswatun khasanah bagi peserta didik, pantas diperhatikan dalam berbagai penentuan kebijakan pendidikan. Penerapan metoda pembelajaran kooperative (cooperative learning) secara konsekuen, menjadi simpul generative yang membentuk sikap kesetiakawanan serta empati di antara komunitas peserta didik. Orientasi belajar terhadap kompetensi, akan meningkatkan semangat siswa dalam melakukan berbagai tugas pembelajaran.

Hal ini diharapkan sanggup mencipta ketulusan akademik, dimana siswa percaya diri bertindak jujur sebagai peserta pada proses belajar, ini kayu penopang upaya dalam mengoptimalkan hasil pendidikan. Wallahu A’lam Bishowab.

*) Sirdjanul Ghufron, M.Ed.St. Ketua Badan Pembina Pendidikan Terpadu /BPPT ) PGRI Kabupaten Ponorogo.
Sumber: Majalah Dinamika PGRI Ponorogo