Pemahaman Ilmu yang Dikotomis, Awal dari Kehancuran Peradaban

Masyhudi *

Realita yang tak dapat dipungkiri bahwa arus westernisasi berdampak pada kedinamisan keilmuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Namun sisi lain tak dapat dipungkiri, ekses darinya ilmu telah menghantarkan pada rusaknya dimensi spiritual insan. Maraknya dekadensi moral, tindak asusila serta tajamnya angka kriminalitas tak lain disebabkan konsep keilmuan Barat yang secara epistemologis hanya mengakui panca indera dan akal sebagai sumbernya. Ia menafikan sumber lain seperti Wahyu, Intuisi /Ilham dan lainnya yang notabene berakar dari ajaran agama.

Lahirnya istilah sekolah dan madrasah di negeri ini pun tak luput dari pengaruh statemen di atas. Sekolah yang menerapkan porsi lebih keilmuan umum, dan agama sekadar pelengkap, juga sebaliknya berlaku di madrasah, ternyata melahirkan out put pendidikan yang memiliki kepribadian tidak utuh. Satu sisi maju di bidang Sains (IPTEK), tapi kehilangan jati diri yang sesungguhnya, sedangkan sisi berbeda kuat mempertahankan karakteristik, tetapi lemah dalam Sains. Inilah yang menjadi pemicu runtuhnya peradaban dalam kehidupan di negeri kita.

Fenomena tersebut akan terselamatkan manakala kita (pendidik) memahami pengertian ilmu secara purna, dengan berpijak pada paradigma kokoh dan universal yakni agama. Sebab dalam ajaran agama (Islam) mengakui, wahyu sebagai bagian sumber ilmu di antara sumber-sumber lain yang memiliki kebenaran mutlak.

Ilmu dalam pandangan Islam menduduki posisi ekslusif, bahkan hampir tak ada sebuah peradaban dalam sejarah yang menekankan sungguh-sungguh mengenai keilmuan. Berbicara ilmu, otomatis tak bisa melewatkan pemahaman tentang akal pada diri manusia. Dalam al-Qur’an Surat al-Alaq yang berisi perintah membaca, dengan menyebut nama Allah yang telah mencipta, mengindikasi optimalisasi peran akal insan, tanpa meninggalkan tujuan sentralnya sebagai makhluk pengabdi kepada yang menciptakannya. Akal bersegala kreativitasnya menghasilkan bangunan ilmu, karenanya memiliki daya berpikir dalam jiwa, yang mampu peroleh pengetahuan dengan memperhatikan seluruh yang ada di sekitarnya.

Akal sebagai hidayah Allah SWT pada manusia yang ditopang lentera wahyu-Nya, merupakan alat menyentuh realitas dalam proses mengenal dan menuju yang menciptakannya. Obyek yang ada di sekitar manusia ini umpan kerja akal untuk berperan optimal. Proses inilah yang membedakan manusia dengan seluruh makhluk Allah yang lain. Kegiatan eksplorasi akal insan yang tertuju ke pengetahuan, akan menjadi keistimewaan dirinya sesosok makhluk unggul. Atas dasar kemuliaan ini, manusia mengemban amanat berat sebagai kholifatulloh fil ardh, yang berkewajiban mengkondisikan alam kemakmuran di bumi yang berbentuk peradaban. Semakin makmur manusia, seyogyanya kian tinggi peradabannya, demikian pula sebaliknya.

Bertolak pemahaman di atas, ilmu sebagai hasil usaha memperadab diri insan. Sebab ilmu ini jawaban dari rasa ingin mengetahui kebenaran. Hal ini relevan dengan hakikat insan yang senantiasa condong/cenderung pada kebenaran sebagai fitrahnya. Fitrah yang menjadikannya terus memaksimalkan diri menapaki tangga kebenaran, yang mendatangkan kemaslahatan serta kebahagiaan dalam kehidupannya.

Esensi ilmu/sains dalam persepektif Islam disandarkan kepada pengetahuan manusia tentang realitas Tuhan dalam makna sesungguhnya, sekaligus meyakini kebenaran wahyu. Bagaimana insan bersegala pengetahuannya mampu menjelaskan realitas Tuhan dalam waktu, ruang, dan lingkup beraneka ragam secara proporsional atas dukungan kreativitas akal, serta keyakinannya terhadap wahyu, akan melahirkan ilmu pengetahuan.

Kebenaran mutlak pada wahyu perlu dibuktikan atau dianalisis dan dikaji akal yang disentuh dengan obyek/realitas di sekitar manusia, pada akhirnya menjelma pengetahuan. Inilah sains yang diharapkan dalam Islam, yakni pengetahuan integral (utuh), obyektif, tersusun teratur tentang alam semesta, bukan produk modern semata bersifat dichotomic, yakni pengetahuan yang memisahkan diri dari nilai kebenaran wahyu, atau kering sedari dimensi spiritualistasnya.

Maka ketika pemahaman mengenai ilmu sudah terbangun dalam pola pikir yang benar, akan lahir aksiologis darinya dalam sistem pendidikan kita. Para praktisi pendidikan tidak ada lagi yang memandang ilmu ini lebih penting dari ilmu itu. Ilmu akan menjalin kesinergisan dalam aplikasinya saling menjelaskan menuju kebenaran yang mendatangkan kemaslahatan. Guru yang menjadi ujung tombak pembangun peradaban, sepatutnya menyadari sepenuhnya, bagaimana ilmu harus dipahami dalam kerangka pikir dan pola kinerjanya.

*) Masyhudi, S.Ag., Guru PAI di Lingkup Depag Ponorogo bertugas MTs/MA Ma’arif Klego.
Sumber: Majalah Dinamika PGRI Ponorogo