D. Zawawi Imron
harianhaluan.com 2 Des 2012

Ada stigma yang mengatakan bahwa pengarang itu sulit berorganisasi. Alasannya karena pengarang itu adalah orang yang punya imajinasi terlalu jauh meninggalkan bumi dan kenyataan. Pendapat begitu mungkin ada sedikit benarnya.

Betapa pun liarnya pengembaraan daya khayal seorang pengarang di dalam berkarya, toh ia tetap berada di bumi. Bumi adalah pijakan yang paling konkret bagi setiap manusia baik ia pengarang atau bukan.

Sebagai makhluk kreatif, manusia punya kebebasan mengembara dengan daya imajinasi ke ruang-ruang yang jauh, selain itu juga punya kemampuan estetik, dan lebih dari itu adalah visi yang jauh ke depan yang bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat pembacanya untuk menemukan paradigma-paradigma baru untuk turut menjaga peradaban hidup ini. Dengan kelincahan gaya, daya, dan gagasan kreatif yang tertuang dalam karangannya, tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa pengarang adalah inspirator atau guru bagi bangsanya. Hal itu bisa dilihat antara lain pada Shakespeare, Kahlil Gibran, dan juga Ronggawarsito yang “Zaman Edan”-nya sering muncul dalam percakapan sehari-hari di kalangan masyarakat Jawa.

Orang boleh mengantongi setumpuk gelar, tapi kalau tidak punya kecerdasan hidup dan vitalitas, ia bisa hanya menjadi onderdil, sekrup, bahkan robot, sehingga hidupnya tidak bermakna.

Di sinilah pentingnya semangat hidup, gairah, dan upaya menjadi diri sendiri. Bekerja bukan sekada mencari makan dan menumpuk kekayaan atau menjadi hamba bagi egonya sendiri. Kita hidup dalam kesadaran kemanusiaan dan kebersamaan. Gairah hidup itu saling memantul antara nurani manusia yang satu dengan nurani-nurani yang lain.

Munculnya sikap “visioner” pada pengarang itu memang berasal dari ketajaman daya pikir yang cerdas di dalam mengaji situasi dan tanda-tanda zaman. Kerja kreatif yang tidak mengenal lelah dengan segala ketabahannya, tidak mustahil akan menghasilkan karya-karya bermutu dan bernilai. Mutu itu bukan pada nilai estetiknya saja yang tinggi, tetapi juga kandungan hikmah yang bisa memandu akal sehat para pembaca menemukan nilai-nilai yang berharga dalam menjaga kehidupan di dunia ini.

Mencermati karya-karya pengarang yang bernilai itu, maka kehadiran pengarang atau lebih tepat lagi kehadiran (para) pengarang itu menjadi penting. Hal itu juga harus diimbangi dengan kehadiran para pembaca yang sebanyak-banyaknya, agar karya-karya kreatif para pengarang itu tidak telantar.

Suara sastra memang bukan suara umum dan resmi. Sastra adalah suara partikular, tetapi karena partikular itu daya kreatif pengarang dipertaruhkan untuk menyajikan suara dan nilai baru. Karena partikularnya itu ia memberi kesegaran-kesegaran baru dan memberi inspirasi bagi seseorang atau beberapa kelompok manusia yang jiwanya memang dahaga terhadap minuman sastra. Dengan demikian, Sang Seniman tidak menyuguhkan barang yang laris di pasaran yang dibuat karena latah, tetapi benar-benar menyuguhkan sesuatu yang lain dari yang lain, baru dan otentik dan mampu menjadi sepercik embun yang menyegarkan tanaman.

Di luar masalah estetika dan daya imajinasi yang jauh tak terjangkau, para pengarang akan berhadapan dengan masalah-masalah konkret di atas bumi tempat kaki berpijak. Dalam menghadapi kenyataan ini para pengarang mulai perlu mempertanyakan, masih perlukah para pengarang melakukan silaturahim, berkumpul, dan berdialog sekitar dunia kepengarangan, baik dalam persoalan estetika, kreativitas, dan yang menyangkut internal kepengarangan lainnya?

Saya yakin dialog seperti itu akan memantik munculnya hal dan nilai-nilai baru dalam memacu pengembangan sastra dan kepengarangan ke depan. Tidak kurang pentingnya ialah masalah eksternal sastra yang mencermati urusan kepentingan pengarang di luar masalah artistiknya, baik yang menyangkut urusan kemudahan penerbitan, hak cipta, serta penting dan tidaknya jaringan, organisasi, asosiasi, dan entah apa namanya, yang bisa membuat para pengarang bersatu dalam barisan akal sehat. Dengan catatan tidak akan merugikan orang lain.

Saya pikir, selagi dalam koridor akal sehat, asosiasi para pengarang yang lebih menitikberatkan pada sisi “silaturahim” sebaiknya perlu digagas, asalkan tidak tampil menjadi partai politik. Dalam asosiasi itu akal sehat dan kerendah-hatian dikembangkan sehingga setiap anggota mendapatkan hak dan martabat secara terhormat. Tidak ada senior yang memperalat yunior. Sikap kritis tetap berkembang dalam panduan jiwa yang jernih.

Sebuah organisasi akan mekar dan berkembang jika mengedepankan nilai-nilai yang dipandu oleh kejernihan hati nurani. Kalau perlu ada semacam pengembangan kepribadian yang mengaca pada kejujuran orang lain dan orang-orang terhormat. Dengan demikian diharapkan munculnya integritas kepengarangan.

Sebagai ilustrasi, teroris saja sekarang menggunakan jaringan dan tata organisasi yang cukup rapi, juga para koruptor. Jika teroris dan koruptor punya jaringan yang bagus, apa salahnya para pengarang juga membentuk jaringan yang rapi dalam bentuk asosiasi yang kuat. Ali Bin Abi Thalib bersabda, “Kebatilan yang tertata rapi akan mengalahkan kebenaran yang tidak tertata rapi”.

Ada asosiasi yang dibentuk hanya untuk kepentingan para pendiri dan pengurusnya saja, yang substansinya jelas tidak berdasar kebersamaan. Asosiasi seperti itu mungkin hanya gebyar sekelebat saja. Lama-lama akan memudar citranya karena hanya menjadi ajang berebut kepentingan.

Asosiasi yang sehat, yang dibangun oleh rasa kebersamaan dan persaudaraan, tentu akan lain gerakan dan tindakannya. Semangat kebersamaan yang merasuk hati, tak ada yang ingin senang dan menang sendiri. Semua ingin saling menguntungkan. Hal yang berat dihadapi sendiri, dengan kerja sama menjadi ringan. Inilah yang menjadi dasar asosiasi pengarang. Seperti yang ditulis oleh Penyair tunanetra Al-Ma’ari :

Janganlah hujan menyirami ladangku

Kalau tidak membasahi seluruh bumi

Jadi, kalau ada asosiasi para pengarang yang difor­malkan, perlu catatan yang kuat, bahwa organisasi ini adalah “himpunan akal sehat” yang ingin memperjelas fungsi dan peran para pengarang dalam perjalanan kebudayaan.

Krisis multidimensi tidak bisa diselesaikan sendiri. Kita harus bahu-membahu dengan persaudaraan yang intens. Ilmu apa saja, tanpa mewujudkan kebersamaan dan persaudaraan, sulit untuk menyelesaikan krisis. Dalam hal ini, puisi, karya sastra, serta karya seni lainnya bisa membantu untuk memberikan kesadaran dalam mengupa­yakan kehidupan yang layak dengan jiwa yang jernih dan akal sehat.

Bagi mereka yang tidak ingin berhimpun dalam asosiasi, dipersilakan berada di luar, tapi tak boleh disebut sebagai “bukan orang kita”. Kita harus menghormati hak untuk berasosiasi dan hak untuk tidak berasosiasi. Kalau memang akan berdiri asosiasi para pengarang, harus diberi catatan penting, bahwa ini bukan asosiasi yang membelenggu, tapi asosiasi yang sangat menjamin kebebasan. Yang tidak lain adalah gagasan untuk bersinergi. (sumber: Pertemuan Pengarang Indonesia)
***

Categories: Esai