DARI ROHANA KUDUS KE PEREMPUAN PEMENANG NOBEL PERDAMAIAN

Silfia Hanani
www.harianhaluan.com, 23 Okt 2011

Jumat, 7 Oktober 2011, Koto Gadang terasa begitu teduh, dengan terang pula nampak Gunung Singgalang dan Marapai yang sesekali batu-batuk me­muntahkan lahar. Hamparan sawah sedang indah menghijau. Masyarakat bersahaja, masih seperti yang dulu. Di simpang jalan ada lapau tempat angku-angku duduk menanti datang­nya panggilan sholat Jumat dan bercerita apa saja yang layak diceritakan. Boleh jadi mereka bernostalgia, mengenang masa silam yang berbekas di benak-masing-masing, atau sedang maota kariang tentang seputar masalah bangsa dan negara ini. Boleh jadi!

Berjalan menulusuri jalan kampung di Koto Gadang, terasa ada aura yang berbeda. Aura sejarah yang tercatat membesarkan bangsa dan negara. Di sinilah lahir tokoh-tokoh nasional yang idealis. Sebut saja misalnya, Agussalim, sang negarawan yang fotonya sering kita lihat di buku sejarah tua berjenggot putih. Kemu­dian, Sutan Syahrir yang sangat terkenal itu, darahnya juga mengalir dari kampung ini. Masih dipelajarikah oleh anak-anak kita tentang tokoh sejawa­ran bangsa negerinya ini?

Tak jauh berjalan menuju ke Timur, berdirilah sejenak. Akan terlihat sebuah rumah besar, seperti bangunan kolonial masa lalu, tidak seperti rumah gadang. Di depannya ada rang­king dan halaman yang luas, menghadap gagah ke Gunung Singgalang. Pada lanskap atas­nya tertulis “Kerajinan Amai Setia 1915”. Masihkah ada orang mengenangnya? Mendatangi Kerajinan Amai Setia (KAS), tentu mengingatkan kita pada sosok perempuan Rohana Kudus. Seorang perempuan Kota Gadang yang lahir di kampung nan elok ini pada tanggal 20 Desember 1884 silam. Ayahnya seorang jurnalis dan ibunya hanya pekerja rumah tangga. Pada umur 24 tahun menikah dengan Abdul Kudus. Rohana tidak pernah, mengenyam bangku sekolah. Ia seorang oto dikdak. Pada masa kecil sering berpindah-pindah mengikuti ayahnya. Rohana merupakan kakak seyah dengan Sutan Syahrir.

Pada umur delapan tahun Rohana mendirikan sekolah terbuka di Talu Pasaman untuk anak-anak seumuran dia dan Rohana pun menjadi gurunya. Di sebut sekolah terbuka, karena anak siapa pun boleh belajar dan datang. Kegiatan belajar berlangsung di teras rumah. Tidak dipungut bayaran, malahan alat tulis dan keper­luan untuk belajar bersama dibiayai oleh ayahnya.

Masa kecil, Rohana memili­ki kebiasaan membaca yang aneh. Membaca keras-keras di hadapan umum. Hal ini, dila­kukan oleh Rohana guna menarik perhatian orang untuk belajar membaca dan berse­kolah.

Setelah remaja sepeninggal ibunya yang berpulang ke hadapan ilahi. Rohana pulang ke kampung halaman di Koto Gadang, tinggal bersama nenek tercinta. Neneknya seorang pengerajinan sulam yang terke­nal di Di Koto Gadang waktu itu. Di negeri ini Rohana melanjutkan perjuangannya yang belum selesai itu. Ia menjadi pembaca berat dan belajar dari membaca itu. Membaca bagi Rohana mem­bebaskan dirinya dari kung­kungan-kungkungan yang tidak memberdayakan manusia.

Rohana sadar betul dengan membaca sebagai pembebesan keterbelakngan, makanya gera­kan peratama dilakukan Roha­na untuk kalangan perempuan adalah membebaskan perem­puan dari buta huruf. Rohana mengajarkan perempuan-pe­rem­puan di Koto Gadang membaca. Waktu itu, pe­rempuan tersisihkan oleh pendidikan oleh kontruksi budaya dan stigma yang menya­takan perempuan hanya orang rumahan, orang dapur dan orang kasur. Tak layak untuk kedepan publik masyarakat. Mungkin masih ingat ungkapan ini bagi kita untuk apa perem­puan tinggi-tinggi bersekolah, toh akhirnya ke dapur juga.

Koto Gadang adalah nagari peratam di Minangkabau ini, mendobrak ketidak adilan yang dikontruks untuk perem­puan itu, melalui pergerakan yang dilakukan oleh Rohana dengan KAS-nya. KAS adalah, perkumpulan perempuan pera­tama di Minangkabau yang diketuai oleh Rohan yang berdiri pada 11 Februari 1911. Perkumpulan ini, berkembang menjadi institusi pendidikan dan tempat pemberdayaan ekonomi perempuan.

Perempuan berkumpul belajar, berkumpul mengerjakan membedayakan ekonomi mela­lui unit usaha produktif menyu­lam dan menjahit. Hasil dari kerajinan perempuan ini dipa­sarkan pula oleh KAS. Dari usaha pemasaran ini, KAS berkembang menjadi unit usaha simpan pinjam untuk mem­bangun ekonomi perempuan.

Rohana tidak puas sampai dengan pendidikan perempuan di KAS. Rohana memikirkan, bagaimana perempuan untuk bisa menulis, karena dengan tulisan itu bisa dikenal perju­angan dan pembebasan yang bisa dilakukan oleh perem­puan. Maka berkat kerjasama Rohana dengan Dt. St. Maharaja pimpinan surat kabar Utusan Melayu di kota Padang, berdiri pula surat kabar perempuan pertama di Indonesia pada tanggal 10 Juli 1912 bernama Sunting Melayu.

Surat kabar ini diurus oleh perempuan, penulis dan jurna­lisnya adalah perempuan dan diketuai oleh Rohana. Rohana merupakan perempuan pelo­por dalam gerakan jurnalis perempuan. Belum di nusan­tara ini, baru Rohana yang merintisnya. Maka tidak salah Rohana di beri gelar julukan wartawan perempuan pertama di nusantara.

Dalam perjalanan saya ke Koto Gadang, menelisik-nelisik tentang Rohana Kudus, ternyata di dunia diumumkan pemenang nobel tahun 2011. Tengah asyik dengan Rohan, tanpa sengaja terbaca oleh saya di telepon genggam, tiga pe­rem­puan di dunia ini peme­nang nobel perdamian. Tiga orang perempuan itu dipan­dang berhasil mengharmo­nisasikan dunia dengan cara­nya. Tiga perempuan peme­nang nobel perdamaian yang diumumkan 7 Oktober 2011 itu adalah pertama: Tawakkul Karman (32 tahun), perempuan Arab pertama peraih nobel perdamaian. Tawakkul dikenal sebagai pejuang HAM dan penentang rezim pemerintahan yang berkuasa di Yaman di bawah Presiden Ali Abdullah Saleh.

Kedua, Ellen Johnson-Sirleaf (72 tahun), adalah presiden perempuan Liberia pertama sekaligus presiden perempuan pertama di Benua Afrika dan pernah mengenyam pelatihan di di Universitas Harvard. Sirleaf kini berjuang membangun negara yang baru saja terbebas dari perang sipil selama 14 tahun.

Ketiga, Gbowee, aktivis perdamaian yang menjadi kunci dalam berakhirnya perang sipil Liberia. Pekerja sosial dan konselor trauma ini mengelola Organisasi Aksi Massa Perem­puan Liberia untuk perda­maian. Grup ini salah satu alat pencipta perdamaian Liberia pada 2003 lalu.

Usai membaca itu, ingatan saya makin kuat kepada Roha­na, karena Rohana bagi saya tidak kalah hebat perjuangannya pada zamannya. Tapi sayang, kenangan tentang Rohana telah terkubur begitu saja. Anak-anak kita tidak pernah diberi tahu tentang perjuangan “mande” urang awak ini, hingga hero nya telah berubah pada sosok tokoh kartun yang akrab dalam tontonannya. Malahan sangat menyedihkan ketika saya me­nonton acara remaja di sebuah televis tentang ilmu penge­tahuan, remaja kita lebih kenal dan hafal tuntas tentang penya­nyi idolanya ketimbang dengan pahlawan nasional. Remaja kita tidak lebih fasih menjawab pertanyaan artis ketimbang pahlawannya. Malahan, lebih hafal lagu-lagu asing daripada lagu kebangsaannya yang bernu­ansa nasionalis, motivator, humanis dan seterusnya.

Kembali kepada tiga pe­rem­puan pemenang nobel perempuan tadi, ternyata pe­rem­puan-perempuan pemenang nobel itu, orang-orang yang terinspirasi dari perjuangan-perjuangan lokalnya. Berju­angan dengan kecintaan terha­dap negerinya.

Kini, di negeri kita, rasa kecintaan terhadap negeri sudah menipis, salah satunya dipe­ngaruhi oleh hilangnya sosia­lisasi nilai-nilai heroistik semangat kepahlawanan di tengah-tengah kita. Sekolah tidak berpihak lagi menjelas­kannya. Pemerintah, sudah enggan untuk mempopulerkan semangat perjuangan orang-orang terdahulu itu.

Saya berharap pada satu saat, setidaknya pemerintahan Agam memiliki kepedulian kembali dalam mengapungkan perjuangan-perjuangan yang dilakukan Rohana, sehingga anak bangsa kita mendapat satu pencerahan yang luar bisa ditengah-tengah kita sedang mengalami kehilangan pega­ngan ini. Semoga!
***