Jerawat Sastra Indonesia

Haris Firdaus
http://rumahmimpi.net

Kalau Dami N Toda pernah menyebut Chairil Anwar sebagai “mata kanan” dan Sutardji Colzum Bachri sebagai “mata kiri” dari Sastra Indonesia, Saut Situmorang menyebut dirinya sendiri sebagai “jerawat” Sastra Indonesia. Saya mendengar kelakar Saut itu saat ia menjadi pembicara diskusi “Kisruh Sastra” pada pembukaan Rumah Sastra, Solo, Minggu (18/11).

Saya tentu saja tertawa saat Saut menyebut dirinya sebagai “jerawat”. Tentu saja, ini sebuah metafora. Barangkali Saut ingin menggambarkan dirinya sendiri sebagai sebuah “pengganggu” yang membuat “tak nyaman”. Dan Saut, saya kira, cukup berhasil melakukan itu. Tentu saja, keputusan Saut menjadi “jerawat” disertai dengan berbagai pertimbangan.

Seperti diketahui secara luas, Saut Situmorang, penyair dan esais yang kini tinggal di Yogya itu, adalah salah satu motor penggerak Jurnal Boemipoetra: sebuah jurnal yang memimpin perlawanan terhadap Komunitas Utan Kayu (KUK). Alasan dasar perlawanan itu, seperti yang saya dengar dari Saut waktu berbicara di Rumah Sastra tempo hari, adalah karena adanya dominasi yang dilakukan KUK terhadap Sastra Indonesia. Dengan dana yang banyak, jaringan media massa yang kuat, dan hubungan dengan pihak luar negeri, KUK menurut Saut telah melakukan sebuah dominasi.

Saut mencoba memberi beberapa bukti yang menguatkan tuduhannya. Antara lain, adalah adanya beberapa pentolan KUK yang menjadi redaktur sastra di beberapa media massa nasional. Sebut saja Hasif Amini yang menjadi Redaktur Puisi Kompas dan Nirwan Dewanto yang menjaga Lembar Kebudayaan Koran Tempo. Saut menuduh Hasif seringkali memberi kebebasan yang amat longgar untuk puisi-puisi yang dimuat Nirwan. Puisi-puisi Nirwan, kata Saut, amat sering dimuat dalam satu halaman tersendiri di Kompas, sebuah hal yang cukup jarang.

Hubungan yang dekat dengan media massa nasional itulah yang membuat KUK leluasa menyebarkan “ideologi” mereka dan juga membuat pengaruhnya atas pengarang lain tertancap. Contohnya adalah melambungnya Ayu Utami sebagai novelis terkemuka Indonesia padahal ia baru menerbitkan karya pertama kali. Dwilogi Ayu, “Saman” dan “Larung”, diberi puji-pujian setinggi langit oleh para pegiat sastra KUK dan pujian itu kemudian dimuat di media massa nasional sehingga publik Sastra Indonesia akhirnya percaya bahwa dua novel itu benar-benar bagus dan telah berhasil melakukan “revolusi estetika” jika dibandingkan karya-karya sebelumnya.

Menurut Saut, puji-pujian itu lebih bersifat “bombasme” belaka, dan sama sekali tidak bisa disebut sebagai kritik sastra. Di Indonesia sendiri, kata Saut, tidak ada tradisi kritik sastra yang kuat sehingga pihak-pihak tertentu yang menguasai media bisa seenak perutnya mengeluarkan pendapat tentang kondisi sastra kontemporer tanpa merasa harus bertanggung jawab atas pernyataan itu.

Saut beberapa kali mengatakan, contoh utama dalam kasus ini adalah tulisan Nirwan Dewanto di Majalah Tempo beberapa tahun lalu. Saat itu, Nirwan menulis tentang puisi karya penyair Indonesia dalam kurun waktu setahun terakhir. Dalam tulisannya, Nirwan menganggap bahwa penyair Indonesia yang mampu berkarya dengan baik dalam tahun itu “hanyalah” Joko Pinurbo. Namun, setelah menyatakan itu, Nirwan pun “membanting” Jokpin dengan beberapa kalimatnya. Ia kata Saut, telah membuat “fitnah” dalam tulisannya itu karena penilaian-penilaian Nirwan adalah penilaian yang tanpa argumentasi dan pembuktian sama sekali.

Saut pernah membantah habis tulisan Nirwan tersebut dalam sebuah tulisannya yang dimuat dalam sebuah buku tentang polemik cybersastra. Intinya, Saut mengatakan bahwa Nirwan sama sekali tidak berhak mengambil kesimpulan demikian karena ia belum melakukan penelitian atas seluruh karya puisi penyair Indonesia selama setahun terakhir saat ia menulis tulisannya itu.

Hal lain yang menggelisahkan Saut adalah tindak-tanduk KUK yang seolah menjadi “wakil” Sastra Indonesia di pentas internasional. Beberapa kali pentas sastra Internasional pasti selalu melibatkan orang-orang KUK karena mereka lah yang memiliki akses ke dunia sastra internasional. Dan pelibatan itu akhirnya hanya membuat sastrawan-sastrawan yang dekat dengan KUK sajalah yang bisa berangkat ke pentas sastra internasional. Sebuah proses kuratorial yang adil, kata Saut, tak pernah ada. Yang ada hanya semacam “koncoisme”.

Contoh paling menggelikan dari hal tersebut, kata Saut, adalah saat Novel “Saman” mendapat penghargaan Prince Claus Award. Saat novel sulung Ayu Utami diganjar penghargaan bergengsi itu, proses penerjemahan “Saman” sebenarnya belum selesai, dan otomatis para juri belum membaca novel tersebut. Jadi, kata Saut, dari mana para juri bisa tahu kehebatan “Saman” kalau mereka belum membaca novel tersebut? Saut pun menjawab: ya dari orang-orang KUK, terutama Goenawan Mohamad yang punya jaringan kuat dengan para juri Prince Claus Award.
***

Saya tak tahu apakah segala tuduhan Saut memang benar. Selama ini, tuduhan tersebut memang sulit dibuktikan, meski orang-orang KUK sendiri tak banyak bicara. GM beberapa kali menolak berkonfrontasi secara langsung. Nirwan Dewanto dan Sitok Srengenge juga tak angkat bicara. Yang angkat bicara justru pegiat KUK lain yang selama ini tak diserang langsung oleh Saut. Muhammad Guntur Romli, kurator di KUK itulah yang akhirnya angkat bicara dengan membuat beberapa catatan tentang tulisan Saut berjudul “Politik Kanonisasi Sastra”. Catatan lain ditulis E Endratmoko yang menurut kabar yang saya terima adalah seorang yang terlibat dalam Jurnal Kalam, sebuah jurnal kebudayaan yang masuk jadi bagian dari KUK.

Saya belum tahu apakah catatan dua orang KUK itu akan diberi catatan ulang oleh Saut. Tapi yang jelas, konfrontasi Saut kini sudah memasuki wilayah yang sebenarnya agak “rawan”. Saya katakan demikian karena kritik yang dilancarkan Saut sudah bercampur dengan “intrik”. Ya, selain gencar melancarkan serangan secara intelektual terhadap KUK, Saut dan Boemipoetra juga kerap menebar “gosip” soal aktivitas KUK yang buruk. Saut agaknya berpendapat bahwa usaha ini juga perlu dilakukan agar KUK segera lenyap.

Beberapa kali Saut bicara tentang kelakuan para pegiat KUK secara personal, dan sama sekali tak berkait dengan “konflik intelektual”. Saya sendiri kurang menyukai cara penyerangan yang demikian. Tapi tampaknya Saut yakin sekali bahwa cara yang ia lakukan adalah benar dan ampuh buat melawan KUK. Ia dan kawan-kawannya yakin sekali bahwa “gosip” yang mereka sebarkan itu benar-benar sebuah fakta.

Selain itu, bahasa Jurnal Boemipoetra yang “kasar” dan “provokatif” juga diberi pembenaran oleh Saut. Katanya: “Bahasa kasar itu supaya Boemipoetra mendapat perhatian luas dan khalayak yang membacanya langsung “tersadar” atas kondisi yang terjadi.” Di luar negeri pun, katanya, banyak media alternatif yang berbahasan demikian.

Sampai saat ini, “polemik” itu sudah berlangsung cukup lama dan sudah banyak terkaburkan oleh berbagai lalu-lintas ide dan caci maki yang marak di sejumlah milis dan blog. Saya dan Anda bisa saja capek jika hendak menyimak “polemik” tadi secara terus-menerus, seperti saya yang capek mendengarkan Saut “berkhotbah” di Rumah Sastra tempo hari.

Sukoharjo, 20 Nopember 2007