Memperkenalkan Sastra Asia Tenggara ke Pentas Dunia

Iffah Nur Arifah
radioaustralia.net.au 24 March 2014

Karya Sastra di Asia Tenggara berkembang pesat dan mampu menghasilkan karya berkelas dunia. Namun karya-karya tersebut belum banyak dikenal. Penyelenggaraan ASEAN Literary Festival (Festival Sastra ASEAN) mendorong kesadaran perlunya usaha bersama untuk mempromosikan karya-karya ini ke dunia internasional.

Hingga memasuki pertengahan dekade kedua dari abad ke-21, para penulis di Asia Tenggara belum juga memenangkan Hadiah Nobel di bidang Sastra. Tertinggal dari Jepang, China dan India dimana sejumlah penulisnya telah mencatatkan namanya sebagai peraih penghargaan sastra bergensi kelas dunia tersebut.

Begitulah wajah dari sastra di Asia Tenggara, meski punya banyak karya yang bagus namun belum memiliki nama yang kuat di dunia internasional. Jangankan oleh kalangan pembaca di dunia, dikalangan sesama pembaca di negara-negara Asia Tenggara saja belum tentu saling mengenal dan mengetahui karya sastra yang dihasilkan oleh para penulis dari negara tetangganya sendiri.

Kritik itu antara lain disampaikan Richard Oh, penulis Indonesia dan pendiri penghargaan Sastra Khatulistiwa Award. Menurutnya saat ini banyak penulis sastra di Asia Tenggara khususnya Indonesia merasa frustasi karena karya mereka tidak terekspose ke dunia.

“Karya Sastra kita jarang diterbitkan di luar negeri dalam bahasa Inggris, contohnya saja selain karya Pramudya Ananta Toer yang diterbitkan dalam 45 bahasa sangat sedikit karya penulis kita yang juga diterbitkan di luar negeri. Andre Hirata dan Eka Kurniawan baru-baru ini. Padahal ada banyak penulis-penulis lain yang karyanya hebat,” kata Richard Oh.

Dalam diskusi panel Sastra Kontemporer ASEAN di ajang ASEAN Literary Festival 2014 di Jakarta, Sabtu (22/3) keprihatinan serupa juga diungkapkan para penulis lain dari Asia Tenggara.

Richard Oh melihat salah satu penyebabnya kurang dikenalnya karya sastra Asia Tenggara adalah sedikitnya upaya promosi yang dilakukan untuk memperkenalkan karya-karya para penulis sastra di Asia Tenggara ke ajang event internasional.

Pendapat yang sama diungkapkan Pete Lacaba, penyair dan sineas dari Philipina. Menurut Lacaba perlu ada usaha bersama dikalangan para penulis di Asia Tenggara untuk lebih memperkenalkan karya mereka ke dunia Internasional dan juga di kawasan.

“Kita perlu proyek penterjemahan dan publikasi sehingga bisa melahirkan karya semacam antologi Sastra karya penulis di Asia Tenggara,” papar Lacaba disela-sela penyelenggaraan Festival Sastra ASEAN di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta (22/3).

Selain itu Lacaba juga menilai para penulis di Asia Tenggara harus lebih saling mengenal dan memahami karya Sastra di Asia Tenggara.

“Saya saja baru tahu kalau karya Sastra di Indonesia sangat banyak, saya belum dengar sebelumnya apalagi membacanya tapi disini saya lihat begitu banyak karya sastra penulis Indonesia yang dipamerkan,” katanya.

Oleh karena itu Lacaba menyambut baik penyelenggaraan Festival Sastra ASEAN yang bisa menjadi wadah bagi penulis di Asia Tenggara untuk bertemu dan saling mengenal kekayaan karya Sastra satu sama lain.

Sementara itu penyelenggara festival, Abdul Khalik mengatakan memang ajang Festival Sastra ASEAN yang diselenggarakan untuk pertama kalinya ini bertujuan untuk mewadahi para penulis muda di ASEAN untuk mendiskusikan hasil karya mereka maupun identitas mereka sebagai warga ASEAN.

“Sejauh ini kami lihat belum ada event dimana penulis muda dari negara-negara anggota ASEAN itu bisa berkumpul disatu wadah untuk mendiskusikan identitas ke-ASEAN-an mereka, apa peran penulis di masyarakat dan bagaimana mendekatkan penulis dengan masyarakat..di ajang ini semua bisa datang free.”kata Abdul Chalik.

Puluhan sastrawan, seniman dan penulis dari berbagai negara di ASEAN meramaikan gelaran ALF 2014. Ajang ini diikuti oleh seluruh anggota ASEAN kecuali Laos dan Kamboja.

ASEAN Lliterary Festival (ALF) 2014 juga memberikan penghargaan ASEAN Literary Award kepada Wiji Tukul salah satu penyair berbakat di Indonesia yang menjadi korban penghilangan paksa aktifis tahun 1998 lalu dan tidak ketahuan nasibnya hingga kini. Wiji Tukul dikenang sebagai sosok muda yang berani bersuara membela HAM dan memerangi ketidakadilan melalui karya-karya sastra ciptaannya. Penghargaan bagi Wiji Tukul ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda penulis di Indonesia dan ASEAN untuk terus mengekspresikan kreatifitas dan menyebarkan kesadaran kebudayaan.
***

Dijumput dari: http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2014-03-23/memperkenalkan-sastra-asia-tenggara-ke-pentas-dunia/1283600