Merias Wajah Komunitas Sastra Jombang *

Jabbar Abdullah **
kompasiana.com/jabbarabdullah

Hidup tanpa rintangan bukanlah hidup yang sebenarnya
Seseorang harus hidup dengan api di bawah kakinya

– M. Iqbal, Pujangga Pakistan –

Setiap orang memiliki kecenderungan dan kegelisahan yang berbeda. Kegelisahan lahir dari segala peristiwa yang disaksikan dan dirasakan. Dalam konteks sastra, seseorang yang cenderung menggelisahkan sastra tentu awalnya akan bergerak mencari orang yang bisa diajak berbagi kegelisahan tentang sastra. Upaya berbagi ini kemudian melahirkan pertemuan-pertemuan. Dalam pertemuan itu akan terjadi proses transformasi pengetahuan, apapun bentuknya. Dari sini akan muncul pertanyaan, gagasan apa yang lahir dari pertemuan tersebut, lalu bagaimana caranya agar gagasan tersebut mampu direalisasikan dan dalam bentuk apa? Jika dalam bentuk komunitas, maka pertanyaan selanjutnya adalah sejauhmana pendirian dan keberadaan sebuah komunitas itu dibutuhkan? Dan, setelah ada, terus lapo?

Pertanyaan terus lapo ini menjadi penting dijawab karena nantinya terkait dengan takdir komunitas itu sendiri. Di sinilah ujian yang sesungguhnya dan harus dihadapi oleh pemangku komunitas. Jika pendirian komunitasnya berpijak pada asas pokoke nggawe, maka lebih baik tidak usah membuat komunitas. Jika niatan awalnya adalah “latah” alias ikut-ikutan, maka ada baiknya menahan diri dulu saja daripada nantinya menjadi bahan rasan-rasan tetangga. Dengan kata lain, komunitas adalah identitas. Dan pada saat yang bersamaan bisa menjadi sebuah kuburan. Karena itu, niatan mendirikan komunitas harus dibarengi dengan perbendaharaan data dan strategi untuk – meminjam istilahnya Afrizal Malna – memberi bunyi pada data yang terkait dengan sastra.

Membunyikan dan berbagi Data

Data akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Pertanyaan paling mendasar saat kita menerima atau memiliki data adalah, terus diapakno?

Memberi bunyi pada data yang kita miliki bukanlah persoalan mudah, meskipun medianya berlimpah. Adakalanya kita kebingungan saat memiliki data yang melimpah. Mau kita apakan data itu? Data itu mahal dan memiliki kekuatan yang besar. Karena itu tidak semua orang atau komunitas akan dengan mudah berbagi data. Kecerobohan dalam mengolah data akan berdampak langsung dengan keberlangsungan hidup sebuah komunitas. Data ibarat zakat. Di dalam data itu sendiri juga terdapat mustahiq, baik personal maupun kolektif (komunitas), yang berhak menerima zakat data. Meskipun pada prinsipnya setiap orang memiliki hak atas apa yang kita miliki, namun orang lain tidak berhak memaksa kita untuk memberikan apa yang kita miliki. Semua dikembalikan pada kesadaran bahwa seseorang atau komunitas itu tidak bisa hidup sendiri. Untuk bisa berdiri di atas kakinya sendiri, seseorang atau komunitas membutuhkan kerjasama dengan yang lainnya.

Nah, dalam tataran inilah membangun jejaring itu menjadi kebutuhan. Membangun jejaring membutuhkan keberanian dan energi yang besar. Sama halnya dengan melimpahnya cara membunyikan data, cara membangun jejaring juga beragam. Salah satunya, mengagendakan kluyuran. Karena setiap peristiwa bermakna dan berhikmah, maka energi kluyuran yang kita miliki harus diolah agar tidak menjadi sia-sia. Seperti halnya menulis, salah satu musuh dari ngluyur atau bersilaturrohim dengan banyak orang dan komunitas adalah kemalasan. Malas karena lokasi yang jauh dan lain-lain. Seringkali kita meremehkan hal-hal yang sederhana. Jika dikaitkan dengan proses bertahan hidupnya sebuah komunitas, kluyuran atau silaturrohim adalah kebutuhan primer. Seseorang atau komunitas akan menjadi miskin data dan perjalanan komunitasnya menjadi tidak menarik untuk disimak manakala enggan, jika tidak ingin dikatakan malas, untuk keluar rumah dan berinteraksi dengan yang lainnya.

Terkait dengan upaya membangun jejaring dan memberi bunyi pada data ini dan kenapa pula kluyuran menjadi proses yang harus dilewati, saya teringat pernyataan Fahrudin Nasrulloh, founding father Komunitas Lembah Pring, yang pekikkan dalam forum pertemuan Komunitas Sastra se Jatim yang dihelat di Aula Universitas 17 Agustus, Surabaya (maaf lupa tanggal mainnya): “Komunitas itu ibarat gerobak. Kalau gerobaknya sudah ada, lantas diisi apa dan mau disorong ke mana?”

Lontaran tersebut hingga kini menjadi kegelisahan saya, baik secara personal maupun sebagai lurah KLP, dan senantiasa saya dirawat agar nyala bara api terjaga. Menjaga nyala bara api tidak semudah seperti yang tampak. Si penjaga harus mempunyai daya antisipasi yang tinggi dan senantiasa terjaga, bukan berspekulasi. Daya antisipasi dan keterjagaan ini ditopang dengan memperkuat silaturrohim. Segala yang diperoleh dari hasil silaturrohim ini kemudian dipilih dan dipilah sesuai dengan kebutuhan. Sederhananya, keluar rumah menuju “pasar sastra” untuk kulakan lalu dibawa pulang untuk dimasak. Sebisa mungkin, masakan KLP juga bisa dinikmati oleh orang lain, minimal tetangga terdekat.

Merias Wajah Komunitas Sastra Jombang

Ada dialog yang menarik antara Besut dan Man Gondo yang ditulis oleh Cak Nas, panggilan akrab Nasrul Ilahi, dalam Sketsa Besutan yang berjudul “Cekne Payu Ayo Diayu-ayu”:

“Sir kusir, mbang kumbang, sumonggo mampir, niki lho Jombang.”

“Gak ngunu se, Sut. Kit jaman Mbah Joyo ngantek jaman Mbah Google, nawakno kutho Jombang terus. Gak lecek ta, lambemu?”

“Lha nek gak awake dhewe, kate sopo maneh sing kate ngelem, ngepik-ngepik, barek nawak-nawakno Jombang? Kate dijarno mangkrak ta, Man Gondo?”

”Nawakno yo nawakno, tapi apane. sing pantes ditawakno? Nggone yo gak nok sing monyos, gak nok sing kenek diwasno, opo maneh diparani. Panganan khas yo gak jelas. Oleh-oleh liyane yo opo?”

Seperti yang diurai dalam Jombangana Edisi III oleh Siti Sa’adah dan Purwanto, Jombang memiliki kekayaan komunitas sastra. Ada Komunitas Lembah Pring Jombang (KLP), Lingkar Studi Warung Sastra (LISWAS, Ngoro), Sanggar Belajar Bareng Gubug Liat, Komunitas Pena (KOMA, Ponpes Tambakberas), Sanggar Kata, Alifna Qolba (SMA Muhammadiyah I), Sanggar Sinau Lentera, Kelompok Alief Mojoagung, Pecinta Sastra Kopi, Lembah Pena Endhut Ireng, dan yang terbaru adalah Kopi Sareng (Komunitas Penulis Sastra Tebuireng) yang di bawah binaan Lan Fang, penulis cerpen, esai dan novelis asal Surabaya. Masing-masing komunitas juga telah bergerak dan menjalankan program kerja keseniannya.

Setiap komunitas – di manapun – tentunya mempunyai strategi tersendiri dalam “merias wajah, ngelem, ngepik-ngepik, barek nawak-nawakno” komunitasnya agar tampak ayu lalu payu. Minimal untuk sekadar berkata, “Kami ada, lho.” Dan, itu sah-sah saja, sepanjang tidak merugikan tetangganya, meskipun pada tataran realitas juga terjadi upaya-upaya untuk “membunuh” komunitas yang terlanjur dianggap pesaing, atau bahkan musuh.

Upaya “merias wajah” komunitas sastra tidak bisa dilepaskan dari yang namanya peta. Di samping itu, pengetahuan terhadap perkembangan peta sastra sangat berpengaruh untuk menentukan arah dan laju sebuah komunitas sastra. Karena itu, setiap komunitas harus peka dan tanggap terhadap segala hal yang terjadi di luar komunitasnya. Bagaimana mungkin komunitas bisa berkembang dan menjadi ayu serta payu manakala terkungkung dan malas meng-update kebaruan-kebaruan informasi terkait dengan dunia sastra. Sebuah komunitas tidak bisa hanya berpangku tangan dan njagakno jika ingin menjadi dari bagian peta sastra. Jangan sampai komunitas kita termasuk dalam golongan “ada dan tidak adanya sama dengan tidak ada”. Di sinilah pertanyaan setelah mendirikan komunitas terus lapo harus dijawab. Secara tidak langsung, ketika kita memutuskan hendak mendirikan sebuah komunitas, kita juga harus memikirkan kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk dunia sastra, baik di daerah maupun di luar daerah.

Banyaknya komunitas sastra yang lahir pada satu sisi adalah berita gembira, pada saat yang bersamaan adalah keprihatinan manakala tidak mampu memberikan manfaat terhadap komunitas yang lain, terlebih dunia sastra. Jika sebuah komunitas ruang geraknya hanya mencukupkan diri pada fungsi sebagai rumah singgah dan rumah berkarya bagi anggotanya, maka itu adalah kerugian. Ada saat-saat kita berkarya untuk diri kita sendiri dan ada pula saat-saat di mana kita juga ber-ijtihad menciptakan karya berupa ruang untuk orang lain sebagai bentuk tanggungjawab sosial kita dalam berkomunitas dan bermasyarakat. Adanya kesadaran – utamanya bagi komunitas sastra yang sudah mapan – untuk berkenan berbagi energi, pemikiran, dan ruang, serta rasa andarbeni terhadap komunitas yang lainnya akan menguatkan keberadaan sebuah komunitas dan nyala sastra juga akan terjaga. Dengan kata lain, komunitas sastra yang baik adalah komunitas yang mampu memberi manfaat bagi lingkungannya.

Yang lama musnah.. Masa pun berubah .. Dan di atas puing-puing reruntuhan .. Mekarlah kehidupan baru, kata Willem Schiller. Akhirnya, waktulah yang akan menguji ketangguhan masing-masing komunitas. Selamat bermuhasabah.

___________
* Tulisan ini dimuat Serambi Budaya Radar Mojokerto, Minggu, 28 Agustus 2011 dan telah disampaikan dalam diskusi Jum’atan Sastra # 11 : “Bedah Jurnal Sastra dan Budaya Jombangana Edisi III” yang digelar oleh Sanggar Belajar Bareng Gubug Liat tanggal 26 Agustus 2011 di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia, Kompleks Jombang Media Center, Jl. KH. Wachid Hasyim, Jombang, pukul 15.15 – 17.15 Wib.

2 Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang

3 Nasrul Ilahi, “Cekne Payu Ayo Diayu-ayu”, Jombangana Edisi 3, 2011, h. 48