Marhalim Zaini
riaupos.co

DUA tokoh sastra Indonesia yang agaknya identik dengan sebutan “sastra profetik” adalah Kuntowijoyo dan Abdul Hadi WM. Selain tampak dalam karya-karya mereka, sebuah tulisan Kunto berjudul “Maklumat Sastra Profetik (Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra)” dimuat majalah Horison, 2005, bisa menguatkan itu. Sementara Abdul Hadi WM, dapat kita baca dalam “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” (Jurnal Kebudayaan Ulumul Quran, Agustus, 1998). Ini telaah kritis Abdul ihwal perkembangan sastra di tahun 1970-an dan 1980-an, terkait kesadaran penulis untuk menjadikan “tradisi” sebagai “sumber” proses kreatif penciptaan mereka, terutama tentang semangat untuk kembali ke “puitika Timur.”

Benar, di tahun 1980-an itu, memang cukup ramai diperbincangkan “Sastra Profetik” (boleh disebut juga sebagai: sastra yang “bersemangat kenabian”). Banyak tafsir memang. Bagi Kuntowijoyo sendiri, sastra profetik adalah juga “sastra ibadah” yang merupakan ekspresi dari penghayatan nilai-nilai agamanya. Sastra profetik jelas merujuk pada pemahaman dan penafsiran Kitab Suci atas realitas, yang otomatis terlibat dalam sejarah kemanusiaan. Sastra adalah renungan tentang realitas. Realitas sastra, kata Kuntowijoyo, “adalah realitas simbolis bukan realitas aktual dan realitas historis. Dan melalui simbol itulah sastra memberi arah dan melakukan kritik atas realitas.”

Lain lagi menurut Ahmadun Y Herfanda, seorang sastrawan lain yang juga memperkuat barisan estetika serupa melalui puisi-puisinya. Ia menandaskan sastra profetik tak selalu identik dengan sastra sufistik. Selama ini, sastra sufistik cenderung hanya dipahami sebagai “sastra zikir,” atau sebatas ekspresi kerinduan untuk bermanunggal dengan Tuhan semata. Sebab, bagi Ahmadun, persoalan-persoalan kemanusiaan, bahkan keseharian, juga merupakan persoalan sastra profetik.

Saya sepakat. Sebab sastra profetik, tidak semata menggugah “kesadaran ketuhanan” akan tetapi juga “kesadaran kemanusiaan.” Prihal sebutan “kesadaran ketuhanan” inilah yang kerap pula disebut sebagai “sastra transendental”. Meski, transendensi (Latin: transcendere = melampuai) sebenarnya tidak harus berarti kesadaran ketuhanan secara agama saja, tapi bisa kesadaran terhadap makna apa saja yang melampaui batas kemanusiaan. Dalam Islam, wujud dari proses transendensi itu kerap adalah sufisme.

Konsep-konsep sufisme sebagai wawasan estetik, sesungghnya lebih memberi ruang bagi penulis (pun pembacanya) untuk meningkatkan pemahamannya tentang agama dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks fungsional—sebagaimana juga yang kerap dituntut oleh banyak orang, pun seturut dengan Martin Heidegger—bahwa tugas sastrawan yang sangat relevan dan fungsional ialah mengembalikan makna hidup pada kemanusiaan.

Dalam khazanah sastra Indonesia, semangat sastra profetik bukanlah gejala baru. Sejak Abad ke-13 Masehi, sastra Islam telah merambah kerajaan Samudera Pasai di Aceh, sampai kita kenal Syair Perahu-nya Hamzah Fansuri di Abad ke-16, misalnya. Nah, di dunia Melayu ada nama besar Raja Ali Haji dengan Gurindam Duabelas-nya yang sangat religius, selain Syair Abdul Muluk yang ia tulis bersama saudaranya, Zalekha.

Dalam tradisi Melayu, terutama setelah Islam masuk, citra Islami demikian menyatu dengan dunia religi-magis kaum tradisionalis, yang kemudian terkait erat dengan bagaimana corak sastra Melayu kita pada saat awal pertumbuhannya. Pengamat Rusia, V.I. Braginsky (1979) dalam penelitiannya tentang sastra Melayu klasik, menilai bahwa keindahan puisi klasik itu sebagai pembayangan kekayaan Tuhan Maha Pencipta. A. Teeuw (1983) pun turut menegaskan hal itu ketika menilai puisi-puisi Amir Hamzah, “Rupamahasempurna memang secara tepat mengungkapkan ideal estetika Melayu klasik.”

Satu soal, bahwa sastra profetik menandai perbenturan keras dalam wacana kesenian di dunia. Post-modernisme membangun mainstream-nya sendiri, dengan semangat global yang urbanistik, industrialistik, sekulerisme. T.S. Eliot (sang peraih nobel), marah. Jauh-jauh hari ia mengecam, misalnya, terhadap penerbitan dan perdagangan buku-buku sastra Amerika yang cenderung memperlakukan karya sastra sebagai barang dagangan semata dengan melupakan tujuan-tujuan mulia di baliknya. Eliot bilang, “kebudayaan tidak akan bisa mengalami masa cerah tanpa dilandasi nilai-nilai keagamaan.”
***

Categories: Esai