Judul: Kudekap Hatinya di Bawah Langit Seoul
Penulis: Mahmud Jauhari Ali
Penerbit: Araska Yogyakarta
Tahun: Mei 2012
Peresensi: Shabrina WS
shabrinaws.blogspot.com

Akhirnya, kesampaian juga membaca novel ini, setelah sebelumnya saya hanya mengintip bagian satu dan harus berdamai dengan rasa penasaran selama beberapa hari.

“selama kita satu agama, satu akidah,
insya Allah kita akan bersatu dalam cinta yang abadi
hingga di akhirat kelak, Oppa.”

Konsisten mengangkat lokalitas. Itulah tulisan-tulisan Mahmud Jauhari Ali yang pernah saya baca dari beberapa bukunya. Begitu pun dalam novel ini. Di awal-awal membacanya saya serasa diajak untuk bernostalgia kembali ke Sungai Mahakam, Samarinda, Balikpapan, Kalimantan Timur, tempat-tempat yang sempat akrab dengan saya beberapa bulan lalu, saat menulis novel PING A Message from Borneo.

Kudekap Hatinya di Bawah Langit Seoul. Bercerita tentang seorang lelaki Korea bernama Kang Geun Woo. Dia tidak pernah menyangka bahwa kabar dari Pak Rimpai ayah angkatnya, tentang hilangnya kalung berliontin taring macan dahan –sebuah kalung warisan turun temurun salah satu keluarga dari suku Dayak Banuaq di Kalimantan Timur— akan membawanya pada petualangan yang panjang. Cuti lebih awal dari kantornya. Meninggalkan Samarinda menuju Jakarta, terbang ke Hongkong dan akhirnya kembali ke kampung halamannya di Seoul. Tempat yang ingin ia lupakan sakaligus tempat yang selalu ia rindukan.

Perjalanan panjang Geun Woo mempertemukan dia dengan seorang muslimah dari Ningxia bernama Ma Xun Quan yang diam-diam telah membuatnya jatuh hati. Namun, di saat yang sama kemunculan Kim Ga Won, seorang wanita yang tak pernah pergi dari hatinya membawanya pada peristiwa yang tak terduga dan tak pernah dia bayangkan dalam hidupnya. Peristiwa yang menguji sampai di mana cinta sesungguhnya dan seberapa kekuatan cinta itu bisa bertahan. Bagian yang mau tidak mau membuat saya mengusap air mata haru.

Tak hanya sampai di situ, pembicaraan pak Rimpai dengan Geun Woo mengenai kalung itu serta petuah-petuah yang penuh kekuatan cinta dari seorang ayah untuk anaknya. Mengharukan dan membuat saya terdiam beberapa saat merenungkan kata-kata itu.

Mahmud Jauhari Ali berhasil mengolah ide cerita yang unik. Memadukan nuansa lokal, dan merangkainya dengan warna cinta. Memberikan kejutan di lembar-lembar terakhirnya, dengan ending tak terduga. Novel ini membuat saya nyari info tentang kalung taring macan dahan.

Dijumput dari: http://shabrinaws.blogspot.com/2012/06/kudekap-hatinya-di-bawah-langit-seoul.html

Categories: Resensi