MIMPI INDONESIA UNTUK 200 PENYAIR

Awal mula bertemu, berjabat tangan dan ikut tersenyum dengan kalian, penyair-penyair hebat. 10 tahun waktu telah gugur dan berlalu! (Juni 2004-Juni 2014)

Judul buku : Liku Luka Kau Kaku
(200 sajak untuk 200 Penyair)
Penulis : Aguk Irawan MN.
Penerbit : Pustaka Sastra Yogyakarta (Ombak), 2004
Jumlah halaman: xxix + 280 : 13 x 20 cm
Peresensi A. Purwantara *

Adalah Aguk Irawan Mn., penyair yang lahir dari bumi Lamongan (1 April 1979), tanah yang sekarang dikenal setelah bom Bali mengejutkan dunia. Beberapa tahun yang lalu dia meninggalkan tanah kelahirannya menuju negeri Fir’aun untuk studi di Universitas Al-Azhar Kairo, dari tahun 2002, hingga sekarang sedang menyelesaikan kuliah tingkat akhir di jurusan Ushuludin Departemen Aqidah Filsafat. Sebelumnya dia nyantri di ponpes Darul Ulum, Langitan, Tuban sambil sekolah di MAN Babat, Lamongan (1997).

Mulai belajar sastra kepada gurunya, Bp. Harmaji, penyair lamongan dan guru Bahasa Indonesia. Kepenyairannya semakin kuat ketika di Kairo mendirikan sanggar seni Kinanah bersama teman-teman Indonesianya. Setelah itu dia seperti memproduksi kata-kata dengan tiada henti. Dan sebagain besar karyanya itu bisa dinikmati dipelbagai koran dan majalah baik daerah maupun Ibu Kota. Setelah beberapa buku dia lahirkan, kali ini dia menelorkan lagi sebuah kejutan dari kata-kata yang terus diproduksinya.

Liku Luka Kau kaku, sebuah kumpulan puisi. Kalau menyuplik komentar Sigit Susanto di sampul belakang buku itu; Puisi-puisi Aguk tak jauh dari tema pertemanan, kerohanian, kehidupan dan alam. Metafor-metafor yang dihasilkan banyak berangkat dari perenungan alam yang dalam. Kemudian dia coba menikung pada kehidupan manusia lewat ironi-ironi kekinian.

Mungkin tema-tema di atas sungguh sangat biasa diangkat oleh penyair yang pernah ada. Sebuah tema yang tidak terlalu aneh. Karena karya seni itu tiruan dari alam, begitu kira-kira kata seorang filsuf. Tidak aneh! Lalu apa yang bisa dilihat dari sebuah buku puisi yang tak aneh?

Tungu dulu, Liku Luka Kau kaku, mungkin beda. Buku ini mungkin agak unik jika dibandingkan dengan buku-buku dengan tema yang tidak aneh itu tadi. Menurut A. Mustofa bisri; Antologi puisi penyair muda Aguk Irawan ini benar-benar merupakan sebuah karya yang unik. Mungkin inilah pertama kali dan satu-satunya antologi puisi yang seluruh sajaknya dipersembahkan dan “merespon” kepada hampir semua penyair Indonesia yang dikenalnya. Maka antologi inipun menjadi semacam leksikon puitis atau kumpulan “puisi leksikon”.

Ya, buku ini berisi 200 sajak untuk 200 penyair. Kenapa 200 penyair, menurut Aguk; Sebab sejarah sastra adalah sejarah yang purba dengan rentang waktu yang sangat panjang dan pelik, maka hanya 200 saja, rasanya memang betul tak cukup!

Bagaimana Aguk mengumpulkan 200 nama penyair Indonesia itu? Katanya, 200 nama penyair Indonesia ini dihimpun dengan kategori periode (mudah-mudahan tidak salah) di mulai dari zaman Balai Pustaka, hingga sekarang (2004). Dia juga menyandarkan pada hasil penelitian di Paris yang diberi nama The Paris Review Interview dan di bawah judul “Some Work of Indonesian Poets (2002) yang menghimpun 197 nama-nama penyair Indonesia tetapi; bukan berarti yang ada dalam penelitian itu pasti ,begitu kanyanya.

…yang jelas 200 para penyair yang saya jadikan teman dialog dalam kata-kata latah di buku ini, mereka adalah guru dan tauladan saya, sejak pertama saya berkawan dengan mereka, atau sejak pertama kali membaca tulisannya, sejak itu pula saya putuskan niat yang tulus untuk berguru….

Begitulah, sebagai mantan santri Aguk memang tak bisa melepas tradisinya untuk bersilaturahmi. Untuk itulah dia menciptakan jembatan yang menghubungkan jarak keberadaannya dengan para penyair itu yang berupa puisi tegur sapa. Puisi yang mengajak berdialog, bercakap-cakap. Dengan bahasa yang kadang-kadang bergelora, lelah, putus asa juga cinta dan kehangatan.

Apa hanya itu alasan dia menulis 200 sajak untuk 200 penyair yang dia kenal, baik langsung maupun hanya kenal karyanya itu? Dia mengungkapkan, “Saya tak bisa membayangkan tanpa mereka bagaimana bisa Indonesia menjalani liku sejarah sebagai bangsa yang penuh kedukaan ini berlangsung?”

Pada saat peluncuran buku di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Jumat 21 Oktober 2004, seorang penyair Akhmad Sekhu bertanya kepadanya, “Kenapa kau berani menulis 200 puisi untuk 200 penyair, apa kau kenal mereka? Apa yang mengilhami kau menulis itu?”

Jawabnya, “Saya bukan penyair. Bahkan saya benci penyair. Karena penyair di mata saya adalah orang yang suka sesenaknya, tidak peduli. Tapi kenapa saya tiba-tiba ingin menyapa mereka? Ketika saya melihat Indonesia sedang berduka, terluka berdarah-darah, merekalah yang setia mencatat, merekam dan menyodorkan obat dan member hiburan yang sedang duka. Sejak itu saya mencintai mereka. Dan ingin berdialog dengan mereka.” Begitu kurang lebih dialog yang terjadi antara Aguk dengan Akhmad Sekhu, seorang penyair yang sempat pula disapa dalam antologi puisi Liku Luka Kau kaku ini, dengan judul Kosong untuk Akhmad Sekhu di halaman 30.

Dari dialog itu terungkap bahwa Aguk Irawan, anak kelahiran Lamongan yang sekarang di Mesir, menyimpan semangat yang pedih melihat bangsanya dicerca duka dan luka yang tak pernah henti. Lihat saja kata-kata Liku Luka Kau Kaku, empat kata yang dengan tepat menggambarkan perjalanan sejarah yang penuh liku dan luka-luka. Sedemikian itu liku dan luka yang bahkan hampir-hampir membuat semangat kebangkitan kaku beku.

Kita lihat puisi di halaman pertama buku Liku Luka Kau Kaku; ……/dari cuaca yang paling teduh/Indonesia memang hanya mimpi/ya, mimpi yang entah milik siapa?/dengan segala muslihat/yang tajam dan yang tumpul//dan jika Indonesia adalah/rembulan maka hampir/sudah tiada malam lagi/dan cahaya, lalu mimpi untuk siapa (Mimpi untuk Abdul Hadi W.M, Kairo 2004, hal 1-2)

Aguk seakan melihat Indonesia dengan sejarah yang suram itu bagaikan mimpi. Bahkan dia hampir tidak melihat perbedaan mimpi buruk ataukah kenyataan yang sedang dialami bangsanya. Seakan ketenangan, keamanan dan kesejahteraan adalah mimpi indah rakyat Indonesia yang dihantam krisis, bom, separatisme dan macam-macam teror. Tenang? Itu hanya mimpi indah yang entah milik siapa.

Ekspresi kebangsaan Aguk dapat dilihat dalam beberapa sajaknya, seperti Kehormatan yang diperuntukkan A. Ajib Hamzah dari Jogjakarta. Aguk memandang; bumi kita yang hangus. Terasa harapan yang pupus. Dan untuk Ajip Rosidi dia menulis; tanah kita/tempat menaruh segala/harapan dan cinta/bunga-bunga mekar/lanmgit yang bening/tanpa ketakutan. Sebuah harapan yang mendambakan negerinya bebas dari ketakutan, tempat cinta dan bunga-bunga mekar dengan indah, itulah Indonesia dalam mimpi Aguk.

Kemudian serunya kepada semua orang; ……bangunlah wahai pemimpi/lihat huruf-huruf sudah/tak bisa dieja lagi apalagi terbaca/anak-anak negeri (Bangunlah untuk Budiman S. Hartoyo, Kairo 2004, hal 70-71).

Aguk menjadi orang yang gelisah ketika harus berbicara tentang keadaan bangsanya, Indonesia. Seperti menyimpan cemas dan gamang. Sehingga dia lebih senang memandang keindahan itu sebagai mimpi. Kepada penyair yang telah berumur dia berkeluh kesah; …… pada harihari ini memang kita saksikan/kekalahan seribu wajah kita untuk/mengundang pagi yang cerah dengan/firdausfirdaus baru yang mengantarkan pelaut/malam pada matahari (Tangis untuk D. Zawawi Imron, Kairo 2004, hal 79-80. Dia mencoba mengajak Zawawi Imron sang Celurit Emas untuk berdialog. Dia mengungkapkan; mari kita hitung berapa harihari yang/tersisa tanpa tangis sebelum usaiusai hari/luruh dalam gelap.

Itulah penyair dari Lamongan yang berkeluh kesah tentang bangsanya yang sedang terluka dan menderita. Diraciknya keluh kesah dan mimpinya dalam sajak-sajak yang dipersambahkan kepada penyair-penyair tanah airnya yang setia mencatat dan merekam peristiwa pedih yang mengiringi perjalanan bangsa.

Kepekaan penyair dalam menyikapi keadaan bangsanya, menurut Aguk tidak bisa muncul begitu saja. Dia harus banyak belajar dari para pendahulunya yang mempunyai tradisi mencermati keadaan. Aguk merasa telah berguru kepada semua penyair yang sempat dikenalnya maupun yang hanya dibancanya. Seperti penuturannya dalam salah satu puisi untuk penyair Gunawan Mohamad; ….Diamdiam aku meracik mimpi/dari denyut jantungmu/seperti daun, diamdiam memang aku/menyaring desah anginmu (Guru untuk Gunawan Mohamad, Kairo 2004, hal 119-120).

Dia juga mengungkapkan kekagumannya kepada WS. Rendra yang selalu berteriak lantang pada ketidakberesan yang terjadi di negeri ini. Juga kepada Agus R. Sardjono; di negeri Fir’aun kita bercakap di bundaran/deretan kursi, kau baca pikiranku yang/berkelebat ke sana ke mari dan kau rangkum/setiap kata dengan kalimat yang singkat:/salah! (Kenangan untuk Agus R. Sardjono, Kairo 2004, hal 20-21). Dia memang berguru pada semua penyair. Dengan begitu dia tetap mampu melihat terang meski semua orang merasa gelap sebagaimana ketika membaca Afrizal Malna; malam telah memberiku gelap memang,/gelap di seluruh penjuru, tetapi tidak pada kau,/dalam gelap kau selalu benderang dan tidak/sembunyi, bahkan dalam gelap kau selalu/menghadirkan siang, dalam percakapan/dari percikan sinar, dalam malam kau/terbangkan angin yang jauh dalam/sajaksajakmu (Gelap untuk Afrizal Malna, Kairo 2004, hal 18-19).

Dan untuk penyair-penyair sahabatnya sedaerah (Lamongan) dia menulis ; apa yang terlintas dalam kenangmu saat kita/baca/katakata berasama//yang kau katakan saat perjalananku sampai/”segeralah mampir ke rumah tengok derai gerimis sore/hari yang/menetes dari atap rumahku, dan kita/menghirup udara/yang dingin membeku dari langitlangit kamar, sambil/mengintip halilintar di luar”//saat aku ingin berjalan dan sampai/kepadamu, rasanya/aku tak perlu lagi katakata, karena bukankah/kita/sudah begitu mengerti tentang beranda/rumah kita yang/sama. Dan di sana telah kita tanam bersama/kesegaran/hidup kanakkanak dari titik hujan di luar/dan tangis/hujan (Halaman untuk Viddy Alymahfoedh Daery).

Membaca buku Liku Luka Kau kaku seperti menyelami pedalaman seorang anak negeri yang lahir dari tanah pergerakan Lamongan, yang menebar pasir kerinduan Mesir dan merangkul negeri yang luka Indonesia. Seperti bersilaturahmi dengan hati kepada setiap orang yang merasa Indonesia dari bahasa.

Itulah kerja keras Aguk yang telah melahirkan sekian kata-kata yang dirangkainya dalam 200 judul sajak yang dipersembahkan untuk 200 penyair senegerinya. Dalam satu tahun dia menghasilkan 200 sajak, wah, sebuah kerja yang tidak main-main. Mungkin karena itu, Aguk sering menggunakan idiom yang seakan berulang-ulang muncul. Atau mungkin saja dia punya maksud mengulang-ulangnya, seperti mimpi. Ya, mimpi Aguk yang selalu terulang jika ingat negerinya. Sementara dia nun jauh di seberang, di tengah hamparan pasir yang gersang. Namun dia tetap ingat. Dan ketika kita membacanya, kita pun ingat, negeri ini punya mimpi.

*) Peresensi adalah budayawan, dan anggota DKS (Dewan Kesenian Surabaya).
https://www.facebook.com/notes/aguk-irawan-mn/mimpi-indonesia-untuk-200-penyair/10152494904084658