Marhalim Zaini
riaupos.co

“Tualang panjang ini Semakin jauh semakin lengang Langkah pun lelah menapak juang..” MUNGKIN, ia memang lelah. Menulis 357 buku itu, energinya besar sekali. Tak pula satu-dua genre, tapi (mungkin) semua genre ia tulis. Apalagi, rupanya, dunia yang ia tekuni ini, dunia yang memang lengang. Bahkan setelah ia menulis ratusan buku itu, pun setelah ia ternama, setelah semakin jauh ia tapaki tualang panjang itu, malah ia semakin disungkup “lengang”.

Tengoklah, di akhir masa hidupnya, ia menulis (di Kompas, 9 November 2015): “….honor buku-buku saya mengalami banyak kendala, saya hidup sangat sederhana.” Maka wajar ia lelah. Wajar ia curhat begini, “kalau dibandingkan dengan para pengarang di luar negeri (Eropa dan Amerika), seharusnya saya hidup mewah.” Tapi, tentu, kita tidak sedang mendengar keluhan itu sebagai semacam penyesalan. Sebab, dengan begitu pun, sesungguhnya ia masih hendak “menapak juang” untuk meneriakkan bagaimana nasib masa depan para penulis kita di negeri ini. “Bagaimana bisa membangun bangsa kalau pembayaran royalti saja diulur bertahun-tahun,” teriak Korrie Layun Rampan.

Dan meskipun, kini ia sudah tutup usia (11 November 2015), teriakan Korrie itu gaungnya sampai ke mana-mana. Karena itu memang problem klasik kita. Saya tidak tahu, apakah hal ini kemudian membuat para penulis lain, para penulis yang baru menapak, jadi berpikir ulang untuk menjadi penulis. Saya tidak tahu, karena di tengah dunia yang kian ramai ini, kian hiruk-pikuk ini, memilih hidup di jalan sastra yang “lengang” memang bukan pilihan gampang. Para pengarang harus bersiap-siap untuk berada dalam suasana yang digambarkan oleh Korrie dalam puisi “Mahakam” ini, “Tinggallah gerimis renyai/ Dan bait-bait sunyi/ Ketika jam pun sampai/ Menunjuk-nunjuk tempat sepi.”

Tapi, baiklah, pertimbangan ekonomi bukanlah yang utama. Begitu kata banyak para penulis kita. Menulis itu, idealisme. Menjadi penyair, apalagi. Bagi seorang Korrie, yang mampu menulis dalam semua genre saja, mengalami kendala hidup semacam itu, apalagi mereka yang hanya menulis puisi. Tapi, bukankah Korrie sendiri justru hendak membuktikan bahwa idealisme hidupnya adalah pada puisi itu sendiri. Ia, seolah tengah menunjukkan bahwa ia adalah seorang penyair, yang harus pulang menyepi—terutama ketika ia memilih pulang kampung ke Kutai Barat (setelah 30 tahun di Jakarta).

Pernah, dalam sebuah wawancara dengan Kompas, Korrie bilang begini,”Enggak kuat saya di DPR, itu bukan tempat saya. Tempat saya itu menulis, saya ini sastrawan. Saya darah tinggi itu karena di DPR. Kita berjuang melawan orang banyak yang bodoh-bodoh. Mereka pakai tangan, kita pakai otak.” Maka ia pun keluar dari keramaian itu. Keluar dari keramaian Jakarta. Keluar dari keberlimpahan, lalu pulang ke ceruk kampung halaman. Bersunyi-sunyi.

Dan ia tahu, kampung yang sunyi itu adalah puisi. Adalah lengang, rumah puisi. Maka ia pun menulis, “haruskah ke arah lain jalan pantai/ kita kawinkan sepi/ antara dua badai?!” Dua badai di situ, saya kira adalah: kota-ramai dan kampung-lengang. Keduanya, kota dan kampung, adalah badai. Keduanya, menyimpan sepi, sekaligus menyimpan badai. Sepi bagi kota, adalah badai. Ramai bagi kampung, adalah badai pula. Andai kedua sepinya dikawinkan, maka kesunyian pun lengkap. Dan kepada kesunyian yang lengkap itu, ia berbisik, “jalan ini semakin sunyi/ Tapi kita tak sampai-sampai juga…”
***

http://www.riaupos.co/1495-kolom-jalan-lengang-korrie.html#.Vl-2hXYrLIV

Categories: Esai