Sesat Pikir Tentang Apresiasi Sastra

Dessy Wahyuni *
riaupos.co

Sastra adalah entitas yang unik, dinamis, dan multitafsir. Sastra kerap bersentuhan dengan
ranah batin dan memberikan sesuatu yang tidak kasat mata. Kata-kata yang memiliki nilai seni dan budaya ini merupakan sebuah keindahan dengan makna tertentu. Makna tersebut akan terkuak jika diapresiasi. Melalui proses apresiasi itu, karya sastra akan menghasilkan nilai-nilai kemanusiaan yang mengendap dalam khazanah batin pembaca/penikmat sastra.

Akhir-akhir ini, perkembangan karya sastra di Indonesia sangat pesat, bahkan tidak terbendung. Penulis karya sastra bermunculan dari berbagai penjuru, baik yang tua (senior) maupun yang muda (pemula). Itu semua bisa dilihat di banyak media massa (tiap Sabtu dan/atau Minggu) yang biasanya menampilkan satu atau dua cerpen serta banyak puisi setiap minggunya. Novel-novel terbit. Antologi cerpen dan puisi menyemarak. Hal ini menggambarkan seakan sastra telah menjadi idola tersendiri di negeri ini. Tentu saja hal ini merupakan kabar baik bagi perkembangan kesastraan Indonesia. Akan tetapi, apakah masih kabar baik namanya jika perkembangan ini tidak diikuti oleh apresiator/kritikus sastra?

Apresiasi sastra dapat diartikan sebagai langkah untuk mengenal, memahami, dan menghayati karya sastra yang berakhir dengan timbulnya penikmatan karya tersebut dan berakibat subjek apresiator dapat menghargai karya sastra yang dinikmati secara sadar. Maka, proses awal apresiasi sastra itu adalah menggauli karya sastra secara langsung dengan cara membaca, mendengar, dan/atau melihat (pementasan) karya sastra. Menggauli karya sastra dengan sungguh-sungguh akan memberikan pengertian, pujian, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra tersebut. Melalui penggaulan seperti ini, seorang apresiator akan terlibat secara langsung secara emosional, intelektual, maupun imajinatif sehingga mampu menjelajahi medan karya sastra yang diapresiasinya itu.

Apresiasi sastra juga dapat dilakukan dengan menggaulinya melalui tiga kegiatan, yakni mempelajari teori, memahami kritik/esai, dan mendalami sejarah sastra. Ketiga kegiatan apresiasi itu bisa dimanfaatkan sebagai penunjang, tetapi juga bisa menjadi hal penting yang tak bisa dipisahkan dari apresiasi. Teori sastra, misalnya, dapat digunakan untuk membantu pemahaman atas konsep-konsep, kriteria, batasan-batasan, fungsi, dan metode telaah sastra. Kritik dan esai sastra dapat digunakan sebagai penambah wawasan serta pembanding bagaimana cara orang lain memberi pertimbangan baik-buruknya karya sastra. Sementara itu, sejarah sastra dapat dimanfaatkan untuk membantu pemahaman sastra dari sisi yang lain, seperti perkembangan dan konsep-konsep dasar periodisasi serta aliran sastra.

Sebelum melakukan apresiasi, umumnya seseorang memilih bentuk karya sastra yang disukainya, misalnya prosa, puisi, drama, film, dan sebagainya. Kesukaan itu akan berlanjut pada upaya seseorang untuk mengetahui dan memahami lebih dalam karya yang dipilihnya. Sebuah karya sastra dapat disukai dan digemari seseorang karena karya tersebut dapat memberi kesan tersendiri yang menimbulkan empati bagi penikmatnya. Lantas, mengapa masih terjadi krisis apresiasi sastra?

Ketidakseimbangan karya sastra dan apresiasi/kritik sastra seperti ini tentu saja memprihatinkan. Kehidupan sastra seakan sepi dan tidak ada pergolakan, bahkan bisa dikatakan berjalan di tempat. Karya sastra hanya menjadi perbincangan para sastrawan yang selesai di ruang itu. Mereka sudah puas dengan apa yang dihasilkan, bahkan tidak jarang pula mereka bertabur sanjung puji. Akibatnya, karya-karya berserakan, tetapi tidak ada karya yang menjadi fenomenal. Karya-karya yang hadir itu terasa hambar tanpa roh.

Tidak dapat dimungkiri, karya dan apresiasi/kritik sastra bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Agar karya-karya yang dihasilkan itu memiliki kualitas yang mumpuni, para pengarang perlu disentak dengan adanya apresiasi dan kritik terhadap karya yang mereka hasilkan. Dengan demikian, perlu adanya apresiator yang kemudian menjadi kritikus membahas dan mengkritisi karya sastra yang berlimpah ruah tersebut.

Apresiator bertugas menilai karya yang bermunculan tersebut. Dalam menilai karya sastra (dengan menunjukkan kelebihan dan kelemahannya) harus objektif: menunjukkan kelebihan dan kelemahannya secara berimbang. Artinya, kritik sastra bukanlah untuk menghakimi sebuah karya, bukan juga untuk mematikan kreativitas pengarang. Dengan adanya penilaian ini, tentu saja para sastrawan akan lebih serius dalam mengasilkan karya, sehingga terlahirlah karya yang memiliki roh (dengan isi yang serius, latar yang jelas, penokohan yang kuat, plot yang dibangun secara matang, dan konflik yang telah diatur sedemikian rupa).

Apresiasi sastra juga mengasah kemampuan pembaca/penikmat karya dalam menganalisis, sehingga apresiator menjadi peka terhadap lingkungan. Dengan menganalisis karya sastra, apresiator akan menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam karya itu. Nilai-nilai inilah yang konon dapat membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan mengapresiasi karya sastra (yang menelaah makna dari tiap kata di dalam karya), seseorang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emoional, spiritual, dan sosial. Karya sastra memiliki pesona tersendiri bila dibaca dengan saksama. Karya sastra dapat membukakan mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik, dan budaya dalam bingkai moral dan estetika.

Para akademisi yang bergerak di bidang kebahasaan dan kesastraan hendaknya dapat menjembatani pengarang dan pembaca lewat kritik sastra atau sekadar apresiasi sastra (membaca, mendengar, dan/atau melihat [pementasan] karya sastra). Para sasrjana bahasa dan sastra seharusnya telah memiliki bekal mengenai teori, sejarah, dan kritik sastra. Akan tetapi, terdapat kegalauan para akademisi untuk terjun dalam dunia kritik sastra, entah karena daya intelektual dan komitmen di bidang profesinya tidak menjanjikan atau karena kegagapan mereka melihat jurang yang terbentang antara teori dan karya sastra yang tidak mampu mereka telaah.

Sementara itu, para akademisi (dan peneliti) tersebut lebih tertarik mengumpulkan angka kredit yang berguna dalam peningkatan karier mereka. Mereka lebih memilih memublikasikan tulisan (hasil penelitian atau penelaahan) di jurnal yang hanya beredar di kalangan terbatas, tentu saja demi meraih angka kredit tersebut. Intelektualitas mereka menjadi kurang terasah dalam berkreativitas. Saat menulis untuk media massa, tulisan mereka kaku dan kering.

Kritik sastra yang baik adalah kritik yang kreatif dan bernas, mampu menunjukkan kelebihan dan kelemahan secara objektif, bukan hanya menceritakan kembali isi dan tema karya sastra saja. Karena itu, kritik sastra yang baik bisa jadi tidak identik dengan kritik sastra akademik, tetapi lebih kepada kritik sastra kreatif. Kritik sastra jenis ini yang masih jarang ditemukan yang ditulis oleh para akademisi. Namun, apa boleh buat, ketika kritikus sudah dieksekusi oleh rutinitas, penelitian, dan kemalasan intelektual, terpaksa karya sastra harus berjalan sendirian.

Untuk memunculkan atau merangsang kritikus muda agar bersedia menulis, tentu perlu pembinaan yang serius dalam mengapresiasi karya sastra. Nah, yang sering terjadi adalah kegagalan pemahaman mengenai apresiasi tersebut. Para instruktur yang memberi pembinaan ini sering terjebak pada metode penulisan kreatif. Mereka mengajak peserta untuk mencipta karya sastra, bukan mengapresiasi karya yang ada. Memang para peserta pasti akan lebih antusias menciptakan sesuatu yang baru, ketimbang menelaah atau menafsirkan yang telah ada.

Ini terjadi entah karena takut salah tafsir atau memang tidak memiliki kemampuan menganalisis (serta tidak berminat mengembangkan kemampuan itu). Selain itu, dalam kegiatan mengapresiasi, para instruktur juga mengarahkan peserta pada satu penilaian (tafsiran) terhadap sebuah karya. Akhirnya para peserta hanya mengaminkan tafsiran yang diberikan tersebut, tanpa ada keterangan lebih lanjut bahwa karya sastra itu sesungguhnya multitafsir.

Jika dilihat ke belakang, ketidakmampuan menganalisis ini bisa saja disebabkan oleh pola pembelajaran sastra di sekolah. Soal-soal ujian mengenai apresiasi sastra disuguhkan dalam bentuk pilihan ganda. Guru-guru (yang mendapat imbauan dari kepala sekolah maupun dinas pendidikan terkait) hanya menargetkan perolehan nilai yang tinggi dalam ujian. Akibatnya, siswa diharuskan memiliki satu jalur pikiran yang telah ditentukan pembuat kunci jawaban. Padahal, pemahaman seseorang terhadap karya sastra seharusnya diasah, bukan dibentuk.

Dengan sendirinya, esensi sastra yang semestinya dapat membentuk jalinan interpretasi yang berbeda sehingga memperkaya sebuah karya sastra harus terbunuh. Dengan pola pembelajaran seperti ini, tentu saja tidak akan menghasilkan siswa sebagai penikmat sastra yang cerdas dan kritis. Akan tetapi, hanya membentuk siswa yang terkungkung untuk berpikir satu arah.

Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak sastra menjadi semakin penting untuk disosialisasikan melalui institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai, siswa diharapkan mampu bersaing pada era globalisasi ini dengan sikap arif, matang, dan dewasa. Dengan adanya apresiasi sastra yang benar, siswa akan mampu berkreativitas dalam menyampaikan pendapat. Melalui apresiasi sastra yang menjembatani para pembaca dengan pemikiran penulis sebuah karya sastra, siswa juga akan terlatih menganalisis situasi secara cerdas, sekalipun itu terjadi di luar konvensi yang berlaku.

Memang, tidak salah jika dalam kegiatan pembelajaran (pembinaan) apresiasi sastra, peserta diajak mencipta karya sastra. Akan tetapi, ini hanyalah tahapan yang berfungsi untuk meningkatkan gairah dan minat peserta dalam menggauli sastra, bukan bagian dari apresiasi tersebut. Jika apresiasi sastra sudah benar, pasti akan menghasilkan para apresiator yang baik pula. Dengan demikian, kita akan menemukan karya-karya yang berkualitas, karena para penulis akan bersungguh-sungguh dalam melahirkan karya.***

*) Peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau, menulis buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA Kurikulum 2013.
http://www.riaupos.co/2871-spesial-sesat-pikir-tentang-apresiasi-sastra.html#.VvatFeJ97IU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*