“Takdir” dan nasib malang Oidipus

Setyardi Widodo
inspirana.blogspot.co.id

Ahad lalu, sewaktu mencari perlengkapan sekolah untuk Sekar yang akan masuk SD, saya menemukan buku menarik: Oidipus Sang Raja karya Sopokles, yang diterjemahkan oleh Rendra. Ini buku terbitan Pustaka Jaya yang sejak lama dikenal sebagai penerbit buku-buku sastra kelas dunia. Banyak buku lama yang diterbitkan kembali oleh Pustaka Jaya. Buku Oidipus ini salah satunya. Buku ini pernah diterbitkan pada 1976 lalu dicetak ulang pada tahun 2009.

Satu tahun belakangan ini saya tertarik dengan mitos-mitos Yunani, jadi buku Oidipus ini langsung menggoda mata. Apalagi diterjemahkan oleh Rendra. Dan sayup-sayup saya seperti ingat ada istilah oidipus complex (atau oedipus complex) kendati saya tidak tahu persis apa artinya. Maka saya belilah buku seharga Rp35.000 itu.
***

Oidipus atau Oedipus adalah sosok yang malang. Sewaktu lahir, dia dibuang oleh orangtuanya. Alasannya, ayahnya yang Raja Thebes itu mendengar ramalan (nujuman atau tujuman) yang menyatakan bahwa dirinya akan dibunuh oleh anaknya dan istrinya akan dikawini oleh anaknya itu.

Oidipus yang masih bayi diberikan kepada penggembala ternak dalam keadaan kaki terpaku (atau terikat dengan ikatan yang dipaku). Namun si gembala ternyata tidak membunuh sang bayi. Dia justru membuka paku yang mengikat sang bayi dan memberikan bayi itu kepada gembala lain di perbatasan negara. Asumsinya, toh bayi ini sudah dibawa begitu jauh dari Thebes, tak mungkin dia akan kembali ke Thebes untuk memenuhi ramalan yang dikhawatirkan itu.

Ternyata gembala dari negeri lain memberikan bayi itu kepada rajanya yang mandul, Raja Corintha. Oidipus, yang konon artinya berkaki cacat—sebagai dampak paku ketika dia dibuang– dipelihara sebagai anaknya. Dia dianggap sebagai anak dan menganggap diri sebagai anak kandung Raja Corintha.

Sampai suatu ketika dia diejek sebagai bukan anak Raja. Dia marah sekali, lalu mengadu ke Dewa. Dia justru mendapat ramalan alias nujuman alias tujuman yang menggetarkan: Oidipus akan membunuh ayah kandungnya dan menikahi ibu kandungnya, serta akan memiliki anak yang mengerikan.

Oidipus pun ketakutan dengan sabda Dewa itu. Dia melarikan diri dari Corintha untuk menghindari “takdir” buruknya: membunuh ayah dan menikahi ibu kandungnya. Dia menganggap ayahnya adalah Raja Corintha sehingga dia pergi sejauh-jauhnya dari sana. Dan, sialnya, dia justru pergi ke Thebes, tempat ayah dan ibu kandungnya berada tanpa dia ketahui.

Dalam perjalanan dia berjumpa dengan seorang tua dengan lima pengiring yang tak lain adalah Laius, Raja Thebes. Oidipus tidak tahu bahwa orang yang ditemuinya adalah Raja Thebes. Mereka berselisih dan Oidipus membunuh sang raja beserta pengiringnya. Hanya satu pengiringnya yang lolos yaitu si gembala yang kebetulan adalah gembala yang menyelamatkan bayi Oidipus sekian tahun sebelumnya.

Ketika itu Thebes sedang ditimpa masalah terkait dengan Sphink. Oidipus datang dan mengalahkan Sphink. Dia berhasil membebaskan Thebes dari ancaman Sphink. Beberapa waktu sebelumnya negeri itu kehilangan rajanya karena terbunuh di jalan oleh entah siapa, maka Oidipus sang pahlawan pun dinobatkan sebagai Raja Thebes menggantikan Laius. Dia lalu menikahi Jocasta, istri Laius, yang sebenarnya adalah ibunya sendiri.

Gembala yang selamat, ketika kembali ke istana, menemukan bahwa Oidipus sudah menjadi raja. Jadi dia melaporkan bahwa Laius dibunuh oleh sekawanan perampok, lalu dia minta diri untuk hidup menyepi jauh dari pusat kota, menjauh dari Ibukota Thebes.

Maka demikianlah. Laius yang diramal akan dibunuh oleh anaknya sudah berupaya sedemikian rupa mengindarkan diri, namun gagal. Jocasta, istri Laius yang membuang Oidipus, juga telah melakukan upaya semaksimal mungkin, namun tidak berhasil. Adapun Oidipus, yang juga menghindarkan diri dari ramalan itu, ternyata malah mengalami nasib yang jauh lebih tragis daripada dua orangtuanya.
***

Kisah dalam buku Oidipus Sang Raja ini dimulai ketika Oidipus sudah menjadi raja. Dia sudah menikah dengan Jocasta, namun tidak banyak tahu tentang raja sebelumnya, Lauis. Thebes terserang bencana. Oidipus mengutus kerabatnya untuk mencari sabda Dewa di Delphi.

Lalu datanglah petunjuk agar Thebes mengusut siapa pembunuh raja terdahulu, Laius. Karena tidak sadar akan siapa dirinya, Oidipus dengan lantang mengumumkan hukuman sangat berat bagi siapa yang terbukti membunuh raja terdahulu. Dia bersumpah untuk menegakkan hukum itu.

Lalu dimulailah pengusutan. Pertama-tama didatangkan pendeta buta yang ternama. Dia dianggap tahu siapa yang membunuh raja terdahulu. Namun pendeta buta itu bungkam. Katanya, kalau rahasia itu dibuka, kehancuranlah yang terjadi, bencanalah yang akan menimpa Oidipus.

Namun Oidipus justru menganggap pendeta buta itu berkomplot untuk menjatuhkan dirinya. Oleh sang pendeta dia dikutuk untuk menjadi buta seperti dirinya. Oidipus juga menuduh adik iparnya berkomplot. Dialog antara Oidipus dengan adik iparnya, Creon, soal pembagian dan minat terhadap kekuasaan sungguhlah menarik.

Kemudian satu per satu fakta terkuak. Dimulai ketika Jocasta bercerita tentang lokasi kematian Laius yangternyata cocok dengan lokasi Oidipus membunuh seorang tua dan beberapa pengiringnya.

Datanglah utusan dari Corintha yang mengabarkan kematian Raja Corintha dan menjelaskan bahwa Oidipus bukanlah anak raja Corintha. Utusan itulah yang menerima sang bayi Oidipus dari gembala di perbatasan dua negeri.

Terakhir, dipanggillah sang gembala yang juga bekas budak istana Laius. Dialah yang membuka semua rahasia mengenai siapa Oidipus, bagaimana dia dibuang, dipaku, diselamatkan, lalu diberikan kepada orang Corintha.
***

Maka terbukalah fakta-fakta yang sangat menyakitkan. Oidipus yang melarikan diri dari Corintha untuk menghidar dari “takdir” membunuh ayahnya, ternyata justru datang ke Thebes dan menjadi pembunuh Laius.

Dia juga menghindar dari Corintha agar tidak menikahi ibunya, ternyata akhirnya juga menikah dengan Jocasta dan menghasilkan anak-anak yang sekaligus adalah adik-adiknya.

Jocasta yang sangat malu akhirnya bunuh diri. Oidipus yang merasa sangat terhina, sial, celaka, tak dikehendaki kehadirannya di dunia, meminta adik iparnya, yang pernah dia tuduh berkomplot menjatuhkannya, agar membuangnya ke tempat di mana dia dulu hendak dibuang dan dibunuh oleh orang tuanya.

Oidipus merasa tidak sanggup melihat dunia, jadi menusuk kedua matanya hingga buta. Buta seperti pendeta yang dihinanya. Namun dia tak lupa menitipkan anak-anaknya kepada Creon. Oidipus sendiri tidak sanggup menatap anak-anaknya karena anak itu lahir dari rahim ibu kandungnya.

Mengapa tidak bunuh diri saja? Oidipus merasa kalau mati dia akan bertemu dengan arwah ayah ibunya di alam lain. Dia tidak sanggup. Jadi dia memilih hukuman yang lebih berat dari mati. Buta, diasingkan, tanpa ada orang yang berbicara padanya. Bahkan dia pun ingin membuat telinganya tuli, kalau bisa.

Begitulah nasib tragis Oidipus. Orang yang berusaha menghindari “takdir” buruk namun tidak kuasa. Nasib buruknya sudah ditentukan, dan tak bisa dihindari. Duhai alangkah malang kehidupannya.
***

Membaca soal takdir buruk yang diketahui sebelum terjadi itu mengingatkan saya akan kisah Khidr. Khidr, dalam perjalanan yang diikuti Musa, membunuh anak kecil yang, berdasarkan pengetahuan yang diberikan Allah kepada Khidr, diketahui akan menyesatkan orang tuanya kelak bila dia dibiarkan hidup.

Bukankah itu seperti menghindari “takdir” dan ternyata berhasil?

Hal lain yang menarik dari Oidipus adalah istilah oedipus complex yang ternyata digunakan oleh Sigmund Freud untuk menyebut orang yang terobsesi akan ibunya. Kalau merujuk pada kisah karya Sopokles yang diterjemahkan Rendra ini, pemaknaan oedipus compex semacam itu kok jadi kurang pas. Yang seperti itu mungkin lebih tepat disebut sangkuriang complex.

Menarik sekali membaca terjemahan Rendra. Naskah drama itu tetap puitis.
Misalnya, begini kata Oidipus dalam gundahnya:
Aku setuju. Demikianlah hendaknya.
Namun begitu, panggillah si gembala
Buatlah cepat dan jangan tertunda
Sekarang, marilah masuk istana

Dan beginilah jawaban Jocasta
Baiklah, tak akan tertunda
Sekarang marilah masuk istana
Saya akan berbuat segalanya
Asal bisa menghibur Paduka

Dalam buku ini, kita bisa menemukan banyak kata yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya Delphi, Oracle, Apollo, Oedipus (complex). Wallahu alam.

http://inspirana.blogspot.co.id/2010/07/takdir-dan-oidipus-yang-malang.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*