Pramoedya, “Kurir Sastra” dari Blora yang Mendunia

Dede Suryana
news.okezone.com

Indonensia konon sarang teroris. Negara kepulauan ini juga juara korupsi peringkat ke sekian, gagal menjadi tuan rumah piala dunia tahun 2022, dan kini malah beredar video seronok mirip artis ternama. Miris bukan? Lantas apa yang bisa dibanggakan dari negeri ini?

Tunggu dulu, Indonesia sejatinya punya banyak tokoh fenomenal yang cemerlang di mata masyarakat internasional, meski kadang tenggelam dan sedikit dibenci bahkan dipenjawa di negerinya sendiri, layaknya potret sang nabi.

Sebut saja sastrawan kenamaan Pramoedya Ananta Toer. Pujangga kelahiran Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 silam ini adalah penerima sejumlah penghargaan sastra bertaraf dunia.

Pria bersahaja yang wafat 30 April 2006 silam ini pernah menerima The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Nobel Prize for Literature nomination dan Ramon Magsaysay pada 1995, Honorary Doctoral Degree from University of Michigan, Ann Arbor pada 1999, Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres Republic of France dan Fukuoka Asian Culture Grand Prize, Fukuoka, Japan, pada 2000, The Norwegian Authours Union pada 2004, dan sederet penghargaan internasional lainnya.

Puluhan karya berkualitas memang dihasilkan oleh eks tahanan politik (tapol) pada masa orde baru ini. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca) dan 200 lebih karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 40 lebih bahasa di dunia.

Belum lagi karya-karya sastra lain, baik fiksi maupun nonfiksi, yang banyak dicari para pemuja sastra di tanah air maupun di luar negeri.

Karangan Pram, sapaan akrab Pramudya, kental dengan nuansa humanis, anti penjajahan dan feodalisme. Meski tidak secara eksplisit ditorehkan dalam setiap tulisannya. Pram selalu menyerahkan sepenuhnya pada objektivitas pembaca.

Seperti yang dia rangkum dalam tetratrologi Bumi Manusia, Gadis Pantai, Nyanyian seorang bisu I, dan II, Di Tepi Kali Bekasi, Jalan Raya Pos Jalan Daendels. Atau Arok-Dedes, yang alur ceritanya dibuat seperti menyimpang dari sejarah yang biasanya dibaca di buku-buku sejarah atau dikisahkan oleh orang tua kepada anaknya.

Tulisan-tulisan Pram juga lekat dengan nuansa realis yang membawa pembaca ke alam lain atau dipertontonkan sebuah detil cerita layaknya sebuah film. Hal ini diakui Pram, terinspirasi dengan karya-karya John Steinbeck, penulis Amerika peraih Nobel Sastra Tahun 1962 dan Maxim Gorky (1868-1936), sastrawan terkemuka dari Rusia.

Kemahiran Pram dalam meramu bahasa dan menganyam frasa, memang tidak lepas dari kegemarannya membaca serta menerjemahkan karya-karya penulis terkemuka. Tentu dengan memanfaatkan kemampuannya dalam beberapa bahasa asing. Tak heran jika pada awal karirnya Pram sempat menjadi “kurir sastra”.

Pada tahun 1950-an, Pram sudah menerjemahkan novel John Steinbeck dengan tajuk Tikus dan Manusia, Kembali pada Tjinta Kasihmu, novel Leo Tolstoy, masih pada tahun yang sama, Perjalanan Ziarah yang Aneh, novel Leo Tolstoy, pada 1954, Kisah Seorang Prajurit Sovyet, novel Mikhail Sholokov, pada tahun yang sama, dan Ibunda, novel terkenal dari Maxim Gorky, serta masih banyak lagi terjemahan novel asing karya penulis terkemuka dunia yang diterjemahkannya.
***

http://news.okezone.com/read/2010/06/14/337/342905/pramoedya-kurir-sastra-dari-blora-yang-mendunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*