Membaca Marhalim, Membaca Melayu

Sapardi Djoko Damono *
http://www.riaupos.co

/1/
Melayu ternyata dongeng, setidaknya demikian yang saya baca dari sejumlah sajak Marhalim. “Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu,” katanya dalam sebuah sajak – Melayu adalah dongeng tentang orang terkutuk, orang yang disebat dengan rotan: “ohoi, jangan sebat aku dengan rotanmu!/ jangan kutuk aku jadi melayu!”

Dan justru karena dikutuk, ia menjadi dongeng, dan karenanya tidak bisa mati sebab tak putus-putusnya ditafsirkan kembali agar tidak basi. Dongeng yang beranak pinak, dan masing-masing turunannya memiliki perangai beragam. Yang menyatukan adalah niat kuat untuk melepaskan diri dari rasa terkutuk, tetapi yang terjadi adalah kenyataan yang terus-menerus menggoda penyair untuk menoleh agar merasa terkutuk dan dengan demikian menjadi Melayu. Hanya dengan begitu dongeng tentang orang Melayu terkutuk akan selalu beredar sampai pada suatu saat nanti orang Melayu merasa tidak lagi menjadi bagian dari dongeng—tetapi itu tidak mungkin, tanpa dongeng tak ada Melayu. Dan agar ada dongeng, ia harus dikutuk dan disebat. Perintah Marhalim untuk tidak menyebat dan tidak mengutuk tak lain adalah bagian dari dongeng itu. Kita pasti tahu, puisi adalah dongeng tentang dongeng. Itu sebabnya Melayu dalam sajak-sajak yang terkumpul dalam buku ini tampil sebagai dongeng sekaligus sebagai tukang dongeng. Tukang dongeng yang piawai itu adalah Marhalim, yang sekaligus memaksa saya membaca penyair ini sebagai dongeng.

Sikap kita terhadap dongeng memang ganjil: agar merasa bisa melepaskan diri darinya kita justru harus terus-menerus merawatnya. Keberadaan kita sama sekali tergantung pada dongeng; tanpa dirawat, Marhalim akan kuwalat dan berhenti menjadi Melayu. Dan ia tetap ingin menjadi Melayu, oleh sebab itu ia memaksa kita agar merotan dan mengutuknya; bukankah tanpa kutukan dan sebatan tidak ada lagi yang dikenal sebagai Melayu? Yang saya baca dari perintah penyair bukan yang dikatakannya tetapi yang disiratkannya sebab puisi tak lain adalah dongeng yang sangat sederhana, ‘bilang begini maksudnya begitu.’ Maka masuklah penyair ini ke dalam tenunan dongeng yang menampung segala rupa dongeng yang dengan rajin dicari dan dipilih oleh Marhalim agar bisa berbicara kepada kita. Ia mengajak pembaca untuk menjadi bagian dari dongengnya, itu sebabnya saya senang membaca sajak-sajak ini. Saya merasa semakin memahami hal mendesak yang ada di balik puisi Marhalim: usaha hidup-mati untuk merawat dongeng yang telah dibacanya kembali dengan cermat agar bisa berbicara dengan fasih kepada kita tentangnya. Dan dongeng Marhalim, berbeda dengan dongeng Melayu yang disampaikan beberapa penyair lain, tidak berhenti pada penokohan dan pengaluran, tetapi masuk pada tata cara merawat kata. Bagi saya, merawat dongeng adalah merawat kata, dan itu dilakukan dengan sangat baik oleh Marhalim.

Sebagian dari kita tentu tidak merasakan kesulitan mendeteksi anasir formal yang ada di balik puisi Marhalim, tetapi sebagian lagi bisa merasa menjadi liyan. Dongeng Melayu telah dirawat baik-baik, dipagari agar tidak diganggu liyan sedemikian rupa agar yang ‘bukan Melayu’ tak berhak mengambil bagian. Dan puisi yang baik lahir dari tegangan antara keinginan untuk merawat milik sendiri dan sekaligus memberi tahu si liyan bahwa ada orang yang memanggil-manggil mengajaknya bicara padahal keduanya dipisahkan oleh pagar. Saya, liyan itu, sebaiknya menyadari bahwa dalam mendengarkan dongeng sepenuhnya berada di suatu zaman ketika teknologi yang kita ciptakan telah mengubah penciptanya, telah menguasai kita sedemikian rupa sehingga terdesak sampai ke situasi yang menggoda kita untuk terus menciptakan alat komunikasi yang ujung-ujungnya menyebabkan dongeng rembes ke mana-mana. Tidak ada apa pun sekarang yang bisa menutup retakannya, dan memang tidak perlu sebab kitalah sebenarnya yang sengaja membuat retakan itu.

Tetapi bukankah sejak dahulu kita telah mendengar begitu banyak dongeng dari liyan? Itu tidak usah dibantah, sebab memang tidak terbantah. Namun, ada suatu situasi yang mengajak kita menyadari bahwa dongeng yang pernah kita dengar dari liyan di zaman lampau adalah yang diciptakan dan dirawat oleh si pemilik. Dongeng yang ditata sedemikan rupa agar hanya bisa dipahami dan dihayati oleh pemilik bahasa, orang lain akan merasa menjadi orang asing ketika mendengarnya. Dongeng, kita tahu, adalah inti bahasa—bahkan bahasa itu sendiri. Ketika Melayu menciptakan dongeng di zaman lampau, yang mendengar dan mendengarkan adalah si empunya bahasa. Ketika membaca sajak-sajak Marhalim, saya merasa ‘dipaksa’ untuk mendengarkannya juga karena saya sudah menjadi bagian dari bahasa dongeng itu. Saya mendengarkan larik-larik berikut ini dan merasakan tegangan itu: liyan atau bukan liyan:

yok-yok sang, yok-yok sang
ke laut lintang pungkang
ke darat makan pisang
demikianlah,
kami bernyanyi
agar abadi
segala yang tak kembali

Melayu menyanyikan lagu itu agar abadi, padahal sudah tidak mungkin lagi kembali: ya, dongeng itu. Dan saya meragukan posisi kami: apakah Marhalim bebicara kepada saya, atau apakah saya sebenarnya hanya ‘nguping’ dongeng yang disampaikannya kepada Melayu lain? Keraguan ini jelas bersumber pada bahasa, tenunan ‘baru’ yang membuat kami merasa sebagai lembar-lembar benang yang rasanya tidak mungkin lagi dipisahkan. Nyanyian Melayu itu selembar benang yang berkat teknologi bahasa telah kita tenun berjajar dan bersilangan dengan benang-benang lain yang bukan Melayu. Tenunan itulah yang menyediakan ruang bagi kita untuk bisa saling berbicara dan berselisih—suatu proses yang tampaknya telah membongkar pagar yang dulu kokoh dibangun. Namun, apakah dengan demikian tidak ada lagi taman tempat masing-masing kita mencipta dan merawat dongeng? Apakah begitu banyak dongeng yang dulu ditanam itu sekarang menjadi milik bersama kita semua, dalam satu taman, dalam satu tenunan? Apakah ‘tanaman’ yang dulu beragam itu kini menjadi rata saja karena kena buldoser media? Ketika masih dilisankan, dongeng bisa dirawat di dalam pagar. Begitu masuk ke proses teknologi dan berubah menjadi aksara, dongeng membongkar pagar itu sehingga rembes ke mana-mana. Kita kini tidak lagi bisa memisahkan dongeng dari aksara, yakni media, yang menyiarkannya. Buku Marhalim ini adalah media yang merembeskan Dongeng Melayu.

/2/
Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu adalah judul buku ini. Judul adalah penanda yang berproses menjadi tanda—kalau saya, sebagai pembaca, mengubahnya menjadi petanda. Proses yang terjadi ketika membacanya mengingatkan saya pada judul sebuah cerpen A.A. Navis, “Robohnya Surau Kami.” Navis menyebut dongengnya ‘surau kami,’ bukan ‘surau kita.’ Sebagai pembaca tentu saja saya merasa berada di luar apa yang didongengkannya sebab Navis telah menempatkan saya di posisi demikian. Karena tahu ia orang Minang, saya merasa berada di luar tamannya. Navis tidak bermaksud mendongeng kepada kaumnya tetapi kepada liyan; demikianlah maka saya tidak sekadar nguping dongeng tentang penjaga surau yang rajin memuji Tuhan tetapi yang hidupnya berakhir pada bunuh diri dan gagal masuk sorga. Navis telah mamaksa saya untuk baik-baik mendengarkannya, tidak sekadar mendengar. Membaca sajak-sajak Marhalim, saya merasa berada di posisi yang sama. Ia memaksa saya untuk tidak mengutuknya; itu yang tersurat, yang tersirat adalah ajakan kepada saya untuk mengutuknya.

Dan dongeng dalam buku puisi ini disampaikan dengan lebih lantang, berkat kata ‘jangan’ dan tanda seru dalam larik-lariknya.Saya pun merasa menjadi sasaran perintahnya. Dan saya menerima perintah itu dengan rasa syukur sebab diberi kesempatan untuk menjalani perintah, yakni membaca dongeng yang disusun dalam larik dan bait yang diusahakan sedemikan rupa agar ‘mudah’ diterima, yang menggunakan diksi dan frasa yang menunjukkan bahwa ‘permainan bahasa’ Marhalim sudah mencapai taraf yang melebihi rata-rata tukang dongeng lain di negeri ini. Penyair ini tampaknya beranggapan bahwa dongeng bukan sekadar hubungan antara penokohan dan pengaluran, tetapi kecerdikan dalam menyiasati situasi kerumitan berbahasa. Apakah karena Melayu maka ia memiliki itu? Mungkin saja; tetapi bukankah ia tidak mendongeng kepada sesama Melayu lewat kelisanan tetapi terutama kepada liyan dengan memanfaatkan keberaksaraan? Atau, apakah yang didongenginya mencakup juga Melayu yang merasa tidak lagi merasa perlu merawat dongengnya dan oleh karena itu harus juga mendengar larangannya? Beberapa potongan sajaknya mungkin bisa menjelaskan hal itu. yang berikut ini bagian dari sajak tentang Pulau Penyengat, yang dianggap semacam Mekah bagi peziarah sastra Melayu.

aku melihat gurindam itu,
gundukan-gundukan sepi
sehitam malam, dan
tak sesiapapun tahu
di mana bait-bait waktu
bersembunyi,
pada nisan,
dalam bungkusan
kain kafan,
atau pada serpihan
tanah-tanah kuburan,
atau pada kuning,
atau pada putih.
kita kehilangan warna, katamu.
bahkan warna rambut kita sendiri.

Gurindam mau tidak mau membawa kita ke Raja Ali Haji, yang dalam sajak Marhalim malah ditanya, “wahai, raja ali haji,/ dikau belum mati?”

Penyair dan budayawan Melayu itu tentu saja sudah lama mati; yang menjadi sasaran Marhalim tentulah gurindam yang terlihat sebagai “gundukan-gudukan sepi / sehitam malam.” Gurindam adalah benda budaya yang tidak akan ikut mati penyairnya, seperti yang pada dasarnya menjadi alasan pertanyaan yang ditujukan kepada si peyair. Yang kemudian disebut-sebut adalah benda-benda yang berkaitan dengan kematian: ‘nisan,’ ‘kain kafan,’ dan‘kuburan.’ Saya membayangkan Marhalim sedang menyaksikan upacara kematian, tetapi tetap saja ragu-ragu apakah yang disaksikannya benar-benar upacara kematian. Yang pasti, upacara itu tidak ada hubungannya dengan si pencipta Gurindam XII, tetapi pada gurindamnya. Waktu, mungkin, tidak lagi menjadi alat penyambung yang baik, ia malah bersembunyi di benda-benda yang semuanya berkaitan dengan kematian. Itu sebabnya dalam larik-larik berikutnya terungkap bahwa “kita kehilangan warna.” Tidak kuning, tidak pula putih? Tidak lagi Melayu?

Dalam kaitannya dengan “kemelayuan”, Sang Sapurba adalah tokoh yang sangat sering muncul dalam dongeng yang dinyanyikan oleh penyair yang merasa masih Melayu. Apakah keturunan Iskandar Zulkarnain itu, yang menurunkan raja-raja Melayu itu ‘Melayu’?Bagaimana pula dengan “Melayu yang jelata”? Marhalim malah juga menanyakan hal itu dan mendapat jawaban yang mengarah ke sisi lain dari dongeng yang selama ini dirawat orang Melayu.

kaukah sang sapurba?
bukan, aku belanda
(jawab seseorang
yang mencangkung di geladak
kapal galai yang bunting
oleh para budak)

Dongeng memang tidak pernah memilah-milah hidup ini menjadi fakta dari fiksi. Kita menciptakannya justru agar bisa dimanfaatkan untuk menjawab atau menanggapi segala yang ada di sekitar dan di dalam diri kita, agar kita—yang menciptakannya—merasa (pernah) ada. Untuk itu segala bahan dan bumbu bisa digunakan tidak terkecuali Raja Ali Haji, Sang Sapurba, Puteri Dai Viet, Kampung Gelam, badik Bugis, Aceh, Champa, Belanda, Hang Nadim, Pulau Halimun, batu belah, sempoa Kie Ong Ya, asap hio, Bang Liauw, dan sebagainya. Kita kemudian menenun semua yang tersebar-sebar itu menjadi dongeng yang pada gilirannya malah mendikte kita untuk berbuat sesuai adat dan tata cara. Dan kemudian kita pertanyakan kembali justru dengan menciptakan dongeng “lain” atau ‘lanjutan’ atau “pembalikan” atau “penolakan” agar kita terus-menerus merasa (pernah) ada.

/3/
Itulah pada hakikatnya yang dilakukan Marhalim dalam sajak-sajak ini. Pertanyaan intinya berkisar sekitar ‘kemelayuan,’ yang dibayangkannya perlu dipermasalahkan lagi dengan cara menulis puisi. Sambil terus-menerus menyusuri dongeng ‘lama,’ ia mengajukan sejumlah pertanyaan yang bisa saja menjadi klise karena sudah begitu sering diajukan. Namun, dalam bacaan saya, Marhalim mampu untuk mengungkapkan pertanyaan ‘klise’ itu dengan kesabaran dan kecermatannya menggunakan bahasa.

Dongeng bisa saja dijadikan alat ungkap dalam menyampaikan pertanyaan atau tanggapan, tetapi buku ini lebih menekankan utamanya bahan dongeng itu sendiri, yakni bahasa. Bahasa Marhalim adalah hasil upayanya masuk ke bahan dan bumbu dongeng agar bisa meracik bahan dan bumbu baru. Biar saya kutip bait-bait yang bersumber pada beberapa sajak.

aku pernah jadi melayu,
menyamar jadi kelana,
tapi lanun juga
orang menyebutnya.
*
sebuah keluarga, ia duga
telah ranab asal-usulnya.
akulah melayu, akulah melayu!
dan mereka terus berseru
dari balik tiang-tiang surau
dari perahu-perahu tak berhulu.
*
di ujung, sebuah tanjung,
mengenali sepi,
seperti menjumpai
keluarga sendiri.
jauh, dan jarak
kian menjauh.
dikau melayu?
*
lalu siapa kita?
di kaki lima, juru parkir,
pasar ikan, kuli pelabuhan,
tukang pijit, pelayan losmen,
dan wajah-wajah kosong,
berebut rasa malu
berebut masa lalu
pada suara derap sepatu
orang-orang bukan melayu
yang serbu-menyerbu
dalam hati,
dalam diri.
lalu untuk apa kita di sini?

Memang klise pertanyaan seperti “dikau melayu?”, “lalu siapa kita?”, dan “tapi kita masih juga di sini?” – apalagi penegasan seperti “akulah melayu, akulah melayu!” Namun, pertanyaan dan penegasan itu telah menjadi bagian dari bahasa yang menenunnya menjadi dongeng yang baru, yang penting, yang bisa muncul hanya kalau diungkapkan oleh penyair yang tidak sekadar memanfaatkan dongeng sebagai alat ucap, tetapi menciptakan dongeng baru yang mendesak untuk disampaikan karena kita memang tidak baik berhenti di tempat. Dan untuk itu diperlukan cara menenun yang baru.

Saya menghargai sajak-sajak Marhalim dalam buku ini karena bahasanya bukan pemarah meskipun judul bukunya bisa saja ditafsirakan sebagai perintah—antara lain karena menggunakan tanda seru yang tidak pernah ada kalau dilisankan. Tanda seru hanya ada dalam tulisan, padahal dongeng yang disampaikan Marhalim ini sangat dekat dengan kelisanan kata seru yang bertebaran dalam buku ini, yang tentu memukau kalau dilisankan, adalah salah satu penandanya. Saya menafsirkan tanda seru itu sebagai permintaan yang muncul dari kesadaran seorang penyair yang (pernah) ada dalam dongeng Melayu, merasa menjadi bagian tak terpisahkan darinya, dan oleh karenanya sampai pada pertanyaan yang musykil, lalu untuk apa kita di sini? Saya tidak begitu suka menghadapi pemarah. Saya menghargai orang yang menjawab pertanyaannya sendiri, yang biasanya berkaitan dengan dongeng, dengan dongeng juga.

Orang-orang yang suka marah-marah dalam setiap kesempatan membincangkan dongengnya sendiri, di seminar-seminar maupun di lembaran-lembaran buku puisi, tidak lagi menarik disimak. Kita suka mendongeng, suka membicarakan dongeng, karena hal itu memang menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya untuk tidak membiarkan kebudayaan berjalan di tempat. Dan kalau kita mengikuti konsep kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan, buku puisi Marhalim Zaini ini menjadi penting.

Saya tutup esai ringkas ini dengan sebuah kutipan lagi yang moga-moga bisa menjelaskan bahwa dongeng memang tidak pernah memilah-milah hikayat (sebagai fiksi) dan sejarah (sebagai fakta). Dongeng, seperti yang disampaikan Marhalim dalam buku ini, tidak mengaburkan keduanya tetapi justru membiarkannya terus bertempur sampai mencapai titik yang (mungkin) bisa menawarkan makna.

di pulau kecil ini, tuan
hidup seolah melapuk,

*
terlampau berat
sejarah
mencatat
hikayat,
terlampau jauh
hikayat
meninggalkan
sejarah.
bukankah kita
orang-orang
yangkalah?

Dongeng baru benar-benar menjadi dewasa kalau berurusan dengan “orang-orang / yang kalah.”***

*) Sapardi Djoko Damono, sastrawan, kritikus sastra, Guru Besar Universitas Indonesia.
http://www.riaupos.co/2919-spesial-membaca-marhalim,-membaca-melayu.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*