Upacara Bersih Desa

Tulus S *

Adat adalah salah satu unsur kebudayaan yang terdapat di dalam tiap-tiap masyarakat. Menurut Ki Hadjar Dewantara, adat tidak lain merupakan sifat kepatuhan, laras atau harmoni, yang terdapat dalam hubungannya laku, keadaan, atau benda yang satu dengan yang lain. Karena kepatuhan itu, maka dengan sendiri perhubungan atau pertimbangan antara yang satu dengan yang lain selalu tampak sebagai keindahan, yang kemudian menimbulkan rasa senang.

Adat dapat diartikan pula sebagai cara kehidupan manusia, yang timbulnya seringkali tidak sengaja, akan tetapi selalu berada sebagai buahnya perlawanan atau hidup bersamanya satu manusia dengan manusia lainnya dalam masyarakat dengan segala kodrat alamnya. Adat dan tradisi lahir sebagai jawaban atas tantangan alam dan kebutuhan manusia dengan tingkatan yang paling rendah dalam tingkatan kebudayaan, karena berdasarkan naluri, spekulasi, mitos, dan kadang-kadang refleksi sikap fatalis.

Adat dan tradisi akan gampang terkikis ketika kalah berargumentasi dengan nila-nilai agama, atau nilai-nilai baru yang lebih rasional. Namun sebuah adat dan tradisi akan bertahan lama manakala bisa berkompromi dengan nilai-nilai agama dan nalar modern. Adat dan triadisi ada yang layak dipertahankan, namun ada yang memang layak untuk dilupakan. Dinamika dan modernisasi masyarakat akan menyeleksi secara alamiah atas keberadaan adat dan tradisi. (Supeno;2014;4).

Banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat Jawa umtuk menjangkau realitas dirinya. Tidak hanya sekedar memahami tentang keberadaan bentuk fisik saja melainkan juga menjangkau dan memahami pada dunia maya (dalam arti di luar sesuatu yang terlihat seperti mistis). Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukanlah sebuah upacara-upacara yang bersifat spiritual magis.

Pada masyarakat Jawa banyak terjadi sebuah tradisi-tradisi daerah yang antara satu dan lainnya bisa berbeda. Salah satunya adalah upacara bersih desa. Upacara semacam sedekah itu ada yang menyebutnya memetri desa, nyadran. Pada dasarnya upacara tersebut adalah merupakan sebuah cara untuk mencapai sebuah keselamatan hidup. Masyarakat Jawa percaya dengan mengadakan bersih desa maka akan membersihkan segala hal yang buruk. Upacara bersih desa juga diadakan syukuran dengan cara selamatan dan menampilan sebuah hiburan.

Bersih desa sebagai tradisi budaya juga memuat seni spiritual. Seni spiritual ini, perlu dilihat lebih jauh dari aspek etnografi agar jelas makna dan fungsinya. Jadi, mencermati seni dari sisi budaya bukanlah seni sebagai seni, melainkan seni dalam konteks. (Simatupang 2005; dalam Suwardi;2006;39). Pendapat ini memberikan gambaran bahwa di balik fenomena tradisi dan seni, memuat konteks etnografi yang menarik diperbincangkan. Hal yang menarik dari fenomena tradisi bersih desa, dapat terkait dengan berbagai hal, antara tempat, waktu, dan pelaku dalam rangkaian sebuah prosesi seni budaya. Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa dalam seni ada spiritualitas dan dalam tradisi ada seni.

Menurut Slamet Muljana (2007;100) nyadran atau sadranan berasal dari bahasa Jawi Kawi craddha (srada) yang kemudian mengalami perubahan menjadi bahasa Jawa modern nyadran (yang benar seharusnya nyradan). Sebagaimana dikemukakan dalam berita karya Kanakamuni yang telah dikenal dengan nama samaran (peparab) Mpu Prapanca, Nagara Kertagama pupuh 63-67, upacara srada pernah diadakan oleh Prabu Hayam wuruk, untuk memperingati wafatnya Rajapatni. Upacara ini dilaksanakan pada bulan Badra tahun Jawa 1284 atau 1362 M. Berita upacara srada ini juga dikemukakan dalam Pararaton, walaupun hanya disinggung dalam satu baris. Negarakertagama sendiri dibuat pada tahun Saka 1281 atau 1359 M.

Memang dalam sejarah Majapahit atau Jawa kuno, upacara srada hanya diberitakan satu kali, pada masa Prabu Hayam Wuruk tersebut. Namun sebagaimana biasa, berita-berita kuno pada umumnya memang hanya memberitakan orang-orang besar. Ternyata Prabu Hayam Wuruk melaksanakan upacara srada (peringatan kematian) sesuai dengan tradisi Jawa yang saat itu umum berlaku. Jarangnya peringatan srada ini dapat dimaklumi, karena dalam tradisi Jawa asli, peringatan kematian yang disebut srada hanya dilaksanakan satu kali untuk satu orang, setelah kematiannya mencapai 12 tahun perhitungan Jawa (sekitar 11,5 tahun Masehi) (Sunyoto, 2004;86).

Maksud upacara srada adalah meruwat arwah agar sempurna menghadap Tuhan. Rajaptni yang kematiannya diperingati Hayam Wuruk adalah Putri Gayatri ( putri bungsu Raja Kertarajasa Jayawardhana) yang pada masa tuanya menjadi wikun/bhiksuni, dan mangkat pada tahun 1350 M ( Nagarakretagama pupuh 2/1), dimakamkan di Kamal Pandak dengan candi makam di Bayalangu dengan nama candi Prajnyaparamita Puri (Nagarakretagama pupuh 69/1). Upacara sradanya dilaksanakan tahun 1362, yang memang dimaksudkan sebagai peringatan dua belas tahun sesudah Rajapatni mangkat.

Upacara srada dilaksanakan selama tujuh hari secara berturut-turut, yang sebelumnya juga makan waktu berhari-hari untuk persiapan. Seluruh istana dicat ulang dan diberi berbagai hiasan yang serba indah. Upacara dihadiri oleh segenap pejabat tinggi kerajaan, yang masing-masing membawa persembahan sesuai dengan kemampuan dan jabatannya. Upacara dipimpin oleh seorang pendeta Stapaka dan dibantu empu dari Paruh. Semua pendeta berdiri dalam lingkaran untuk menyaksikan pemujaan Tuhan baginda, yang meliputi Mudra, mantra dan japa. Disusul dengan doa pemanggilan roh Rajapatni dari Budaloka (surga nirwana) yang ditampung dalam arca bunga. (Sholikin,2010;254).

Dijelaskan pula bahwa arca yang sudah didiami oleh roh tersebut dibawa ke tanah lapang, diletakkan dalam singgasana setinggi orang berdiri dengan iringan tambur dan genderang. Kemudian dilakukan pemujaan oleh semua yang hadir bergiliran dari yang memiliki jabatan tertinggi sampai yang paling rendah. Setelah pemujaan baru diikuti dengan pemberian persembahan, baik dalam bentuk uang, makanan, harta kekayaan, perhiasan,dan sebagainya.

Acara makan bersama disertai dengan taburan uang dan pembagian pakaian serta makanan untuk empat kasta secara merata. Namun hampir setiap hari , yang paling mendapat perhatian besar selama pesta adalah pemberian derma dan sedekah kepada masyarakat yang sangat memerlukan bantuan. Pada hari kedelapan, arca diturunkan dari singgasana pemujaan, dan diyakini bahwa ruh Rajapatni sudah kembali ke Budhaloka. Semua sajian habis dibagi kepada semua yang hadir. Setelah upacara srada selesai, maka kemudian diadakan perbaikan makam Rajapatni di Kamal Pandak.

Memetri dari kata metri; petri yang artinya menjaga; merawat ;menghormati. Memetri desa yaitu ikut menjaga serta merawat desa agar keamanan, kesejahteraan, kedamaian bisa diperoleh bersama. Selain itu juga untuk menghormati para leluhur, sing mbaureksa, cikal bakal desa, pedhanyangan dengan cara mendoakan agar selalu diberi keselamatan. Menurut Suwardi (2006;48) bahwa merti desa diartikan memelihara desa secara batiniah dan lahiriah.

Secara batiniah, orang desa menjalankan ritual mistik, baik berupa slametan maupun pertunjukan spiritual. Secara lahiriah mereka juga membersihkan keramatan (kuburan) dan tempat-tempat khusus yang dianggap sakral. Tempat-tempat tersebut dianggap sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. Tempat yang sakral itu dianggap memiliki tuah dan daya tertentu, karenanya harus diberi sesaji pada saat bersih desa. Tradisi semacam ini boleh dikatakan sebagai wujud pengorbanan anank cucu kepada para leluhur yang telah sumare (meninggal).

Upacara bersih desa merupakan sebuah tradisi yang di dalamnya memuat budaya spiritual. Dalam konteks ini nilai-nilai religius, spiritual, seni bisa membaur menjadi sebuah alkuturasi kebudayaan. Waktu penyelenggaraan upacara bersih desa pun bisa berbeda-beda termasuk tata cara pelaksanaannya. Slametan bersih desa berhubungan dengan pengkudusan hubungan dalam ruang, dengan merayakan dan memberikan batas-batas kepada salah satu unit teritorial dasar dari struktur sosial orang Jawa. Apa yang ingin dibersihkan dari desa itu tentu saja adalah makhluk-makhluk halus yang dianggap berbahaya. Oleh sebab itu dilaksanakannya slametan, di mana hidangan/sesaji dipersembahkan kepada danyang desa yang bersemayam di punden.

Di Desa Banjarsari Kecamatan Madiun Kabupaten Madiun upacara bersih desa pada umumnya atau kebiasaanya dilaksanakan pada hari Jum,at Legi bulan Agustus (walau saat ini bulan itu bisa berganti di bulan lain). Tata lakasana upacara bersih desa dengan cara selamatan di makam leluhur dan punden serta menampilkan seni langen tayub. Berbeda dengan di desa sebelah (Sumberrejo) upacara bersih desa dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu yang dianggap baik namun tidak meninggalkan hari pasaran Wage (hari pasaran dalam kalender Jawa) serta menampilkan pagelaran wayang kulit di punden. Namun sayang saat ini upacara seperti itu sepertinya sudah tidak bisa disaksikan di desa sebelah.

Perbedaan tata laksana upacara bersih desa menurut kepercayaan masyarakat dikarenakan kelangenan (kesenangan, kesukaan) danyange desa (zat gaib yang dianggap sebagai penunggu, pengayom desa). Menurut James (1980;132) perbedaan aktivitas budaya semacam ini justru menarik dari sisi antropologi. Lebih jauh Turner dan Schehner (Murgiyanto;18998;11) menjelaskan agar ditekankan antropologi pertunjukan pada “proses” atau “bagaimana” pertunjukan mewujud dalam ruang, waktu, konteks sosial dan budaya masyarakat pendukungnya.

Pendapat ini menekankan agar kajian buadaya , seni, dan ritual mampu mengaitkan dengan pemilik budaya itu. Perbedaan dan kesamaan proses merupakan aspek penting bagi pemahaman makna dan fungsi seni spiritual. Hal ini dapat dipahami bahwa satu-satunya kesamaan dalam bersih desa adalah waktu pelaksanaanya yaitu satu tahun sekali, biasanya sesudah musim panen padi. (Suwardi;2006;39).

Waktu dan tempat penyelenggaraan bersih desa akan menjadi sebuah pertimbangan tersendiri. Aspek kesakralan baik hari maupun tempat menjadi pertimbangan yang penting, karena hari dan tempat akan menentukan keberhasilan selamatan. Apalagi dalam konteks bersih desa itu masyarakat hendak memanjatkan doa dalam suasana keheningan, sehingga hari dan waktu selalu diarahkan untuk menemukan kesucian.

Hal senada dengan pemikiran Eliade (Baal, 1988;196) bahwa religi seseorang (primitif) selalu menuju ke arah hierophanie, dari kata heiros (suci) dan phanein (menunjukan). Jadi hierophanie merupakan sasaran penting dalam masyarakat Jawa dalam menjalankan bersih desa agar mendapatkan kesucian. Kesucian berarti keabadian yang merupakan tanda-tanda akan datangnya keselamatan hidup.

Tujuan utama dari proses heirophanie bersih desa tidak sekedar formalitas ritual tahunan. Tradisi ini memiliki bobot spiritual yang luar biasa. Paling tidak , melalui ritual tersebut bersih desa menjadi sebuah wahana antara lain (1) menyatakan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas ketentraman penduduk dan desa, hasil panennya yang memuaskan, (2) memberi penghormatan kepada para leluhur dan cikal bakal desa yang telah berjasa merintis pembukaan desa setempat, (3) mengharapkan pengayoman (nyuwun wilujeng) dari Tuhan Yang Maha Esa dan Rasulallah, agar panen mendatang lebih meningkat dan hidup masyarakat lebih sejahtera. (Endraswara, 2006;41).

Masyarakat Jawa pada umumnya masih melestarikan kepercayaan terhadap ajaran-ajaran terdahulu dari nenek moyang mereka. Ajaran-ajaran ini akan terus diamalkan dan dipelihara secara turun temurun, sekalipun masyarakat jawa kini sudah menganut suatu agama atau kepercayaaan, terhadap roh,wali keramat maupun benda-benda masih tetap mengakar dalam kebudayaan Jawa.

Pada masyarakat Jawa sering dijumpai adanya ritual atau pemujaan kepada roh leluhur atau tokoh-tokoh mistis. Pemujaan mereka lakukan kepada Dewi Sri dalam acara methil (panen padi) atau bersih desa (meluhurkan para leluhur, yang mbaureksa atau pedanyangan), kepada Kanjeng Ratu Kidul (hal ini masih dilakukan oleh Karaton Yogjakarta tiap tahun) juga kepada Kyai Semar yang dianggap Dahyangnya orang Jawa. Dalam bukunya (Suwardi;2012;57) dikatakan bahwa harus ada pembedaan dari kepercayaan dan praktek berkenaan dengan leluhur, yang oleh beberapa orang sering dicampuradukkan. Pemuliaan leluhur dapat dirumuskan sebagai suatu kumpulan sikap, kepercayaan dalam suatu komunitas.

Bentuk pemujaan tersebut mengandaikan bahwa leluhur yang telah meninggal sebenarnya masih hidup dalam wujud yang efektif dan bisa campur tangan dalam kehidupan manusia, oleh karenanya harus ditenangkan, atau bahwa kegiatan manusia sendiri dapat mengembangkan kesejahteraan leluhur yang telah meninggal dalam kehidupan berikutnya. Dengan membedakan penghormatan kepada leluhur dari pemujaan kepada leluhur, dengan anggapan seolah mereka adalah dewa-dewa, kita membatasi pemakaian istilah pemujaan terhadap leluhur hanya dalam arti kedua.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemuliaan leluhur adalah penamaan leluhur baik secara langsung maupun tidak langsung. Suatu fenomena seperti pemujaan leluhur ini menurut definisi berkenaan dengan sikap masyarakat individual dan menurut pertimbangan sikap dan harapan budaya masyarakat yang khusus ini. Leluhur di Jawa dianggap memiliki karomah, kekuatan luar biasa. Leluhur seperti Semar, Syeh Siti Jenar, Prabu Brawijaya, para wali, para Raja-Raja Jawa dan lain-lain mereka perlakukan dengan khusus. Selain makam-makam atau petilasan mereka diabadikan sebagai tempat ziarah , tirakat atau ngalap berkah.

Ngalap berkah adalah pemujaan leluhur, agar menemukan kebahagiaan atau tujuan tertentu. Pemujaan leluhur menunjukkan sebuah laku bekti atau rasa hormat karena para leluhur dianggap sebagai orang yang telah berjasa dan mempunyai wibawa atau karomah tertentu. Leluhur adalah orang yang harus dihormati secara batin. Masyarakat Jawa amat menghargai para leluhur, apalagi seorang cikal bakal suatu desa, penemu ajaran tertentu, sesepuh kharismatik. Dengan meyakini pada leluhur, terutama yang telah sumare (meninggal) menandai orang Jawa selalu bersikap mikul dhuwur mendhem jero.
***
______________
*) Tulus S atau Tulus Setiyadi, S.T.P. adalah alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Kegemarannya mempelajari budaya dan sastra ditekuni sudah sejak lama. Banyak bergabung dibeberapa sanggar kebudayaan, kesenian dan kesusastraan. Sering mengisi acara sastra ataupun budaya, baik di televisi, radio, paguyuban/sanggar, perguruan Budaya Jawa di Hotel Lorin Solo, kongres Bahasa Jawa di Hotel Marriot Surabaya dan Hotel Garuda Jogjakarta, serta seminar ataupun sarasehan. Pernah menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa. Karya-karyanya dalam bentuk buku sudah puluhan judul dan beredar di masyarakat, baik di Indonesia maupun luar negeri. Juga belasan karya antologi bersama. Paguyuban/sanggar yang diikutinya antara lain; Pesaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani), Paguyuban Retna Dumilah (bidang kebudayaan), Paguyuban Pamarsudi Kasusastran Jawi Sedyatama, Sanggar Sastra Triwidha, Sembilan Mutiara (buku dan kesusastraan), Majelis Sastra Madiun, dll. Adapun buku-buku karyanya sebagai berikut; Bangsa Pemuja Iblis (antologi puisi), Surat Kerinduan, (antologi puisi), Sangkrah (antologi geguritan lan cerkak), Sang Guru (antologi cerkak), Kidung sukma Asmara (antologi geguritan), Daya Katresnan (antologi geguritan), Kawruh Urip Luhur Ngabekti (antologi geguritan), Serat Cipta Rasa (antologi geguritan mawa aksara Jawa). Narakisma mbedhah jagade kasusastran (antologi geguritan). Dongeng Kancil Kanggo Bocah (dongeng), Puspa Tunjung Taruna (esai), Pendekatan Nilai-Nilai Filosofi Dalam Karya Sastra Jawa (esai), Kembar Mayang (esai), Nilai-Nilai Luhur Budaya Jawa- Sumber Kearifan Lokal (esai), Ki ageng Sela Dan Ajarannya; Pendidikan Nilai Moral Dan Pembentukan Karakter (esai); Semar; Sebuah simbolisasi, Filosofi Dan Mistik Kejawen (esai). Makna Simbol Selamatan Kematian pada masyarakat Jawa (esai). Menelusuri Jejak Tradisi Membangun Jatidiri (esai). Uran-uran katresnan (novel). Keladuk Manis ing Salumahe Sambilata (novel). Juminem…dodolan tempe? (novel). Udan ing wanci ketiga (novel). Ledhek saka Ereng-erenge Gunung Wilis (novel), Gogroke Reroncen Kembang Garing (novel), Rumpile Jurang Katresnan (novel). Klelep ing Samodra Rasa (novel). Langit Mendhung Sajroning Pangangen (novel). Bersama Pak Tulus Ayo Belajar (motivasi). Aris (kumpulan cerkak). Sedangkan antologi bersama lainnya, seperti dibawah ini’; Antologi bersama; antologi Mangkubumen Sembilan Enam, Bulan Tuhan, Pelacur, Epifani Serpihan Duka Bangsa, Kemilau Mutiara Januari, Merangkai Damai, Pengembaraan Burung, Bunga Putra Bangsa, Indonesia di Titik 13 dll. Juga antologi cerkak mengeti HUT ke-35 Sanggar Triwida “Ngrembuyung”. Antologi cerpen “Negeri Kertas”. Antologi Geguritan Dinas kebudayaan Prov,DIY, Antologi geguritan “Sakwise Ismet lan Suparta Brata” Balai Bahasa Jatim, Antologi geguritan “Gebyar Kasusastran” Balai Bahasa Jatim. Antologi geguritan “Sor bumi sor kukusan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*