100 Tahun HB Jassin

Bandung Mawardi
koran-sindo.com 30-07-2017

Pada awal 1970-an, HB Jassin (31 Juli 1917-31 Juli 2017) sering disebut dalam gegeran atau debat berkepanjang di majalah Horison.

Jassin tak dituduh bersalah atau sumber perseteruan kata. Dia menjadi tokoh utama di buku sebagai biang debat tak keruan para sastrawan. Tulisan- tulisan berdebat mengiringi peringatan 70 tahun HB Jassin, dokumentator dan kritikus sastra ampuh di Indonesia. Peringatan melebihi pesta dengan kue, lilin, lagu, tepuk tangan, ciuman, pelukan, dan hadiah. Buku diterbitkan Gunung Agung pada 1986, Darsjaf Rahman memberi judul Antara Imajinasi dan Hukum: Sebuah Roman Biografi JB Jassin. Judul itu membuat kaum pengarang bertengkar mengenai kebenaran, sejarah, peran, bahasa, dan ketokohan. Darsjaf Rahman jadi sasaran serangan ramai dari para pembaca buku.

Wiratmo Soekito dan Ajip Rosidi menolak sebutan ”roman biografi.” Tumpukan argumentasi disuguhkan gamblang, mulai kebahasaan sampai struktur tulisan. Darsjaf Rahman selaku menulis memberi bantahan keras, enggan menanggung hujatan. Semua debat demi Jassin, tokoh menua, tapi tetap keranjingan mendokumentasikan sastra dan menulis kritik sastra.

Horison edisi Juli 1987, berjudul istimewa: 70 Tahun HB Jassin . Abrar Yusra urun tulisan berjudul ”Tak Mungkin Disebut Roman Biografi.” Dia masuk dalam pertengkaran penulis buku dan para sastrawan untuk membenarkan atau menolak sebutan ke buku: ”roman biografi”. Pertengkaran itu belum mendapat penjelasan dari Jassin, tokoh utama di buku.

Abrar Yusra memberi konklusi: ”… buku ini agak tak lebih dari biografi biasa dengan penceritaan kronologis, serta bab-bab tambahan.” Di halaman berbeda, Ajip Rosidi muncul lagi dengan tulisan tetap menggugat danmenolak. Dia menulis esai berjudul ”Masa Lalu sebagai Sejarah”. Jassin mungkin diam atau berdoa mendapati temanteman ”bertengkar” bersumber dari buku berjudul aneh.

Jassin mungkin tak merasa bersalah dengan sikap pasif tak menulis buku autobiografi. Darsjaf Rahman menulis buku Antara Imajinasi dan Hukum: Sebuah Roman Biografi JB Jassin dipersembahkan kepada ”Persada Sastra Indonesia.” Dia mengakui kebesaran Jassin di arus sastra Indonesia. Jassin itu penentu sastra melalui kerja dokumentasi, kritik sastra, dan redaksi majalah.

Penulisan buku memastikan ada penghormatan agar para pembaca mengenali Jassin: luar dan dalam. Buku itu memperingati usia Jassin dan kerja-kerja besar dalam sastra Indonesia. Darsjaf Rahman mengakui: ”Buku ini memuat tonggak – tonggak dari kehidupan Hans Bague Jassin…” Darsjaf Rahman dalam penulisan buku menggunakan ”segala bahan dokumentasi” mengenai Jassin disimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Dokumentasi sangat penting untuk menceritakan dan menguak segala perkara dalam kehidupan Jassin, sejak kecil sampai menjadi kritikus sastra ampuh. Pada saat pengerjaan buku, Jassin malah menambahi bahan dengan meminjamkan dokumentasi pribadi: surat-surat lama, karangankarangan lama, catatan harian, dan foto. Semua demi kelengkapan dalam penulisan buku biografi.

Jassin pun tekun memberi nasihat, arahan, dan kritik kepada Darsjaf Rahman. Mengapa Jassin tak menulis sendiri menggunakan pelbagai dokumentasi untuk kemunculan buku autobiografi? Jassin malah terkesan bermufakat pada misi penulisan Darsjaf Rahman. Kita menduga Jassin terlalu sibuk mengurusi dokumentasi, penulisan kritik sastra, dan juri di pelbagai lomba sastra.

Jassin pun terduga tak memiliki kemahiran menulis biografi. Puluhan buku susunan Jassin tak pernah mengarah ke gelagat menjadi biografi bermutu meski ia tetap harus mengenalkan secuil biografi para pengarang dalam melengkapi kritik sastra. Jassin enggan menulis autobiografi. Peran sebagai dokumentator agak gagal saat berkaitan diri.

Peringatan 70 tahun Jassin agak mendingan jika orang tak cuma membaca buku Antara Imajinasi dan Hukum: Sebuah Roman Biografi JB Jassin. Pembaca lega jika mau membaca buku berjudul HB Jassin 70 Tahun (1987) dengan editor Sapardi Djoko Damono. Penggalan- penggalan biografi Jassin justru berkesan saat dituliskan oleh Mochtar Lubis, Ali Audah, Hazil Tanzil, Budi Darma, dan S Basuki.

Dua buku berbeda isi dan nasib dalam tanggapan para pembaca. Semua tulisan di buku-buku itu tetap saja harus bersumber dari dokumentasi. Jassin adalah pemilik dokumentasi sastra terlengkap di Indonesia, tapi malah tak mau menceritakan diri dengan bahasa dan struktur autobiografi. Dokumentasi belum mengisahkan diri, utuh dan memikat.

Kini, kita memperingati 100 tahun Jassin tanpa kemunculan buku biografi terlengkap mengenai Jassin. Warisan Darsjaf Rahman belum disusul atau dibantah dengan buku biografi mumpuni tak menagih pertengkaran dan debat berkepanjangan. Kita mungkin semakin tak mengenali Jassin. Ketiadaan buku baru adalah dalih.

Kita pun perlahan tak turut bertanggung jawab atas warisan dokumentasi Jassin. Di Jakarta, warisan itu telantar! Kita semakin bersalah atas dokumentasi dan biografi. Tahun demi tahun pun berlalu tanpa penghilangan segala ragu dan kelu. Begitu.

BANDUNG MAWARDI
Kuncen Bilik Literasi (Solo)
http://koran-sindo.com/page/news/2017-07-30/0/2/100_Tahun_HB_Jassin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *