Membaca Realitas Sosial di Indonesia Melalui Sastra Diaspora

Badaruddin Amir
badaruddinamir.wordpress.com

Terbitnya buku kumpulan Cerpen Mini Yin Hua terjemahan Wilson Tjandinegara (KSI, 1999) yang diluncurkan pada HUT KSI (Komunitas Sastra Indonesia) yang ke-3 pada 31 Oktober 1999 di TIM Jakarta, dapat dikatakan semakin memperjelas posisi kehadiran para sastrawan keturunan Tionghoa di tengah konstelasi sastra Indonesia modern saat ini.

Dikatakan demikian, karena sebelumnya para sastrawan keturunan yang pada umumnya menulis dalam bahasa Mandarin (Han-yu) ini memang kurang dikenal dalam hasanah sastra Indonesia, disebabkan oleh adanya pelarangan yang bersifat diskriminatif pada masa rezim Orde Baru dan rezim sebelumnya atas semua aktivitas budaya berbau etnis Cina untuk dipertunjukkan secara umum. Boleh dikatakan pada masa Orde Baru dan sebelumnya karya-karya sastra Cina (Tionghoa) yang bernuansa Indonesia atau yang lebih dikenal dengan istilah “sastra diaspora”, menemui hambatan komunikasi bagi pembaca sastra Indonesia, kecuali hanya dibaca oleh segelintir public pembaca komunitas keturunan. Padahal masalah social yang menjadi tema sentral dalam kebanyakan karya sastra dispora ini adalah masalah social yang terjadi di Indonesia. Di sana kita dapat membaca berbagai realitas social yang terjadi terutama di penghujung runtuhnya rezin Orde Baru.

Membaca kumpulan Cerpen Mini Yin Hua memang harus dipahami bahwa ada sesuatu yang ingin dijembatani oleh penterjemah sekaligus editornya yang hidup dalam dua kutub budaya itu, yaitu Cina dan Indonesia. Sesuatu itu adalah keinginan untuk melihat fenomena pembauran antara dua etnis dalam arti yang sesungguhnya. Bebas dari anggapan negative yang selama ini terjadi pada diri etnis keturunan, misalnya anggapan yang kurang objektif menilai bahwa warha keturunan Tionghoa itu pelit, egois, anasionalis, tidak peduli pada orang lain dan hanya tahu mencari keuntungan material belaka.

Penerjemah buku ini, Wilson Tjandinegara yang adalah seorang keturunan telah menjadi pelopor “gerakan” pembauran ini berkeyakinan, bahwa melalui sastra dapat diciptakan saling pengertian antar budaya, antar etnis, dan menjalin persahabatan yang lebih mendalam. Bagi kita di Indonesia, kata Wilson dalam pengantar terjemahannya, ini merupakan salah satu alternative pembauran yang mungkin hasilnya akan lebih langgeng.

Pelarangan atas segala bentuk aktivitas budaya yang berbau etnis Tionghoa menurut Wilson, adalah bentuk arogansi dan sikap yang berlebih-lebihan dari penguasa, karena setelah Barongsai (dalam arti yang lebih luas: segala aktivitas budaya yang berbau etnis Tionghoa) diperbolehkan di era reformasi kini, ternyata tidak juga terjadi apa-apa yang bias mempengaruhi idiologi bangsa. Bahkan dengan adanya keterbukaan seperti yang diperkenalkan Orde Reformasi, komunikasi antar budaya dapat semakin lancer dan pembauran dapat terlaksana dengan lebih cepat. Setidaknya hal itu terjadi dalam dunia sastra melalui terjemahan sastra Mandarin ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya. Karena seperti yang dikatakan Prof. Cou Nancing dari Universitas Beijing, bahwa kesusahan yang sering terjadi di Indonesia antara lain penyebabnya adalah kurangnya komunikasi antara dua suku bangsa : Indonesia-Tionghoa.

Buku kumpulan Cerpen Mini Yin Hua dapat dikatakan sebagai langkah awal diplomasi budaya dalam menjalin hubungan komunikasi antara ke dua suku bangsa menuju pembauran seperti yang dicita-citakan bersama dalam sebuah masyarakat heterogen. Diplomasi budaya semacan ini menurut Dr. Melani Budianta, seorang pengajar sastra Cina FSUI sangat efektif untuk membangun persahabatan antar bangsa, disbanding dengan diplomasi politik maupun ekonomi yang sifatnya sangat formal dan terbatas.

Buku ini berisi 50 cerita pendek-pendek (short-shot story) atau yang diistilahkan cerpen mini yang sifatnya ringan-ringan. Dikarang oleh 50 sastrawan keturunan Tionghoa yang sekarang bermukim di berbagai kota wilayah Indonesia.

Cirri khas yang menandai cerpen-cerpen mini ini adalah sifatnya yang humoristis, ringan, bias dibaca hanya dengan meluangkan waktu 5 sampai 10 menit tanpa harus mengerurkan kening saat membacanya.

Konflik social yang dibangun pada kebanyakan cerpen-cerpen mini dalam kumpulan ini berkisar pada pembauran etnis, kejadian-kejadian kerusuhan, pergolakan di bulan mei lalu, tewasnya aktivis reformasi, maraknya kejadian makanan beracun, terungkapnya borok bank-bank besar di Jakarta, sampai kepada kejadian alam gempa bumi yang melanda kota Parepare. Semuanya digambarkan leh pengarangnya secara “nyeleneh” dan humuristis dengan maksud untuk menghibur. Beberapa di antaranya ada juga yang berhasil mencuatkan rasa haru dan romantic namun tetap lincah dalam bingkai humoristis, seperti cerpen “Mencari Rumah” karya Bai Fang Qing, pengarang kelahiran Kalimantan.

Dr. melani Budianta seperti yang diuraikan dalam makalahnya saat peluncuran buku ini di TIM mengatakan bahwa antologi ini diisi oleh cerpen-cerpen mini bervariasi, dari yang romantic, humoristis, anekdot tentang kisah hidup yang aneh dan unik sampai potongan hidup sehari-hari yang konyol dan lucu. Semuanya ditulis dalam bahasa sehari-hari yang komunikatif. Cerpen-cerpen dalam buku ini, kata Melani mementingkan fungsi menghibur dan mengajar dari pada mengolah unsure seni sastranya. Walaupun demikian di sana-sini muncul ungkapan yang tidak saja menunjukkan kecerdasan mengolah kata, tapi juga wawasan artistik yang tinggi.

Beberapa cerpen yang terkumpul dalam buku ini mengungkapkan konflik fenomena social yang vterjadi di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang hiterogen, cukup menggelitik dan lucu. Seperti “Anak ke Empat” karya Li Feng, “Cinta Pertama” karya A Wu, “Menerima Tantangan” karya Ah Li Ang, “Peci” karya A Jiao, “Pandangan Jauh ke Depan Paman Liu” karya Xin Yizhoun, “Nasi beracun” karya Yu Cun, “Disikat Semua” karya Li Wanli, “Kisah Menerbitkan Buku” karya Mo Ming Miao, “Hadiah Ulang Tahun” karya Zhang Ying, “Seniman Lintas Abad” karya Liu Chang, dan lain-lain. Juga ada yang mengharukan seperti cerpen “Kekerabatan Lain Suku” karya Fun Fu, “Alunan Musik di Lantai Dansa” karya Xiau Baige, “Mengantar kembang” karya Bai Yu, “Senyum Kemenangan” karya Bing Xue, “Di depan Pusara” karay Jim Me Zi, “Lingkaran Merah” karya Song Hua, “Mama Kau Telah Membunu Anakku” karya Cecillia K, “Kehilangan” karya Xia Meng, “Delapan Belan Tahun” karya Jeanne Yap, “Persembahan Terakhir” karya Oey Tong Pin, dan lain-lain.

Satu hal yang cukup menarik dari terjemahan Wilson Tjandinegara adalah cara penerjemahannya yang sederhana dan dynamic equivalent (tetap mengandung amanat asli). Kata-kata yang digunakan oleh pengarang aslinya dalam bahasa mandarin (Han-yu) senantiasa dicarikan padanan kata-kata bahasa Indonesia yang tepat sesuai dengan kondisi bahasa aslinya, sehingga kadang-kadang terjadi penerjemah harus menggunakan bahasa pasar demi elegansi terjemahannya. Penerjemahan yang lancer ini dimungkinkan karena Wilson Tjandinegara adalah seorang dwibahasawan (bilingualis) alamiah yang cukup baik. Dia adalah seorang penyair yang menulis dalam dua bahasa : Indonesia dan Mandarin. Meski demikian harus diakui bahwa beberapa kalimat dalam terjemahan ini terkesan tidak baku dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang oleh pengamat sastra mungkin dianggap sebagai kelemahan penerjemahan yang dilakukan Wilson.

Wilson Tjandinegara penyair kelahiran Makassar, 20 Desember 1946, w3aktu masih tinggal di Parepare (Sulsel) tahun 1980-an banyak menulis puisi yang dipublikasikan di Koran-koran terbitan Makassar. Kini bermukim di Tangerang, bergabung dengan Komunitas sastra Indonesia (KSI) dan banyak menerjemahkan karya-karya sastra Cina keturunan. Sebelum kumpulan Cerpen Mini Yin Hua, Wilson telah menerjemahkan beberapa buku seperti “Perjalanan Hidup saya yang Berliku dan Penuh Tantangan” (Biografi, 1996) karya Lie Chiu Mo, “Bisikan Hati” (Kumpulan Puisi, 1996) karya Teo Un, “55 Puisi Cinta mandarin” (Antologi Puisi, 1998) dan “Menyangga Dunia di Atas Bulu Mata” (Antologi Puisi, 1999).

Adapun karya aslinya berupa kumpulan puisi berjudul “Puisi Untukmu” (1995), dan “Rumah Panggung di Kampung Halaman” (1999) merupakan kumpulan puisnya dalam dua bahasa yang diterbitkan dan diluncurkan bersama dengan kumpulan Cerpen Mini Yin Hua di TIM, Jakarta.

https://badaruddinamir.wordpress.com/2009/10/12/membaca-realitas-sosial-di-indonesia-melalui-sastra-diaspora-2/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *