Maman S Mahayana
elpoesya.wordpress.com

Jagat tasawuf bagaikan kisah para aulia yang berada di alam gaib nun jauh di sana di dunia entah-berantah; eksklusif dan konon, cuma segelintir makhluk manusia yang dapat memasukinya. Kaum sufidalam kehidupan kesehariannya yang zuhud, berada setingkat di bawah malaikat, dan tujuh tingkat di atas manusia biasa yang masih bergulat dengan urusan syahwat duniawi. Kehidupan kaum sufi adalah kisah para pertapa, jagatasketisisme yang cuma mengurusi perkara menyiapkan bekal untuk akhirat.

Begitulah pandangan masyarakat awam tentang tasawuf dan kehidupan kaum sufi. Setidak-tidaknya, pandangan itulah yang bergaung di kalangan teman-teman seangkatan saya dan beberapa sastrawan yang mulai berkiprah awal tahun 1980-an.

Tambahan pula, ada pemeo begini: “Janganlah belajar tasawuf tanpa guru. Sebab, jika begitu, gurunya tidak lain adalah setan.” Maka, makin terasinglah dunia tasawuf dan kehidupan kaum sufi sebagai sebuah pengetahuan yang dapat dipelajari dengan gembira. Tasawuf dan kehidupan kaum sufibertambah jauh rasanya dari jangkauan; terpencil sendiri berada di dunia yang senyap, tetapi riuh dengan doa-doa pemujaan dan kerinduan jumpa dengan Sang Khalik. Kami yang ketika itu merasa masih mualaf dan hidup dalam kubangan nafsu duniawi, laksana manusia kotor yang tak pantas mempelajari tasawuf, apalagi coba memasukinya.
***

Sebuah koran medioker yang menyediakan ruang sastra pada hari Minggu, muncul dengan artikel-artikel sastranya yang segar, merangsang, dan bernuansa polemis. Koran itu bernama Berita Buana.[1] Pengasuh rubrik sastranya bernama Abdul Hadi WM, sastrawan angkatan 70-an. Selain memuat puisi dan cerpen, esai-esaisastra di suratkabar itu menawarkan cara pandang yang agak tak lazim dan membuka perspektif baru, khususnya tema-tema yang berkaitan dengankesusastraan Indonesia. Dari sana, tema-temanya merambat, lalu meluas, meneroka, membuka cakrawalapengetahuan dunia tasawuf dan kehidupan kaum sufi. Dari perbalahan yang terjadi di Berita Buana itulah –sejauh pengetahuan saya—awal munculnya kesemarakan penggunaan istilah-istilah sastra Islam, sastra sufistik, sastra transendental, sastra profetik, dan segala konsep atau istilah yang berkaitan dengan dunia tasawuf.

Simpang-siur sejumlah konsep dan peristilahan itu, bukanlah sekadar kegandrungan atas fenomena baru yang muncul semarak ketika itu. Mereka, istilah-istilah itu, tidak menjelma ‘minyak dalam air’. Mereka menyatu dalam kesadaran. Nah, dalam perkara itu, kita tidak dapat mengabaikan peranan Abdul Hadi WM. Selaku redaktur budaya suratkabar itu, lewat esai-esainya, ia coba menjelaskan segalanya menjadi kontekstual dan mencantel pada perkembangan kesusastraan Indonesia waktu itu yang semarak dengan berbagai usaha eksperimentasi. Konsep absurditas dan absurdisme yang diadopsi dari drama kontemporer Eropa dan kisahan yang disebut arus kesadaran (stream of consciousness) yang –juga dari Barat— dan diperkenalkan Iwan Simatupang, Kuntowijoyo, dan Putu Wijaya, dijelaskan Abdul Hadi WM dalam konteks tradisi kultural yang melatarbelakangi sastrawannya. Maka, Kapai-Kapai (Arifin C. Noer), tidak dapat melepaskan diri dari kacerbonannya; Dag-Dig-Dug (Putu Wijaya), tidak menanggalkan kebaliannya; atau Khotbah di Atas Bukit (Kuntowijoyo) tetap menunjukkan spirit Islam wongJawa. Semuanya ditempatkan dalam kerangka konsep “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber”.

Cerpen-cerpen Fudoli Zaini, Kuntowijoyo, Muhammad Diponegoro, Danarto, serta puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, Emha Ainun Najib, Mustofa Bisri, Zawawi Imron, Ikranegara, dan entah siapa lagi, menjadi teks yang hidup yang dijiwai spirit Islam. Abdul Hadi menarik karya-karya itu lebih jauh sebagai representasi penggalian tradisi Islam yang memang begitu kaya simbolisme. Itulah sastra transendental! Itulah sastra dengan spirit sufistik! Itulah sastra Indonesia yang sesungguhnya mengisyaratkan simbol-simbol dunia tasawuf yang khas Indonesia. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari ibu budayanya yang bernama kebudayaan Nusantara yang dibangun lewat tiga pilar peradaban agungnya: Hinduisme, Buddhisme, dan Islamisme. Ketiganya berkelindan dengan tradisi dan sistem kepercayaan yang sudah tumbuh dan berkembang di masyarakat Nusantara. Maka, ketiga pilar peradaban itu seketika dinusantarakan.[2]

Sementara itu, nama-nama Fariduddin ‘Attar, Rabiah Al-Adawiyyah, Ibn ‘Arabi, Jalaluddin Rumi,Mansur Al-Hallaj, Muhammad Iqbal sampai ke Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, Yosodipura dan Ronggowarsito, yang semula begitu asing dan senyap terbungkus bayang-bayang pemberhalaan teori-teori Barat, mendadak menjadi daya pemikat sastrawan kita untuk memburu dan menyelami karya para pujangga sufi. Kegigihan Abdul Hadi WM menerjemahkan sejumlah besar karya mereka dan mengantarkannya dalam uraian yang luas dan mendalam, telah menjadikan puisi-puisi sufistik, tidak lagi berada nun jauh di sana. Karya-karya para aulia itu menjadi bacaan yang memberi inspirasi pada sejumlah besar penyair Angkatan 70-an. Dengan begitu, ikut memprovokasi masyarakat pada umumnya, dan sekaligus mengikis keangkeran dunia tasawuf dan mistisisme. Diskusi-diskusi tentang dunia tasawuf dan kehidupan kaum sufi yang terjadi di kampus-kampus atau komunitas sastra, makin semarak dan bukan hal aneh lagi.
***

Sebermula berangkat dari pencermatan Abdul Hadi WM atas kecenderungan yang terjadi dalam perkembangan sastra Indonesia tahun 1970-an,[3] lalu menukik lebih tajam dan melebar lebih luasmengungkapkan konsep estetik sastrawan Indonesia tahun 1970-an.[4]Gagasan itu menjadi semacam penegasan, bahwa sastrawan—bahkan juga seniman Indonesia, pada dasarnya punya kekayaan kultural berupa tradisi yang ditanamkan para pujangga masa lalu yang kemudian diperlakukan sebagai sumber untuk menghidupkan kreativitas mereka.[5]Esai Abdul Hadi WM tentang sastra sufi dan konsep estetik sastrawan Indonesia tahun 1970-an, melahirkan polemik riuh, bernas, dan memberangsangkan.[6] Beberapa media massa ketika itu, termasuk majalah sastra Horison, ikut meramaikan wacana itu sebagai kecenderungan baru dalam sastra Indonesia.

Muncul pula esai lain yang mendukung, menolak, atau melebarkan perbincangannya. Di sana, terungkap gagasan Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Ahmadun Yosi Herfanda, Ahmad Nurullah, Fudoli Zaini, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Arifin C. Noer, dan entah siapa lagi. Saya mengkliping esai-esai itu, menikmatinya sambil minum kopi. Tetapi, semakin esai-esai itu dipelajari agak serius, semakin besar pula rasa penasaran untuk masuk dan menukik lebih mendalam. Maka terhamparlah karya-karya para aulia, meski hadir dalam bentuk terjemahan.

Tidak lama setelah hiruk-pikuk esai-esai di Berita Buana, muncul pula rubrik Khazanah di harian Pelita. Pengisi paling rajin rubrik itu, tidak lain adalah Abdul Hadi WM. Kembali, kami mengkliping esai-esai itu dan mempelajarinya sampai ke sumbernya yang terdalam. Dari sanalah perbincangan tentang sastra Islam, tasawuf, dan puisi-puisi sufistik menjadi topik yang entah mengapa, menjadi semacam kebanggaan ketika kami mendiskusikannya. Dunia tasawuf dan kehidupan kaum sufi seketika menjadi kisah yang inspiring. Puisi-puisi karya para aulia itu menjadi semacam trending topic yang asyik dan kita bangga menyuarakannya di depan publik.

Majalah sastra Horison, juga tidak ketinggalan mengangkat topik itu. Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Fudoli Zaini, Ali Audah, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Danarto, dan entah siapa lagi, tidak hanya menyuarakan gagasannya, tetapi juga menunjukkannya dalam sejumlah karya. Amir Hamzah yang diangkat H.B. Jassin sebagai Raja Penyair Pujangga Baru, ditelisik lewat perspektif lain. Jika kajian Jassin cenderung memusatkan perhatiannya pada kata-kata arkaik yang dimanfaatkan Amir Hamzah, Abdul Hadi WM melihatnya sebagai kerinduan ilahiah, yang dikatakannya sebagai spirit apokaliptik. Percintaan yang memabukkan manakala si aku lirik hanyut dalam hasrat jumpa dengan Tuhan.

Bukan cuma itu. Karya-karya Hamzah Fansuri yang nyaris terkubur dan berada di tempat yang lapuk, statis, beku, dan membelenggu, sebagaimana yang terus-menerus dipropagandakan Sutan Takdir Alisjahbana,[7] seketika menjelma syair-syair simbolik. Esai-esai Abdul Hadi WM tentang Hamzah Fansuri dan transliterasi atas puisi-puisinya laksana panduan untuk memahami posisi Hamzah Fansuri dan bagaimana usaha menafsirkan simbol-simbol yang bertaburan dalam puisi-puisinya. Puisi-puisi Hamzah Fansuri dan dunia tasawuf yang mendekam dalam karya-karyanya tidak lagi menjadi artefak tanpa makna, beku dan membelenggu, melainkan sebuah teks sastra (puisi) yang hanya dapat dipahami jika kita tidak melepaskannya dari konteks historis dan filosofis. Dikatakan Abdul Hadi WM: “Syekh telah berhasil meletakkan dasar-dasar puitika dan estetika Melayu yang mantap dan kukuh. Pengaruh estetika dan puitika yang diasaskan oleh Syekh Hamzah Fansuri di dalam kesusastraan Indonesia dan Melayu masih kelihatan sampai abad ke-20, khususnya di dalam karya penyair Pujangga Baru seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Sastrawan-sastrawan Indonesia Angkatan 70-an seperti Danarto dan Sutardji Calzoum Bachri berada di dalam satu jalur estetik dengan Syekh Hamzah Fansuri.”[8]

Belakangan, A. Teeuw, tegas mengatakan posisi Hamzah Fansuri sebagai “Sang Pemula Puisi Indonesia.”[9]Jika kita mencermati karya G.W.J. Drewes dan L.P. Brakel, The Poems of Hamzah Fansuri,[10]yang mengupas syair Asrar al-Arifin, maka dalam hampir setiap halaman pembahasannya, kita kerap menemukan rujukan pada pemikiran ‘Ibn Arabi, Al-Hallaj, dan para penyair Persia lainnya. Dalam pandangan Abdul Hadi, Hamzah Fansuri tidak berhenti sebagai perintis perpuisian Melayu, tetapi juga sebagai Bapak Bahasa Melayu,[11] sebab di tangan Hamzah Fansuri, bahasa Melayu bergolak menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa sastrawi.

Penerokaan Abdul Hadi atas dunia sufisme mendorongnya untuk melihat lebih holistik dan komprehensiftentang para pujangga agung dan kaum intelektual Nusantara. Maka, dua sosok waliallah, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, berdasarkan kiprah dan karya keduanya, diposisikan tidak sekadar pendakwah agama Islam, melainkan juga sebagai seniman besar ‘pencipta’ wayang, gamelan, dan suluk. Dengan begitu, tidak boleh pula kita melupakan Raja Ali Haji sebagai Bapak Tatabahasa dan Perkamusan Melayu atau Yosodipura dan Ronggowarsito sebagai pujangga besar keraton yang tidak lalai pada situasi kemasyarakatan yang terjadi pada zamannya.

Semangat Abdul Hadi WM menghancurkan gerakan pembonsaian peranan ulama, secara konsisten terus disuarakan lewat esai-esainya yang mendalam dan meluas. Jaringan ulama di kepulauan Nusantara yang dikatakan Azyumardi Azra sebagai akar pembaruan Islam Indonesia,[12] bagi Abdul Hadi tidak lain adalah jaringan kaum intelektual Nusantara. Abdus Samad al-Palimbani (Palembang), Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (Banten), Syaikh Juned al-Batawi (Betawi), Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Banjarmasin) adalah intelektual mumpuni dengan sejumlah karyanya yang berkaitan dengan fikih dan tauhid, bahkan juga dengan antropologi, sosiologi, filsafat, dan geografi. Apakah lantaran karya-karya para ulama besar itu ditulis dalam bahasa Arab, lalu mereka tidak pantas disebut intelektual? Apakah lantaran karya-karya mereka ditulis dalam bahasa Arab—Melayu, lalu semuanya cuma berkaitan dengan urusan akhirat dan doa-doa?

Abdul Hadi sudah mengingatkan, bahwa para ulama agung itu telah memainkan peranannya sebagai intelektual, mengapa pula stigma dan pembonsaian kiprah mereka tidak coba direvitalisasi dan ditempatkan kembali secara proporsional sebagai tokoh-tokoh intelektual Nusantara dalam sejarah bangsa ini? Dalam konteks itulah, pesan Abdul Hadi, “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber,” sangat relevan dan penting ketika kebudayaan tidak dijadikan pilar pembangunan bangsa dan ketika arus globalisasi sebagai keniscayaan yangtidak dapat dihindari.
***

“Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” bukanlah projek nostalgia yang dalam semangat Surat Kepercayaan Gelanggang dinyatakan sebagai: “… me-laplap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.” Jadi, bagi saya, konsepsi “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” tidaklah dimaksudkan sebagai “… me-laplap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untukdibanggakan …” tetapi menempatkan akar dan sumber sebagai semangat baru, sebagai renaissance agar bangsa ini tidak tunasejarah, tidak tercerabut dari ibu budaya yang melahirkan dan membesarkannya, dan tidak silau pada gerakan pembaratan yang cenderung menempatkannya sebagai berhala.

Bangsa Indonesia, kini dan yang akan datang, tidak dapat menolak berbagai pengaruh dari mana pun datangnya. Dan sejak awalnya, bangsa ini memang dikenal sebagai bangsa yang selalu menjadi tuan rumah yang baik, selalu “Selamat Datang” bagi siapa pun dari bangsa mana pun; inklusivisme dibarengi dengan sikap berbaik sangka, menempatkannya dalam kerangka silaturahim, menjalin persaudaraan, dan diyakini bakal mendatangkan rezeki. Maka, bangsa mana pun yang datang di Nusantara, diterima dengan semangat baik-baik saja. Uniknya, apa pun yang diterima sebagai sesuatu yang baik, tidaklah membuat yang lama harus diapkir. Yang lama atau yang baru, dinusantarakan lewat pengolahan yang kreatif. Itulah kekayaan paling berharga yang melekat pada sikap bangsa ini.

Dengan kesadaran itu, maka gagasan “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” yang dilontarkan Abdul Hadi WM lebih dari seperempat abad yang lalu, nyatanya masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini.
___________

* Pidato Kebudayaan dalam rangka persiapan 70 tahun Abdul Hadi WM, Jakarta: Universitas Paramadina Mulya, 25 Juni 2015.

[1]Suratkabar Berita Buana terbit pertama kali tahun 1971. Alamat kantornya di Jalan Tanah Abang. Masuknya manajemen baru, format suratkabar itu berubah tidak lagi sebagai koran ‘gurem’. Kantornya menempati gedung baru di Jalan Buncit Raya. Entah bagaimana ceritanya, Berita Buana seolah-olah lenyap dari peredaran dan berganti menjadi Republika.

[2]Spirit Sumpah Pemuda yang menyatukan keanekaragaman etnik, kultur, sistem kepercayaan, dan bahasa, serta ruh Pancasila sesungguhnya merupakan representasi ketiga pilar peradaban besar yang didasari oleh semangat kenusantaraan—keindonesiaan.

[3]Periksa esai Abdul Hadi WM, “Kepenyairan di Indonesia Tahun 70-an” (Berita Buana, 14, 21, 28 Januari 1977).

[4] Abdul Hadi WM, “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber,” Makalah Temu Kritikus dan Sastrawan, diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta dan Pusat Bahasa, Desember 1983 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lihat juga Sutardji Calzoum Bachri, “Chairil Anwar, Angkatan 70, dan Kredo Puisi Saya” dimuat bersamaan dengan wawancara Abdul Hadi dengan Danarto, “Angkatan 70 Lahir dari Sumber itu Sendiri,” (Berita Buana, 14 Agustus 1984.

[5]Abdul Hadi WM, “Angkatan ’70 dalam Sastra Indonesia” makalah ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 4 September 1984. Makalah ini tidak sekadar memperkuat label dan posisi Angkatan 70-an, tetapi juga menegaskan wawasan estetiknya sekaligus. Oleh karena itu, penamaan Angkatan 70-an yang digaungkan Abdul Hadi WM dan sastrawan lainnya, relatif lebih kokoh dibandingkan gagasan H.B. Jassin tentang Angkatan ’66 atau Korrie Layun Rampan tentang Angkatan 80-an dan Angkatan 2000.

[6]Bandingkanlah pertanggungjawaban konsep estetik H.B. Jassin atas klaimnya tentang Angkatan ’66. Jassin mengambil momentum peristiwa tumbangnya rezim Orde Lama lewat serangkaian aksi demonstrasi tahun 1966. Tetapi, penamaan Angkatan ’66 tak cukup kokoh ketika semangat protes dilekatkan pada sastrawan tahun 1950-an yang semuanya dimasukkan Jassin sebagai Angkatan ’66 (Bandingkan dengan tulisan Jassin yang dimuat dalam Sastra Indonesia pada Zaman Jepang (1946) dan Gema Tanah Air (1948). Hal yang sama terjadi pada gagasan Korrie Layun Rampan yang mengusung Angkatan ’80-an (“Angkatan ’80 dalam Sastra Indonesia”). Korrie hanya bermain pada kemunculan para sastrawan atau penulis yang mulai berkiprah tahun 1980-an. Tidak jelas pula, konsep estetik macam apa sehingga sejumlah nama dimasukkan sebagai Angkatan ’80-an. Yang lebih parah lagi terjadi pada penamaan Angkatan 2000. Korrie menamakan Angkatan 2000 dengan sejumlah nama sastrawannya, justru sebelum memasuki tahun 2000. Bagaimana mungkin sebuah angkatan atau generasi memakai angka tahun tertentu, sementara tahun itu belum dimasukinya. Jadi, seminar Angkatan 2000 yang diselenggarakan di Pusat Dokumentasi H.B. Jassin itu terjadi tahun 1998.Penamaan Angkatan 70-an yang dilakukan Abdul Hadi WM terjadi pertengahan tahun 1980-an lewat serangkaian diskusi dan polemik, dan Abdul Hadi menguraikan karakteristik estetik sastrawan Angkatan 70-an itu berdasarkan wawasan estetiknya. Lihat esai Abdul Hadi WM, “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber,” (Makalah Temu Kritikus dan Sastrawan, di Tamain Ismail Marzuki, Desember 1983). Lihat E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000, hlm. 513—539; 777—788; 789—806.

[7] Bagi Sutan Takdir Alisjahbana, semua karya tradisional (pantun, syair, gurindam, hikayat), sudah mati semati-matinya. Maka, semua karya itu dianggap tidak ada harganya sama sekali. Dikatakan Alisjahbana, “… irama pantun yang telah mati terikat kepada bingkaian kebiasaan itu pucat lesu, tiada berdarah, tiada bersemangat. … Initiatief telah mati semati-matinya dan orang menyesuaikan diri mengantuk-ngantuk akan pantun yang telah turun-temurun.”(Pujangga Baru, II, 5, November 1934).

[8]Abdul Hadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, Bandung: Mizan, 1995, hlm. 15.Transliterasi Abdul Hadi atas karya Hamzah Fansuri, Zinat Al-Wahidin dan karya-karya Hamzah Fansuri lainnya, memungkinkan kita dapat mencermati langsung karya-karya itu. Dengan begitu, posisi Hamzah Fansuri yang sebelumnya dikesankan agak negatif dalam kaitannya dengan pemikiran tasawuf wujudiyah,

[9] A. Teeuw, Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan, Jakarta: Pustaka Jaya, 1994, hlm. 44-73 yang membicarakan Hamzah Fansuri sebagai Sang Pemula Puisi Indonesia. Teeuw yang memanfaatkan data dari buku G.W.J. Drewes and L.P. Brakel, The Poems of Hamzah Fansuri, Dordrecht: Foris Publications, 1986.

[10]G.W.J. Drewes and L.P. Brakel, The Poems of Hamzah Fansuri, Dordrecht: Foris Publications, 1986.

[11]Abdul Hadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawufdan Puisi-puisinya, Bandung: Mizan, 1995. Lihat juga kajian hermeneutik Abdul Hadi yang mendalam atas karya-karya Hamzah Fansuri dalam disertasinya di University Sains Malaysia yang lalu diterbitkan sebagai buku berjudul, Tasawuf yangTertindas, Jakarta: Paramadina, 2001.

[12]Lihat Azyumardi Azra, “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII” (Edisi Perenial), Jakarta: Kencana, 2013.
https://elpoesya.wordpress.com/2015/06/25/abdul-hadi-wm-meneroka-sufisme/

Categories: Esai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*