“Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan” Karya Ahmad Tohari

Maryani
yaniaccount.blogspot.co.id

Cerpen “Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan” merupakan sebuah gambaran cerpen yang menarik sekali untuk dibaca dan dinikmati oleh pencinta karya sastra. Karena, setelah membaca cerpen ini kita sebagai pembaca merasakan adanya sebuah proses kreatif dalam penulisannya, dan terasa pula adanya keunikan pengarang dalam mengolah karyanya. Pengarang mampu menciptakan pencerita yang mengetahui cerita baik jalan cerita orang-orang yang masih hidup di dunia maupun suasana hati serta tingkah sosok Karsim yang sudah berbeda dunia, tentunya jarang sekali kita jumpai dalam cerpen lain. Rasanya, bila dikaitkan dengan kehidupan nyata sangat tidak mungkin jika seseorang mampu menceritakan cerita dalam keadaan dunia yang berbeda. Sangat menarik, sungguh sangat tinggi sekali nilai sastra dalam cerpen ini.

Selanjutnya, yang menurut saya menarik dalam cerpen ini adalah penggunaan kata-kata yang begitu kreatif dan bahkan jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam cerpen ini, kata-kata yang di gunakan seolah-olah memiliki kekuatan, sehingga mampu menciptakan imajinasi yang akan meninggalkan bekas dalam diri pembacanya, sehingga kesan itu tetap hidup dalam pikiran pembaca. Kata-kata yang di pilih oleh pengarang pun mengandung kejujuran yang membuat cerpen ini terlihat bermutu. Kata-kata itu seperti “Bapa langit, biyung bumi, aku menyeberang!” dan kata-kata yang jarang kita temui namun akan membekas di hati pembaca yaitu seekor kera perempuan, topeng kepala tikus, mahluk bertopeng aneh: celeng[1], serigala[2], beruk,[3] dan munyuk[4].

Cerpen ini mampu menyentuh kesadaran kita, menggugah emosi sejenak hingga merasuk lebih jauh ke dalam hati kita sebagai pembaca. Mengapa ? karena cerpen ini berupaya menggambarkan realitas dengan gaya yang menarik atas kondisi sosial masyarakat yang ada melalui kisah Karsim yang hanya mengharap musim kemarau agar mendapatkan beberapa depa tanah endapan lumpur untuk ditanami padi. Yang menarik disini Karsim mengalami gangguan pada matanya kemudian ingin menyeberang jalan menjelang hari lebaran. Cerpen ini seolah-olah mewakili kehidupan para tunanetra dan para petani pada umumnya dan memberikan suatu protes sosial bahwa adanya alam setelah kehidupan terasa lebih baik dan lebih dihargai keberadaannya daripada hidup di dunia yang tidak diakui keberadaannya bahkan hanya menjadikannya tersiksa.

“Perlu kita garis bawahi bahwa tema dalam sebuah cerita pendek memiliki peran yang sangat penting.”[5] “Tema adalah pokok permasalahan yang terdapat dalam bacaan dan menjadi dasar sebuah karangan.”[6] Maka dari itu pemilihan tema dalam cerpen ini oleh pengarang sangat tepat dan sangatlah menarik perhatian pembaca serta menarik untuk didiskusikan lebih dalam lagi. Dengan mengangkat tema kritik sosial melalui kisah seorang petani musiman yang mengalami gangguan pada matanya dan ingin menyeberang jalan menjelang hari lebaran, cerpen ini mampu menggugah rasa empati bagi pembacanya. Hal ini menunjukan adanya kecerdasan pengarang dalam mengangkat nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya dan mengapresiasinya menjadi sebuah karya sastra.

Daya tarik lain dari cerpen ini bagi saya adalah dalam pemilihan latar, terutama latar waktu yaitu pada siang hari saat tiga hari menjelang lebaran. Pengarang sangat jeli menangkap tradisi dan situasi Indonesia menjelang lebaran.Sudah merupakan sebuah tradisi bagi masyarakat Indonesia yaitu ketika menjelang lebaran banyak penduduk yang lalu-lalang untuk pulang ke kampung halaman. Dan tak jarang kita temui, banyaknya kecelakaan yang terjadi setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena kurang hati-hatinya pengguna jalan, kurangnya kesadaran dalam mengontrol laju kendaraan serta kelalaian dari pengendara tersebut.

Terkait dengan hal ini, pengarang menggambarkan dalam cerpennya pada penggalan kalimat “Karsim melangkah dan dalam setengah detik Karsim tergilas. Setengah detik berikut dia masih bisa mendengar suara orang-orang menjerit dan benturan mobil-mobil. Kemudian semuanya berubah: ringan dan mengambang.” Dalam kalimat ini, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya kesadaran bagi pengendara untuk memberikan kesempatan bagi orang yang ingin menyeberang, nyawa Karsim tidak akan melayang bila pengendara memberhentikan kendaraannya. Terbukti hanya dengan setengah detik menyeberang saja, Karsim sudah tergilas. Tetapi perlu kita sadari pula bahwa nyawa Karsim melayang adalah sepenuhnya kuasa pengarang.

Keegoisan para pengendara disindir oleh pengarang secara gamblang namun dengan bahasa yang begitu halus. Pengendara disini seolah-olah sebagai raja, sebagai penguasa jalan. Dan petani musiman yang matanya mulai baur itu hanyalah orang miskin yang hanya bisa menerima dan mengalah atas perlakuan para penguasa jalan tersebut. Hal ini terlihat pada penggalan kalimat “Sudah tiga kali dia mencoba namun selalu gagal. Setiap kali mencoba melangkah dia harus surut lagi dengan tergesa. Klakson-klakson mobil dan motor ramai-ramai membentaknya, Wajah-wajah pengendara adalah wajah para raja jalanan.”

“Wajah-wajah pengendara adalah wajah para raja jalanan. Wajah-wajah yang mengusung semua lambang kekotaan, keakuan yang kental, manja dan kemaruk luar biasa. Pamer. Ah, tetapi Karsim tahu, pamer diri itu penting. Karsim pernah mendengar itu diucapkan oleh dalang dalam sebuah pentas wayang” terkait dengan penggalan kalimat diatas, tak lupa dalam cerpen ini pengarang menyelipkan sindiran yang begitu halus untuk para manusia-manusia yang hidup di kota yang bertingkah layaknya raja. Raja disini ialah raja yang kemaruk[7] luar biasa, raja yang hobi pamer harta kepunyaannya. Sindiran pengarang ini saya rasa begitu cerdas dan begitu halus, dengan mengangkat dalang pentas wayang yang mengatakan bahwa pamer diri itu penting. Kita ketahui bahwa “kesenian wayang merupakan salah satu identitas dari bangsa kita”.[8] Seolah-olah mengajarkan kita bagi manusia-manusia biasa yang tidak memiliki jabatan dalam negara bahwa identitas dari bangsa kita saja mementingkan budaya pamer diri, maka kita harus bangga dengan budaya pamer diri. Penuhlah bangsa kita ini dengan orang-orang yang hobi pamer diri. Lantas kemanakah atau masih adakah orang-orang yang rendah hati dalam Negara kita ini ?

Selain mengangkat situasi yang sering terjadi di Indonesia menjelang lebaran. Pengarang menyelipkan segelintir tradisi yang ada di Indonesia pada saat lebaran, yaitu tradisi pulang ke kampung halaman, sungkem dengan kedua orang tua, melepas rindu dengan keluarga dan tetangga, serta ziarah ke makam-makam sanak saudara yang telah wafat. Tak lupa juga ada tradisi pamer harta ke orang-orang atau tetangga kampung atas harta yang telah didapatnya di kota. Tak ubahnya hanya ingin menyombongkan diri saja. Hal ini terlihat pada kalimat “Karsim tahu mereka yang sedang berkuasa atas jalan raya itu sedang bergegas karena mau berlebaran di tempat asal. Sungkem kepada orangtua, ziarah, kangen-kangenan, dan semua itu penting. Semua itu merupakan kebutuhan. Juga pamer tidak kalah penting”.

Kemudian hal lain yang membuat cerpen ini sangat menarik yaitu pada saat Karsim kesulitan dalam menyebarang jalan, karena tidak adanya kesempatan baginya untuk menyeberang. Bahkan sekalipun ia ingin menyeberang, selalu saja mendapati bunyi-bunyi klakson yang seolah-olah membentaknya. Tetapi ia dengan sabar menunggu meskipun panasnya matahari sangat menyengat. Padahal tujuan Karsim menyeberang itu adalah untuk menyelamatkan bulir-bulir padinya dari sasaran burung emprit. Menurut saya,pengarang sangat cermat sekali memaparkan bagian ini dalam cerpen. Karena pada bagian ini, tujuan dari Karsim adalah menyelamatkan padi-padi, padi-padi tersebut adalah makanan pokok yang akan dimakan oleh setiap orang tentunya untuk pengendara juga yang tidak memberinya kesempatan untuk menyeberang. Seandainya para pengendara sadar bahwa keperluan petani itu lebih penting dari sekedar kegiatan pamer harta di kampung halaman, pastinya pengendara tersebut akan memberikan jalan untuk Karsim menyeberang. Tidak lain, kepentingan Karsim adalah untuk menyelamatkan kehidupan orang banyak, termasuk para pengendara itu juga. Bisa dibayangkan jika masih banyak Karsim-Karsim lainnya yang tidak punya kesempatan dan bahkan sampai kehilangan nyawanya, maka dari mana pengendara jalan tersebut agar bisa memenuhi isi perutnya?

Terkait dengan hal ini, saya rasa bukan hanya para pengendara saja yang menderita karena akan kebingungan untuk mengisi perutnya. Apabila panen padi yang dinantikan ternyata gagal, akan ada yang lebih menderita lagi yaitu para petani dan anak istrinya. Terlihat pada penggalan kalimat “Terbayang anak-istrinya yang akan tetap makan singkong karena panen padi yang sangat dinantikan ternyata gagal karena habis dimakan burung.” Memaknai hal ini, rasanya bukanlah suatu hal yang jarang kita ketemui pada kehidupan sehari-hari. Pengarang secara cermat mengangkat situasi yang benar terjadi di masyarakat kita. “Para ahli telah mengatakan, bahwa tak kurang dari seratus juta kanak-kanak dan orang dewasa menderita kelaparan selama masa 30 tahun mendatang. Dan seandainya semua ini akan berlangsung terus seperti hari ini, 100.000 anak manusia mungkin akan mati karena kelaparan tiap tahunnya di bumi ini.”[9] Sungguh malang hidup Karsim, sudah hidup susah masih harus mengalami kesusahan akibat ulah para raja jalanan.

Hal menarik lainnya yaitu pada saat kematian Karsim yang tergilas di jalanan. Pada bagian ini, pengarang menyebutkan bahwa dari situ barulah pengendara terpaksa berhenti untuk mengangkat mayat Karsim. Hal ini menandakan bahwa harus ada nyawa yang hilang dahulu baru para pengendara memberikan rasa empatinya untuk berhenti. Rasanya sulit sekali kita ketemui sebuah ketulusan pada zaman ini. Selanjutnya, pada kalimat “Jerit memilukan, suara-suara keluh kesah, marah bahkan kutukan terdengar di tengah jalan raya, tiga hari menjelang lebaran”. Makna yang saya pahami dari kalimat ini adalah, tiga hari menjelang lebaran, rasanya sungguh sebuah kesia-siaan puasa yang dilakukan selama sebulan penuh lalu di akhiri dengan hujanan kalimat kutukan.

“Belum satu menit berselang ada orang berkata, mati terlindas mobil hingga ususnya keluar, mengapa dikatakan meninggal dengan tenang? Karsim yang mendengar itu dengan amat jelas tertawa keras.” Menurut saya penggalan kalimat ini menarik. Karena terkait dengan hal ini mengapa Karsim tertawa menanggapi perkataan orang tersebut, ia tidak sedih. Karena ketenangan itu justru didapatinya setelah ia meninggal, bukan pada saat ia masih hidup.Terkait dengan nenek painah yang tidak pernah menghabiskan sarapan demi ayamnya, ini mengajarkan kita pada pembaca agar saling berbagi, menyayangi, menghargai, dan merawat apa yang kita miliki bukan hanya pada manusia saja melainkan pada makhluk hidup yang ada di bumi ini meskipun kedudukannya lebih rendah sekalipun.

Selanjutnya yang unik dari cerpen ini yaitu ketika mayat Karsim yang sedang di gotong dalam keranda untuk menuju pemakaman. Kemudian ada seorang ibu yang malah menyebar uang pada orang-orang yang mengangkat dan mengiringi keranda mayat Karsim. Hal ini sangat menarik perhatian, sebab mayat Karsim diibaratkan seperti pengemis jalanan yang haus akan uang. Padahal yang dibawa adalah mayat yang tidak memerlukan sumbangan, bukan pengemis jalanan yang memang membutuhkan. Namun seorang ibu yang menyebar uang itu tak mampu membedakan mana mayat dan mana pengemis jalanan. Pengarang seolah menyindir kesombongan ibu yang sedang berada dijalanan tersebut.

“Dia terpesona ketika melihat ada bayi terjepit antara ibu dan bapaknya yang mudik naik motor. Kakak si bayi ada di depan ayahnya, duduk terbungkuk menjadi penadah angin. Tetapi si bayi dan kakaknya terlindung oleh lingkaran cahaya kebiruan. Keduanya tampak ilahi. Dan dalam keadaan amat sulit si ibu masih sempat memijit-mijit tombol tilpon genggamnya.” Penggambaran seperti ini merupakan hal yang biasa terjadi ketika menjelang lebaran. Banyak para pemudik menggunakan sepeda motornya dengan memborong keluarganya dalam satu jok. Yang kasihan adalah anak-anaknya yang terjepit, namun adanya penggalan kalimat “Tetapi si bayi dan kakaknya terlindung oleh lingkaran cahaya kebiruan” pengarang seolah membuat bahwa seorang anak masih suci dan akan tetap terlindung sekalipun ada bahaya yang mengahampirinya. Justru yang perlu menjadi perhatian adalah orang tuanya yang tega membawa anaknya dalam satu jok, karena hal tersebut sangatlah berisiko tinggi untuk mencelakai anak-anaknya. Ketidak perdulian orang tua tersebut terhadap keselamatan anak-anaknya digambarkan oleh pengarang pada penggalan kalimat “dalam keadaan amat sulit si ibu masih sempat memijit-mijit tombol tilpon genggamnya.”

“Dan Karsim terpana lagi ketika melihat ada mobil mewah dikendarai oleh seekor kera perempuan. Di samping kemudi duduk seorang lelaki gendut memakai bukan hanya topeng kepala tikus, bahkan babi hutan. Karsim geleng-geleng kepala karena ternyata mobil-mobil mewah yang dikendarai oleh mahluk bertopeng aneh: celeng, serigala, beruk, munyuk, terus berlintasan”. Memaknai hal ini, saya mengibaratkan seekor kera wanita adalah wanita panggilan dan lelaki gendut yang memakai bukan hanya topeng kepala tikus, melainkan babi hutan adalah pejabat Negara yang perutnya gendut hasil korupsi uang rakyat dan pada mukanya penuh dengan topeng-topeng yang melambangkan sebuah kejahatan atas apa yang dilakukannya terhadap rakyat dan Negara. Mereka menduduki mobil mewah, dan terus berlintasan. Menurut saya, ini juga salah satu contoh sindiran yang digunakan oleh pengarang teruntuk para koruptor dan penjahat Negara yang hobi bermain dengan wanita-wanita panggilan.

Untuk menjadi seorang yang dihargai, haruslah Karsim menyerahkan mautnya dahulu. Hidup bagi seorang Karsim terasa sangat kejam. Maka ketika ia melayang atau mati ia lebih banyak tertawa, dibanding semasa hidupnya yang dipenuhi dengan kecemasan. Ini menandakan bahwa hidupnya setelah kehidupan di dunia terasa lebih berwarna terasa lebih dihargai. Walaupun yang dihargai hanya tinggal jasadnya saja. Karsim lebih menikmati dirinya yang kini dapat melihat dan mendengar segala sesuatu lebih jelas, lebih sejati. Jarak dan waktu tak lagi berpengaruh baginya. Hidup yang jauh lebih hidup. Dan akhirnya dia mendapat haknya untuk menyeberang jalan raya yang sibuk dan padat luar biasa pada tiga hari menjelang lebaran. kita sebagai pengguna jalan yang terlahir dengan penglihatan sempurna tentunya harus menyadari pesan yang disampaikan melalui cerpen ini. “Sastrawan lewat karya ciptanya dapat membuat anggota masyarakat menyadari masalah-masalah penting masyarakat mereka, dan yang harus dan dapat mengubah masyarakat adalah anggota-anggota masyarakat itu sendiri.”[10]

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Pengembangan Pewayangan Indonesia Tahun 2010-2030, http://www.senawangi.org/index.php?option=com_content&view=article&id=111&itemid=223&lang=id&limitstart=5, Diunduh : Selasa, 17 Desember 2013, pukul: 23.50 WIB.
Latief, Heri & Sarabunis Mubarok. 2004. Sastra Pembebasan : Antologi Puisi – Cerpen – Esei, Jakarta: Yayasan Damar Warga.
Operation, Ganesha. 2011. Revolusi Belajar KODING Konsep dasar & The King, Bandung: Ganesha Operation.
Purba, Antilan. 2008. Esai Sastra Indonesia; Teori dan Penulisan, Yogyakarta: Graha Ilmu.
[1] KBBI : Celeng : Babi liar.
[2] KBBI : Serigala : Binatang liar yang bentuknya seperti anjing dan warna bulunya kuning kelabu.
[3] KBBI : Beruk :Kera besar yang berekor pendek dan kecil, dapat diajak memetik buah kelapa.
[4] KBBI : munyuk : Kera
[5] Editor : Heri Latief & Sarabunis Mubarok, Sastra Pembebasan : Antologi Puisi – Cerpen – Esei, (Jakarta: Yayasan Damar Warga, 2004), Hlm 109
[6] Ganesha Operation, Revolusi Belajar KODING Konsep dasar & The King, (Bandung: Ganesha Operation, 2011), Hlm. 394
[7] KBBI : Kemaruk : Selalu berbuat yang berlebih-lebihan karena baru saja menjadi kaya.
[8] Anonim, Pengembangan Pewayangan Indonesia Tahun 2010-2030, http://www.senawangi.org/index.php?option=com_content&view=article&id=111&itemid=223&lang=id&limitstart=5, Diunduh : Selasa, 17 Desember 2013, pukul: 23.50 WIB
[9] Antilan Purba, Esai Sastra Indonesia; Teori dan Penulisan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), Hlm. 125
[10] Ibid,. Hlm.129
http://yaniaccount.blogspot.co.id/2014/01/esai-akhirnya-karsim-menyeberang-jalan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *