Nilai Moral Individu dalam Cerpen Blokeng Karya Ahmad Tohari

Evi Dana Setia Ningrum
esaisastrakita.blogspot.co.id

Nilai-nilai karya sastra adalah suatu nilai atau pesan atau aspek yang disisipkan oleh pengarang di dalam karya sastra. Pesan ini adalah pesan tersirat dalam cerita yang sengaja penulis sampaikan pada pembaca dengan cara membaca dan memahami isi cerita tersebut. Nilai yang terkandung dalam sebuah cerita selalu memiliki maksud dan amanat yang ingin penulis sampaikan kepada pembaca yang dikemas dengan menampilkan tokoh dan karakter serta alur yang menjadikan jalan cerita tersebut memiliki arah yang jelas.

Pertunjukkan drama dari Teater Pelangi dengan judul Blokeng karya Ahmad Tohari ini berangkat dari sebuah cerpen berjudul Blokeng. Cerpen karya Ahmad Tohari ini memberikan gambaran tentang mulai pudar atau rusaknya moral individu yang tertangkap oleh kacamata seorang Ahmad Tohari. Beliau memberikan implementasi tentang apa yang terjadi pada bangsa kita saat ini melalui karyanya, walaupun cerpen ini ditulis pada tahun 1989.

Dalam laporan hasil analisis tentang pertunjukkan drama berjudul Blokeng ini akan membahas lebih lanjut menganai nilai ekstrinsiknya, yaitu mengenai nilai moral individu yang tercermin dari tokoh dan karakternya. Seperti tampak pada kutipan cerpen berikut ini, “Tetapi tentang si Blokeng memang tak ada duanya. Kecuali dia adalah perempuan yang secara biologis sempurna seperti baru saja terbukti, sama halnya dengan perempuan-perempuan lain. Selebihnya, siapa pun tak sudi diperbandingkan apalagi dimiripkan dengan Blokeng. Ini kepongahan kampungku yang dengan gemilang telah berhasil memelihara rasa congkak dengan cara memanipulasi nilai martabat kemanusiaan.”

Tampak sekali bahwa dalam cerita Blokeng ini mengangkat suatu keadaan dimana rasa saling menghormati dan rasa saling menyayangi sesama manusia tidak lagi diperhatikan. Bahkan secara terang-terangan mengintimidasi seseorang tanpa memperhatikan martabat kemanusiaan. Seperti tampak pada kutipan cerpen berikut, “Tuduhan membuntingi Blokeng, di luar segala urusan hukum atau norma lainnya, dianggap sebagai perilaku primitif yang paling tidak bermartabat. Sebab Blokeng memang tak ada duanya dan setiap perempuan akan merasa demikian malu bila diperbandingkan dengan dia.” Blokeng dianggap sebagai seorang yang tidak memiliki matabat hanya karena dia tinggal di onggokan sampah pasar. Hal semacam ini yang seharusnya tidak terjadi dalam masyarakat kita manum pada kenyataannya sering kita jumpai seorang memandang rendah orang lain hanya karena derajat atau status sosialnya dalam masyarakat.

Dalam pertunjukkan drama Blokeng ini menampilakan tokoh dengan karakter yang menggambarkan tentang pudarnya rasa saling percaya terhadap sesama. Ketika seorang dihadapkan pada sebuah persoalan, bukan diskusi guna menemukan penyelesaian masalah yang dilakukan, akan tetapi timbul kecurigaan dan saling tuduh antar sesama. Seperti tampak pada kutipan cerpen berikut,
“Aku tak boleh berkata apa-apa. Kalau mulutku bocor dia akan memukulku dengan ini,” kata Blokeng sambil menggamit lampu senter pak hansip.
“Jadi ayah bayimu datang ke sarang ini membawa senter? Dia lelaki yang mempunyai senter?”
“Mbuh.”

Maka keesokan hari tersiar berita: ayah bayi Blokeng adalah seorang lelaki yang memiliki lampu senter. Kampungku yang pongah kemudian memperlihatkan gejala aneh. Lampu-lampu senter lenyap. Yang berjalan malam hari lebih suka memilih suluh untuk penerangan. Ronda malam dan hansip kena marah karena mereka menjaga kampung hanya menggunakan korek api, bukan lampu baterai. Tetapi lampu senter terus menghilang dari kampungku yang pongah.”

Hal semacam ini juga terjadi lagi ketika Blokeng menyebutkan bahwa laki-laki yang menghamilinya adalah seorang yang memakai sandal jepit, seketika itu juga sandal jepit tiak lagi ada di kampung tersebut, seperti tampak pada kutipan cerpen berikut, “Sekali waktu ada sas-sus baru. Katanya, Blokeng memberikan keterangan lain tentang laki-laki yang membuntinginya. Dia adalah seorang laki-laki yang malam-malam merangkak ke dalam sarangnya dan memakai sandal jepit. Blokeng tidak tahu persis siapa dia karena sarang Blokeng yang terletak di atas tanah becek tak pernah berlampu. Tidak pernah. Dunia Blokeng adalah dunia sampah pasar, dunia tanah lembab, dan dunia yang tak mengenal lampu. Kampungku yang pongah berkelit dengan jurus yang lain lagi. Kini orang mencari bakiak dan bandol sebagai alas kaki. Sementara itu sandal jepit lenyap dengan serta-merta.” Hal ini menggambarkan tidak adanya lagi rasa percaya terhadap diri sendiri dan terhadap sesama manusia. Dengan bersikap seolah-oleh tidak tahu apa-apa atau menyembunyikan sesuatu yang ada kaitannya dengan masalah yang dihadapi dianggap sebagai suatu penyelesaian masalah.

Keadaan sosial masyarakat yang pongah dan sombong yang memandang martabat manusia secara semena-mena menjadi karakter dominan dalam pertunjukkan drama ini. Setiap tokoh memiliki karakter yang mencerminkan keadaan dimana tidak ada lagi rasa saling memiliki antar sesama. Blokeng meskipun dengan keadaannya yang memprihatinkan pada dasarnya dia juga memiliki hak yang sama dalam kehidupan bermasyakat, dia juga mempunyai hak untuk dihormati sebagai anggota masyarakat.

http://esaisastrakita.blogspot.co.id/2013/05/esai-kritik-drama-evi-dana-setia-ningrum.html

Istilah pencarian yang masuk:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*