Dewi Sri dalam kaitannya dengan Upacara Bersih Desa

Tulus S

Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang merupakan lambang”kebahagiaan dan kesuburan”tertulis dalam serat Ila-ila. Mitos Dewi Sri sangat erat dengan kehidupan masyarakat agraris yang sangat mendambakan “kesuburan”. Masyarakat Jawa memanisfestasikan mitos Dewi Sri dengan ritual dalam bersih desa. Bersih desa yang dilaksanakan setelah usai panen mempagelarkan wayang purwa lakon Sri Sadana atau Sri Mulih tidak lain sebagai lambang dan harapan akan kesuburan.(Kumala;2010;116).

Selain pagelaran wayang purwa, bermacam-macam tarian atau kesenian yang merupakan ungkapan “kesuburan” juga dimiliki oleh masyarakat Jawa. Tarian tayub pada awalnya berkaitan dengan upacara “kesuburan” yang ditarikan dalam tradisi bersih desa seusai panen padi.

Pertunjukan tayub dalam upacara ritual bersih desa berperan sangat penting bagi masyarakat karena dipercaya sebagai upacara kesuburan yang diharapkan berpengaruh terhadap kesuburan tanah, berlimpah hasil panen, terhindar dari berbagai hama tanaman, dan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat. (Widyastutieningrum; 2007;150). Mitos yang masih dipercaya bahwa penari perempuan (joged) dalam pertunjukan tayub dianggap sebagai perantara antar masyarakat dan Dewi Sri (Dewi Kesuburan). Mitos itu masih hidup subur pada masyarakat pedesaan khususnya, dan masyarakat Jawa pada umumnya. Dewi Sri tak ubahnya sebagai lambang etos kerja untuk mengubah nasib kerja keras menolong diri sendiri, dan kehidupan bersama.(Kumala, 2010,117).

Nama Dewi Sri yang juga dianggap Dewi Pangan terekam dalam berbagai sebutan yang agak berbeda. Di Jawa, Bali dan Madura menyebut Dewi Sri, di Sunda disebut Nyi Pohaci Sang Hyang Sri, untuk daerah Flores menyebutnya Dewi Sri Ine Mbu, sedangkan di daerah Bugis disebut Sanghiang Sri atau Sangngiangseri. (Trisna;2010,2018). Pada masyarakat Bugis cerita Sangiangserri terdapat pada epos I La Galigo, sebagaimana ditulis oleh Bagoes Joemadi (110;2015) sebagai berikut. Alhasil siklus kisah Galigo sebelum manusia lahir yang dianggap periode keramat hanya diketahui sekelumit orang saja. Salah satunya adalah naskah Mula rilinge Sangiang Serri (mulai diciptakannya Sangiang Serri).

Naskah ini diperoleh dari Christian Pelras, peneliti dari Perancis, dari bangsawan Bugis. Naskah ini bercerita tentang We Oddang Nirwu, anak bungsu pasangan Dewa Langit, Datu Patotoe dan Datu Palinge. We Oddang adik Bathara Guru dikisahkan memiliki kecantikan yang sanggup membuat para lelaki ketika melihatnya gila (kecantikan perempuan macam ini sepertinya mirip Remedios The Beatuy, tokoh dalam novel One Hundred of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez). Agar tidak menimbulkan malapetaka di mana-mana, We Oddang akhirnya diubah bentuknya menjadi tanaman padi dengan nama baru, Sangiang Serri. Dengan demikian ia tetap dicintai banyak orang sekaligus tak mengundang marabahaya. Cerita Sangiang Serri inilah yang melahirkan tradisi upacara persembahan para petani sebelum memulai musim tanam.

Di daerah Banyuwangi tarian gandrung juga merupakan tarian yang berkaitan dengan ungkapan kesuburan. Gandrung yang artinya cinta, tertarik terpesona ini menggambarkan terpesonanya kaum tani atas anugrah Yang Mahakuasa (Suharto, 1995;50). Terpesonanya kaum tani kepada Dewi Sri atau hasil panen yang berlimpah itu dimanisfestasikan dalam tarian gandrung. Gandrung berawal dari tarian erotik sakti dalam kepercayaan Hindu.

Gandrung merupakan kesenian asli masyarakat Using, Banyuwangi sebagai bentuk ucapan terimakasih kepada “Dewi Sri”. Masyarakat Using yang agraris menghormati Dewi Sri dengan ritual tarian sebagai tanda syukur. Dalam hal ini para penari gandrung dianggap titisan Dewi Sri yang akan memberikan “ berkah kesuburan”. Ritual tarian ini dimaksudkan untuk mewadahi kekuatan-kekuatan kosmos dan sumber magis yang diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Pada awalnya gandrung berasal dari ritual seblang, yaitu tarian ritual tolak bala yang dilaksanakan satu tahun sekali oleh seorang perempuan yang ditunjuk oleh penunggu desa. Gandrung yang dilaksanakan dalam tradisi bersih desa tidak terlepas dari erotisme yang memperlihatkan simbolisasi kesuburan yang dikaitkan dengan mitos Dewi Sri. Gandrung juga ditarikan pada saat upacara petik laut dengan harapan hasil akan diperoleh oleh nelayan berlimpah (Anoegrajekti;2003;24).

Menurut Hadiwijono (1983;21) bahwa Sri dan Sadono adalah tokoh misteri yang merupakan asal-usul kejawen. Sri sebenarnya penjelmaan Dewi Laksmi dan Sadono adalah penjelmaan Dewa Wisnu. Dalam kaitannya ini sesungguhnya Sri-sadono adalah suami istri yang menjadi cikal bakal kejawen. Maka dalam berbagai ritual mistik kejawen , keduanya selalu mendapat tempat khusus.

Dewi Sri dan Wisnu menurut Tantu Panggelaran memang pernah diminta turun ke aracapada untuk menjadi nenek moyang di Jawa. Dari sumber ini, akan meneguhkan sementara bahwa nenek moyang Jawa memang dewa. Berarti kaum kejawen sebenarnya berasal dari keturunan orang yang tinggi tingkat sosial dan kulturnya. Selanjutnya Dewi Sri dianggap menjelma ke dalam diri tokoh Putri Daha bernama Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana, sedangkan Sadono menjadi Raden Panji. Keduanya pernah berpisah namun akhirnya berjumpa kembali. (Suwardi.2014;2). Oleh sebab itu tidaklah heran dalam upacara bersih desa masyarakat Jawa ingin meluhurkan nenek moyangnya yaitu Dewi Sri. Selain sebagai dewinya padi (dewinya kesuburan) juga menjadi cikal bakal keturunanan manusia Jawa. Hal itu terlihat pada penari tayub (ledek) atau penari gandrung banyuwangi yang disimbolkan sebagai sosok Dewi Sri.

*) Tulus S atau Tulus Setiyadi, S.T.P. adalah alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*