HISKI USD Membongkar Sastra, Menggugat Rezim Kepastian

Aloysia Nindya Paramita, Paulus Yesaya Jati
bernas.id

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan seminar nasional “Membongkar Sastra Menggugat Rezim Kepastian” di kampus setempat, Sabtu (28/10/17).

Dalam pengantarnya Dr Yoseph Yapi Taum, MHum, Ketua Komisariat HISKI USD menyatakan seminar ini bermaksud menghimpun pemikiran-pemikiran para sarjana sastra dalam menggugat dan membongkar rezim kepastian. Seminar ini penting dan strategis kedudukannya dalam pembangunan iklim akademis di Tanah Air karena menghadirkan dua topik utama dalam dunia sastra dan kritik sastra. Pertama tentang kajian-kajian dan teori-teori pemikiran kritis di dunia melawan rezim kepastian. Topik kedua adalah meninjau kembali dan merevitalisasi teori, pendekatan, metode, dan teknik kritik sastra di dunia akademis di Tanah Air untuk iklim “ilmuwan humanistik modern”.

Dalam makalahnya yang berjudul “Gugatan Tiga Teks Sastra Poskolonial Afrika terhadap Agama Kristen”, Tatang Iskarna mengungkap unsur destruktif kolonialisme terhadap budaya lokal masyarakat terjajah. Salah satu unsur budaya yang turut dibawa orang Barat dalam proyek kolonialisme adalah agama Kristen. Agama ini memiliki tujuan yang hampir sama dengan proyek kolonialisme,yaitu pemberadapan.

Sementara, Dr Johanes Haryatmoko dalam makalah “Memetakan Arena Sosial ‘Gadis Pantai’ untuk memetakan Ideologisnya, yakni sebuah Kajian Sastra Melalui Analisis Wacana Kritis Salah Satu Karya Pramoedya Ananta Toer” menyebut Analisa Wacana Kritis (AWK) merupakan metode baru di dalam penelitian ilmu-ilmu sosial dan budaya.

Baginya, ada tiga postulat AWK yang disepakati para pionirnya, pertama semua pendekatan harus berorientasi ke masalah sosial,maka menuntut pendekatan lintas ilmu ; kedua, keprihatinan utama adalah mendemistifikasi ideologi dan kekuasaan melalui penelitian sistematik data semiotik ; ketiga, selalu reflektif dalam proses penelitian, artinya mengambil jarak untuk memeriksa nilai dan ideologi peneliti.

Ketiga hal itu akan memberi definisi bidang penelitian secara lebih baru, tapi dari sisi rigoritas ilmiah AWK patut dipertanyakan karena penggunaan konsep masih beragam, padahal mau menunjuk fenomen yang sama. Kekhasan AWK adalah melihat bahasa sebagai instrumen kekuasaan dan di balik bahasa ada ideologi.

Terakhir, Sri Mulyani, PhD lewat makalah berjudul “Wacana Gender dalam ‘Jendela Tua”‘karya Jyut Fitra” menyebut kesetaraan gender tidak berarti telah menghapuskan diskriminasi dan penindasan gender yang dialami perempuan karena kekuasaan patriarki tidak hanya dalam aspek ekonomi saja, tetapi juga melingkupi aspek ideologis. Dalam kesusastraan, patriarki sebagai ideologi sangat kuat sekali pengaruhnya. Karena itu, kritik sastra feminis tidak hanya mencermati masalah perempuan dan re/produksi ekonomi saja tetapi juga secara lebih kritis menganalisis perempuan dan representasi dalam bahasa dan kesusastraan.

Ketua panitia Seminar Nasional 2017 HISKI Komisariat USD, Dr Gabriel Fajar Sasmita Aji menyatakan tiga pembicara yang dihadirkan figur-figur yang kompeten untuk mengupas topik tersebut dan mereka adalah tokoh-tokoh terpilih dari USD. Selain ketiga tokoh narasumber pilihan itu, juga menghadirkan pembicara pendamping yang berasal dari berbagai universitas dari hampir seluruh pelosok negeri tercinta ini. Masing-masing secara serius akan mencoba menghadirkan berbagai pemikiran yang sungguh mempresentasikan suara-suara yang sadar akan kebebasan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat secara umum.

https://www.bernas.id/50220-inilah-3-hal-yang-terbukti-belum-mampu-membawa-perubahan-pendidikan-di-indonesia-.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *