Kacapiring: Kulminasi Religiusitas Danarto

Jafar Fakhrurozi
kawanmalaka.wordpress.com

Di usianya yang hampir menginjak kepala tujuh, di luar dugaan Danarto masih memiliki tangan emas untuk merautkan cerita-ceritanya di atas kertas. Hal itu bisa kita lihat dan rasakan ketika membaca Kacapiring, antologi cerpen terbaru Danarto yang terbit pertengahan 2008 tahun lalu. Seakan ingin melanjutkan cerpen-cerpen sebelumnya, Kacapiring bagaikan lantunan lagu gambus yang lebih bijak dan berisi. Apa gerangan yang disampaikan Danarto dalam Kacapiring?

Tak terlalu berbeda dengan cerpen Danarto sebelumnya, Kacapiring dengan 18 buah cerpen yang terhimpun di dalamnya, kembali mengajak kita untuk merenung tentang arti kehidupan lewat nuansa sufi dan mistiknya. Walau terkesan sudah umum, seperti halnya sastra sufistik yang sering mengangkat tema-tema seputar kematian, cinta, dan sosial. Akan tetapi jika kita membaca dan mengkajinya dengan skemata multipersfektif dan aktual, kita akan dapat menemukan nuansa lain dari Kacapiring. Nuansa tersebut bisa jadi adalah kekuatan yang membedakan dengan cerpen sebelumnya, atau antara Danarto dan pengarang cerpen sufi lainnya.

Mungkin, karena cerpen dalam antologi tersebut adalah koleksi cerpen yang telah dimuat di Koran, maka dalam Kacapiring, tema-tema yang disuguhkan begitu aktual dan up date. Seperti halnya tragedi tsunami Aceh, penggusuran, perampasan tanah, pro kontra pornografi dan pornoaksi, reformasi, serta realitas sosial lainnya yang ada di sekitar manusia Indonesia hari ini. Bahkan dengan detail, jeli dan tanpa sensor. Danarto menyebutkan beberapa nama dan fakta yang akrab di benak masyarakat. Selain itu, dalam Kacapiring, Danarto tidak hanya berposisi sebagai pengisah yang resah. Justru ia menemukan semacam jawaban-jawaban atas keresahannya tersebut. Dalam bingkai religiusitas, jawaban-jawaban itu bisa jadi menggambarkan derajat keimanan Danarto terhadap Khalik yang dianutnya. Masih dalam ke-khas-an Danarto, realitas batin dan sosial tersebut masih banyak dibingkai dalam mistisisme.

Untuk membuktikan asumsi-asumsi di atas, mari kita bahas beberapa cerpen yang ada dalam Kacapiring. Dalam cerpen yang berjudul Jantung Hati misalnya, ia mengangkat dua konsep oposisi biner. Kehidupan-kematian dan kekotoran-kesucian. Ia menilai bahwa manusia takut akan kematian, ketakutan itu muncul diakibatkan oleh adanya pengadilan di hari akhirat, manusia takut karena hidupnya penuh dosa (kekotoran). Oleh karena lukisan tentang neraka yang begitu mengerikan, maka manusia sangat takut menghadapi maut. Manusia takut pengadilan karena waktu di dunianya penuh kekotoran. Dalam cerpen tersebut, Danarto seakan mengingatkan bahwa, manusia tak luput dari kekotoran, maka kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Kalau mau direnungkan, mayoritas manusia selain nabi dan rasul tidak pernah luput dari dosa, lantas kenapa harus takut diadili. Kesucian itu hanya milik malaikat, begitu Danarto menyimbolkan dalam cerpennya.

Cerpen yang dikisahkan melalui tokoh yang ia ceritakan dengan narasi aku-lirik itu adalah sebuah imajinasi belaka, sebab secara logika tidak mungkin seorang yang telah meninggal bisa bercerita, pun dengan Danarto yang belum pernah mengalami kematian. Di sinilah kadar religiusitasnya terlihat begitu tinggi. Cerpen Jantung Hati adalah sebuah kesaksian pertaubatan seorang manusia yang penuh dosa.

Dalam cerpen Lailatul Qodar, yang bercerita tentang sebuah keluarga yang mudik dari Jakarta ke kampung halamannya di Jawa, keluarga yang sebulan penuh khusuk menjalani ibadah Ramadhan itu baru mudik setelah menunaikan sholat Ied. Di perjalanan, ketika jalur sangat padat dan macet, mereka melihat ada jalan kosong yang tak dilihat oleh pengendara lain, akhirnya mereka sampai di tujuan dengan cepat dan selamat. Dalam cerpen tersebut, Danarto ingin menggambarkan keutamaan ibadah Ramadhan terutama di malam Lailatul Qadar. Di saat orang-orang sibuk mengantri karcis jauh-jauh sebelum lebaran, sebuah keluarga dalam cerpen itu memilih beribadah dengan khusuk dan baru pulang setelah lebaran. Cerpen-cerpen bernuansa sufistik lainnnya terdapat pada Zamrud, Jejak Tanah, Nistagmus, Lauk dari Langit, dan Ikan-Ikan dari Laut Merah.

Dalam nuansa sufistik tersebut, terdapat beragam estetika dan tema. Seperti dikatakan sebelumnya, estetika mistik masih menjadi estetika dominan Danarto. Pada Zamrud dan Jejak Tanah, nuansa mistik sangat kental. Sebagaimana mistik, ketidaklogisan itu bukanlah sebuah perkara, justru lewat mistik tersebut Danarto mengisahkan realitas yang profan. Jejak Tanah adalah sebuah kritik terhadap para pemodal yang kerap membeli dan menggusur tanah rakyat. lewat tokoh Bapak yang berprofesi sebagai pengusaha yang rajin membeli dan menggusur tanah rakyat, Danarto berhasil mengetengahkan sebuah problem sosial kontemporer yang terjadi di Indonesia. Yang menarik adalah bahwa dalam persfekstifnya, walau rakyat selalu dirugikan oleh tokoh Bapak, akan tetapi Danarto memberikan kesempatan tokoh Bapak untuk mengemukakan alasannya. Tokoh bapak seakan-akan tidak mengerti, kenapa ia selalu diprotes padahal dalam melakukan pekerjaannya ia selalu menaati aturan serta membayar ganti rugi yang pantas. Meskipun demikian, Danarto tetap menyerahkan keberpihakannya pada korban. Keberpihakkan tersebut diperlihatkan secara mistik dengan nasib jenazah Bapak yang tak diterima tanah. Nuansa Sufistik juga terlihat kuat pada cerpen Pohon yang Satu Itu, Nistagmus dan Lauk dari Langit yang menyinggung tentang Tragedi Tsunami Aceh akhir 2004 silam.

Di luar sisi transendennya, Danarto juga memiliki wawasan realitas yang cukup kuat. Walau tidak ideologis, namun beberapa cerpennya berhasil mengisahkan realitas sosial dengan persfektif kaum marginal di Ibu kota. Dalam cerpen Zamrud, Danarto melukiskan realitas buruh dan kaum cilik lainnya seperti tukang becak. Cerpen Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan, dengan sangat realis masalah-masalah penggusuran dikemukakan. Dalam dua cerpen tersebut yang menarik adalah bahwa ditemukan beberapa fakta ilmiah populer, seperti penyebutan nama Dita Indah Sari dan Wardah Hafidz, dua perempuan aktivis yang vokal di Jakarta, kutipan lagu Ada Pelangi di Matamu karya grup band rock Zamrud, lagu Ketahuan karya Band Matta, Ucing Garong dan fakta-fakta lainnya yang beberapa waktu ke belakang pernah marak dan membumi di kalangan masyarakat. Saya kira, penyebutan beberapa fakta tersebut cukup menarik. Sesuatu yang jarang dilakukan cerpenis lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa Danarto adalah seorang pengarang yang tidak terpisah dari ruang, ia malah setia menemani ruang metropolis yang penuh persoalan.

Masih dalam hal aktualitas, dalam cerpen Telaga Angsa dan Si Denok, Danarto mengajak kita untuk berdiskusi soal konsep kesenian terkait adanya UU APP. Dengan ilmiah dalam cerpen Telaga Angsa Danarto membandingkan referensi agama dengan estetika seni pada kostum penari balet yang super tipis. Atau pada lukisan dan patung perempuan kegemaran Bung Karno dalam cerpen Si Denok.

Terhadap lingkungan, Danarto juga memiliki sense yang kuat, cerpen Pohon Rambutan dan Pohon Zaqqum adalah representasi kepekaannya terhadap lingkungan.

Dari beberapa bahasan singkat terhadap cerpen-cerpen Kacapiring, tak terlalu berlebihan kalau Danarto diberi gelar cerpenis sufistik, atau dengan kadar sastra, religiusitas dan sosialnya tinggi. Jika merujuk pendapat Abdul Hadi WM tentang pembagian sastra religius yang mencakup; karya yang menggarap masalah-masalah spiritual (sufistik), karya-karya yang menggarap lapis sosial faedah, masalah sosial, politik, kemasyarakatan dan karya pelipur lara yang kadar konsepnya tinggi. Maka Danarto adalah salah satu cerpenis mapan dalam kategori tersebut.

Dari keseluruhan cerpen, nilai-nilai religiusitas tampak begitu sublim dalam tiga konsep: hablum minallah, hablum minannas, dan hablum min a’lam, ketiga dimensi tersebut merujuk pada satu muara, yakni pertemuan di hari akhirat. Inilah puncak kulminasi religiusitas seorang petualang batin. Sebuah bentuk pertaubatan yang total. Sebuah kesimpulan baginya yang sudah menginjak usia matang menghadap sang Khalik.

https://kawanmalaka.wordpress.com/2009/11/28/kacapiring-kulminasi-religiusitas-danarto/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*