Narasi Menolak Hegemoni

S Prasetyo Utomo
opinicetak.blogspot.co.id

Cerpen Indonesia mutakhir bersentuhan pula dengan pembebasan terhadap hegemoni kekuasaan. Cerpen-cerpen terbaik pilihan Kompas, beberapa di antaranya, menebar empati pada persoalan hidup manusia di sekitar sastrawan, dan hegemoni kekuasaan menjadi salah satu sumber imajinasi. Hegemoni kekuasaan menjadi bagian obsesi sastrawan, dengan ketajaman sudut pandang yang beragam. Sastrawan memasuki wilayah konflik etik kehidupan masyarakat, selain mempertaruhkan penjelajahan baru estetika. Ia tidak harus tenggelam di pusat atmosfer budaya masyarakatnya. Boleh jadi ia mencipta cerpen dengan membebaskan diri dari hegemoni subkultur dan entitas budaya tertentu.

Perlawanan terhadap kekuatan hegemoni kekuasaan telah lama menjadi obsesi penciptaan sastrawan. Cerpenis yang mengangkat persoalan hegemoni kekuasaan, sejak awal mula cerpen dicipta di negeri kita sampai hari ini, mengalami pergeseran-pergeseran. Pada mulanya, cerpen dicipta dengan penolakan terhadap hegemoni kekuasaan dengan struktur narasi yang sederhana. Kini, kita baca struktur narasi cerpen yang menolak hegemoni kekuasaan itu dalam struktur narasi yang kian rumit.

Hegemoni kekuasaan menjadi bagian dari cerpen-cerpen yang dicipta cerpenis terbaik Kompas dalam beberapa kali penerbitan. Ada beberapa cerpen terbaik yang mengangkat persoalan hegemoni kekuasaan, seperti ”Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” (Kuntowijoyo), ”Dua Tengkorak Kepala” (Motinggo Busye), ”Kunang-kunang di Langit Jakarta” (Agus Noor), dan ”Klub Solidaritas Suami Hilang” (Intan Paramaditha). Cerpen-cerpen itu, jika dipetakan secara tematik, terdapat tiga polarisasi perlawanan terhadap (1) hegemoni yang diciptakan kultur, (2) hegemoni yang mengakar dalam lingkup ideologi, dan (3) hegemoni politik.

Tentu perlawanan cerpenis terhadap hegemoni kultur, ideologi, dan politik serupa ini menjadi obsesi yang memberikan tantangan yang terus-menerus bergeser bagi beberapa generasi cerpenis. Juga bagi pembaca dan pemerhati sastra, yang terlibat dalam pergulatan makna cerita, kearifan, dan pencerahan, berhadapan dengan perlawanan hegemoni kekuasaan yang kian menampakkan kompleksitasnya. Cerpen-cerpen semakin memikat dengan segala persoalan pembebasan hegemoni kekuasaan, tetapi semakin rumit untuk dipahami.

Cerpen ”Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” karya Kuntowijoyo terasa benar menikam nurani kita pada belenggu mitos. Kuntowijoyo sanggup menyihir kita pada hegemoni kultur, bagaimana membebaskan diri dari kemiskinan dengan perjalanan mistis, mencuri mayat seseorang yang mati pada sebuah hari yang dikeramatkan. Ia selalu berkisah dengan satire, dengan menertawakan diri sendiri. Ia melancarkan kritik tajam dengan sindiran perilaku rakyat kecil yang terperangkap hegemoni kultur, dan paradoks ini mengisyaratkan pesan yang ingin disampaikan Kuntowijoyo: hendaknya kita membebaskan diri dari hegemoni kultur, membebaskan diri dari mitos yang menyesatkan kehidupan.

Cerpen ”Klub Solidaritas Suami Hilang” karya Intan Paramaditha membebaskan diri dari hegemoni patriarki, tipikal karya kaum feminis. Tokoh-tokoh perempuan di dalamnya dipecundangi kaum lelaki. Dengan lukisan suasana yang dingin, Intan Paramaditha membebaskan tokoh narasinya dari hegemoni ideologi patriarki setajam karya Nawal el-Saadawi: keras, memberontak.

Intan Paramaditha menghadirkan narasi dalam latar kehidupan global. Narasi dihadirkannya untuk menohok ideologi patriarki. Ia menjadi berbeda dengan Kuntowijoyo, yang mencipta empati humanisme untuk melawan hegemoni kultur, menyingkap mitos yang melapuk dalam budaya manusia. Terkesan Intan Paramaditha tak lagi menghiraukan empati humanisme sebagaimana Kuntowijoyo. Rontoknya hegemoni patriarki menjadi lebih menawan dihadirkan dalam narasi setajam Nawal el-Saadawi, dengan struktur cerpen suasana.

Hegemoni politik hadir dalam cerpen Motinggo Busye, ”Dua Tengkorak Kepala”. Sebagaimana Kuntowijoyo, ia memerlukan empati humanisme untuk mengembangkan konflik narasi. Dengan empati humanisme itu, ia menjalin cerita, menghidupkan karakter tokoh, dan mencapai katarsis. Agus Noor juga berhadapan dengan hegemoni kekuasaan dalam cerpen ”Kunang-kunang di Langit Jakarta”. Ia ingin merontokkan hegemoni politik dan mencipta kesadaran baru manusia akan makna pengorbanan hidup terhadap kekejian pembantaian. Ia mencipta metafora ”kunang-kunang” untuk membongkar kebusukan hegemoni politik itu. Ia telah mencipta berlapis-lapis tafsir makna melalui metafora ”kunang-kunang”.

Melawan hegemoni kekuasaan memang sudah menjadi bagian narasi dalam jagat sastra. Narasi menjadi tidak lagi murni dari perlawanan kultur, ideologi, dan politik. Hegemoni kekuasaan telah menjadi bagian obsesi cerpenis dengan kekuatan pada penggalian fakta, pertaruhan imaji, keunggulan konstruksi narasi, dan pencapaian estetika. Tentu seorang cerpenis tak bisa memenuhi semua unsur utama itu. Kuntowijoyo terasa lebih dekat dengan realitas dan mitos. Konstruksi narasi lebih dekat dengan konvensi cerita yang memudahkan pembaca untuk mencapai makna pembebasan hegemoni kultur yang melingkupi kehidupan.

Cerpen ”Dua Tengkorak Kepala” juga masih terstruktur narasinya. Mudah dipahami pembebasan hegemoni politik di dalamnya. Hegemoni politik itu menjadi moralitas cerita. Memang cerpen menjadi lebih menarik ketika metafora berkembang dan larut dalam narasi sebagaimana ”Kunang-kunang di Langit Jakarta”. Kekuatan metafora dan imaji telah membuka tafsir yang lebih kontemplatif, dan membongkar hegemoni politik tidak semata-mata menjadi obsesi utama cerpenis.

Dalam perkembangan cerpen terbaik Kompas, perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan itu terus menajam. Pada mulanya, di awal dekade 1990-an, cerpen-cerpen dicipta dengan obsesi hegemoni moral. Jujur Prananto (”Kado Istimewa”), Seno Gumira Ajidarma (”Pelajaran Mengarang”), dan Joni Ariadinata (”Lampor”) mencipta cerpen dengan struktur yang sederhana, tidak mengalami pendahsyatan style dan belum melambungkan fantasi. Cerpen-cerpen itu berobsesi pada kehidupan masyarakat dan menggugat kebusukan moral. Hegemoni moral menjadi lanjaran struktur narasi.

Betapapun para cerpenis, seperti Intan Paramaditha, tak melakukan dekonstruksi struktur narasi, sudah tak mudah lagi horizon pemahaman pembaca awam untuk menikmati karya-karyanya. Perlawanan terhadap hegemoni ideologi patriarki telah berjalan seiring dengan eksplorasi estetika. Nama-nama cerpenis baru memang bermunculan, membebaskan diri dari hegemoni estetika para cerpenis sebelumnya. Hegemoni estetika inilah yang masih terus dikembangkan para cerpenis mutakhir, dengan penjelajahan struktur narasi, fantasi, dan metafora.

Bahkan, telah berkembang pula pembebasan terhadap obsesi akan bangsa-negara ketika mencipta cerpen. Jika dulu para cerpenis menggali akar budaya masyarakatnya, cerpenis muda semacam Intan Paramaditha tidak memedulikan lagi akar subkultur yang menjadi pertaruhan obsesi penciptaan sastrawan sebelumnya. Ia tidak peduli lagi dengan entitas budaya, suku, bangsa, dan negara. Ia menghadirkan manusia dalam identitas global yang bisa saling bersentuhan akar budaya, suku, bangsa, dan negara. Inilah makna yang diraih para cerpenis mutakhir ketika menolak hegemoni kekuasaan: pembebasan yang memungkinkan cerpenis menjadi generasi baru sastrawan Indonesia. Lebih liar memilih obsesi cerita, struktur narasi, imaji, dan metafora.

http://opinicetak.blogspot.co.id/2015/01/esai-sastra-narasi-menolak-hegemoni.html

Istilah pencarian yang masuk:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*