Pupuk Mimpi Nobel Sastra

Syarief Oebaidillah
mediaindonesia.com 12 Sep 2017

KEGIATAN tahunan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) diharapkan mampu melahirkan karya sastra yang berkembang maju serta menciptakan calon peraih hadiah Nobel Sastra. Kendati hal ini sulit terwujud, pemerintah melalui Badan Bahasa harus melakukan pembinaan intensif.

“Kita berharap melalui berbagai aktivitas yang kita gelar bersama seperti Mastera ini akan dapat lahir pemenang Nobel Sastra. Kendati ini masih sebuah mimpi, kita boleh bermimpi dan semoga dapat terwujud kelak,” kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, Dadang Sunendar, saat membuka Seminar Antar Bangsa Kesusastraan Asia Tenggara (SAKAT), Mastera di Jakarta, kemarin.

Salah satu peserta, Agus Triyono, dosen bahasa Indonesia Universitas Bengkulu, mengatakan, kendati itu tidak mustahil dicapai pada waktu tertentu, pembinaan yang intensif dalam merawat kecintaan dan menulis karya sastra harus dilakukan.

“Memang sulit meraih mimpi itu, tetapi bukan hal yang mustahil jika pembinaan dari pemerintah khususnya Badan Bahasa ini dan juga masyarakat secara bersama gencar melakukan latihan menulis sastra,” kata Agus yang juga Staf Pusat Kurikulum dan Perbukuan atau Puskurbuk itu.

Program lintas budaya

Acara tersebut dihadiri perwakilan Mastera se-Asia Tenggara dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand. SAKAT diselenggarakan negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand yang tergabung dalam Mastera. Majelis Kesusastraan ini dideklarasikan pada 1995 di Bukittinggi, Sumatra Barat, dengan tujuan menduniakan sastra Indonesia/Melayu.

Tujuan utama SAKAT tahun ini ialah melihat seberapa jauh teori dan kritik sastra tempatan berkembang dan diterima masyarakat sastra, baik yang berada di kawasan Asia Tenggara maupun luar Asia Tenggara. Dadang yang juga Ketua Mastera Indonesia mengemukakan sejak 2012 Mastera telah menggelar program kajian lintas budaya yang dapat menjadi contoh baik. Program ini tidak sekadar pengkajian untuk daerah di negara masing-masing, tetapi juga menjadi sarana menemukan benang merah dari setiap kajian sastra lokal di Asia Tenggara.

“Upaya ini bukan mengukuhkan primordialisme serumpun, tetapi sebagai pembuktian kekayaan budaya di negara-negara Asia Tenggara amat bervariasi,” ungkap Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung tersebut. Ia melanjutkan, sastra lokal di dalamnya–di negara Mastera–tidak cukup diteliti hanya dalam rangka kedaerahan karena terdapat cross connections, yaitu hubungan silang lewat batas bahasa dan suku bangsa yang dapat diamati dari segi sejarah maupun dari segi tipologi karya.

Ketua Panitia Penyelenggara Seminar Mastera, Urip Danu Ismadi, menambahkan acara tersebut menjadi kesempatan bagi para sastrawan dan budayawan Asia Tenggara untuk membuka ruang dialog bagi kemajuan sastra di kawasan Asia Tenggara. “Hal terpenting kita dapat memupuk pemahaman lintas budaya antarnegara di Asia Tenggara,” ujarnya. (Ant/H-1)

http://mediaindonesia.com/news/read/121975/pupuk-mimpi-nobel-sastra/2017-09-12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*